
Larietta yang sedang menunggu hari pertamanya belajar di Akademi Rinette yang semakin dekat memutuskan untuk berjalan-jalan.
Larietta yang mengamati proses pembangunan tempat bisnis pertamanya pun tersenyum puas dengan kemajuannya lalu memutuskan untuk mengunjungi Lorca.
“Hmmm, melihat orang-orang di Kota ini membicarakan tentang Kafe yang sedang dibangun membuatku sangat senang! Aku harap semuanya akan berjalan lancar!”
“Agh, bagaimana jika aku mengunjungi Tuan Lorca di ruang kerjanya sambil melihat proses Alat Sihir yang sedang dibuatnya?”
Di Ibukota, Joseph yang meminta Butler untuk memberikan Marquess Danzhweltz teh yang berisi racun dengan dosis tertentu dan menyuap Dokter memasang ekspresi dingin.
‘Setelah Ayah br*ngsek itu kehilangan kesadarannya maka itu adalah saatnya bagiku untuk menyingkirkan duri yang selama ini merusak pemandangan!’
Joseph yang tidak memberikan Irina kehidupan sosial layaknya Nona Muda Bangsawan dan bahkan mengucilkannya di Kediaman membuat Irina hidup seperti di Neraka.
Irina yang tidak bisa melarikan diri karena penjagaan yang ketat dan tidak bisa meninggalkan Kediaman Marquess tanpa ada Pelindung membuatnya bagaikan burung dalam sangkar.
“Anak yang memiliki darah hina sepertimu tidak pantas berada disini!”
“Jangan pernah berpikir untuk kabur ataupun keluar dari Kediaman ini dan mempermalukan Kediaman Marquess Danzheweltz dengan setengah darah yang ada di tubuhmu!”
“Jika tidak maka jangan salahkan aku jika aku bersikap kasar padamu! Hukumanmu tidak akan seringan kurungan kamar!”
“Aku akan pastikan untuk mematahkan kedua kakimu jika kau melakukan hal seperti ini lagi! Ingatlah peringatanku, Irina!”
Kehidupan Irina tidak terlalu buruk saat Marquess Danzhweltz masih sehat karena tak ada seorangpun Pelayan yang akan berbuat buruk padanya.
“Huuhh..Huuuh... Huuhhhh! Ibu....! Kenapa kau meninggalkan aku sendirian disini? Seharusnya kau bawa aku bersamamu!”
Namun berita tentang Marquess Danzhweltz yang jatuh pingsan dan tak sadarkan diri setelah kembali membuat Irina terpukul.
__ADS_1
“Apa? Ayahku jatuh pingsan? Apakah beliau baik-baik saja?”
Irina yang ingin menjenguk dan melihat Marquess Danzhweltz tanpa pikir panjang pergi menuju kamarnya yang tak sengaja bertemu dengan Joseph.
Joseph yang selalu emosi saat melihat Irina di hadapannya langsung mengepalkan tangannya menahan amarah.
‘Kenapa anak dari p*lac*r ini ada disini?’
‘Sial! Setiap kali aku melihat wajahnya, aku akan selalu terngat dengan wajah p*lac*r yang telah merebut kebahagiaan Ibuku!’
Joseph yang tidak ingin Irina menemui Marquess Danzhweltz yang tidur panjang karena racun yang diberikannya segera menghentikannya.
“Apa yang kau lakukan disini?” tanya Joseph dengan nada suara yang sedikit naik.
“A-aku...” ucap Irina terbata-bata ketakutan.
“Apa yang kalian lakukan disana? Bawa Irina kembali ke kamarnya dan jangan biarkan dia berada disini!” perintah Joseph kepada Kesatria yang berjaga.
Irina yang dibawa paksa oleh dua Kesatria langsung menjadi panik dan berusaha sekuat tenaga untuk melepaskan diri.
“Ti-Tidak! Tu-Tunggu! A-aku tidak ingin kembali!” ucap Irina gagap.
Irina yang tak ingin kehilangan kesempatan untuk bisa melihat kondisi Marquess Danzhweltz yang sedang sakit langsung berlutut di lantai memohon kepada Joseph.
“Ka-Kakak! Kumohon! To-tolong! Izinkan aku menemui Ayah!”
“A-aku sangat khawatir sa-saat mendengar Pelayan bicara tentang Ayah yang jatuh pingsan!”
“Kumohon! Sekali ini saja, to-tolong izinkan aku bertemu dengan Ayah!”
__ADS_1
Joseph yang sangat marah dan warna wajahnya yang telah menghitam karena emosi setiap mendengar Irina menyebut dirinya Kakak dan Marquess Danzhweltz sebagai Ayah pun memberikan kode kepada Kesatria untuk menjauh.
Joseph yang berjalan mendekat ke arah Irina pun menundukkan tubuhnya lalu mengangkat dagu Irina ke atas.
Irina yang terkejut dengan ekspresi wajah yang ditunjukkan Joseph merasakan ketakutan yang besar hingga menjalar ke seluruh tubuhnya dengan sangat cepat.
“Ka-Kakak....!”
Joseph yang tidak senang dengan sebutan yang dikeluarkan dari mulut Irina pun menguatkan cengkramannya pada dagu Irina lalu berbisik di telinganya.
“Jangan pernah bepikir jika kau diterima sebagai Adikku hanya karena aku membiarkanmu memanggilmu Kakak!”
“Aku tidak pernah sedikitpun menganggapmu sebagai Adikku atau bagian dari Kediaman Marquess Danzhweltz!”
“Kau hanyalah Putri Seorang Pelayan yang tidak tau malu naik ke ranjang Seorang Marquess untuk meningkatkan Statusnya! Apakah kau tau jika aku selalu j*jik saat melihatmu?”
“Melihatmu membuatku ingin muntah karena wajahmu ini akan selalu mengingatkanku pada darah murni Marquess Danzhweltz yang telah tercemar dengan darah kotor yang mengalir di tubuhmu!”
Irina yang tidak pernah menyangka jika Joseph yang menurutnya adalah Pria yang baik hati meskipun selalu bersikap dingin akan memiliki pemikiran seperti itu padanya.
Irina yang tidak bisa menerima kenyataan itu menjadi sangat terpukul hingga tubuhnya bergetar dengan warna wajah seputih kertas.
Joseph yang tidak memiliki rasa kasihan sama sekali pada Irina meskipun dirinya tau jika Irina tidak tau apapun dan tidak bersalah tapi ingatan tentang penderitaan Ibunya membuat perasaan simpati di hatinya mati.
“Sepertinya Irina kurang sehat jadi antar dia kembali ke kamarnya dan jangan biarkan dia keluar kamarnya sebelum kondisinya membaik!”
Irina yang tidak memiliki kekuatan untuk melawan hanya tertunduk lesu mengikuti Kesatria yang berjalan di belakangnya.
#Bersambung#
__ADS_1
Bagaimana nasib Irina selanjutnya? Akankah Irina selamat dari rencana buruk Joseph selanjutnya? Bagaimana akhir dari Marquess Danzhweltz? Tebak jawabannya di kolom komentar ya..