Villainess Wants Happy Life

Villainess Wants Happy Life
BAB 48. Awal Kehancuran Melisha


__ADS_3

Bangsawan lain yang melihat sikap tegas dari Joseph tak bisa menghentikan mulutnya dari menghina Melisha, Duke Boulois dan Pendeta Tinggi.


Pendeta Tinggi Bastian yang tak bisa diam saja saat nama baik Gereja dinodai oleh kalimat-kalimat menyudutkan pun membuat keputusan.


"Masalah ini sungguh rumit jika hanya sampai disini saja!"


"Oleh karena itu, aku akan menyetujui saran dari Nona Larietta untuk melakukan tes yang kedua kalinya untuk membuktikan bahwa Pendeta Tinggi Tabas tak melakukan kecurangan!"


Larietta yang sangat senang dengan pernyataan yang diucapkan oleh Pendeta Tinggi Bastian pun bertepuk tangan dengan sangat keras.


"Bagus sekali! Ini adalah hal yang aku inginkan!" ucap Larietta dengan senyum lebar.


"Bagaimana Melisha? Apakah kau bersedia melakukannya atau sembunyi sebagai pengecut dan mengakui semuanya dalam diammu?" sindir Larietta.


Namun sebelum Melisha mengatakan sesuatu, Pendeta Tinggi Bastian melanjutkan kalimatnya yang membuat Larietta membuat taruhan pada akhirnya.


"Saya sendiri yang akan melakukan pengetesan tapi jika hasilnya sama dengan sebelumnya bahwa Nona Melisha bukan Putri Kandung Duke Boulois maka Nona Larietta harus bersedia pergi ke Monastri melakukan doa pengampunan!" tegas Bastian.


"Pergi ke Monastri?" tanya Larietta ulang.


"Jangankan pergi ke Monastri, aku bersedia tinggal disana selamanya dan meninggalkan Akademi Rinette lalu menyerahkan legalitas penerus Kediaman Duke kepada Melisha!" tegas Larietta.


"Tapi jika Pendeta Tinggi Tabas terbukti melakukan penipuan, aku menginginkan Pendeta Tinggi Tabas dan Melisha dihukum sesuai hukum Kerajaan dan Gereja harus bersedia memberiku kompensasi yang besar!" ucap Larietta dengan percaya diri.


"Baiklah!" jawab Pendeta Tinggi Bastian serius.


Pendeta Tinggi Bastian yang ingin melakukan tes tiba-tiba dihentikan Pendeta Tinggi Tabas tapi justru diabaikan lalu mengeluarkan cawan putih yang ada di balik jubahnya pun berjalan ke arah Larietta.


"Tu-Tunggu Pendeta Tinggi Bastian!" gumam Pendeta Tinggi Tabas dengan wajah pucat.


"Tenanglah! Aku akan menyelesaikan masalah ini dengan cepat! Jika kau melakukan semuanya dengan benar, kau tidak perlu khawatir!" tegas Pendeta Tinggi Bastian.


"Nona Melisha, tolong gores jari anda dan tuangkan darah anda ke dalam cawan putih persembahan ini!" perintah Pendeta Tinggi Bastian.


Melisha yang sebenarnya tak ingin melakukan seperti yang diperintahkan oleh Pendeta Tinggi Bastian terpaksa melakukannya dengan menggigit bibir bawahnya.


'Sial! Kenapa semuanya jadi kacau seperti ini?'


Pendeta Tinggi Bastian yang telah berhasil mendapatkan darah dari Melisha pun berjalan ke arah Duke Boulois dan memintanya melakukan hal yang sama dengan Melisha.

__ADS_1


"Tuan Duke, sekarang giliran anda. Goreskan jari anda dan tuangkan darah anda ke dalam cawan putih ini!" perintah Pendeta Tinggi Bastian.


Pendeta Tinggi Bastian yang memulai pengetesan pun mengeluarkan kekuatan sucinya dan menerangi cawan putih yang ada di tangannya sambil memejamkan mata.


Darah yang terpisah jaraknya tiba-tiba berjalan mendekat dan akhirnya bersatu lalu menerangi seluruh ruangan dengan cahaya yang sangat terang.


Pendeta Tinggi Bastian yang tak percaya dengan yang dilihatnya pun kehilangan kekuatan kakinya lalu secara tak sengaja menjatuhkan cawan putih ke bawah.


Larietta yang tak bisa membiarkan bukti nyata hancur berkeping-keping terpaksa menunjukkan kepada semua orang tentang rahasianya.


"Undine! Selamatkan cawan putih itu!" perintah Larietta.


Air yang tak tau darimana datangnya pun muncul menahan cawan putih yang akan terjatuh menyentuh tanah lalu membawanya ke tangan Larietta.


"Terima kasih Undine! Kau melakukan hal yang sangat hebat! Kembalilah!" ucap Larietta.


Semua Bangsawan yang sangat terkejut saat melihat sekumpulan air yang membentuk gadis kecil terbang di samping Larietta tak bisa menahan mulutnya untuk berkomentar.


"A-Apakah itu Spirit Elemen Air?"


"Apakah Nona Larietta sebenarnya adalah Master Elemen?'"


Larietta yang senang dengan semua keributan dan pertanyaan orang-orang tentangnya memilih untuk menggunakan momen ini untuk menjatuhkan Melisha ke tanah.


"Itu semua benar. Spirit yang kalian semua lihat adalah Spirit Air, Undine!"


"Dia adalah Spirit yang aku kontrak dan aku adalah Master Elemen!"


"Tapi ini bukanlah tujuanku, aku ingin Pendeta Tinggi Bastian mengatakan kebenarannya dengan mulutnya sendiri meskipun kita sudah bisa menebak hasilnya dari fenomena yang terjadi baru saja!"


Pendeta Tinggi Bastian yang berada di ujung papan kayu yang tinggi dengan dipenuhi hewan buas dan monster di bawahnya terpaksa harus mengatakan kenyataannya.


"Hasil dari tes tersebut menyatakan bahwa Nona Melisha sungguh Putri Kandung Duke Boulois!" tegas Pendeta Tinggi Bastian.


Melisha yang tak bisa menerima kenyataan bahwa rahasia yang disimpannya dengan mengorbankan banyak hal dan usaha yang tak terkira jumlahnya berteriak menolak hasil yang diumumkan.


"Tidak! Ini semua adalah kebohongan! Hasil itu adalah palsu!" teriak Melisha dengan lantang.


Larietta yang tidak tahan dengan wajah tidak tau malu dari Melisha yang terus menyangkal kenyataan pun mengangkat tangannya dan menampar pipi kanan Melisha.

__ADS_1


"Diam! Anak h*ram sepertimu tidak pantas membuka mulutnya disini!" teriak Larietta dingin dengan tatapan tajam.


Melisha yang ketakutan dalam tatapan Melisha merasakan dingin pada seluruh tubuhnya lalu terjatuh ke lantai dengan kepala tertunduk.


Duke Boulois yang melihat kedua Putri kandungnya saling berkonfrontasi satu sama lain menarik nafas panjang dan membuat keputusan.


"Bawa Melisha kembali ke kamarnya! Jangan biarkan dia keluar sementara waktu!" tegas Duke Boulois.


"Pesta ini telah berakhir. Semua tamu undangan boleh meninggalkan Acara ini!" ucap Duke Boulois berbalik arah ingin meninggalkan Ruangan Dansa.


Larietta yang merasakan sedikit kemenangan dalam usahanya dan kekecewaan dari sikap musuhnya yang kalah pun melakukan sedikit inisiatif.


"Kenapa Pestanya cepat sekali selesai padahal Acaranya menjadi semakin menarik sekarang?" sindir Larietta.


"Tunggu Ayah, Melisha! Mau kemana kalian pergi? Bukankah kalian berdua masih berhutang satu penjelasan dan permintaan maaf?" sindir Larietta lagi.


Melisha yang sangat kesal karena semua rencananya hancur berantakan dan mimipinya telah sirna pun berbalik arah melepaskan diri dengan niat ingin menampar Larietta.


"Larietta....!" teriak Melisha.


Larietta yang tak diam saja saat Melisha ingin menyakitinya ternyata diam-diam memberikan instruksi kepada Undine untuk mencipratkan air di bawah kaki Melisha hingga membuatnya terjatuh ke lantai.


"Aaarrrgghhh! Bruk!"


Bangsawan yang tak bisa menahan diri untuk tertawa melihat Melisha mempermalukan dirinya sendiri membuat Melisha semakin murung.


"Lihatlah itu! Menjijikkan sekali!"


"Seekor itik bermimpi menjadi seekor angsa!"


Larietta yang tak berhenti sampai disana saja pun mengambil wine merah yang dibawa oleh Undine lalu menyiramkan wine tersebut ke atas kepala Melisha hingga membuat wajah dan gaunnya basah dan berubah warna merah.


"Aku harap wine merah ini dapat mendinginkan kepalamu dan menyadarkanmu dari kenyataan Melisha!" sindir Larietta.


Larietta yang melihat Duke Boulois mengabaikan Melisha dan tak ingin menghadapinya dengan berjalan meninggalkan Ruangan Pesta sendiri tersenyum sinis.


"Hah! Sepertinya hari ini aku hanya akan mendapatkan satu perkataan maaf dari pihak Geraja, bukankah begitu Pendeta Tinggi Bastian?"tanya Larietta dengan senyum lembut.


#Bersambung#

__ADS_1


Apakah Pendeta Tinggi Bastian akan meminta maaf pada Larietta nantinya? Bagaimana nasib Melisha dan Pendeta Tinggi Tabas selanjutnya? Tebak di kolom komentar ya..


__ADS_2