Villainess Wants Happy Life

Villainess Wants Happy Life
BAB 52. Keinginan Kembali Bersama


__ADS_3

Joseph yang tiba-tiba mengingat kembali kenangannya bersama Larietta sebelum Melisha muncul merasakan sakit di hatinya.


"Larietta...! Maaf! Maafkan aku!" ungkap Joseph dengan wajah yang sedih.


Joseph yang tidak bisa berhenti memikirkan ulang yang terjadi padanya akhirnya merasa sangat menyesal telah membatalkan Pertunangannya dengan Larietta.


“Aku harus memperbaiki hubunganku dengan Larietta!Aku harus meminta maaf dan meminta Larietta untuk kembali padaku!” ucap Joseph dengan wajah yang optimis.


Joseph yang membutuhkan cara untuk dapat meluluhkan kemarahan dan kekecewaan Larietta dengan cepat memanggil Ajudannya datang.


“Apakah anda memanggil saya, Tuan Muda?” tanya Ajudan sopan.


“Ya! Apakah Larietta tinggal di Kediaman Duke Chartreux selama di Ibukota?” tanya Joseph dengan mata yang tajam.


“Ya, Tuan Muda!” jawab Ajudan singkat.


Joseph yang sudah bisa menebak bahwa Theodore menyukai Larietta dan berniat mengambil hatinya pun mengepalkan tangannya dengan sangat kuat.


‘Aku tidak boleh kalah! Larietta adalah milikku dan akan selamanya menjadi milikku!’ pikir Joseph.


Joseph yang tak ingin melakukan kesalahan yang sama untuk kedua kalinya memutuskan untuk memulai rencananya untuk mengambil hati Larietta lagi.


“Segera pesan Gaun, Perhiasan, Sepatu, dan semua hal yang disukai Larietta dari butik-butik ternama di Ibukota lalu kirim semuanya ke Kediaman Duke Chartreux!” ucap Joseph memberi perintah.


“Pesan satu buah buket mawar merah besar bersama dengan surat ini ke Kediaman Duke Chartreux!” imbuh Joseph dengan sorot mata yang tajam.


“Kirim semuanya kepada Larietta!” tegas Joseph dengan suara yang meninggi.


Ajudan yang merasa sangat terbebani dengan tugas baru yang diberikan Joseph hanya bisa berusaha keras untuk menyelesaikan tugas yang diberikan.


“Baik, Tuan Muda!” jawab Ajudan dengan tubuh tegap.


Sementara itu, Ibukota menjadi sangat ramai setelah Acara Kedewasaan Melisha yang gagal serta berita mengejutkan tentang Melisha yang merupakan anak tidak sah dari Duke Boulois.


Nona Muda dan Nyonya Muda Bangsawan yang sangat menyukai gosip tidak bisa tidak membicarakan hal itu secara diam-diam dalam Pesta yang mereka hadiri.


Pemilik Acara yang tidak ingin disebut orang yang jahat memilih untuk tidak mengetahui yang dilakukan orang di Pestanya sambil menikmati pembicaraan itu dari tempat duduknya yang ada di tengah.


'Apa kau sudah mendengar berita tentang yang terjadi di Kediaman Duke Boulois?'

__ADS_1


'Tentu saja, aku mengetahuinya. Aku datang ke Acara tersebut dan aku melihat sendiri bukti yang diberikan oleh Nona Larietta!'


'Nona Larietta sungguh kasihan! Tak hanya Tunangannya digoda, kasih sayang Duke dan Duchess telah diambil bahkan statusnya pun ingin direbut! Dasar wanita serakah!'


Sementara itu, Gereja yang menjadi tempat verifikasi bahwa Melisha bukan Putri Duke Boulois tak lepas dari pembicaraan sehingga tak banyak Bangsawan yang mempertanyakan kejujuran Pendeta Tinggi bahkan Rakyat biasa mulai tidak percaya pada Gereja.


'Sungguh memalukan! Bagaimana bisa Pendeta Tinggi menerima suap untuk menipu semua orang?'


'Kau benar sekali! Aku sangat kecewa dan kesulitan percaya pada Gereja!'


'Aku pun sama. Bagaimana mereka bisa menggunakan uang yang disumbangkan oleh Para Bangsawan dengan baik sementara Pendeta Tinggi ada yang rela menipu demi keuntungan?'


'Aku pun mencurigai semua uang yang aku donasikan karena bisa saja uang-uang itu dipakai untuk hal yang tidak benar oleh Pendeta-Pendeta itu!'


Gereja yang mendapatkan akibat dari kesalahan salah satu orangnya akhirnya mengalami krisis kepercayaan dari Rakyat Kerajaan Chillia.


Pendeta Agung yang tidak bisa diam saja saat mengetahui Para Bangsawan yang selalu melakukan donasi rutin menghentikan donasinya memutuskan untuk membujuk Larietta.


'Sial! Jika seperti ini terus maka Gereja akan menderita masalah keuangan! Aku tidak bisa diam saja. Aku harus melakukan sesuatu untuk menyelesaikan masalah ini!' pikir Pendeta Agung dengan wajah yang kesal.


Pendeta Agung yang mengetahui bahwa sumber masalahnya adalah Pendeta Tinggi yang dikirim ke Kediaman Duke Boulois memutuskan untuk mengadili keduanya secara terbuka.


“Pendeta Tinggi Bastian! Pendeta Tinggi Tabas! Apakah kalian berdua bisa menjelaskan apa yang sebenarnya telah terjadi? Bagaimana hal ini bisa terjadi?” tanya Pendeta Agung dengan wajah marah.


Pendeta Tinggi Bastian yang merasa sangat bersalah atas akibat yang terjadi karena kelalaiannya dalam menjalankan tugasnya langsung berlutut di hadapan Pendeta Agung mengakui kesalahannya.


“Maafkan saya, Pendeta Agung! Ini adalah kesalahan saya yang sangat ceroboh hingga tidak bisa mengetahui ada kecurangan di depan mata.” Ucap Pendeta Tinggi Bastian menyesal.


Pendeta Agung yang merasa kepalanya sangat sakit dengan kesalahan fatal yang dibuat oleh bawahannya pun kehilangan keseimbangannya sesaat hingga membuat Pendeta yang ada di sekitrnya langsung menangkap tubuhnya agar tidak jatuh.


“Pe-Pendeta Agung...!” teriak beberapa Pendeta dengan wajah yang cemas dan khawatir.


“Aku baik-baik saja!” ungkap Pendeta Agung dengan wajah yang terlihat depresi.


Pendeta Agung yang tidak bisa diam saja dengan semua yang terjadi hingga berimbas kepada semua orang memberikan hukuman yang sesuai untuk keduanya untuk memuaskan Larietta yang menjadi korban.


“Aku akan memberikan hukuman yang pantas untuk kalian berdua!” ucap Pendeta Agung dengan ekspresi serius.


“Pendeta Tinggi Bastian! Kau telah gagal menjalankan tugasmu dan kau pun ceroboh karena tak bisa mengingatkan rekanmu untuk melakukan hal yang baik!” ucap Pendeta Agung dengan tubuh tegap.

__ADS_1


“Oleh karena itu aku akan memberikanmu hukuman penurunan status menjadi Pendeta biasa dan akan dikirim ke Gereja yang ada di Kota lain untuk menebus dosamu selama dua tahun!” ungkap Pendeta Tinggi dengan nada suara yang sedikit naik.


“Pendeta Tinggi Bastian! Kau telah melakukan kesalahan yang sangat fatal! Kau tidak hanya menipu seluruh Rakyat Kerajaan Chillia tapi juga Tuhan hingga menyebabkan seorang anak kandung terusir dari rumahnya sendiri!” ungkap Pendeta Agung dengan sorot mata yang tajam.


“Kau yang telah tersilaukan akan dunia tidak dapat lagi melayani Tuhan. Oleh karena itu, statusmu akan dihapus dan kau bukan lagi Seorang Pendeta lalu Kekuatan Sucimu akan disegel!” ucap Pendeta Agung dengan wajah yang marah.


“Kau juga akan dikirim ke Pengadilan dan menerima hukuman sesuai dengan Hukum Kerajaan Chillia!” tegas Pendeta Agung dengan ekspresi wajah yang dingin.


Pendeta Tinggi Tabas yang menolak dilepaskan statusnya dan tak ingin mendapatkan hukuman yang berat memohon ampun dari Pendeta Agung sambil berlutut di lantai.


“Mohon maaf saya, Pendeta Agung! Saya sungguh menyesal! Tolong ampuni saya sekali ini saja. bukankah Tuhan aka selalu memaafkan hambanya yang menyesal?” teriak Pendeta Agung Tabas dengan ekspresi wajah memelas.


“Hah! Jangan menyebut nama Tuhan dengan mulut kotormu itu! apakah kau tidak berpikir jika Tuhan sangat malu dengan semua yang telah kau lakukan!” sindir Pendeta Agung dengan tatapan sinis.


Pendeta Agung yang tak ingin melihat wajah dua orang yang menjadi sumber masalahnya segera memberikan perintah kepada Kesatria Suci untuk mengirim keduanya ke tempat yang telah diputuskan.


“Tidak! Tolong! Lepaskan! Aku sungguh menyesal!” teriak Pendeta Tinggi Tabas sambil memberontak tapi tak ada yang berubah.


Namun sekeras apapun teriakan keduanya tetap tidak bisa melawan kekuatan dari Kesatria Suci yang terlatih sangat kuat .


Sementara itu, Larietta yang menjadi pusat perbincangan Bangsawan di Ibukota sedang duduk bersantai membaca laporan dari Master Z tentang kemajuan bisnis mereka.


“Hmmm, sudah diduga dari Master Z. Dia adalah orang yang sangat kompeten dan cocok dijadikan pasangan bisnis!” gumam Larietta dengan ekspresi wajah yang puas.


Namun tiba-tiba Anna muncul dan membawa sebuah nampan yang berisikan banyak sekali amplop undangan.


“Apakah itu undangan yang dikirim oleh Nona dan Nyonya Bangsawan untukku, Anna?” tebak Larietta dengan sorot mata yang tertuju pada nampan yang ada di tangan Anna.


“Ya, Nona. Apakah anda ingin membacanya?” tanya Anna bingung.


“Tidak! Aku tidak berniat untuk masuk ke Dunia itu lagi, Anna! Bakar semua undangan itu!” tegas Larietta dengan pandangan mata kembali ke kertas yang ada di depannya.


Anna yang memahami maksud ucapan Larietta dengan cepat menganggukkan kepalanya dan pergi membawa surat-surat tersebut pergi.


Lalu tiba-tiba Larietta yang merasa terganggu dengan suara yang sangat berisik yang didengarnya di luar menjadi kesal.


“Ada apa ini? Kenapa berisik sekali? Apakah telah terjadi keributan?” tanya Larietta bingung dengan ekspresi wajah mencoba menahan emosi.


Larietta yang sangat penasaran memutuskan untuk keluar dan memeriksa yang telah terjadi dan tepat saat dirinya keluar dirinya melihat wajah orang yang sangat familiar datang.

__ADS_1


#Bersambung#


Siapakah wajah familiar yang dilihat oleh Larietta? Apa yang sebenarnya terjadi di Kediaman Duke Chartreux? Tebak jawabannya di kolom komentar dulu y...


__ADS_2