
Larietta yang tak ingin menunjukkan kelemahannya di hadapan musuhnya pun memanggil Nyonya Berty untuk memesan Gaun Khusus.
Namun sebelum Larietta memesan sesuatu ternyata Nyonya Berty datang dengan sebuah Gaun yang telah dipersiapkannya dalam waktu lama.
"Maafkan kelancangan saya, Nona. Saya tau jika Nona memiliki pilihan sendiri untuk Gaun yang akan Nona pakai tapi saya mohon untuk pertimbangkan kembali Gaun yang telah saya rancang khusus untuk Nona!"
"Gaun ini saya persiapkan khusus untuk menandakan kembalinya Nona ke Ibukota!"
Larietta yang melihat Gaun warna ungu dengan detail yang sangat indah bertaburkan berlian terlihat sangat indah dan mewah.
Larietta yang tak menyangka jika masih ada orang yang menunggu kedatangannya kembali ke Ibukota merasa sangat tersentuh.
"Terima kasih! Gaunnya sangat indah. Aku pasti akan memakainya!" jawab Larietta.
Hari Kedewasaan Melisha tiba, Larietta yang telah memakai Gaun Khusus yang dipersiapkannya berjalan menuruni tangga dengan rambut terurai indah.
Theodore yang melihat Larietta berjalan menuju ke arahnya terpesona dan tak berkedip sedikitpun lalu kembali sadar saat Olivier membisikkan sesuatu padanya.
"Tuan Muda, jaga posturmu. Jangan terlihat lemah di hadapan Nona Larietta!"
Theodore yang akhirnya berdiri di depan Larietta langsung mencium punggung tangannya lalu memberikan pujian dengan senyum lembut.
"Gaun itu sangat cocok untukmu, Larietta! Menakjubkan!" puji Theodore.
"Kau pun sangat tampan dengan jas itu, Theo!" balas Larietta malu.
"Kalau begitu apakah kita bisa pergi sekarang?" tanya Theodore serius.
"Tentu saja. Sudah saatnya menunjukkan kepada semua orang wajah asli dari wanita yang disebut berhati Malaikat!" sindir Larietta.
Di sisi lain, Melisha yang telah mempersiapkan diri untuk hari terbaik dalam hidupnya melakukan serangkaian persiapan sejak dini hari.
Melisha yang tak diperbolehkan menyentuh makanan sehari sebelum Acara hingga Acara selesai merasa sangat lapar.
"Mary, apakah aku tidak bisa mendapatkan satu suap kue saja?" tanya Melisha dengan wajah memelas.
"Maafkan saya, Nona. Nona harus menahan lapar untuk sehari saja! Ini juga demi kebaikan Nona!" ucap Mary dingin.
Melisha yang tak bisa melakukan apapun akhirnya mengalah dan terpaksa menggunakan korset yang sangat ketat untuk menjaga postur tubuhnya.
__ADS_1
"Aaaarrggghhh! Mary! Tak bisa kau longgarkan sedikit korsetnya!" tawar Melisha.
"Mohon tahan sebentar saja, Nona. Ini demi kebaikan anda!" jawab Mary dingin.
"Aaarrggghhh!" teriak Melisha kesakitan.
Melisha yang akhirnya berdiri di depan cermin merasa sangat puas dengan dirinya yang terlihat sangat cantik dan anggun.
"Apakah ini diriku? Bagaimana bisa aku secantik ini?" ucap Melisha pada dirinya sendiri.
"Nona sudah terlahir cantik jadi apapun yang Nona pakai akan selalu membuat penampilan Nona semakin memukau!" puji Mary.
Di saat Melisha tak bisa memalingkan wajahnya dari cermin tiba-tiba pintu yang diketuk dari luar berbunyi yang membuat Melisha menjadi semakin bersemangat.
"Melisha, bolehkah aku masuk?" tanya Joseph dengan sopan.
"Masuklah!" ucap Melisha ceria.
Joseph yang melihat Melisha berdiri di hadapannya pun terdiam sesaat karena terpesona dengan kecantikan Melisha.
"Maafkan ketidaksopananku! Apa yang telah aku lakukan?" ucap Joseph menundukkan kepalanya.
"Kau terlihat sangat cantik hari. Maukah kau memberikanku kesempatan menjadi pendampingmu, Nona?" tanya Joseph mengulurkan tangan.
Di saat bersamaan, Duchess Boulois yang tidak mengetahui bahhwa Duke Boulois tidak mengirimkan undangan Pesta Kedewasaan Melisha kepada Larietta terus berharap Melisha akan datang.
"Rieta, aku ingin kau memberitau Penjaga untuk tidak membuka lebar-lebar Gerbang Kediaman Duke saat Larietta kembali!" ucap Duchess Boulois serius.
"Aku tak ingin ada halangan untuk Larietta kembali ke rumahnya sendiri!" ucap Duchess Boulois mengingatkan.
"Jangan khawatir, Nyonya. Saya akan menjalankan tugas dengan baik!" jawab Rieta sopan.
Rieta yang melihat Duke Boulois telah datang untuk mengajak Duchess Boulois untuk turun ke Ruang Dansa bersama-sama.
"Duchess, apakah kau siap?" tanya Duke Boulois dengan senyum lembut sambil mengulurkan tangan.
"Hmmm, i-iya!" jawab Duchess Boulois ragu-ragu.
"Ada apa? Jangan khawatir. Larietta pasti akan datang. Bukankah kau sudah mengirimkan undangan ke Akademi Rinette?" tanya Duke Boulois menenangkan.
__ADS_1
"Kau benar. Aku harus optimis. Terima kasih!" balas Duchess Boulois menerima uluran tangan Duke Boulois.
Kereta kuda dengan lambang berbagai Keluarga Bangsawan berdatangan satu per satu memasuki Gerbang Kediaman Duke memenuhi Ruangan Dansa dengan tamu undangan yang tak terkira jumlahnya.
Melisha yang menunggu di ruangan khusus tepat di sebelah Ruang Dansa bersama Joseph menjadi semakin gugup.
"Apakah yang kau katakan itu benar, Mary?" tanya Melisha penasaran.
"Tentu saja, Nona. Hamba bahkan mendengar bahwa Pangeran Mahkota akan datang ke Acara Kedewasaan Nona!" ucap Mary percaya diri.
Joseph yang melihat Melisha bahagia sekaligus cemas pun tertawa kecil lalu memegang kedua tangan Melisha dengan lembut dan menenangkannya dengan beberapa kata.
"Jangan gugup. Semua pasti akan berjalan dengan lancar!" ucap Joseph menenangkan.
"Kau akan menjadi Keluarga Duke Boulois secara resmi yang artinya kau berhak mendapatkan perlakuan istimewa ini!" ungkap Joseph lagi.
"Terima kasih, Joseph. Aku sangat senang sekali karena kau selalu ada di sampingku!" balas Melisha dengan senyum ceria.
"Bukankah itu adalah hal yang wajar untukku sebagai Tunanganmu untuk selalu berada di sampingmu!" balas Joseph.
Sementara itu, Duke dan Duchess Boulois yang telah berada di depan pintu Ruangan Dansa mengumumkan kedatangannya.
"Duke Claus Lorca Boulois dan Duchess Roelin Daez Boulois memasuki ruangan!"
Di saat bersamaan, Larietta dan Theodore yang telah sampai menuruni kereta kuda dan berjalan memasuki Kediaman Duke Boulois.
"Apakah kau sudah siap, Larietta?" tanya Theodore.
"Tentu saja!" tegas Larietta.
Larietta yang memasuki Kediaman Duke Boulois sebagai pendamping Theodore membuat Penjaga menahan diri untuk tidak memeriksanya meskipun sangat penasaran dengan wajah Larietta yang tertutup setengah topi yang dipakainya.
'Siapa Nona yang datang bersama Tuan Muda Theodore?'
'Aku tidak tau tapi Nona Muda itu terlihat tidak asing dengan gaya berjalan dan gestur tubuhnya!'
Larietta yang berhasil masuk dengan mudah tanpa ada hambatan pun mengencangkan genggaman tangannya di lengan Theodore.
'Jangan terlalu terkejut dengan kedatanganku Melisha karena aku sudah memberitaumu sejak awal bahwa aku pasti akan kembali!'
__ADS_1
#Bersambung#
Bagaimana kelanjutannya? Kejutan apa yang akan terjadi pada Bab selanjutnta? Tebak jawabannya di kolom komentar ya..