
Acara terus berlanjut. Bahkan Tyo juga mengundang Cikha dan suaminya.
"Wienda" panggil Cikha
"Cikha, kamu datang juga" kata Wienda yang sudah memeluk sahabatnya itu
"Suamimu ngundang kita. Selamat ulang tahun ya Wien semoga sehat selalu tambah cantik tambah momongan, sikembar butuh adik tu" kata Cikha
"Terimakasih Aku aja gak tau mas Tyo nyiapin ini semua" kata Wienda
"Selamat ulang tahun Nyonya Tyo" ucap suaminya Cikha
"Terimakasih tuan udah mau hadir disini" jawab Wienda
"Sama sama Nyonya " kata Johan
"Ini kado dari aku gak seberapa sih" Cikha menyerahkan kotak kado pada Wienda
"Terimakasih Cik" ucap Wienda dengan menerima pemberian sahabatnya
"Sesha mana kangen aku ma tu anak" tanya Cikha
"Disana babynya dibawa soalnya" Wienda menunjuk tempat Sesha berada.
"Aku nyamperin Sesha dulu ya Wien. Ayo dad" kata Cikha
"Iya silahkan daan nikmati hidangannya" kata Wienda
Tyo sedang duduk dengan dua jagoannya. Sementara Wienda berkeliling menyapa tamu yang datang. Semua undangan hanya teman Wienda saja.
"Capek" kata Wienda yang duduk disebelah suaminya
"Sini" Tyo menepuk pahanya agar Wienda duduk dipangkuannya
"Mas ini tempat umum" kata Wienda
"Hehehe lupa kebiasaan" kekeh Tyo
"Kalo capeknya udah mendingan kita naik keatas " kata Tyo
"Diatas ada apa mas" tanya Wienda
"Gak ada apa-apa, ya kita lihat aja " jawab Tyo
"Sekarang aja" kata Wienda
"Sus jaga mereka " kata Wienda pada baby sitternya
"Siap Nya " jawab baby sitter
Wienda itu majikan yang sangat baik, tidak memandang status sosial mereka. Meskipun mereka cuma baby sitter atau asisten rumah tangga tapi Wienda tidak pernah berkata kasar pada mereka.
Tyo menggandeng tangan Wienda menaiki tangga. Sampai lantai dua Tyo membuka pintu ruangan dan mengajaknya Wienda masuk.
"Ini nanti yang jadi ruang kerjamu sayang" kata Tyo
"Mas sudah menyiapkan sampai sedetail ini " tanya Wienda
__ADS_1
"Kamu suka gak" bukannya menjawab Tyo malah nanya balik
"Sangat sangat suka " jawab Wienda
"Kok Sofanya sofa lipat " dahi Wienda berkerut
"Hehehe sengaja " jawab Tyo
"Sengaja " Wienda mengulangi ucapan Tyo
"Iya sengaja kan disini tidak ada ranjang kalo nanti mas mampir sini mas bisa rebahan disini" kata Tyo
"O" jawab Wienda
"Cuma o doang" kata Tyo
"Terus maunya aku jawab apa" tanya Wienda heran
"Nanti kita bisa ber ah ih uh ria disofa ini sayang " jawab Tyo omes
"Astaghfirullah mas otakmu" kata Wienda
Tyo langsung melahap bibir seksi istrinya. Ciumannya cukup lama sampai keduanya kehabisan nafas.
"Ayo turun" kata Wienda
"Gak dilanjut yang" kata Tyo
"Nanti" jawab Wienda
"Sebenarnya Wienda tadi punya kejutan buat mas Tyo tapi lupa tidak aku bawa" kata Wienda
"Nanti kalo udah nyampek rumah aku kasih tau, sekarang kita turun dulu" kata Wienda yang bergelayut manja dilengan suaminya
Acara berlangsung meriah. Banyak kado menumpuk diatas meja. Tyo memerintahkan pekerjanya untuk membawa semua kado itu kemobil dan membawanya pulang kerumah.
Jam 11 malam acara telah usai. Semua tamu sudah bubar. Putra kembarnya juga sudah diantar pulang sopir. Kini tinggal Tyo dan Wienda juga beberapa bodyguard.
"Pulang yuk yang udah malam" ajak Tyo
"Ayo" kata Wienda
Mereka berdua masuk mobil yang disopiri Panji. Dari keluar sampai rumah sekarang keduanya menempel erat bak surat dan prangko.
Keduanya memasuki rumah mewahnya dengan tangan saling mengait. Ayah dan bundanya juga kedua adiknya nginep disini malam ini.
"Yang katanya mau memberi mas kejutan" kata Tyo begitu masuk kamarnya
"Udah gak sabar ya mas" goda Wienda
"Iya" jawab Tyo
"Tunggu dulu, aku mau pipis dulu" Wienda pergi masuk kamar mandi
Tyo tidak sabar menunggu bahkan Tyo sudah melepas bajunya tinggal menyisakan celana boxer dan kaos dalamnya.
Wienda mengernyit melihat suaminya sudah berganti baju seperti itu.
__ADS_1
"Yang buruan udah gak tahan ni" kata Tyo
Wienda berjalan kearah meja rias dan duduk disana. Wienda membuka laci dan mengambil sesuatu dari dalam laci.
"Ta ta"Kata Wienda dan memberikan benda kecil tersebut kepada suaminya
"Ha yang kamu hamil" tanya Tyo begitu menerima benda kecil tersebut
"Iya seneng gak" tanya Wienda
"Seneng pakai banget" Tyo sudah memeluk istrinya dengan erat
"Mas gak bisa nafas" kata Wienda
"Maaf maaf mas terlalu excited" kata Tyo dan melonggarkan pelukannya
"Kapan kamu cek ini" tanya Tyo
"Tadi pagi. Pas mau beri tau mas sibuk banget. Bahkan ninggalin aku gitu aja. Tahu gak sih mas seharian aku nangis karena kamu abaikan" curhat Wienda
"Maaf ya sayang udah bikin kamu sedih" kata Tyo
"Gak papa lain kali jangan ulangi lagi ya ngerjain aku" kata Wienda
"Hehehe"
"Sayangnya Papa baik baik ya didalam jangan nyusahin Mama. Kita bertemu 9 bulan lagi" Tyo mengecup perut istrinya yang masih rata
"Kalo aku hamil butik siapa yang urus" tanya Wienda
"Gak usah dipikirkan" kata Tyo
"Mas makasih ya untuk semuanya" kata Wienda
"Sama-sama sayang. Makasih juga kamu udah memberi warna dalam hidup mas udah ngasih keluarga yang hangat udah mau ngurus mas dengan tulus dengan cinta" kata Tyo
"Udah jadi kewajiban aku sebagai istri kamu mas" kata Wienda
"Besuk kita kemakam Papa ya. Selama ini mas belum ajak kamu kemakam Papa" kata Tyo
"Iya " jawab Wienda
"Udah sekarang waktunya kita tidur" kata Tyo
"Aku mau ganti baju dulu mas" kata Wienda
"Gak usah. Sini mas lepasin bajunya, gak usah pakai baju" kata Tyo yang mulai melepas pakaian istrinya satu persatu hingga lolos semua
"Dingin mas" kata Wienda
"Sini" Tyo menarik pinggang istrinya untuk menempel padanya yang juga sudah polos. Keduanya benar-benar tidur. Tidak melakukan olahraga malam meski tubuh mereka sudah polos.
Pagi menyambut dengan hangatnya mentari yang mengintip lewat celah gorden kamar mereka. Tyo mengerjabkan matanya tak jala mentari mengenai penglihatannya.
Tyo tersenyum bahagia istrinya masih terlelap dalam dekapannya. Tyo menelusuri wajah tirus istrinya. Merasa ada sentuhan dikulit mulusnya Wienda membuka mata.
Wienda memulai mencium bibir suaminya. Dan terjadilah pergulatan keduanya. Semalam yang tidak terjadi karena keduanya kecapekan kini ditunaikan dipagi hari.
__ADS_1
Sekitar satu jam pergulatan mereka baru berakhir. Tyo membawa istrinya kekamar mandi. Mereka mandi berdua. Selesai mandi Wienda hendak turun kebawah untuk menyiapkan sarapan suami serta putranya tiba-tiba rasa mual menyeruak. Wienda berlari kekamar mandi dan memuntahkan isi perutnya. Semua yang dimakan semalam keluar semua. Tyo dengan sigap memijit tengkuk istrinya. Tyo membantu istrinya membersihkan sisa-sisa muntahannya dibibirnya. Tyo tidak merasa jijik sama sekali. Tyo dengan telaten mengolesi punggung dada sampai perut Wienda dengan minyak kayu putih. Wienda terlihat kelelahan. Tyo yang beralih menyiapkan sarapan untuk istrinya. Wienda bersandar dikepala ranjang. Tubuhnya sangat lemas. Mungkin akibat kelelahan melakukan olahraga paginya ditambah muntah muntah jadi kini tubuhnya lemas seperti tak bertulang.