
Larietta yang telah membuat kesepakatan dengan Profesor Pavel dan Profesor Zachary langsung kembali ke Asramanya dan memberikan perintah khusus kepada Anna.
“Anna kemasi semua barang-barang yang ada karena kita akan kembali ke Ibukota dalam tiga hari!” tegas Larietta dengan senyum yang lebar.
Anna yang bingung hanya bisa menganggukkan kepalanya menyatakan kesanggupannya lalu berlari mengemasi semuanya.
Sementara itu, Theodore yang mendapatkan berita dari Olivier bahwa Duke Boulois telah membuat pergerakan langsung menyipitkan matanya.
“Hah! Manusia yang serakah itu tidak akan mungkin melepaskan Larietta begitu saja terutama saat mengetahui bahwa Larietta bisa memberikannya keuntungan!” gumam Theodore dengan tatapan mata tajam.
Theodore yang tau jika Duke Boulois telah membuat audiensi dengan Departemen Administrasi untuk mencabut keputusannya mengeluarkan Larietta dan mempercepat proses penambahan nama Melisha dalam Keluarga menjadi emosi.
Theodore yang telah berjanji untuk membuat Larietta tetap keluar dari Keluarga Duke Boulois agar saat rencana penghancuran dilaksanakan dirinya tak akan terlibat.
“Kirimkan suratku ini kepada Marquess Rodenherg dan katakan padanya bahwa aku ingin segera bertemu dengannya!” tegas Theodore dengan tatapan tajam.
Theodore yang tau jika Marquess Rodenherg yang bertanggungjawab dalam Departemen Administrasi memutuskan untuk menggunakan kelemahannya untuk menekannya.
“Kau harus patuh padaku atau aku akan membuatmu kehilangan semua yang kau miliki sekarang Tuan Marquess!” gumam Theodore yang telah berdiri di depan jendela yang tertutup.
Theodore yang memiliki banyak pekerjaan saat melihat banyak sekali tumpukan kertas di atas meja kerjanya menjadi semakin merindukan Larietta.
‘Hah! Kenapa hatiku sangat ingin terus menghabiskan waktu bersama denganmu, Larietta?’ ucap Theodore dalam hatinya.
‘Hati ini sedih saat melihatmu bersedih dan perasaan amarah dan keinginan menghabisi siapapun yang menyakitimu terasa semakin besar jika melihatmu terluka! Apakah aku sungguh telah jatuh padamu?’ pikir Theodore dengan wajah memerah dan penampilan berantakan.
Theodore yang tak bisa menahan rasa rindunya untuk bertemu dengan Larietta padahal baru saja bertemu di pagi harinya.
“Tidak bisa terus seperti ini! Aku akan melihat Larietta! Aku hanya ingin melihat wajahnya meskipun dari kejauhan!” gumam Theodore mengambil jasnya.
A Di sisi lain, malam hari yang semakin larut membuat Larietta tidak bisa tidur dan memutuskan untuk berjalan-jalan sebentar sendirian.
__ADS_1
Larietta yang tak ingin membuat Anna yang sedang tertidur dengan sangat lelap pun memanggil Sylphide untuk datang.
“Sylphide datanglah!” panggil Larietta.
“Bagaimana kabarmu? Maafkan aku yang memanggilmu dari Duniamu tapi bisakah kau membawaku keluar dari sini dengan Anginmu secara diam-diam?” tanya Larietta penasaran.
“Tentu saja, Tuanku! Aku akan melakukannya untukmu! Silahkan duduk di punggungku lalu kita akan terbang!” ucap Spirit Angin Sylphide yang berwujud Serigala Besar.
Larietta yang sampai di Taman dengan bunga Sedap Malam yang bermekaran di malam hari di bawah sinar bulan.
Larietta yang berdiri berdampingan bersama Sylphide tak jauh dari Asramanya merasa sangat takjub dengan pemandangan indah yang ada di depan matanya.
“Hmmm, malam ini sangat indah! Bintang dan Bulannya bersinar dengan sangat terang dan bunga yang mekar menambah keindahannya, benar begitu bukan Sylphide?” tanya Larietta dengan senyum lembut yang dibalas dengan anggukan kepala.
Larietta yang merasa pikirannya kembali damai dengan hembusan angin sepoi-sepoi menjadi waspada saat Sylphide memberinya sebuah peringatan.
“Berhati-hatilah! Ada seseorang yang datang secara tiba-tiba di atas pohon itu!” tunjuk sylphide dengan sorot matanya.
Larietta yang telah menerima serangan dari pembunuh bayaran secara mendadak beberapa kali semenjak dirinya meninggalkan Kediaman Duke menjadi curiga pada Melisha.
Larietta yang tidak bisa diam saja menunggu dirinya diserang lebih dulu memberikan perintah kepada Sylphide untuk membunuh pembunuh bayaran tersebut.
Namun tidak disangka, sosok pembunuh bayaran nyatanya adalah orang lain yang membuat Larietta menjadi sangat terkejut.
“Theo! Apa yang kau lakukan disini?” tanya Larietta dengan wajah penasaran dan cemas di saat bersamaan.
Theodore yang meninggalkan Asosiasi Eagle Eyes menuju Asrama Larietta dengan menggunakan sihir pun bersembunyi di balik pohon lalu tiba-tiba sebuah serangan mendadak datang ke arahnya.
Theodore yang tak bisa diam saja menerima serangan itu mencoba menghindar tapi justru terpeleset dan terjatuh dari atas pohon.
“Aduuhhhh!” teriak Theodore dengan wajah kesakitan.
__ADS_1
“A-Aku datang karena merindukanmu dan berniat melihatmu dari jauh lalu kembali tapi siapa sangka bahwa aku akan diserang. Hah! Sepertinya keberadaanku sungguh tidak diinginkan!” ucap Theodore dengan ekspresi wajah seperti orang yang sangat terluka.
Larietta yang merasa bersalah karena menyerang Theodore langsung membantunya berdiri dan membawanya ke tempat yang lebih nyaman.
“Apa kau baik-baik saja? Ma-Maafkan aku!” ucap Larietta dengan wajah bersalah.
Theodore yang melihat Larietta memasang wajah sedih ingin sekali menggodanya dengan berpura-pura terluka.
“A-A-A-Aarrgghhh! Tanganku sakit sekali! Sepertinya tanganku patah!” ucap Theodore dengan wajah pura-pura kesakitan.
“Aaarrgghh! Sakit sekali!” ungkap Theodore sambil memegang lengan kanannya seolah cedera.
Larietta yang sempat khawatir dan cemas langsung kesal dan memukul dada Theodore saat mengetahui kebohongan yang dilakukan Theodore.
“Sakit sekali, ya? Aduh, bagaimana ini? A-aku akan segera memanggil Dokter untuk mengobatimu!” ucap Larietta dengan wajah cemas.
“Tunggu, Tuanku! Tangannya tidak terluka sama sekali! Orang itu sangat sehat!” ucap Sylphide yang ternyata belum kembali ke Alam Spirit.
“Kau! Kau berbohong padaku! Hmmm, kenapa kau berbohong? Apa kau tidak tau jika aku khawatir sekali?” teriak Larietta dengan wajah kesal sambil memukul tubuh Theodore pelan.
“Hmmm, kau sungguh menyebalkan dan aku tak ingin bertemu denganmu lagi!” ucap Larietta yang langsung berdiri dari tempatnya dan berniat kembali ke Asramanya.
Theodore yang tak ingin membiarkan Larietta pergi begitu saja dalam keadaan marah langsung menghentikannya dan meminta maaf.
“Tunggu! Jangan pergi! Aku minta maaf! Maafkan aku yang telah menggodamu!” ucap Theodore dengan kepala tertunduk menyesal.
“Tapi sejujurnya aku sangat senang saat tau jika kau sangat khawatir padaku dan aku rela menerima pukulanmu asalkan kau terus memperhatikanku, Larietta!” uap Theodore dengan senyum lembut.
Larietta yang melihat Theodore menyatakan yang ada di dalam pikiran dan hatinya begitu mudah dengan wajahnya yang tampan di bawah sinar bulan merasa tidak adil.
“Hmmm, kenapa kau mengatakan itu dengan ekspresi seperti itu dan wajah yang tampan? Ini sungguh tidak adil!” ucap Larietta yang membalikkan tubuhnya dengan tangan terlipat di dada dan wajah yang memerah seperti tomat.
__ADS_1
#Bersambung#
Waw, suasananya romantis sekali. Apakah kapal akan berlabuh malam ini? Tebak jawabannya di kolom komentar ya...