
Larietta yang berhasil menyelesaikan desain gambar bisnis yang ingin dikerjakannya pun merasa sangat mengantuk karena terjaga semalaman.
"Anna, jangan ganggu aku! Aku sangat lelah sekarang!" gumam Larietta.
Larietta yang sangat lelah dan mengantuk pun kembali ke tempat tidurnya lalu terlelap kembali ke dalam mimpi indahnya.
Sementara itu, Joseph yang mendapatkan laporan dari Asistennya ternyata tidak menemukan bukti apapun tentang hubungan Melisha dan Duke Boulois sebelumnya.
"Jadi semua itu hanyalah gosip murahan? Hah! Aku sudah salah meragukan ucapan Melisha!" ucap Joseph dengan wajah sedih.
Joseph yang berniat menemui Melisha di Kediaman Duke Boulois langsung mengurungkan niatnya saat Asistennya memberikan laporan lain.
"Tuan Muda, akan sangat tidak sopan jika anda berkunjung sekarang!"
"Apa maksud ucapanmu?"
"Saat ini di Kediaman Duke Boulois terdapat dua Pendeta Tinggi yang diundang oleh Duchess untuk mengetes hubungan antara Nona Valcov dan Tuan Duke!"
Joseph yang mendengar laporan itu langsung menyipitkan matanya dan memasang wajah serius lalu memberikan perintah lainnya.
"Sepertinya masih ada keraguan pada Duchess."
"Cari tau hasil dari tes tersebut dan laporkan segera padaku!"
Di sisi lain, Melisha yang telah berganti pakaian dan rapi langsung pergi ke ruang tamu menemui Duchess Boulois dan Pendeta Tinggi Tabas dan Bastian.
Pendeta Tinggi Tabas yang melihat Melisha masuk dengan gaun tinggi hingga menutup lehernya pun tersenyum puas.
"Semua orang yang terlibat dalam tes ini sudah datang jadi aku akan memulainya!"
Pendeta Tinggi Tabas yang memutuskan akan melakukan tes itu sendirian tanpa bantuan Pendeta Tinggi Bastian.
Pendeta Tinggi Tabas yang berjalan ke arah Melisha memintanya untuk melukai ujung jarinya lalu meneteskan darahnya pada tempat yang telah disediakannya.
"Nona Valcov, tolong lakukan yang saya minta!"
"Jangan khawatir, luka kecil di jari anda akan segera menghilang dan tak meninggalkan bekas sama sekali karena Pendeta Tinggi Bastian akan mengobatinya.
Melisha yang menurut melakukan seperti yang diminta oleh Pendeta Tinggi Tabas dan langsung mendapatkan pengobatan setelah selesai meneteskan darah.
Pendeta Tinggi Tabas yang juga membutuhkan darah dari Duke Boulois meminta Duke Boulois menetaskan darahnya di tempat yang telah ditentukannya.
Pendeta Tinggi Tabas yang telah berjanji akan membantu Melisha dan menyembunyikan identitasnya ternyata menukar darah Melisha dengan orang lain dengan sangat cepat.
Lalu saat giliran Pendeta Tinggi Bastian melakukan tugasnya dengan mengeluarkan Kekuatan Sucinya, kedua darah yang tak berhubungan satu sama lain terlihat jelas.
"Tidak ada penyatuan pada darah Duke Boulois dan Nona Valcov, Nyonya Duchess!" ucap Pendeta Tinggi Bastian.
__ADS_1
"Jadi apakah Nona Valcov bukan Putri tidak sah dari Suamiku?" tanya Duchess Boulois penasaran.
"Benar! Nona Valcov tak memiliki hubungan apapun dengan Tuan Duke!" tegas Pendeta Tinggi Tabas.
Duchess Boulois yang sangat lega dengan jawaban yang didapatnya menjadi sangat senang dan Duke Boulois yang ada di sampingnya pun memeluk Duchess Boulois dengan lembut.
"Aku sudah bilang bahwa aku tak pernah menghianati Pernikahan kita dan Melisha bukanlah Putriku dengan wanita lain!"
"Melisha hanyalah anak yatim piatu yang tidak berdosa yang kehilangan satu-satunya keluarganya demi menyelamatkan nyawaku!"
"Kau sudah mendengar semuanya dari Pendeta Tinggi lalu apakah kau masih meragukan identitas Melisha?"
Duchess Boulois yang merasa malu karena tindakannya yang menurutnya sudah sangat keterlaluan langsung menemui Melisha dan menggenggam tangannya erat.
"Melisha, maafkan aku! Maafkan aku! Aku sudah bersalah karena tidak mempercayaimu!" ucap Duchess Boulois sedih.
"Nyonya Duchess tidak perlu meminta maaf. Tidak ada yang perlu dimaafkan karena tak ada yang salah!" jawab Melisha.
"Aku senang karena semua kesalahpahaman ini telah berakhir!" ungkap Melisha sambil tersenyum ceria.
Melisha yang sangat senang karena Pendeta Tinggi Tabas menepati janjinya akhirnya mendapatkan kembali kepercayaan Duchess Boulois.
Duke Boulois yang kembali ke ruang kerjanya terdiam sebentar di kursinya.
Duke Boulois yang meyakini bahwa Melisha adalah Putri Kandungnya menjadi bingung lalu tiba-tiba Melisha datang meminta bertemu bersama Pendeta Tinggi Tabas.
"Masuklah!" jawab Duke Boulois dingin.
Pendeta Tinggi Tabas mendapatkan permintaan lain dari Melisha untuk membuat Duke Boulois tidak meragukan kelahirannya pun menceritakan kejadian yang sebenarnya.
"Duke, saya harap anda tidak salah paham dengan hasil yang diumumkan!"
"Nona Valcov sebenarnya adalah Putri anda tapi karena janji yang dibuat dengan Nona Valcov membuat saya melakukan sedikit trik!"
"Ini adalah hasil tes darah Duke Boulois dan Nona Valcov sebenarnya!"
Duke Boulois yang bahagia kembali mendengar cerita dari Pendeta Tinggi pun berdiri dari kursinya lalu memeluk Melisha erat dan meminta maaf.
“Ma-Maafkan Ayah, Melisha. Maafkan Ayah yang tidak bisa membantumu!”
“Tapi Ayah senang karena semua telah berakhir!”
Melisha yang sebenarnya kesal karena Duke Boulois tidak bisa melakukan banyak hal dan membuatnya terpaksa menggunakan cara lain untuk mencapai tujuannya membuat ekspresi datar.
Melisha yang telah menyelesaikan urusannya dengan Duchess Boulois memanggil Mary datang menemuinya.
“Mary, apakah tidak ada surat ataupun pesan dari Joseph untukku?” tanya Melisha penasaran.
__ADS_1
“Maafkan saya Nona tapi tidak ada pesan ataupun surat dari Kediaman Marquess Danzhweltz!” jawab Melisha sopan.
Melisha yang kembali cemas jika Joseph menjauhinya karena gosip yang beredar karena ucapan Larietta pun menggigit bibir bawahnya.
‘Sial! Satu masalah selesai dan masalah lainnya muncul lagi!’
‘Tidak! Aku tidak bisa membiarkan ini terus terus terjadi!’
‘Joseph adalah milikku dan bagaimanapun caranya aku harus mendapatkannya!’
“Mary, ambilkan aku kertas dan pena! Aku harus mengirim surat kepada Joseph!” perintah Melisha.
Sementara itu, Larietta yang telah segar kembali setelah bangun tidur meminta Anna untuk mengirimkan pesan kepada Lorca.
“Kau tidak perlu takut, Anna. Kau akan sangat cepat menemukannya di dalam Perpustakaan karena hanya dia yang akan duduk sendiri di sudut dengan kacamata!” ucap Larietta.
Anna yang sebenarnya takut mencoba memberanikan diri dan pergi menemui Lorca untuk menyampaikan pesan Larietta.
Larietta yang keluar dengan memakai gaun sederhana tapi tampak elegan dengan topi besar yang menutupi setengah wajahnya pun berjalan keluar.
Larietta yang tidak langsung pergi menemui Lorca di tempat janjiannya memutuskan untuk berkeliling ke beberapa tempat untuk melihat situasi yang ada di Kota Rinette.
“Hmmm, disini sangat hidup dengan jumlah populasi yang sangat banyak!”
“Orang-orang yang ada disini rata-rata adalah Murid Akademi Rinette dan yang bekerja di Akademi Rinette!”
“Argh, jika aku membuat cafe dengan konsep seperti di kehidupanku sebelumnya, aku yakin pasti akan sangat ramai nantinya!”
Larietta yang terus berjalan-jalan pun membeli beberapa makanan ringan dan saat kakinya telah terasa lelah. Larietta memutuskan untuk pergi ke tempat pertemuan.
Larietta yang berpikir jika dirinya akan menjadi orang yang akan menunggu menjadi sangat terkejut saat melihat Lorca telah duduk menunggu dirinya.
“Tuan Lorca! Kau sudah datang rupanya?” ucap Larietta dengan ekspresi ceria.
“I-Iya... A-aku tidak bisa membuat No-Nona menunggu lama!” ucap Lorca gagap.
Larietta yang melihat wajah Lorca yang memerah hanya karena bicara dan berdiri di hadapannya pun tersenyum jahil.
“Hmmm, benarkah? Tidak disangka ternyata Tuan Lorca adalah pria yang baik hati!” puji Larietta.
Lorca yang tidak pernah dipuji siapapun langsung menundukkan kepalanya dengan wajah memerah seperti tomat.
Larietta yang senang mengganggu Lorca memilih menahan diri untuk sementara waktu karena tak ingin membuat Lorca menjadi tidak nyaman.
‘Agh, lucu sekali! Hehehe...!’
#Bersambung#
__ADS_1
Bagaimana reaksi Joseph saat mendapatkan surat dari Melisha? Apa yang akan dibicarakan oleh Larietta kepada Lorca? Tebak jawabannya di kolom komentar ya...