
Larietta yang sangat kecewa pada Duke dan Duchess Boulois yang tidak memperdulikan dirinya sama sekali membuat Theodore yang berada di samping Larietta sejak awal ikut merasa sedih.
"Larietta...!" gumam Theodore
"Aku baik-baik saja!" jawab Larietta dengan senyum terpaksa.
Theodore yang tau jika Larietta memiliki harga diri yang tinggi pun mengajaknya untuk pergi ke Balkon Istana di bagian Barat.
"Larietta! Tempat ini sangat berisik, apakah kau mau pindah ke tempat yang lebih tenang?"
Larietta yang melihat ke sekelilingnya yang ternyata mata semua bangsawan tertuju padanya sambil bergosip tentang dirinya pun menganggukkan kepala.
Theodore yang membawa Larietta ke Balkon menjadi sangat sedih saat melihat ekspresi yang dibuat oleh Larietta.
'Aku ingin sekali memelukmu dan menghiburmu tapi aku hanyalah orang asing yang baru mau masuk ke hidupmu!'
'Aku tak bisa bersikap seperti orang lama karena aku tak ingin kau menjauhiku!'
"Hanya saja... Jika ada yang bisa aku lakukan untukmu maka aku pasti akan mengusahakan yang terbaik!'
Theodore yang melihat Larietta menatap bulan yang terlihat jelas di Balkon dengan tubuh menggigil karena angin malam pun meletakkan jas miliknya ke bahu Larietta.
"Pakailah ini sementara! Ini akan menghangatkanmu!"
"Aku akan mengambil segelas wine untukmu!"
"Jangan khawatir! Ini bukanlah tempat biasa karena hanya Keluarga Kerajaan dan Duke yang bisa memasuki tempat ini!"
Larietta yang saat ini sangat membutuhkan waktu sendiri dan ketenangan dari semua kebisingan yang ada dengan cepat menganggukkan kepala menerima semua kebaikan Theodore.
"Terima kasih!"
Larietta yang melihat pintu yang tertutup akhirnya tertutup kembali merasakan seluruh kekuatan tubuhnya langsung menghilang seketika.
"Hah!"
Larietta yang terus menguatkan dirinya dan bertahan agar tak terlihat lemah di hadapan orang-orang yang tidak menyukainya merasa sangat lelah.
"Aku sangat lelah. Rasanya ingin segera kembali dan berisitirahat!" gumam Larietta.
"Hah! Kembali? Kembali kemana? Tak ada tempat untukku kembali lagi?" ucapnya putus asa.
Larietta yang bersandar di pagar balkon menatap gelapnya malam dengan banyak bintang di langit dan bulan yang terlihat sangat indah.
"Apakah kalian sedang menertawakan di atas sana?"
"Hidupku memang sangat menyedihkan bukan?"
__ADS_1
"Aku telah meninggal di tempat asalku dan sekarang aku terjebak di dalam Novel yangmana aku ditakdirkan meninggal!"
"Aku hanya ingin menjalani hidup dengan tenang."
"Aku tak menginginkan posisi Putri Duke Boulois ataupun Pernikahan dengan Joseph!"
"Kenapa semuanya begitu sulit?"
Larietta yang mengingat kembali kejadian yang baru saja terjadi padanya pun menyadari apapun yang dilakukannya untuk menghindar maka akan selalu ada orang yang menariknya ke sudut.
Larietta yang telah merasa lebih baik dan berhasil membuat keputusan untuk dirinya pun kembali berdiri dengan tatapan mata yang tajam menatap bulan.
"Jika aku tidak bisa menghindar atau mengalah maka aku akan bertarung!"
"Aku akan menjadi Protagonis di dalam Novel ini!"
"Aku akan menjadi orang terakhir yang tertawa di cerita ini!"
Sementara itu, Theodore yang merasa jika Larietta telah cukup lama sendiri pun kembali menemuinya dengan membawa segelas wine.
"Maaf jika aku terlalu! Banyak Tuan Muda yang menghentikan langkahku!" ungkap Theodore.
"Tidak masalah. Terima kasih!" balas Larietta.
Theodore yang mendengar suara terompet terdengar cukup keras dari dalam ruang acara pun mengajak Larietta kembali.
"Sepertinya Yang Mulia Kaisar, Permaisuri dan Putra Mahkota akan segera memasuki ruangan dan Kita harus segera kembali!"
Larietta yang melihat keharmonisan dalam hubungan Kaisar dan Permaisuri membuat Larietta menjadi iri dan sedih.
'Pernikahan Keluarga Bangsawan sama seperti Pernikahan Orang Kaya di kehidupanku yang lalu!'
'Hubungan saling mencintai dalam Pernikahan seperti ini adalah sebuah keajaiban karena tak semua orang bisa merasakannya!'
'Pernikahan yang terjadi demi kepentingan politik tak jarang membuat orang yang telibat tak menemukan kebahagiaan karena akan selalu ada orang ketiga dalam hubungan tersebut!'
Larietta yang melihat Kaisar dan Permaisuri melakukan dansa pertama sebagai pertanda bahwa Pesta akan segera dimulai membuat larietta tanpa sadar mencari sosok Melisha dan Joseph.
'Keduanya tidak terlihat di Pesta, apakah mereka juga meninggalkan tempat ini?'
Sementara itu, Melisha yang diantar Joseph kembali ke Kediaman Duke Boulois mendapatkan keyakinan pada janji yang dibuat Joseph.
"Aku akan langsung meminta Ayahku untuk membatalkan Pertunanganku dengan Larietta dan menjadikanmu sebagai wanitaku satu-satunya!"
"Melisha tidak ingin Joseph menghadapi masalah karena Melisha. Jika hal ini membuat Joseph dalam keadaan sulit sebaiknya Joseph..."
"Tidak! Aku tidak perlu memikirkan apapun lagi karena aku telah membuat keputusan!"
__ADS_1
"Aku mohon percayalah padaku! Aku pasti akan menyatukan cinta kita!"
"Melisha akan selalu percaya dan menunggumu!"
Joseph yang bahagia dengan jawaban Melisha pun mencium punggung tangan Melisha lalu kembali ke Kediaman Marquess Danzhweltz.
Melisha yang melihat Joseph telah menghilang dari padangan pun menatap dingin bangunan besar yang ada di depannya.
"Sungguh menarik! Sepertinya yang terjadi di Istana telah sampai di Kediaman ini!"
"Tak seorangpun Pelayan datang menyambut kedatanganku dan tak seorangpun menginginkanku! Sama seperti hari pertama aku datang kemari!"
Melisha yang tak ingin kejadian yang terjadi di Istana menghancurkan masa depannya dan membuat semua rencana yang telah dibuatnya hancur pun memasuki Kediaman Duke Boulois.
"Saat ini Duke dan Duchess pasti sedang bicara dan pasti pertengkaran telah terjadi!"
"Aku harus membuat Duchess menyerah dan percaya padaku!"
Melisha yang berdiri di depan pintu ruang kerja Duke dengan berani mengetuk pintu meski mendengar suara teriakan dari Duchess Boulois.
"Siapa itu? Pergi! Tak ada seorangpun yang boleh ada di sini dari jarak lima meter!" tegas Duchess.
Melisha yang tidak akan menurut meskipun diusir atau diperlakukan buruk memaksa masuk ke dalam dan memulai rencananya.
Melisha yang langsung berlutut di lantai sambil menangis membuat Duke menjadi sangat sedih dan berniat menolong Melisha berdiri tapi segera dihentikan dengan kode singkat.
"Ma-maafkan ketidaksopanan Melisha, Nyonya! Semua adalah kesalahan Melish! Maafkan Melisha!"
"Tidak seharusnya Melisha menerima ajakan dari Tuan Muda Danzhweltz! Melisha bersalah! Maafkan Melisha!"
"Melisha tau jika semua ini terjadi karena Melisha makanya Nona Larietta bersikap seperti itu, Melisha bersedia meninggalkan tempat ini sekarang juga, Nyonya!"
Duke Boulois yang tak ingin Melisha pergi berniat menghentikannya lalu tiba-tiba Duchess Boulois mengatakan sesuatu.
Duchess Boulois yang menjadi curiga pada hubungan Duke Boulois dan Melisha karena ucapan Larietta di Acara Pesta menjadi kasihan pada Melisha yang berlutut dan menangis di hadapannya.
Duchess Boulois yang mengingat Melisha yang tidak memiliki siapapun dan tempat tinggal yang layak menggigit bibir bawahnya menekan keraguannya dan meningkatkan sisi kemanusiaannya.
"Mau kemana kau pergi? Bukankah kau sudah tak punya tempat?"
"Kau tak perlu pergi kemanapun. Tetaplah tinggal disini!"
"Aku yakin Larietta hanya salah paham padamu dan akan kembali ke dirinya semula secepatnya!"
Melisha yang memasang wajah sedih dan iba untuk orang yang melihatnya langsung merubah ekspresinya menjadi senyum penuh kemenangan setelah Duchess membantunya berdiri dan memeluknya.
'Aku tak tau apakah Duchess adalah orang yang baik atau bodoh tapi tetaplah seperti ini agar rencanaku dapat berjalan dengan lancar!'
__ADS_1
#Bersambung#
Apa yang akan dilakukan Melisha nantinya? Akankah rencana Melisha akan berhasil? Tebak jawabannya di kolom komentar ya..