Villainess Wants Happy Life

Villainess Wants Happy Life
BAB 74. Menyelinap


__ADS_3

Kediaman Duke Boulois yang penuh kegembiraan dan keceriaan berubah menjadi kelam setelah semua orang ditahan dan dibawa ke Penjara Kekaisaran bahkan Duchess Boulois yang sedang sakit pun ikut ditahan.


Masyarakat yang menyaksikan kejadian itu tak bisa menahan diri untuk mengungkapkan pendapatnya. Tak ada yang mendukung bahkan semuanya menghina dan mengutuk Kediaman Duke Boulois yang telah membuang Putri Sah untuk anak tidak sah.


‘Apa kau mendengarnya? Seluruh orang di Kediaman Duke Boulois ditangkap dan ditahan di Penjara Istana.’


‘Apakah Nona Larietta baik-baik saja? Aku sangat kasihan padanya padahal Nona Larietta sangat baik dan berhati malaikat!’


Larietta yang mengawasi semua yang terjadi di balik layar nyatanya sangat menikmati hidupnya berbanding terbalik dengan yang terjadi pada Orangtuanya dan Melisha.


“Apakah semua orang di Kediaman Duke dan Melisha sudah ditahan, Anna?” tanya Melisha yang bersantai di Taman Bunga sambil menikmati buah anggur.


“Ya, Nona. Saya mendengar bahwa Tuan Muda Theodore yang mengawal kasus ini dan tak menyisakan satu orangpun!” ucap Anna dengan percaya diri.


“Bagus sekali! Lalu bagaimana dengan seluruh masyarakat? Apakah berita ini sudah tersebar luas?” tanya Larietta sambil melirik Anna.


“Seluruh Ibukota sudah mengetahuinya tapi untuk seluruh Masyarakat di Kerajaan Chillia sepertinya membutuhkan beberapa hari lagi untuk berita tersebut tersebar!” ucap Anna dengan sorot mata yang fokus.


Larietta yang sangat senang karena rencananya untuk menghancurkan Kediaman Duke Boulois berjalan lancar tiba-tiba berdiri.


Larietta yang tidak akan melupakan satu orang lagi yang harus dihancurkannya memutuskan untuk pergi ke Kediaman Duke Chartreux.


“Kediaman Duke Boulois sudah hancur dan saatnya menghancurkan Mantan Tunangan br*ngsek!” ungkap Larietta dengan mata yang menyipit tajam.


Larietta yang pergi dengan menggunakan kereta kuda yang khusus diberikan Theodore untuknya dapat masuk melewati pintu gerbang dengan sangat mudah.


Larietta yang datang secara tiba-tiba tanpa pemberitahuan tidak menyangka jika akan disambut dengan sangat meriah.


“Selamat datang di Kediaman Duke Chartreux, Nona. Silahkan masuk. Saya akan memandu anda menemui Tuan Muda!” ucap Olivier dengan sopan yang diikuti pelayan lain yang berjajar membentu dua baris di kiri dan kanan dengan kepala tertunduk ke bawah.


Larietta yang mengangguk perlahan pun berjalan mengikuti Olivier dengan patuh dan diantar ke ruang kerja Theodore.


“Silahkan masuk, Nona. Tuan Muda sudak menuggu kehadiran anda!” ucap Olivier sopan sambil membukakan pintu membiarkan Larietta masuk lalu menutup kembali pintunya perlahan.


Thoedore yang sangat senang prediksinya sangat tepat langsung berlari memeluk Larietta dan membuat Larietta menjadi terkejut.


“Larietta! Aku senang bisa bertemu denganmu. Aku sangat merindukanmu!” ucap Theodore dengan ekspresi bahagia.


“Aku pun sangat merindukanmu, Theo.” Jawab Larietta yang malu lalu membalas pelukan Theodore dengan sangat eratnya.

__ADS_1


Larietta yang langsung tersadar langsung mendorong Theodore menjauh dengan cukup keras dengan wajah yang memerah seperti tomat


“A-agh... Cukup dengan kata-kata gombalan ini! Aku ada sesuatu yang harus dibicarakan dengan serius!” ucap Larietta dengan tangan lipat di dada.


Theodore yang tak ingin Larietta marah mempersilahkan Larietta duduk lalu menyeduhkan teh sendiri untuk Larietta.


“Aku harap kau akan menyukainya. Ini adalah teh yang dikirim dari Wilayah Barat Kerajaan ini!” ucap Theodore dengan ekspresi serius.


Larietta yang menyadari bahwa untuk menghancurkan Joseph adalah dengan membuat Marques Danzhweltz sadar kembali dan mengekspos kejahatan Joseph.


“Kita akan memulai operasi ini siang ini dan aku berjanji akan membuatnya kembali sadar!” ucap Theodore sambil memegang sebuah botol di tangannya.


Larietta yang bisa menebak isi dari botol yang ada di tangan Theodore pun menganggukkan kepalanya seolah keduanya telah mencapai kesepakatan.


Di sisi lain, Melisha yang dikurung di dalam Tahanan yang sempit, jorok dan bau menjadi sangat marah dan memohon bantuan Joseph.


“Tenanglah! Aku pasti akan mengeluarkanmu dari sini tapi kau harus bersabar!” ucap Joseph yang berada di luar Penjara mencoba menenangkan Melisha yang panik.


“Sabar? Bagaimana aku bisa sabar dalam keadaan seperti ini? Apa kau tidak lihat yang ada di sekelilingku sekarang?” sindir Melisha dengan wajah marah.


“Aku tak ingin tinggal disini, Joseph. Aku mohon. Tolong keluarkan aku dari sini!” ucap Melisha yang memohon di depan Joseph.


Melisha yang dikurung merasa sangat frustasi saat semua rencananya untuk hidup bahagia hancur dalam sekejap mata.


“Aaaaarrgghhh!” teriak Melisha dengan suara yang sangat keras.


Joseph yang tak bisa melakukan apapun menarik nafas panjang lalu mempercepat langkahnya kembali ke Kediaman Marquess Danzhweltz untuk memikirkan rencananya selanjutnya.


Namun tanpa disadari nyatanya ada dua orang penyusup yang memasuki Kediaman Marquess Danzhwelt saat Joseph menghilang.


Theodore dan Larietta yang datang sambil memakai jubah hitam hingga menutupi kepalanya datang dengan menggunakan Portal Sihir.


“Ini akan sangat bahaya. Apa kau siap?” tanya Theodore dengan wajah cemas.


“Tentu saja. jangan khawatir. Aku pasti akan langsung menemuimu jika sesuatu hal terjadi!” ucap Larietta yang mencoba menenangkan Theodore yang khawatir padanya.


Theodore yang tak punya pilihan lain karena Larietta sudah sangat serius pun mengizinkan Larietta pergi.


Larietta yang menyelinap menuju kamar Irina dan Theodore pergi menuju kamar Marquess Danzhweltz membuat keduanya sangat serasi.

__ADS_1


Larietta yang bergerak sangat cepat pegi menuju kamar Irina yang sedang dikunci memanfaakan Spirit Elemennya dengan sangat baik.


“Black! Awasi sekitar. Jika ada yang datang segera beritau aku dan lakukan sesuatu untuk mengulur waktu!” perintah Larietta dengan ekspresi serius.


“Phoenix! Buka pintu itu dengan melelehkan benda yang menghalangi pintu ini terbuka!” ucap Larietta yang berdiri di depan pintu.


Tak butuh waktu lama, Larietta yang berhasil membuka pintu langsung masuk dan melihat Irina sedang duduk di depan samping jendela dengan tatapan kosong.


“Irina!” panggil Larietta pelan dan lembut.


Irina yang tak peduli dengan siapapun yang masuk karena menyadari bahwa apapun yang dilakukannya akan sia-sia memutuskan untuk bersikap cuek.


Namun saat suara yang sangat familiar memanggil namanya dengan nada ceria membuat Irina sedikit serakah untuk berharap bahwa orang yang dirindukannyalah yang memanggilnya.


Irina yang sangat senang melihat Larietta di depannya sambil tersenyum tiba-tib menundukkan kepalanya lalu memasang wajah sedih.


“Nona Larietta?” panggil Irina dengan penuh semangat.


“Apa yang aku katakan? Itu bukan Nona Larietta. Bagaimana mungkin Nona Larietta ada disini? Itu pasti adalah hayalanku saja yang begitu merindukan Nona Larietta saat ini!” gumam Irina dengna wajah kecewa.


Larietta yang mendengar itu pun tersenyum lalu berjalan mendekat dan memeluk Irina yang membuat Irina terkejut lalu menangis di dalam pelukan Larietta.


“Ini sungguh diriku, Irina. Kau tidak senang berkhayal.” jawab Larietta sambil memasang senyum yang sangat manis.


Larietta yang tak ingin mengatakan hal baik-baik saja untuk menenangkan Irina memutuskan untuk menghapus rencananya.


“Irina! Ini mungkin terdengar sangat kejam tapi ini adalah kenyataannya!” ucap Larietta dengan wajah serius.


“Joseph telah meracuni Tuan Marquess dan berniat mengambil nyawanya secepatya lalu menjualmu ke tempat yang jauh dengan alasan Pernikahan Politik.” Ucap Larietta yang terdengar sangat kejam.


“Jika kau ingin tetap seperti ini maka tetaplah disini tapi jika kau ingin takdir yang berbeda maka genggam tanganku dan aku akan membantumu melewati semuanya!” ucap Larietta dengan tatapan tajam.


Irina yang tak ingin menderita lagi pun menggigit bibirnya lalu meraih tangan Larietta dengan satu tujuan utama.


“Aku tak ingin menderita lagi. Kumohon! Kumohon bantu aku, Nona Larietta! Aku akan melakukan apapun meskipun harus melawan Kakakku!” ucap Irina dengan tekad kuat dan tangan terkepal erat.


“Keputusan yang bijak. Aku akan mendukungmu sepenuhnya tapi sebelum itu kita harus keluar dari sini untuk bisa bertemu dengan Tuan Marquess!” ucap Larietta dengan senyum licik.


#Bersambung#

__ADS_1


Bagaimana nasib orang-orang di Kediaman Duke Boulois? Apa yang direncanakan Larietta dan Irina? Tebak jawabannya di kolom komentar ya...


__ADS_2