Villainess Wants Happy Life

Villainess Wants Happy Life
BAB 53. Penolakan Larietta


__ADS_3

Larietta yang melihat Ajudan Pribadi Joseph datang ke Kediaman Duke Boulois dengan kereta kuda yang dipenuhi dengan barang-barang mewah sudah bisa menebak yang terjadi.


'Hah! Jadi ini keributan ini berasal dari mereka!' ucap Larietta membuat kesimpulannya dengan sorot mata yang tajam.


Anna yang berdiri di belakang Larietta langsung berkomentar dengan semua yang terjadi di depan matanya.


"Hah! Sungguh tidak tau malu! Apakah mereka pikir Nonaku bisa disuap dengan barang-barang itu?" gumam Anna yang kesal.


"Hmmm, apakah mereka pikir Nona akan melupakan semuanya dengan mudah setelah semua yang dilakukan Tuan Muda Joseph?" sindir Anna dengan nada emosi.


Larietta yang diam-diam menyetujui pernyataan Anna memutuskan untuk kembali ke kamarnya yang diikuti Anna dari belakang.


"Sudahlah Anna. Sebaiknya kita kembali. Biarkan Olivier yang menanganinya!" ucap Larietta dengan nada cuek sambil berbalik arah.


"Ya, Nona!" jawab Anna dengan wajah bahagia.


Namun tidak disangka Ajudan itu melihat Larietta dan Anna yang ingin pergi lalu dengan sengaja membuat keributan untuk menarik pehatian Larietta.


"Tu-tunggu! Bukankah itu Nona Larietta?"


"Nona, Tolong tunggu sebentar! Nona, tolong terima semua hadiah ini!"


Larietta yang ingin mengabaikan teriakan demi teriakan yang diutarakan oleh Ajudan Pribadi Joseph terpaksa harus menghentikan langkahnya.


'Hah! Menyebalkan sekali!' pikir Larietta dengan wajah kesal dengan tangan terkepal menahan emosinya.


Larietta yang tak senang ada orang yang berani memaksanya pun menatap tajam ke sumber suara lalu mengatakan sesuatu dengan wajah dingin.


"Olivier, apakah Theo yang menolak kedatangan kereta kuda dari Kediaman Marquess Danzhweltz?" tanya Larietta dingin.


"Ya, Nona. Tuan Muda bilang bahwa Nona membutuhkan waktu yang tenang karenanya akan lebih baik menolak siapapun pengunjung yang datang!" jawab Olivier sopan.


"Jika seperti itu maka lanjutkan karena aku pun tidak berniat menerima tamu yang tidak memiliki etika!" tegas Larietta dengan mata tajam.

__ADS_1


Ajudan yang mendengar pernyataan dari Larietta langsung terdiam di tempatnya lalu saat Larietta ingin masuk dirinya memberikan sebuah pernyataan mengejutkan.


"Bawa kembali Hadiah itu, Tuan Ajudan! Saya tidak bisa menerimanya!" ucap Larietta dengan wajah datar.


"Katakan pada Tuanmu untuk tidak perlu mengirimkan apapun sebagai permintaan maaf karena maaf itu tidak berguna!" ungkap Larietta dengan ekspresi wajah yang cuek dan dingin.


"Semua yang terjadi adalah pilihan yang dilakukannya dengan sadar tanpa ada yang memaksanya!" ucap Larietta cuek.


"Semua sudah terlambat dan jangan memaksa untuk kembali ke masa lalu karena masa lalu itu telah memiliki masa depannya sendiri!" tegas Larietta dengan tangan tersilang di dada.


Theodore yang diam-diam mendengar percakapan yang terjadi di depan Kediamannya langsung tersenyum bahagia saat melihat Larietta menutup masa lalunya dengan percaya diri.


Theodore yang menutup setangah wajahnya dengan tangan memasang wajah malu dengan telinga dan leher berwarna merah.


'Sial! Ini sungguh gila! Sangat gila! Jika kau mengatakan itu dengan percaya diri, aku yang telah terikat tak akan bisa lepas lagi darimu, Larietta!' pikir Theodore dengan wajah yang memerah seperti tomat.


Theodore yang melihat Ajudan Pribadi Joseph kembali dengan wajah sedih bersama hadiah-hadiah yang telah dipersiapkan menjadi sangat puas.


"Bagaimana bisa aku sempat tidak percaya diri saat menghadapi orang yang tak bisa memiliki penglihatan yang baik!" sindir Theodore dengan senyum kecil di sudut bibirnya.


"Kau sangat bodoh Joseph. Kau telah membuang berlian demi batu kerikil jadi jangan salahkan aku yang menghartakarunkan batu berlian tersebut!" tegas Theodore dengan sorot mata yang tajam.


Ajudan yang tak bisa melakukan apapun karena Larietta menolak keberadaannya dan hadiah yang diberikan tanpa melihat isi terlebih dahulu terpaksa kembali dengan kekecewaan dan harus bersiap menerima hukuman.


'Hah! Apa yang harus aku lakukan? Aku harap Tuan Muda tidak memberikanku hukuman yang terlalu berat!' pikir Ajudan dengan wajah cemas.


Setelah beberapa menit berlalu, Joseph yang tak percaya bahwa Larietta akan menolak semua hadiah yang telah dipersiapkan dengan harga yang mahal menjadi kesal.


'Sial!' umpat Joseph dalam hati dengan tangan terkepal erat.


Joseph yang tak pernah menerima penolakan dari siapapun sangat percaya diri bahwa Larietta akan dengan senang hati menerima hadiahnya dan berlari dengan senyum ceria ke arahnya.


"Larietta yang aku kenal akan selalu menyambutku dengan senyum ceria di wajahnya lalu bagaimana ini bisa terjadi?" tanya Joseph pada dirinya sendiri dengan wajah bingung.

__ADS_1


"Kau seharusnya terus menatap ke arahku Larietta! Kau seharusnya terua mencintaiku dan mengharapkan cintaku bukannya bersikap seperti ini!" ucap Joseph tak percaya.


Joseph yang tidak bisa menerima kenyataan memutuskan untuk bergegas ke Kediaman Duke Chartreux untuk menemui Larietta untuk mengambil hatinya kembali.


"Aku tak bisa diam saja seperti ini! Aku harus menemui Larietta dan meminta maaf secara langsung!" tegas Joseph.


Joseph yang tak bisa berpikir panjang langsung berdiri dari tempat duduknya lalu mengambil jasnya dan berjalan ke arah pintu meninggalkan ruang kerjanya.


"Benar! Aku yakin Larietta pasti sedang memainkan trik untuk mengambil hatiku kembali jadi aku harus mundur selangkah dan Larietta akan berada di dalam pelukanku lagi!" ungkap Joseph dengan wajah yang optimis.


"Aku akan memberikan hukuman untukmu karena gagal menjalankan tugas dariku tapi sekarang bukanlah saatnya. Aku akan memberikmu hukuman setelah urusanku dengan Larietta selesai!" ucap Joseph dengan sorot mata yang tajam dan dingin.


Namun Ajudannya yang melihat sendiri sikap Larietta yang sangat dingin dan tak memiliki perasaan apapun pada Joseph dengan cepat berlari mengejar Joseph dan menghentikan rencananya.


"Tu-tunggu, Tuan Muda! Anda mau kemana? Mohon pertimbangkan lagi keputusan anda!" teriak Ajudan dengan suara meninggi dan keringat yang mengalir sangat banyak.


"A-Anda tidak bisa datang kesana begitu saja karena akan menimbulkan ketegangan antar dua wilayah!" ungkap Ajudan mencoba memberikan alasan yang masuk akal.


"Apa maksudmu mempertimbangkannya lagi? Aku tidak bisa diam saja. Aku harus melalukan sesuatu untuk meluluhkan hati Larietta!" ucap Joseph kesal dengan mata yang memerah menahan emosi.


"Tuan Muda, anda tidak bisa bersikap gegabah saat ini karena saat ini Tuan Muda dalam situasi yang sulit mengingat kesehatan Tuan Marquess yang belum pulih!" ucap Ajudan menundukkan kepala.


Joseph yang memahami maksud ucapan Ajudannya terpaksa harus menahan diri dan fokus dengan masalah utama yang ada di hadapannya.


"Aku mengerti. Kalau begitu sudah saatnya untuk Ayahku untuk beristirahat!" ucap Joseph dengan senyum licik.


Di sisi lain, Mary yang memutuskan untuk mengambil tugas dari Melisha mencari celah untuk mencelakai Duchess Boulois.


"Aku harus bisa melakukannya karena masa depanku ada pada usaha terakhirku ini!" ucap Mary dengan tekad yang kuat sambil memegang botol racun di tangannya.


#Bersambung#


Akankah Joseph berhasil membuat Marquess Danzhweltz istirahat selamanya? Akankah Mary berhasil dalam rencananya? Tebak jawabannya di kolom komentar.

__ADS_1


__ADS_2