Warisan

Warisan
Asih


__ADS_3

"Tante, aku rasanya capek banget." Eka mengeluh kepada tantenya selepas sholat subuh.


"Eka, jangankan kamu yang menjalani. Tante, nenek, kakek, ayahmu dan pak supir saja capek melihatnya. Kamu sudah di ruqyah tetap saja tidak hilang. Kadang tante pengen menggantikan kamu tapi tante sendiri penakut." Tante meringis.


"Ya sudah tante, memang harus Eka jalani. Ini mujizat dari Allah dengan cara yang berbeda untuk membantu orang. Jangankan tante yang tidak menjalani. Eka juga sering ketakutan bukan ketakutan karena akan mati. Ketakutan yang datang tiba-tiba melihat hal-hal gaib. Tante kan tahu sendiri rasanya gimana perut rasanya mules banget ditambah merinding semua seluruh badan."


"Iya Eka, tante ngerti apa yang kamu rasakan. Memang tidak ada gitu saat kamu pengen menolak tidak melakukan hal itu?"


"Ada sih tante. Balik lagi, aku harus bantu orang dengan cara yang aku bisa."


"Ya membantu orang memang harus, tapi kalau memang kondisi kamu tidak memungkinkan untuk membantu ya sudah jangan memaksakan diri."


"Tapi ini bukan bantuan hal yang biasa tante. Ini urusannya sama makhluk-makhluk yang aneh-aneh dan menyeramkan bentuk rupanya. Kadang Eka bingung, kenapa mereka selalu suka mengganggu kita. Padahal kita tidak mengganggu mereka."


"Ya namanya orang kita kan tidak tahu. Buktinya banyak orang yang mencari rejeki dengan tidak halal, contohnya pesugihan, penglaris, pengasihan. Banyak macamnya."


"Iya tante. Sudah ah, Eka mau mandi dan siap-siap berangkat sekolah."


"Ya, sudah jam 05.30 ini."


Eka segera bergegas ke kamar mandi. Setelah itu memakai seragam sekolahnya. Dan menuju meja makan.


"Eka, nanti pulang sekolah langsung pulang ya. Nenek tidak mau kamu sakit. Sorenya kamu ikut sama nenek untuk melihat rumah yang akan ditempati oleh tante Neni dan mbak Asih."


"Iya nek. Memangnya tante Neni dan mbak Asih tidak tinggal disini?"


"Tidak Eka. Karena kalau tinggal di sini kasihan Asih terlalu jauh pergi kerjanya."


"Oh, ok. Ayah dan kakek mana Nek?"


"Ayah dan kakekmu tadi jam 03.00 pagi berangkat ke luar kota. Ada urusan. Dan nanti kamu bareng sama tantemu untuk berangkat sekolah."


"Kalau Eka naik bis saja bagaimana?"


"Jangan, nenek tidak mau kamu kenapa-napa di jalan."


"Nenek, Eka sudah besar ya. Sudah kelas 3 SMA ya. Masa selalu harus diantar dan djjemput. Kapan Eka mandiri?"


"Nanti, akan ada saatnya kamu mandiri."


"Iya, iya nenek sayang."

__ADS_1


Eka melihat ke arah tante dan mbak Asih yang duduk di depan Eka.


"Eka, Eka, kamu sudah selesai makannya?"


"Eh, iya tante. Mbak Asih? Eka mau tanya. Mbak Asih sakit?"


"Ngga Eka, mbak Asih tidak sakit."


"Tapi kok kelihatannya beda?"


"Ah, masa beda. Sama saja."


"Oh, mungkin Eka yang salah lihat. Tapi kalau ada apa-apa ngomong saja ya mbak. Kita kan keluarga jadi jangan merasa bahwa mbak Asih dan tante Neni numpang hidup di sini. Tidak sama sekali."


"Iya Eka." Eka terkejut karena suara mbak Asih berbeda. Suaranya menjadi suara pak Felix.


Eka segera berdiri dan mendekat ke mbak Asih.


"Pak Felix, jangan ganggu anak dan istri pak Felix lagi! Silakan pak Felix keluar sekarang juga dari badan mbak Asih."


Tiba-tiba badan mbak Asih terangkat dengan sendirinya.


"Ini anakku, darah dagingku. Aku berhak atas anak ini!" Mata mbak Asih terlihat memerah dan mengeluarkan darah.


Eka segera berlari ke kamarnya dan mengambil tasbih pemberian mbah kakungnya. Karena tasbih yang tadi Eka lemparkan putus.


Ya Allah, ini sebenarnya ada apa lagi? Kenapa almarhum pak Felix selalu buat kekacauan seperti ini. Eka bergumam sendiri.


"Hei nenek penguasa kegelapan. Jangan kamu bersembunyi di balik jiwa pak Felix. Kembalikan pak Felix dan ibunya agar kami bisa menguburkan jenazahnya!"


"Hahahha, kamu memang anak hebat bisa tahu bahwa aku bukan Felix. Aku akan mengembalikan jenazah Felix dan ibunya tapi dengan syarat. Kamu harus memberikan anak ini! Karena sebenarnya Felix sudah menumbalkan anak ini kepadaku!"


"Tidak ada yang akan aku berikan! Mbak Asih, balik sekarang. Eka tahu, mbak Asih sedang dipegang oleh dua makhluk yang menyeramkan. Ayo mbak Asih istighfar jangan putus. Mbak Asih bisa!"


"Hahahah, kamu hanya buang-buang suaramu saja. Asih tidak akan mendengarnya dan sekarang aku akan bawa dia!"


Eka melihat mbak Asih berubah menjadi kepulan asap yang dimulai dari kaki. Eka segera meloncat untuk meraih tangan mbak Asih. Eka berusaha menurunkan mbak Asih sekuat tenaga sambil tetap berdzikir.


Eka merasakan kekuatan yang besar. Terjadilah tarik menarik. Eka menghentakkan tangan mbak Asih berkali-kali. Di saat yang bersamaan tante Neni berteriak-teriak.


"Eka, jangan kasar menarik tangan Asih! Kasihan dia kesakitan."

__ADS_1


"Neni, jangan ganggu cucu saya. Dia tahu apa yang harus dia perbuat supaya Asih dapat kembali lagi bersama dengan kamu. Lebih baik kamu sekarang bantu Eka. Kita dzikir sama-sama. Lagipula Eka tidak ada niat untuk menyakiti anakmu!"


Eka melihat mbah Kakung datang. Mbah Kakung membantu Eka menarik tangan Asih. Dan Asih kembali duduk di kursi makan.


"Kasih minum air putih hangat. Asih biar mbah pegang dulu. Kamu ambil air putih hangatnya."


"Iya mbah."


Eka segera mengambil air putih hangat dan menyendokkan air putih hangat ke mulut Asih. Asih tersedak.


"Sudah, sudah. Sekarang tahan pundak Asih. Biar mbah yang urus jin itu. Kamu tidak usah sekolah dulu. Dan bilang sama Neni juga Asih untuk tidak keluar dari rumah ini. Mbah sudah pagarin rumah ini. Jadi tidak ada yang akan ganggu lagi."


"Iya mbah. Nanti Eka bilang sama tante Neni dan mbak Asih."


"Kamu tetap dzikir. Sampai Asih nanti manggil ibunya, berarti Asih sudah kembali. Ingat, tahan terus pundaknya Asih jangan dilepaskan. Dan ingatkan Asih dan Neni untuk sholat kembali. Selama tinggal disini mereka tidak sholat. Pikiran mereka kemana-mana."


"Iya mbah. Mbah, Eka sebenarnya capek."


"Ya kalau capek, istirahat."


"Tapi mbah... "


"Sudah nanti dulu Mbah urus jin itu. Nanti mbah akan datang lagi. Jangan lepas sholat dan dzikir. Puasamu Senin Kamis dilanjutkan lagi. Karena makin kesini, banyak yang harus kamu tolong."


"Iya mbah."


Eka melihat mbah kakung pergi. Eka masih menahan pundak Asih seperti yang diminta oleh mbah kakung. Dan tetap berdzikir.


Nenek, tante dan tante Neni masih tetap berdzikir juga. Setelah 30 menit. Asih memanggik ibunya.


"Ibu, ibu. Asih kembali ibu."


"Subhanallah, Asih, Asih!" Bu Neni berteriak dan segera berdiri menghampiri Asih yang menangjs.


"Iya bu. Asih bisa kembali. Alhamdulillah, Asih bisa balik lagi bu. Asih takut."


"Mbak Asih, tenang. Tarik napas dan ini diminum dulu."


Eka memberikan gelas berisi air putih yang tadi kepada Asih.


"Iya Eka, terima kasih. Kamu membantu Asih lagi."

__ADS_1


"Sama-sama mbak. Terima kasih sama Allah. Karena Dia yang telah menyelamatkan mbak Asih."


__ADS_2