TYWI ( TYO WIENDA)

TYWI ( TYO WIENDA)
Nasehat


__ADS_3

"Wien nanti kalo udah nikah jangan lupain bunda ma ayah lo" pinta Bunda


"Ya ampun Bunda ya gak mungkin lah, kalian berdua itu orang tua aku. orang yang rela berkorban demi aku. Kalian wajib dimuliakan wajib dibahagiakan wajib dihormati disayangi, kalian berdua segalanya buat Wienda jangan pernah berpikir klo aku akan melupakan kalian setelah nikah nantinya. Wienda selalu berdoa kalian panjang umur, sehat selalu, bahagia pokoknya yang baik-baik doaku selalu menyertai ayah bunda" Wienda sedikit emosi


"Maaf bunda terbawa perasaan" Bunda memeluk Wienda


"Assalamualaikum" sapa Tyo


"Walaikum salam, dari mana mas" tanya Wienda mengurai pelukannya dengan Bunda


"Dari depan, ni" menyodorkan bungkusan


"Apaan ini" Wienda menerimanya


"Kata Wildan kesukaanmu" kata Tyo


"Kok bisa ada didepan" tanya Wienda heran


""Ojol" jawab Tyo


"Ooo, kalo lagi galau aku bisa ngabisin martabak ini 2 box sekaligus" kata Wienda terkekeh


"Ha" Tyo menganga tak percaya.


"Tubuhmu kerempeng tapi makanmu banyak juga" Tyo masih tak percaya

__ADS_1


"Kenapa takut kamu gak mampu ngasih makan aku" tanya Wienda


"Kalo itu mah gampang, duitku gak akan habis buat ngasih makan kamu meski tiap hari 10 porsi" keluar jiwa songongnya


"Sombong" Wienda


"Bukannya sombong itu fakta" bela Tyo


"Ya ya ya tuan muda Tyo pemilik rumah sakit, gak salah kalo gitu aku milih calon suami bisa aku manfaatin buat nyenengin diri" kata Wienda


"Wienda" kata Bunda


"Hehehe bercanda Bun" Wienda mengangkat jarinya membentuk V


"Gak papa Bun emang dah jadi tugas aku buat nyenengin istri" kata Tyo


Tyo hanya terkekeh.


"Nanti kalo aku dah sah jadi Nyonya Tyo, gaji kamu tiap bulan aku yang pegang" kata Wienda


"Siap Nyonya" Tyo mengangkat tangannya memberi hormat pada Wienda


"Wienda gak boleh seperti itu, kamu harus ikhlas menerima apapun keadaan suamimu kelak" kata Bunda


"Iya yah bercanda kok" Wienda memeluk ayahnya

__ADS_1


"Mas kamu dari tadi ngliatin aku makan kalo pengin ambil dan makan gak usah ngliatin gitu kayak anak tiri yang gak dikasih makan" kata Wienda


"Ngliatin kamu makan aku dah kenyang, lagian aku gak suka manis. Aku dah manis kalo makan manis lagi kamu kerepotan akan banyak semut yang menghampiriku" kekeh Tyo


"Good boy jadi aku gak perlu berbagi" kekeh Wienda


"Wienda" titah Bunda


"Piss Bunda" Wienda mengangkat dua jarinya membentuk V


"Sayang aku kekamar dulu ya" pamit Tyo


Wienda mengacungkan jempolnya


"Wien kayaknya Tyo tu cinta banget deh ma kamu" kata Bunda


"Harus dong Bun kalo mas Tyo gak cinta ma Wienda, Wienda juga ogah dinikahi. Padahal ni ya bun kemarin pas ngajakin nikah tu aku ngomong semua yang jelek-jelek tentang Wienda tapi dianya cuek aja tetep kekeh mau nikah ma Wienda heran aku padahal kita bertemu belum lama langsung diajak nikah katanya gak mau nambah dosa. Lebay kan Bun" jelas Wienda


"Ya bagus dong Wien. Itu artinya dia laki-laki yang bertanggung jawab" sambung ayah


"Bersyukur kamu bisa mendapatkan pria. sebaik Tyo. Udah ganteng mapan kaya dan yang terpenting dia baik ma kita yang jika dibandingkan keluarganya ibarat kita ini hanya debu yang menempel disepatunya" tambah Bunda


"Iya Bun sepertinya keluarganya tidak mempermasalahkan Wienda yang berasal dari keluarga miskin" tambah ayah


"Aku pikir mas Tyo itu dokter biasa dirumah sakit. Ternyata rumah sakit tempatnya bekerja itu kepunyaannya dan lagi dia merangkap jadi CEO sejak 3 tahun lalu karena kakak yang seharusnya menjadi CEO meninggal dalam kecelakaan. Awalnya Mama Dewi yang jadi CEO tapi karena factor U jadi mas Tyo ambil alih" kata Wienda lagi

__ADS_1


"Subhanallah Wienda. Keluarganya juga semua ramah-ramah dia juga biasa aja gitu bertamu kerumah kita disuguhin makanan juga dimakan tidak menunjukkan kalo dari kalangan atas" ucap Bunda


"Udahlah gibah mulu, aku mau istirahat. Selamat malam Bunda selamat malam ayah" pamit Wienda tak lupa mencium pipi kedua orang tuanya


__ADS_2