Villainess Wants Happy Life

Villainess Wants Happy Life
BAB 6. Master Enam Elemen


__ADS_3

Melisha yang penasaran dengan perubahan Larietta yang tiba-tiba berubah menjadi anak yang patuh saat dihukum pun pergi menemui Larietta.


Melisha yang datang meminta bertemu dengan senyum yang lembut dan wajah yang polos membuat Anna yang menunggu di depan pintu kamar Larietta merasa jijik.


“Apakah Larietta ada di dalam? Aku sangat mengkhawatirkannya jadi apakah aku boleh datang menemuinya?” tanya Melisha dengan wajah yang memerah karena malu.


Anna yang ternyata telah mendapatkan pesan dari Larietta sebelumnya dirinya berjaga di depan pintu kamar menatap dingin ke arah Melisha.


“Maafkan ketidaksopanan saya Nona tapi saat ini Nona Larietta sedang istirahat dan tidak bisa diganggu!” ucap Anna dengan ekspresi wajah yang datar dan sikap yang sopan.


Melisha yang dapat menebak bahwa Larietta sengaja meminta Anna untuk menghentikannya datang pun menolak untuk pergi begitu saja.


Melisha yang terbiasa menggunakan air mata dan bersikap lemah di hadapan orang-orang demi mendapatkan simpati dapat mengeluarkan air matanya dengan mudah.


“Ada apa? Apakah Nona Larietta sakit? A-aku....” gumam Melisha dengan sikap ragu-ragu.


“Ini semua pasti salahku. Ini semua karena aku tidak bisa menolak Joseph yang datang menemuiku padahal aku sudah memintanya untuk pergi!” ungkap Melisha yang mulai bersikap seperti korban.


“Aku tau Nona Larietta pasti sedang sedih saat ini. Aku mohon izinkan aku masuk. Aku ingin meminta maaf pada Nona Larietta!” ucap Melisha yang secara tepat menangis di depan Anna.


Anna yang melihat semua Pelayan yang ada di sekitar kamar Larietta telah berkumpul karena melihat Melisha menangis pun menjadi kesal lalu menggigit bibir bawahnya.


Anna telah diperingatkan oleh Larietta tentang Melisha yang akan memainkan peran korban di hadapannya dan akan membuatnya dalam posisi sulit mengepalkan tangannya dengan sangat erat.


Anna yang tidak bisa membiarkan Larietta dibicarakan di belakang dengan kata-kata yang kasar karena sifat keras kepala Melisha memutuskan untuk mengikuti saran Larietta.


Anna yang menarik nafas panjang pun menjatuhkan dirinya ke lantai dan bersujud di hadapan Melisha sambil menangis meminta maaf kepada Melisha.


“Mohon ampuni saya, Nona! Mohon ampuni saya! Saya bersalah! Mohon ampuni saya!” ucap Anna dengan tubuh bergetar ketakutan.


Pelayan yang melihat Anna tiba-tiba berlutut dengan tubuh menggigil mulai berbisik di belakang Melisha yang membuat Melisha menjadi panik.


‘Ada apa? Kenapa Pelayan Pribadi Nona Larietta berlutut di hadapan Nona Melisha?’


‘Aku tidak tau! Apakah Nona Melisha mengancam Pelayan tersebut?’


‘Jaga mulutmu! Kita tidak boleh bicara sembarangan atau nyawa kita yang akan melayang!’


Melisha yang sadar jika situasinya telah berbalik merugikannya dengan cepat membuat keputusan cepat untuk memperbaiki nama baiknya.


“Berdirilah, Anna! Kenapa kau meminta ampun? Apa salahmu?” tanya Melisha lembut.

__ADS_1


“Maafkan aku. Aku tidak bermaksud menakutimu! Aku hanya khawatir kepada Nona Larietta tapi jika Nona Larietta sungguh tidak bisa diganggu maka aku akan pergi!” ucap Melisha sambil tersenyum ramah.


Melisha yang terpaksa harus mundur untuk membuat situasi kembali baik ternyata menolak untuk kalah sehingga meminta Anna untuk memberikan hadiah yang didapatkannya dari Joseph kepada Melisha.


Anna yang tidak punya pilihan lain terpaksa menerima hadiah yang sama sekali tidak cocok untuk karakter Larietta sambil tersenyum.


"Terima kasih. Baiklah. Aku akan kembali sekarang. Aku harap aku bisa bertemu dengan Nona Larietta karena aku sangat merindukannya!" ungkap Melisha dengan wajah memerah lalu berbalik pergi kembali ke kamarnya.


Anna yang kembali menemui Larietta yang sedang berendam di dalam bak mandi memberikan hadiah yang diberikan Melisha untuk disampaikan kepada Larietta.


"Nona, ini adalah hadiah yang dikirimkan oleh Nona Melisha untuk anda!" ucap Anna dengan wajah tak senang.


Larietta yang melihat sebuah gaun dengan sepasang sepatu serta satu set perhiasan di dalam kotak hadiah tersebut menyipitkan matanya.


Larietta yang sudah bisa menebak tujuan Melisha memberikan hadiah itu padanya pun tersenyum licik lalu mengalihkan pandangannya kepada Anna yang terlihat sangat tegang di sampingnya.


“Simpan hadiah tersebut dengan baik karena saat waktunya tiba kita bisa menjualnya dan mendapatkan banyak uang dari itu!” ucap Larietta dengan sikap yang cuek.


"Baiklah, Nona!" ungkap Anna yang membuka matanya sangat lebar karena tidak menyangka dengan reaksi yang diberikan Larietta.


Larietta yang melihat wajah terkejut, kesal dan marah di saat bersamaan di wajah Anna , pun tersenyum kecil lalu memanggil Anna yang telah berbalik untuk kembali.


“Anna, kerja bagus!” ucap Larietta dengan senyum tulus.


Larietta yang sudah sangat yakin dengan sifat Melisha menyadari bahwa keputusannya sudah sangat tepat untuk tidak terlibat dengan Melisha yang berwajah dua.


Di malam sebelum masa hukumannya berakhir, Larietta yang mengunci dirinya di dalam kamar dengan sedikit penerangan pun memutuskan untuk membuat Pola Segel Enam Elemen.


Larietta yang telah membulatkan keputusan untuk menjadi Master Elemen setelah membaca semua buku yang dibawa Anna menarik nafas panjang dan memulai prosesnya.


Larietta yang sangat gugup dan cemas di saat bersamaan menguatkan dirinya sendiri bahwa apapun yang terjadi dirinya tak akan pernah menyerah dengan keadaan.


“Aku akan mencob membuat kontrak dengan Spirit Elemen tapi jika gagal maka aku akan tetap mendaftar ke Akademi Rinette dan menjadi Administrator seperti kehidupanku sebelumnya!" tegas Larietta dengan sikap optimis.


Larietta yang menggores ujung jarinya hingga berdarah pun menggambar sebuah Pola di sebuah lantai seperti yang tertulis di dalam buku.


Larietta yang terduduk di hadapan sebuah Pola Segel kemudian membaca mantra yang tertulis dengan tegas sambil meletakkan kedua tangannya di atas Pola Segel.


"Api, Angin, Air, Tanah, Cahaya & Kegelapan! Aku memanggil keenam Spirit Elemen dan jadilah teman kontrakku!" ucap Larietta dengan tekad yang kuat.


Larietta yang memejamkan matanya saat membaca mantra menjadi penasaran dengan hasilnya lalu membuka matanya kembali.

__ADS_1


Namun saat tak ada apapun yang terjadi setelah semua yang dilakukannya perasaan sedih, kecewa dan tak berguna muncul di dalam lubuk hatinya walau dirinya telah memiliki rencana lain.


"Hah! Apakah aku gagal membuat kontrak?" gumam Larietta sambil menarik nafas panjang.


Saat Larietta telah menerim kenyataan itu dan berniat menghapus Pola yang ada di lantai tiba-tiba sebuah cahaya muncul lalu enami Spirit Elemen berdiri di hadapannya dengan senyum yang lebar.


Larietta yang tak percaya dengan yang dilihatnya terdiam sesaat dengan mata terbuka dan ekspresi wajah terkejut lalu saat keenam Spirit Elemen mengatakan sesuatu Larietta akhirnya kembali ke kewarasannya


"Namaku Andien, aku pemilik Elemen Air!"


"Namaku Phoenix, aku pemilik Elemen Api!"


"Namaku Sylphide, aku pemilik Elemen Angin!"


"Namaku Bumi, aku pemilik Elemen Tanah!"


"Namaku Light, aku pemilik Elemen Cahaya!"


"Namaku Black, aku pemilik Elemen Kegelapan!"


"A-Aarrgghh! Namaku Larietta Issabele De Boulois! Apakah di antara kalian berenam ada yang mau menjadi teman kontrakku?" tanya Larietta dengan wajah yang gugup.


Keenam Spirit Elemen yang ditanya Larietta saling berpandangan lalu menyentuh dahi Larietta dengan tangannya yang menandakan bahwa Keenam Spirit Elemen telah setuju menjadi teman kontrak Larietta.


Keesokan harinya, Larietta yang terbangun dari tidurnya terduduk dengan ekspresi wajah tak percaya bahwa dirinya sungguh telah membuat kontrak dengan Elemen Spirit secara bersamaan.


Larietta yang ingin menguji kebenaran tentang identitas barunya pun langsung memanggil nama salah satu elemen untuk berdiri di depannya.


"Undine!" panggil Larietta.


Larietta yang melihat cangkir di samping tempat tidurnya kosong pun mengambilnya lalu meminta Undine mengisi penuh cangkir tersebut.


"Isi cangkir ini dengan air laut yang asin!" tegas Larietta dengan ekspresi wajah yang serius.


Undine yang menjatuhkan air ke dalam cangkir tanpa tau asal air tersebut mencoba mengendalikan dirinya meskipun sangat terkejut lalu mencoba meminuk airnya.


Larietta yang tak berpikir bahwa Undine akan sungguh memberinya air laut dengan cepat memuntahkan air tersebut dan terbatuk-batuk.


Anna yang selalu siaga di depan pintu langsung melangkah maju dan membantu Larietta yang sedang tersedak air laut.


Hah! Jadi semuanya adalah kenyataan. Sekarang aku adalah Master Elemen jadi masa depanku pasti akan lebih baik!' pikir Larietta dengan pandangan lurus ke depan.

__ADS_1


#Bersambung#


Bagaimana kelanjutan ceritanya? Jangan lewatkan BAB selanjutnya ya..


__ADS_2