
Hari Sabtu, Eka dan kakaknya dijemput oleh Ayah dan Bunda, karena hari ini mereka pindah rumah. Rumah mereka yang baru terdiri dari 2 tingkat.
Kamar Eka dan kakaknya berada di lantai 2, sedangkan kamar ayah dan bunda ada dj bawah. Rumah mereka yang baru tidak terlalu besar, dan di depan kamar mereka ada ruang belajar, jadi mereka bisa belajar bersama.
"Bunda, ini rumahnya sudah dibangun lama ya? di dapur itu ada bekas sumur tua ya?
"Iya sayang, ayah dan bunda beli rumah ini karena tidak terlalu jauh dari sekolah kamu. Kalau mengenal sumur tua, bunda ngga tahu. Ada apa memangnya?
"Ngga papa Bunda, Eka tanya saja".
Bunda, ayah, kakaknya dan Eka segera beberes rumah setelah makan siang. Sedangkan untuk buku-buku pelajaran masih di dalam kardus belum ditata di rak buku. Malamnya setelah dirasa cukup beres dan akan dilanjutkan besok. Selesai sholat, Eka dan kakaknya langsung naik ke kamar. Sedangkan ayah dan bunda masih membereskan barang-barang dj bawah.
"Eka... Eka.... Eka... " Eka terbangun dari tidurnya. Ia mendengar ada seseorang memanggil namanya. Eka segera menyalakan lampu kamar dan tidak ada siapa pun di dalam kamarnya. Saat Eka mau mematikan lampu dan lanjut tidur terdengar lagi namanya dipanggil. Eka seger keluar dan berlari ke kamar kakaknya.
"Aduh, Ekaaaa, kamu buat kaget saja! Kan bisa ketok pintu dulu!" Kak Fadli kesal karena Eka masuk kamar kakaknya tanpa mengetuk pintu.
"Maaf Kak Fad, tadi di kamar Eka, Eka dengar ada yang manggil-manggil nama Eka, terus Eka nyalain lampu kamar, tapi ngga ada siapa-siapa, pas Eka matiin lampu dan mau lanjut tidur, nama Eka dipanggil-panggil lagi. Makanya Eka langsung lari ke kamar Eka.
" Kita berdua juga sama, nama kita dipanggil-panggil, tapi ngga tahu sama siapa?"
"Ya sudah, yuk keluar terus ke kamar ayah sama bunda". ajak Eka. Saat mereka berdiri dari tempat tidur, Ada suara seperti orang yang sedang membuka kardus. Sementara mereka bertiga juga mendengar ada yang memanggil nama mereka
" Fadli... Fadli... Fadli... ".
" Fani... Fani... Fani... ".
__ADS_1
" Eka.... Eka... Eka... ".
Mereka bertiga saling bertatapan antar takut dan tetap mengucapkan doa. Eka melihat jam menunjukkan pukul 02.00.
"Kak Fad dan Kak Fani, kira siapa ya yang mangil nama kita jam 02.00?".
"Ngga tahu?" Sepertinya yang di ruang belajar sudah tidak ada suara? Aku mau ke bawah, mau ke kamar mandi". Kak Fani sudah membuka pintu kamar, sedangkan Fadli dan Eka masih duduk diatas kasur. Kak Fani langsung menutup pintu kamar lagi.
"Astagfirullah al adzim!"
"Kak Fani, kenapa Kak? Ada apa Kak?"
" Fani, kamu kenapa, kamu lihat apa di luar?"
"Fadli, Eka, kita sholat sekarang".
"Aku mau sholat Fad, Mukanya pucat semua. Ayo, kita sholat sekalian di lanjutin sholat subuh"
"Kak kita dzikir aja yah" Bunda pasti nanti naik keatas bangunin kita buat sholat subuh".
"Baru kali ini aku dikasih lihat kayak Eka, Fad. Sumpah serem Fad, pantesan selama ini kita berdua bilang Eka aneh. Astagfirullah, tadi benaran kaget Fad".
"Astagfirullah, Kak, itu di depan jendela kamar ada kepala gede banget kak". Eka melihat ada kepala di jendela kamar".
"Ekaaaa! Jangan nakutin dong!" teriak Fadli
__ADS_1
"Astagfirullah al adzim! Ekaa kamu.... kamu.... ". Fani pingsan. Eka dzikir, karena Fadli yang tidak melihat seperti yang dilihat Fani dan Eka, berusaha membangunkan Fani yang pingsan. Akhirnya Fani mulai sadar, Fadli dan Fani ikut dzikir dengan Eka. Terdengar azan subuh, bunda sudah bangun dari setengah jam sebelum subuh. Bunda tidak mendengar kegaduhan yang terjadi diatas, sebelum ke kamar mandi untuk wudhu, bunda membangunkan ayah untuk sholat subuh. Saat ayah bangun, ayah melihat ada Mbah Kakung yang sedang duduk di tepi tempat dan melihat muka mbah Kakung marah.
"Lihat anak-anakmu diatas! Lain kali selametan dulu kalau mau masuk rumah yang sudah lama kosong! Pengajian harus ada hari ini juga!"
"Nggih Pak". Setelah Mbah Kakung tidak terlihat lagi, ayah segera naik ke atas, kamar yang dituju pertama kali adalah kamar Eka, dan ternyata pintu kamar Eka sudah terbuka tetapi tidak ada Eka di dalam kamar. Ayah langsung kuatir takut Eka kenapa-napa. Lalu ayah membuka kamar Fadli, Fani, dan ayah langsung lega melihat ada Eka.
Melihat ayah membuka pintu, mereka bertiga langsung menghambur ke ayahnya. Fani dan Eka juga Fadli melihat, buku mereka sudah tertera di rak buku dan kardus-kardus sudah tidak ada.
"Ayo turun semua ke bawah, wudhu dan sholat subuh", ajak ayah.
Mereka bertiga langsung lari ke bawah. Sedangkan ayah masih diatas, ayah merasakan sesuatu hal yang aneh tapi entah apa? Akhirnya ayah ke bawah untuk wudhu dan sholat berjamaah dengan keluarganya.
Selesai sholat, merek tidak ada yang mau naik ke atas.
"Kakak, kok tumben masih disini semua, biasanya habis sholat langsung pada masuk kamar lagi?" Bunda heran melihat anak kembarnya yang tidak seperti biasanya.
"Bunda, semalam ada yang manggil nama Eka di kamar. Eka nyalain lampu tapi ngga ada siapapun, terus waktu Eka matiin lampu dan mau tidur lagi, nama Eka dipanggil lagi, terus aku langsung lari ke kamar kakak. Kakak ternyata juga bangun, kakak juga sama kayak Eka, namanya dipanggil-panggil.
Akhirnya mereka bertiga menceritakan kejadian semalam sama ayah dan bunda. Dan Fani menceritakan bahwa pada saat dia membuka pintu kamar mau ke bawah. Ada nenek-nenek dua orang yang satu melihat Fani dengan tatapan marah dan satu lagi tidak ada matanya hendak menarik Fani, karena itu Fani langsung menutup pintu dan saat Eka melihat kepala gede di jendela, Fani melihat kecuali Fadli.
Dan mereka kaget saat melihat ruang belajar, buku mereka sudah tersusun di rak buku sedangkan saat mereka tidur, Buku-buku belum dikeluarkan dari dalam dus.
Ayah dan bunda mendengarkan cerita anak-anaknya. Setelah diberi pengertian oleh ayahnya, Fadli, Fani dan Eka berani naik ke atas untuk mengambil salin baju.
Sementara anak-anak naik ke atas, ayah menceritakan sama bunda kalau mbah Kakung datang dan marah karena main masuk ke dalam rumah tanpa ada pengajian dan selamatan. Dan diminta hari ini ada pengajian.
__ADS_1
Bunda segera gerak cepat untuk menghubuni teman-teman pengajian dan alhamdulillah, mereka bisa pengajian di rumah baru dengan mengundang teman-teman pengajian bunda dan teman-teman ayah.
Bunda dan ayah benar-benar lupa, dan anak-anak yang kena kejadian di malam pertama mereka tidur di rumah baru.