
Eka, ayah dan tantenya sudah sampai rumah sebelum maghrib.
"Tante, kita sholat yuk sekarang, nanti sekalian kita lanjut sholat maghrib."
"Tapi tante belum menyiapkan semuanya. Dan juga belum mandi."
"Ya sudah gini aja. Tante mandi dulu, terus kita langsung dzikir petang. Ya sudah, tante ikutin deh kemauan ponakan tercinta tante."
Sementara tante mandi, Eka keluar dari kamar tantenya.
"Kakek, nenek, ayah, tante Neni dan mbak Asih, kita dzikir petang ya, tapi Eka yang pimpin nanti diganti dengan kakek saat sholat maghrib."
"Loh, kok bisa gitu?"
"Sudah ayah, nanti Eka jelaskan. Yang penting, ikutin Eka dulu. Eka mau minta sama yang bantu masak dan juga pak supir. Harus. Ayo cepat, kita masih punya waktu 30menit lagi."
Mereka akhirnya bergegas mengambil wudhu seperti yang Eka minta dan setelah memberi tahu pak supir, Eka kembali ke kamar tantenya.
"Eka, kita sholat disini?"
"Ngga tante, kita dzikir petang sama-sama"
Eka dan tante keluar kamar dan sudah berkumpul semua untuk dzikir petang. Mereka segera dzikir petang. Setelah selesai, tidak berapa lama terdengar azan maghrib. Kakek langsung memimpin untuk sholat maghrib berjama'ah.
"Eka sebenarnya ada apa?"
"Gini, tante nanti masuk kamar di temani nenek, tante Neni dan mbak Asih juga ibu-ibu yang lain. Jangan ada yang keluar kamar. Semua makanan sudah siapkan?"
"Sudah, sudah rapi semua. Tinggal nunggu tamu, calon tunangan tante kamu. Tapi mereka datang setelah isya."
"Tidak, mereka sudah jalan kesini. Dan 20 menit dari sekarang mereka akan sampai. Jadi tolong cepat! Pak supir dan bapak-bapak silakan duduk di depan dan anggap saja tidak ada tamu. Jika ada yang membalas salam mereka, mohon maaf, bisa meninggal. Kakek dan ayah sama Eka, kita duduk di ruang tamu. Jangan lupa baca surat Al Falaq, An Nas, Al Fatihah, untuk usir setan, jin ataupun makhluk halus yang kalian tahu."
Seperti di komando, mereka semua bergerak seperti yang Eka minta.
"Pak, kenapa saya merasa bulu kuduk berdiri ya. Bapak-bapak yang lain bagaimana."
"Bapak-bapak, mohon maaf. Tadi non Eka kan minta kita baca surat tadi, jadi lebih baik kita bershalawat saja. Karena non Eka merasa kita kedatangan tamu yang menyerupai manusia tapi mereka bukan manusia."
Akhirnya mereka membaca surat yang diminta Eka secara bersama-sama. Dan benar saja, tidak lama kemudian rombongan yang terdiri dari 7 orang datang. Muka mereka terlihat aneh dan ada bau anyir. Dan mereka mengenakan baju berwarna hitam semua seperti mau melayat. Kecuali satu pria yang memakai mahkota dan matanya menyerupai mata ular.
Eka sudah siap menyambut mereka dengan ditemani kakek dan ayah.
Saat rombongan tersebut mengucapkan salam tidak ada satupun yang membalas. Eka sudah was-was takutnya bapak-bapak ada yang membalas salam mereka.
"Mbak, maaf, apa benar ini rumah Lila?"
__ADS_1
"Bukan pak. Di rumah ini tidak ada yang bernama Lila. Bapak dan rombongan ini mau bertemu siapa?"
Eka, melihat sekelebat bayangan hitam berjalan ke samping rumah. Eka langsung menghentakkan kakinya. Dan bayangan hitam itu terpental.
"Gini mbak. Kami ingin melamar mbak Lila untuk jadi menantu kami."
"Menantu kami? Maksudnya pak?"
"Maaf salah, maksudnya jadi menantu untuk tuan kami!"
Terdengar kasak kusuk dari rombongan.
"Sekali lagi pak. Tidak ada yang bernama Lila di rumah ini."
"Kasihkan photonya biar mbak ini tahu. Kita tidak bisa lama-lama harus secepatnya melamar gadis itu."
Seseorang memberikan photo kepada Eka.
"Ini mbak, yang bernama mbak Lila. Tuan kami sudah bertemu dengan mbak Lila dan mereka berpacaran juga sudah lama."
"Oh ya."
Saat Eka menerima photo tersebut. Ada asap hitam yang mencoba masuk ke tubuh Eka, tetapi tidak bisa dan salah seorang rombongan terpental dan langsung berasap kemudian menghilang
"Maaf, tidak ada perempuan seperti di dalam photo ini."
"Mbak, jangan main-main dengan kami ya. Tuan kami sudah berpacaran lama dan jika Tuan kami marah, seluruh keluarga mbak bisa celaka."
"Pak, dari tadi bapak bilang tuan, tuan kami. Siapa yang jadi tuan kalian semua!"
Tiba-tiba maju satu orang pria yang memakai mahkota.
"Saya, saya adalah tuan mereka. Dan saya tahu bahwa gadis itu ada di kamar. Kamu bukan tandingan saya kecuali kamu ingin mati!"
"Astaghfirullah al adzim. Inna lillahi wa inna lillahi roji'un. Kamu bukan manusia! Dan satu hal saya tidak takut dengan kalian semua! Saya punya Allah SWT yang melindungi saya dan keluarga saya."
Ayah dan kakek meneriakkan Allahu Akbar yang bergema dan mendadak semua tetangga keluar dari rumah dan meneriakkan takbir bersama-sama sedangkan bapak-bapak dan pak supir tetap membaca surat.
Bersamaan dengan teriakkan takbir, rombongan tersebut mengeluarkan asap berwarna hitam dan mereka semua berubah menjadi wujud asli. Dan ternyata rombongan itu ada ular-ular yang sangat besar.
Ular-ular besar itu berusaha menyerang orang-orang di sekitar mereka tetapi tidak bisa.
Mbah kakung datang dan membantu Eka.
"Siapa kalian! Kenapa mengganggu cucu saya!"
__ADS_1
"Karena cucu kamu telah menghalangi saya untuk mendapatkan seorang perempuan yang masih perawan! Dan saya perlu darah perempuan itu saat ini!"
Eka dan mbah kakung bersama-sama menghentakkan kaki, dan satu-persatu ular-ular tersebut terbakar dan menghilang kecuali tuannya.
"Hahahhaha, kalian hanya bisa menghentakkan kaki saja. Dan membuat prajuritku mati. Aku tidak akan bisa mati!"
Eka dan mbah kakung merapal doa bersama. Dan buntut ular itu berusaha untuk mengambil Eka tetapi tidak bisa.
"Kamu tidak akan bisa mengambil cucuku! Dan sekarang, kamu berhadapan dengan aku!"
Eka lalu mengambil posisi duduk bersimpuh. Orang-orang masih tetap meneriakkan Allahu Akbar tanpa henti.
Eka melihat mbah kakung bertarung dengan ular tersebut.
Eka mengambil susur yang sudah disiapkan dan juga kemenyan. Lalu Eka mengunyah dan memuntahkan isinya di atas genting. Karena Eka melihat mbah kakung mulai kepayahan.
Eka bangkit berdiri dan membawa genteng tersebut. Tanpa Eka sadari, diri Eka terbang dan berputar mengelilingi kepala ular itu sampai tujuh putaran lalu menyemburkan susur dan kemenyan yang masih tersisa di mulutnyadan melemparkan genteng ke arah mata ular tersebut. Lemparam Eka tepat. Ular tersebut menggelapar dan berusaha pergi tetapi Eka tidak membiarkan ular tersebut menghilang. Eka segera mengambil kendi yang sudah berisi bunga setaman dan air pandan. Lalu secepatnya kilat Eka berlari mengambil buntut ular tersebut dan memasukkan ke dalam kendi. Dan akhirnya ular tersebut masuk ke dalam kendi. Eka segera menutup lubang kendi dengan daun pisang dan daun pandan.
"Eka, kamu harus hati-hati. Mbah kakung tidak akan tinggalkan kamu lagi. Mbah harus menjaga kamu supaya tidak dibawa. Dan orang-orang yang membantu berteriak Allahu Akbar, kamu berikan mereka makanan."
"Iya mbah."
Setelah dirasa selesai. Eka masuk ke dalam dan meminum air kelapa ijo. Eka merasa energinya sudah terkumpul. Eka keluar dari rumah dan berteriak Allahu Akbar lalu Al Fatihah, sampai semua orang mengucapkan Al Fatihah berbarengan.
Eka membisikkan sesuatu ke telinga ayah kemudian kakeknya. Mengatakan bahwa sudah selesai dan mengajak semua orang untuk makan bersama.
Setelah itu Eka membuka pintu kamar dan memberitahukan bahwa sudah selesai. Mereka diminta untuk makan bersama-sama.
"Eka, kamu tidak papa?"
"Tidak papa nenek dan tante. Ya sudah, ayo kita makan sama-sama sudah waktunya makan."
"Astaghfirullah, sudah jam 10 malam. Ayo ibu-ibu kita makan sama-sama."
"Nek, banyak tetangga di luar juga, mereka ikut makan sama kita."
"Ya ampun Eka, takutnya ngga cukup. Karena nenek tidak masak banyak."
"Cukup kok nek. Tenang saja."
Akhirnya mereka makan bersama-sama. Dan semua orang yang datang, tidak tahu apa yang terjadi hanya kakek, nenek, tantenya, ayahnya, tante Neni, mbak Asih dan beberapa ibu-ibu.
Mereka makan lalu dilanjutkan dengan mengobrol. Mereka semua seperti lupa kejadian siluman tadi.
Eka tersenyum dan mengucapkan syukur kepada Allah SWT.
__ADS_1