
Seperti biasa Wienda selalu menyiapkan sarapan buat suaminya. Meski banyak ART yang dipekerjakan suaminya, Wienda selalu mengerjakan sendiri urusan isi perut suami serta anak-anaknya. Dan cara itu mampu membuat Tyo makin cinta pada istrinya.
"Pagi sayang" Tyo menghampiri istrinya yang sedang sibuk menata makanan dimeja. Seperti biasa ciuman selamat pagi selalu mendarat dikening juga bibir Wienda.
"Pagi juga masku sayang" jawab Wienda
"Wow sarapannya komplit banget" tanya Tyo
"Iya dong kan buat suami tercinta" jawab Wienda
"Pagi semua" sapa Mama yang baru datang dengan Papa Andrew
"Pagi ma pagi pa" jawab Wienda
Wienda mengambilkan nasi untuk suaminya "Mau lauk apa mas"
"Ayam goreng aja sama sayurnya" jawab Tyo
Mereka berempat makan dengan hening hanya suara sendok dan garpu. Setelah selesai makan barulah Mama membuka suara.
"Yo soal semalam,,,,, Mama setuju tapi tidak dengan saham 25 persen" kata Mama membuka suara
"Menurut Mama berapa Tyo ngikut apa kata Mama" kata Tyo
"15 persen mungkin bisa Mama terima" jawab Mama
"Makasih ya ma, Mama udah mau ngerti Tyo" kata Tyo
"Kamu kan anak Mama, jadi Mama akan nglakuin apapun untuk kebahagiaan anak semata wayang Mama, meski sekarang udah jadi orang tua juga" Mama terkekeh
"Mama emang the best" Tyo mengangkat dua jempolnya
__ADS_1
"Hari ini juga Tyo akan selesaikan semua proses pengalihan saham dan juga pimpinan perusahaan" kata Tyo
"Tapi kamu harus tetap memantau keadaan perusahaan meski kamu tidak terjun langsung, kelak perusahaan itu akan menjadi milik putramu" kata Mama
"Pasti ma" Tyo
"Tapi Mama mau bicara dulu dengan Sakti berdua saja" pinta Mama
"Mama bisa telpon Sakti sekarang suruh datang kesini" kata Tyo
"Kamu hubungi dia Mama tunggu" perintah Mama
"Siap Mama"Tyo
Tiga puluh menit kemudian Sakti sudah duduk diruang kerja Tyo dengan Mama Dewi. Sementara Tyo sudah berangkat kerumah sakit.
"Sakti to the point aja. Kamu tau kalo Tyo memberikan kepemimpinan sama kamu" tanya Mama penuh selidik
"Tau nyonya, kemarin tuan Tyo bicara sama saya tapi saya menolak karena saya merasa tidak pantas menduduki posisi itu" jawab Sakti dengan tenang
"Tapi Nyonya" Sakti
"Tidak ada tapi, semua harus kamu terima" Mama
"Tapi Nyonya saya merasa tidak pantas duduk diposisi itu" Sakti
"Mama sudah bilang tidak ada tapi titik" kata Mama tegas
"Baik Nyonya tapi jangan lupa beritahu saya kalo saya melakukan kesalahan" Sakti
"Tyo bilang tidak alasannya mundur" tanya Mama
__ADS_1
"Katanya tuan ingin fokus dirumah sakit dan butuh waktu lebih buat keluarganya" jawab Sakti
"Ok" Mama berdiri meninggalkan Sakti
Kepala Sakti mendadak seperti mau meledak. Semua serba mendadak. Jadi asisten Tyo saja sudah tidak punya waktu dengan istrinya, apalagi jadi CEO sudah pasti dirinya akan semakin sibuk, sedang Sesha istrinya butuh perhatian lebih dari suaminya karena kehamilannya.
Sakti keluar dari ruang kerja Tyo dengan wajah kusut. Dia bergegas menuju mobilnya dan segera melaju menuju kantor karena sebentar lagi ada rapat tahunan. Tyo akan datang terlambat karena ada operasi dadakan dirumah sakit.
Sakti harus mencari asisten jika dirinya diangkat jadi CEO. Dia memanggil sekretaris Tyo. Dia minta rekomendasi siapa yang pantas dipilih jadi asistennya. Pikiran Sakti mendadak buntu seketika. Otak cerdasnya entah tertinggal dimana yang jelas otaknya tidak ikut kekantor setelah mendengar permintaan Mama Dewi.
Sakti mengambil hpnya dan menghubungi istrinya.
"Hallo sayang" sapa Sakti
"Hallo mas ada apa masih pagi udah telpon kangen ya" goda Sesha
"Iya aku kangen" jawab Sakti
Tiba-tiba Tyo udah nongol didepanya aja. "Kerja bukan kangen kangenan mulu, baru ditinggal sebentar aja udah kangen ma singa galak lo" kata Tyo
Sakti melotot mendengar ucapan Tyo alamat disuruh tidur diluar. Sesha kan tidak seperti Wienda yang tidak bisa kalo tidur tidak dipeluk Tyo. Sesha bahkan pernah tiga malam tidur sendiri karena ditinggal pergi keluar kota.
Kalo Tyo jangan ditanya lagi. Tiap tiap ada kerjaan luar kota istrinya selalu dibawa kemana mana bahkan sekarang sudah punya anak pun. Kemana Tyo pergi disitu Wienda serta putra kembarnya berada. Mereka berdua sudah bucin akut.
"Maaf tuan" kata Sakti tidak enak karena barusan ketangkap basah dijam kerja malah bertelponan dengan istrinya.
"Meeting nya gimana, apa ada masalah" tanya Tyo
"Tidak tuan semua seperti rencana" kata Aripin
"Oh ya tadi Mama ngomong apa sama lo" tanya Tyo
__ADS_1
"Sakti harus menerima apapun keputusan tuan" jawab Sakti
"Bagus Mama selalu mengerti saya" bangga Tyo