Villainess Wants Happy Life

Villainess Wants Happy Life
BAB 66. Cinta Bersemi


__ADS_3

Theodore yang melihat Larietta malu pun tersenyum lalu membuat angin dari Sihirnya hingga menerbangkan butiran-butiran Bunga Dandelion yang berada di sekitar Bunga Sedap Malam.


Larietta yang merasakan hembusan angin pun mengalihkan pandangannya dan terpesona dengan keindahan yang ada di depannya.


“Bunga Dandelion yang terhembus angin tak akan pernah mati justru akan tumbuh kembali di tempat dirinya terjatuh!” ucap Theodore yang berjalan ke arah Larietta.


“Sama seperti Bunga Dandelion, dirikupun akan terus seperti itu. Meskipun masalah datang bertubi-tubi perasaan ini tak akan pernah mati justru akan terus tumbuh semakin besar!” ungkap Theodore yang berdiri di depan Larietta.


“Maaf telah menggodamu tapi sungguh hatiku sangat senang saat kau mengkhawatirkanku!” ucap Theodore yang memegang dadanya dengan senyum lembut.


Larietta yang tersentuh dengan perkataan Theodore tak bisa mengatakan apapun dan hanya bisa terdiam di tempatnya dengan wajah yang memerah.


“Larietta, izinkan aku menyembuhkan lukamu? Tolong berikan aku kesempatan untuk dapat bersama denganmu!” ucap Theodore dengan sorot mata yang tajam menatap Larietta.


Larietta yang tak pernah terpikirkan untuk bersama dengan pria lain karena semua tenaganya telah habis untuk membalas orang-orang yang menyakitinya dan membangun bisnisnya menjadi sangat terkejut.


Namun perasaan bahagia karena masih ada orang yang mencintainya tanpa syarat seperti Theodore membuat Larietta ingin menjadi orang yang serakah.


‘Apakah aku boleh menerima cinta ini? Apakah aku boleh merasakan sedikit kebahagiaan dicintai oleh orang yang tulus? Apakah aku berhak menerima pengakuan ini?’ pikir Larietta dengan kepala tertunduk.


Larietta yang masuk dalam dilema tiba-tiba teringat pesan Anna padanya untuk membuka hatinya karena tak semua orang sama seperti Joseph yang dapat dengan mudah berpindah ke lain hati.


Larietta yang mengangkat kepalanya menatap Theodore yang berdiri di depannya dengan tatapan mata cemas.


Larietta yang tak bisa mengatakan apapun untuk menjawab perasaan Theodore padanya pun mendekatkan dirinya lalu mencium Theodore.


Theodore yang terkejut dengan tindakan tiba-tiba yang dilakukan Larietta merasakan sensasi berbeda dan keinginan untuk terus bersama Larietta semakin besar.

__ADS_1


Theodore yang tak ingin melepaskan Larietta yang berniat menjauhinya pun menarik pinggang Larietta mendekat dan merangkulnya lalu mencium bibir Larietta kembali.


Larietta awalnya terkejut akhirnya menikmati perlakuan Theodore padanya lalu melingkarkan tangannya ke leher Theodore.


Keesokan harinya, Larietta yang terbangun dari tidurnya langsung terduduk saat mengingat tindakan impulsif yang dilakukannya semalam bersama Theodore.


“Aaarrgghh! Apa yang telah aku lakukan? Hah! Rasanya aku ingin mati saja!” gumam Larietta dengan wajah yang memerah yang tersembunyi di balik bantal.


Wajah Larietta yang semakin memerah seperti Tomat saat mengingat ciuman pertamanya bersama Theodore membuat Anna yang datang membawa air cuci muka menjadi panik.


“Nona! Kenapa wajah anda memerah? Apakah anda terkena demam?” tanya Anna dengan wajah yang cemas.


Larietta yang tak bisa mengatakan alasan wajahnya yang memerah dengan cepat mengelak dan mengusir Anna keluar.


“A-Aku baik-baik saja! Aku bisa mencuci wajahku sendiri jadi keluarlah!” ucap Larietta sambil mendorong Anna dengan wajah yang malu.


“Nona, saya pikir anda harus segera keluar segera!” ucap Anna dengan nada suara yang terdengar serius dari balik pintu.


Larietta yang keluar dari kamar pun berjalan menuju ke ruang tamu dan menemukan tumpukan hadiah yang memenuhi setengah Asramanya lalu membaca surat yang diberikan Theodore padanya.


“A-Apa-apaan semua hadiah ini?” tanya Larietta dengan wajah terkejut dan mata yang terbuka lebar.


Larietta yang melihat tumpukan hadiah yang seperti gunung dengan lambang Keluarga Duke Chartreux disana terdiam di tempatnya.


“Nona Larietta?” panggil Olivier yang berdiri di sampingnya dengan sikap yang sopan dan kepala tertunduk ke bawah.


Larietta yang melihat Olivier yang merupakan Ajudan Pribadi Theodore datang secara pribadi mengirimkan semua hadiah dan sebuah surat untuknya.

__ADS_1


“Ini semua adalah hadiah yang dikirimkan oleh Tuan Muda Duke Chartreux dan Beliau harap Nona akan menyukai semua hadiah ini!” ucap Olivier dengan tangan di dadanya dengan kepala tertunduk.


“Beliau juga mengirimkan surat ini untuk anda bersamaan dengan semua hadiah tersebut!” ucap Olivier sambil menyerahkan surat kepada Larietta.


Larietta yang membuka amplop berwarna merah muda dengan segel Keluarga Duke Chartreux pun membaca surat tersebut secara perlahan.


[Tolong, jangan ubah pikiranmu dalam semalam. –Theodore Lier Chartreux]


Larietta yang kehabisan kata-katanya hanya memiringkan kepalanya mendengarkan Oliver menyampaikan pesan terakhir untuknya.


“Nona, Tuan Muda berkata bahwa dirinya akan segera menghubungi anda segera untuk bertemu. Oleh karena itu, tolong pakai minimal salah satu dari hadiah yang dikirimkan!” ucap Olivier yang berpamitan sambil menundukkan kepalanya.


Anna yang menjadi antusias melihat semua hadiah yang dikirimkan untuk Larietta membuka satu per satu hadiah tersebut.


Anna yang tidak menyangka bahwa Theodore akan sangat murah hati mengirimkan banyak sekali hadiah untuk Larietta terlepas dari semua yang dilakukan oleh Theodore saat Larietta membuka kebusukan Melisha.


“Nona, lihatlah ini! Ini adalah Gaun dari Madam Portene yang sedang sangat terkenal di Ibukota saat ini! Gaun rancangannya sangat sulit untuk didapatkan!” ucap Anna dengan wajah ceria.


“Lihatlah semua perhiasan ini! Sungguh indah dan elegan!” teriak Anna dengan antusias yang tinggi.


Larietta yang melihat hadiah yang dikirimkan oleh Theodore untuknya satu per satu pun tersenyum malu dan muncul perasaan bahagia di sudut hatinya.


“Theo....!” gumam Larietta dengan wajah memerah.


#Bersambung#


Apakah Larietta akan mengubah keputusannya untuk menjadi Kekasih Theodore? Tebak jawabannya di kolom komentar ya...

__ADS_1


__ADS_2