Villainess Wants Happy Life

Villainess Wants Happy Life
BAB 78. Kehilangan Harapan


__ADS_3

Melisha yang memilih hidup untuk dirinya sendiri mengabaikan Duke dan Duchess Boulois yang telah memberikannya segalanya selma ini.


Melisha yang kehilangan semuanya dan tinggal sebagai Rakyat Biasa di sebuah rumah lamanya menjadi sangat kesal.


“Aaaarrgghhh! Aku tidak terima! Aku pasti akan membalasmu Larietta!” teriak Melisha dengan suara lantang dan wajah yang marah.


Melisha yang tidak bisa menerima kenyataan dipandang rendah oleh orang-orang karena telah menjadi Rakyat Biasa pergi ke Administrasi untuk mendapatkan kembali Gelar Bangsawannya.


“Meskipun aku telah diangkat menjadi Putri Duke Boulois tapi aku masih Putri dari Baron Valcov. Aku masih bisa menjadi Baroness Valcov dan menggoda Tuan Muda lain hidup dengan lebih layak!” ucap Melisha yang membuat keputusan.


Namun tidak semua rencana akan berjalan dengan lancar. Melisha yang berniat mengambil gelarnya kembali mendapati kenyataan pahit.


“Apa maksudmu? Aku adalah Putri dari Baron dan Baroness Valcov. Bagaimana mungkin ada orang lain yang bisa menyatakan bahwa dirinya sebagai Penerusnya!” teriak Melisha dengan ekspresi tak percaya.


“Itu urusanmu lagipula kau bukanlah Putri kandung dari Baron Valcov dan kau sudah menjadi bagian dari Duchy Boulois yang telah runtuh! Kau tidak bisa menyatakan apapun!” teriak Petugas Administrasi dengan suara yang tegas.


Melisha yang tidak bisa menerima kenyataan itu dengan mudah berniat mencaritau orang yang telah mengambil kesempatan terakhirnya untuk mengubah situasinya.


Namun kesempatan itu datang sangat cepat. Tepat setelah Melisha diusir keluar dari Gedung Administrasi, Larietta yang sengaja datang berdiri di depan Melisha dengan percaya diri.


“Sungguh tak diduga, situasi ini sangat mirip, bukan?” sindir Larietta dengan senyum kecil di sudut bibirnya.


Melisha yang melihat Larietta berdiri di depannya menjadi sangat marah dan berniat menampar wajah Larietta tapi gagal.


“Dasar wanita j*lang! Beraninya kau memandang rendah diriku!” teriak Melisha yang mengangkat tangannya ingin menampar wajah Larietta.


“Siapa yang j*lang sebenarya diriku atau dirimu?” tanya Lariatta dengan tatapan mata yang tajam menangkap tangan Larietta lalu mendorongnya hingga terjatuh ke tanah.


“Kau adalah orang yang tak tau diri. Tak hanya tidak tau malu sudah diselamatkan justru kau mengambil semua yang menjadi milikku tapi tidak disangka nasib buruk yang kau bawa ke Duchy Boulois membuatnya menjadi hancur seperti sekarang!” tegas Larietta dengan tangan terlipat di dada.


Melisha yang ingin membalas Larietta tak bisa bergerak sama sekali karena orang-orang telah berkumpul dan melihat pertengkaran mereka.


Melisha yang tak ingin kesempatan terakhirnya mengubah nasibnya untuk bisa menemukan pasangan yang kaya dan berkuasa terpaksa harus menahan emosinya.


“Hah! Kau bicara seperti kau lebih baik diriku. Apa kau lupa bahwa situasi kita sekarang sama? Kau dan aku sama-sama Rakyat biasa sekarang!” ucap Melisha yang berdiri kembali dengan pandangan mata lurus menatap Larietta.


Larietta yang mendengar pernyataan Melisha tidak bisa menahan tawanya hingga tertawa sangat keras hingga membuat Melisha bingung.


Larietta yang berhenti tertawa pun melangkah maju ke arah Melisha dengan sangat elegan dan membuat Melisha menjadi gugup dan waspada karenanya.

__ADS_1


‘Apa yang ingin kau lakukan Larietta? Apakah kau ingin menamparku? Lakukanlah. Aku akan membuatmu membayar untuk perbuatanmu!’ pikir Melisha dengan tangan terkepal erat.


Larietta yang tidak bodoh sudah bisa menduga jalan pikiran Melisha lalu berhenti saat jarak antara keduanya hanya satu langkah lagi.


“Aku tidak sebodoh itu untuk masuk ke dalam perangkapmu Melisha!” sindir Larietta dengan senyum licik yang membuat Melisha menjadi sangat kesal.


“Kau bilang bahwa situasi kita sama tapi maaf saja kita berdua jauh berbeda. Darah murni yang mengalir ditubuhku tak bisa dibandingkan dengan darah rendah yang ada di tubuhmu!” ungkap Larietta yang berbisik di telinga Melisha.


“Larietta! Jaga bicaramu!” teriak Melisha dengan suara yang lantang.


Anna yang berdiri di samping Melisha menjadi sangat marah dengan sikap Melisha yang sangat tidak sopan dengan Nona yang dilayaninya pun menampar wajah Melisha dengan sangat keras hingga membuat darah keluar dari sudut bibir Melisha.


“Tutup mulut! Beraninya kau meninggikan suaramu pada Nonaku!” teriak Anna dengan suara lantang dengan tangan di pinggang.


Melisha yang tidak terima dengan penghinaan yang diterimanya terutama saat dirinya menyadari bahwa orang yang telah mengangkat tangan padanya hanyalah seorang Pelayan.


“Dasar Pelayan si*lan! Beraninya kau menampar wajahku!” teriak Melisha yang ingin berdiri dan balik menampar wajah Anna.


Anna yang telah menjadi semakin tangguh setelah bersama Larietta selama ini ternyata lebih cepat dan menampar bagian lain dari pipi Melisha.


“Siapa yang kau sebut Pelayan? Rakyat Biasa sepertimu beraninya mengangkat tangan padaku, Baroness Valcov! Apa kau ingin ditangkap atas tuduhan menyakiti Bangsawan?” teriak Anna dengan suara lantang.


Larietta yang menikmati perubahan wajah Melisha pun tersenyum licik lalu melangkah maju dan membisikkan beberapa kalimat yang membuat Melisha menjadi sangat terkejut.


“Kau pasti penasaran orang yang telah mengambil statusmu, bukan? Sekarang kau sudah mengetahuinya dan kau tak akan mati penasaran nantinya!” sindir Larietta dengan tatapan mata yang tajam.


“Aku yang telah membeli Gelarmu dan memberikannya pada Anna dan dalam waktu dekat Istana Kerajaan akan mengadakan Pesta. Kaisar akan memberikan Gelas Khusus padaku atas semua yang telah aku lakukan.” Ucap Larietta dengan senyum yang lebar.


“Saat itu terjadi situasi di antara kita akan sangat berbeda, Melisha. Selamat menikmati hidupmu yang baru!” ucap Larietta yang kemudian berbalik arah.


Larietta yang telah mencapai tujuan utamanya untuk membuat Melisha terpuruk memutuskan untuk kembali.


“Anna! Kita pergi sekarang!” ucap Larietta yang berjalan menjauh dengan diikuti Anna di belakangnya.


Sementara itu, Theodore yang tiba-tiba mendapatkan kabar dari Kediaman Duke Chartreux terpaksa harus kembali secepat mungkin.


“Tuan! Tuan! Tuan! Gawat! Tuan Besar mengembuskan nafas terakhirnya! Anda harus segera kembali ke Duchy!” teriak Olivier dengan suara lantang dan wajah yang panik.


Theodore yang memiliki hubungan yang buruk dengan Ayahnya sangat tidak ingin kembali tapi di sisi lain Theodore tak bisa meninggalkan tanggungjawabnya.

__ADS_1


“Sepertinya aku tidak punya pilihan lain jadi baiklah. Persiapkan semuanya dengan baik!” ucap Theodore memberikan perintah dengan ekspresi serius.


“Baik, Tuan Muda!” jawab Oliver dengan sopan dengan kepala tertunduk.


Theodore yang tau jika dirinya tak bisa menemui Larietta untuk sementara waktu memutuskan untuk mengirimkan pesan agar Larietta tidak khawatir.


“Aku akan pergi lebih awal dan kau bisa menyusul setelah membereskan semua yang ada disini!” ucap Theodore memakai jasnya.


“Kirimkan surat ini kepada Larietta dan berikan ini padanya!” ucap Theodore dengan ekspresi wajah serius.


Theodore yang merupakan Master Sihir dapat pergi kemanapun dengan menggunakan Sihir Teleprortasi dan mempersingkat waktu perjalanan.


Sementara itu, Larietta yang baru saja kembali ke Kediamannya menjadi sangat terkejut saat melihat Olivier menunggunya pulang.


“Olivier? Apa yang kau lakukan disini? Apakah terjadi sesuatu yang buruk pada Theo?” tanya Larietta dengan nada cemas.


“Tidak ada yang terjadi pada Tuan Muda. Nona bisa tenang. Saya datang untuk menyampaikan surat dan kotak ini. Mohon Nona untuk menerimanya!” ucap Olivier memberikan benda yang dipercayakan kepadanya.


Larietta yang tak bisa menahan diri dengan cepat mengambil surat dan juga kotak tersebut dan masuk ke dalam kamar untuk mengetahui isinya.


Larietta yang pertama kali membuka surat dari Theodore menyadari bahwa perasaannya campur aduk saat ini.


“Aku harap Theo baik-baik saja. Dia pasti sangat sedih dan cemas makanya pergi dengan hanya meninggalkan surat ini!” ucap Larietta yang telah sampai pada kesimpulannya sendiri.


“Hmmm, apakah ini kotak hadiah yang dimaksud? Sebaiknya aku melihat isinya.” Ucap Larietta yang penasaran.


Larietta yang melihat sebuah kalung berada di dalam kotak menjadi sangat terkejut dan menemukan sebuah catatan di dalamnya.


“Kau baru saja kehilangan Ayahmu tapi kau masih saja mengkhawatirkanku. Jika kau terus seperti ini, bagaimana aku aku tidak bisa jatuh cinta padamu!” ucap Larietta dengan senyum bahagia.


Larietta yang menyadari bahwa kalung tersebut adalah kalung untuk melindungi dirinya meminta Anna untuk membantunya.


“Terima kasih, Anna!” ucap Larietta dengan senyum bahagia.


“Nona, kalung ini sangat indah dan warna sama dengan bola matamu. Tuan Muda Theodore pasti sangat mencintai, Nona!” ucap Anna dengan penuh semangat yang membuat Larietta menjadi sangat malu dan wajahnya menjadi memerah.


#Bersambung#


Apa yang sebenarnya terjadi di pada pada Keluarga Duke Chartreux? Apakah Melisha akan diam saja setelah penghinaan diterimanya? Tebak jawabannya di kolom komentar ya...

__ADS_1


__ADS_2