
Countess Themrine yang penasaran dengan keseluruhan cerita yang terjadi di Kediaman Duke Boulois memberi perintah kepada Ajudannya untuk mencari tau dan saat semua bukti ada di tangannya Countess Themrine kesulitan percaya dengan kenyataan.
‘Apa ini? Apakah penilaianku sebelumnya salah?’ pikir Countess Themrine dengan ekspresi wajah yang bingung.
‘Tidak! Itu tidak mungkin! Larietta adalah wanita yang kejam dan jahat bagaimana bisa orang yang seperti itu berubah baik!’ ungkap Countess Themrine yang masih tidak bisa menerima kenyataan.
Countess Themrine yang tiba-tiba mengingat kalimat terakhir yang diucapkan Larietta padanya sebelum kepergian Larietta mulai menjadi curiga.
"Tu-Tunggu! Apakah sungguh ada tikus di dalam Kediamanku? Aku tak tau tapi bukan hal yang salah jika aku mencari tau kebenarannya!" gumam Countess Themrine.
Countess Themrine yang memberikan perintah kepada orang kepercayaannya untuk mencari tau perdebatan Larietta memutuskan untuk memeriksakan sakitnya dengan dokter lain secara diam-diam.
Countess Themrine yang mendapatkan diagnosa bahwa penyakit yang dideritanya adalah faktor dari umurnya yang telah semakin berumur menjadi sangat kaget saat Dokter baru memberikan diagnosanya.
“Maafkan saya untuk menyampaikan berita yang sangat mengejutkan ini Countess tapi sebagai Dokter aku harus mengatakan kebenarannya!” tegas Dokter dengan tatapan mata yang tajam.
“Setelah saya melakukan pemeriksaan dan uji coba, saya dapat membuat kesimpulan bahwa Nyonya Countess terkena racun yang sangat mematikan dan racun tersebut telah menyebar ke seluruh tubuh anda sekarang!” ucap Dokter dengan suara yang tegas.
“Apa? Ti-Tidak mungkin!” sangkal Countess Themrine dengan wajah yang tak percaya.
Dokter yang sudah bisa menduga reaksi yang akan ditunjukkan oleh Countess Themrine pun menarik nafas panjang sambil menggelengkan kepalanya beberapa kali.
“Percaya atau tidak itu adalah urusan Nyonya tapi sebagai Dokter saya sudah melakukan tugas saya dengan baik!” tegas Dokter dengan pandangan lurus ke depan.
Countess Themrine yang sedih dengan kenyataan yang baru diketahuinya tapi memiliki sedikit harapan untuk bisa kembali sehat seperti semula.
“Apakah aku masih bisa sembuh, Dokter? Apakah racun ini bisa dinetralkan?” tanya Countess Themrine dengan penuh harap.
Dokter yang tak ingin memberikan harapan palsu kepada Pasiennya yang sangat mengharapkan kesehatan dengan cepat memberikan jawaban pastinya.
“Itu sangat sulit karena racun tersebut telah menyebar ke seluruh tubuh. Meskipun kami menemukan penawar racunnya, racun yang ada di dalam tubuh Countess tak dapat dihilangkan seluruhnya!” ucap Dokter serius.
“Nyonya Countess yang merupakan Elementalis Air menjadi penyebab racun tersebut tak akan bisa menghilang dan akan terus muncul dan menyebar ke seluruh tubuh dengan sangat cepat!” ungkap Dokter dengan wajah menyesal.
Countess Themrine yang kehilangan harapan untuk hidup merasa kepalanya sangat sakit dan wajahnya yang cerah berubah menjadi putih pucat lalu kehilangan kesadarannya.
Sementara itu, Larietta yang tak ingin terlibat dengan kehebohan Pergaulan Kelas Atas di Ibukota memutuskan untuk kembali ke Akademi Rinette segera.
__ADS_1
Larietta yang tak bisa pergi begitu saja tanpa memberitau Theodore memutuskan untuk mengundang Theodore untuk minum teh bersamanya di Taman.
“Larietta, apakah kau menyukai tempat ini?” tanya Theodore dengan suara yang lembut sambil meminum teh yang diseduhkan untuknya.
“Tempat ini sangat nyaman. Aku menyukainya tapi tempat ini bukanlah tempatku, Theo. Aku harus segera kembali ke Akademi karena semua urusanku telah selesai disini!” tegas Larietta.
Theodore yang mendengar jawaban Larietta menggigit bibir bawahnya tapi tetap berusaha untuk memasang topeng senyum bahagia.
Larietta yang telah membulatkan keputusannya mengatakan tujuannya yang mengundang Theodore minum teh bersamanya.
“Theo, aku telah memutuskan untuk kembali ke Kota Rinette besok dan aku merasa sangat berterima kasih untuk semua bantuanmu!” ucap Larietta tulus sambil menundukkan kepalanya menunjukkan ketulusannya.
Theodore yang tidak membutuhkan ucapan terima kasih atau sikap formal yang ditunjukkan Larietta kepadanya hanya bisa menahan diri.
“Kau tidak perlu seperti itu. Kita adalah teman. Sebagai teman bukankah hal yang benar untuk saling tolong menolong!” ungkap Theodore dengan topeng ramah padahal hatinya menjerit meminta Larietta menaruh perhatian padanya.
Larietta yang tidak peka langsung tersenyum ceria dengan jawaban Theodore lalu menikmati cemilan dan teh yang ada di depannya.
Keesokan harinya, Larietta yang langsung kembali ke Kota Rinette dengan menggunakan kereta kuda yang telah disiapkan pun saling berpamitan.
“Terima kasih untuk bantuanmu! Sampai bertemu kembali di Akademi, Theo!” ucap Larietta dengan senyum ceria.
Larietta yang awalnya terkejut hanya bisa diam lalu memalingkan wajahnya yang memerah dan bergegas memasuki kereta kuda.
Larietta yang wajahnya masih merona meskipun jarak antara kereta kudanya dan Kediaman Duke Chartreux telah menjauh masih bisa merasakan jantungnya yang terus berdebar tanpa henti.
‘Ada apa ini? Kenapa jantungku tidak bisa tenang? Apakah aku sudah terkena penyakit aneh?’ pikir Larietta dengan sikap yang aneh.
Anna yang senyum-senyum melihat reaksi Larietta memilih menutup matanya dan mengalihkan pandangannya ke luar jendela.
Di sisi lain, Duke Boulois yang tiba-tiba memimpikan Ibu Kandung Melisha yang menangis pilu membuat Duke Boulois menjadi semakin frustasi.
“Tidak! Aku tidak bisa diam saja melihat Melisha dikurung oleh Roelin! Aku harus segera membebaskannya!” tegas Duke Boulois dengan tekad yang kuat.
Duke Boulois yang sudah menduga penolakan dan kebencian di mata Duchess Boulois tak memiliki pilihan lain demi bisa menyelamatkan Melisha.
“Melepaskan rubah kecil itu? Tidak! Aku tidak akan pernah melakukannya!” tegas Duchess Boulois dengan nada suara yang meninggi.
__ADS_1
“Manusia yang memiliki hati yang iri dan serakah sepertinya sangat pantas tinggal di Annex. Bukankah itu adalah tempat tinggalnya sebenarnya sebelum dibawa kemari?” sindir Duchess Boulois dengan tatapan mata yang tajam.
“Dia telah mencuri posisi Putriku dan menipuku selama ini jadi aku akan memberikannya hukuman yang pantas!” ucap Duchess Boulois dengan wajah yang marah
‘Hmmm, tak ada gunanya bagiku bicara baik-baik dengannya karena apapun yang aku katakan pasti akan dibantah! Aku tak punya pilihan lain selain menyingkirkannya!’ pikir Duke Boulois dengan sikap yang dingin.
Duke Boulois yang harus bersikap tenang di depan semua Pelayan yang ada di Taman untuk mengurangi pemikiran buruk padanya memberikan kode kepada Arman untuk melakukan rencana cadangan.
Arman yang melihat Duke Boulois meletakkan cangkir tehnya dengan satu jari naik dengan cepat mengangkat tangannya memberikan perintah kepada Pelayan untuk membawakan kue yang telah disiapkan sebelumnya.
“Aku mengerti. Itu adalah urusanmu dan aku tidak akan ikut campur!” ucap Duke Boulois memasang wajah ramah.
“Ini adalah kue yang sedang terkenal di Ibukota saat ini. Cobalah!” ucap Duke Boulois dengan wajah yang datar.
Duchess Boulois yang tidak menyadari niat lain pada sikap Duke Boulois tanpa pikir panjang menyuapkan kue tersebut ke dalam mulutnya.
Lalu setelah lima belas menit berlalu, Duchess Boulois yang wajahnya segar berubah menjadi sangat pucat.
“Arrgghhh! Kepalaku...!” gumam Duchess Boulois dengan tangan memegang kepalanya yang terasa berdenyut.
Duke Boulois yang ingin disebut sebagai Suami yang mencintai Istrinya dengan cepat bertindak memberikan bantuan.
“Ada apa? Apa kau baik-baik saja?” tanya Duke Boulois dengan wajah yang cemas.
“A-Aku tidak tau. Kepalaku tiba-tiba terasa sangat sakit!” ungkap Duchess Boulois dengan wajah kesakitan.
“Mungkin kau terlalu lelah dan banyak pikiran. Sebaiknya kau kembali ke kamarmu dan Istirahat!” ucap Duke Boulois yang telah berdiri di samping Duchess membantunya berdiri.
“Pelayan! Antar Duchess ke kamarnya dan Arman panggilkan Dokter untuk memeriksa kondisi Duchess!” ucap Duke Boulois dengan ekspresi wajah serius.
“Baik, Tuan!” ucap Arman yang bergegas pergi meninggalkan Taman.
Duke Boulois yang ditinggal di Taman sendiri dengan cepat mengelap tangannya dengan sapu tangan yang menyentuh tubuh Duchess lalu membuangnya.
‘Setelah ini, aku akan pastikan bahwa kau tak akan menjadi masalah lagi untuk kebahagiaan Putriku!’ pikir Duke Boulois dengan sorot mata yang tajam.
#Bersambung#
__ADS_1
Akankah Duchess Boulois selamat dari konspirasi yang ada di depannya? Bagaimana reaksi Larietta saat mendengar kabar Duchess jatuh sakit? Tebak jawabannya di kolom komentar ya...