Warisan

Warisan
Kiriman Santet


__ADS_3

Eka hari ini tidak masuk sekolah, ia tidak mau meninggalkan Bunda walaupun di rumah masih ada Kakek, Nenek, Tante dan 2 orang adik ayah.


Bunda masih terlalu lemah sehingga Bunda lebih banyak tiduran


Eka keluar dari kamar Bunda. Nenek menemani Bunda, Tante sedang memasak. Kakek dan on sedang mengobrol di ruang tamu.


"Aku mau tanya sama kamu Nep, apakah bapakmu memang punya pegangan yang harus diberikan sama keturunannya. Kejadian kemarin membuat aku kuatir sama keluarga anakku terutama Eka cucuku. Apakah ngga bisa dihilangkan?"


"Kami sendiri juga ngga tahu Pak. Hanya saja setiap keturunan pasti ada satu yang bisa. Jika bukan anaknya akan jatuh ke cucunya. Harusnya Mas Abi yang dapat, karena Mas Abi tidak mau akhirnya Eka yang dapat. Kami adik-adiknya tidak ada yang bisa seperti Eka, jika merasakan ya semua orang mungkin akan merasakan kehadiran makhluk-makhluk tersebut tetapi tidak dapat melihat seperti Eka"


"Tapi ini harus dihilangkan. Saya kemarin takut sekali. Takut kehilangan anak dan cucu saya."


Sementara Eka diatas membuka kamar yang ditempati oleh Fani. Eka tidak melihat ataupun merasakan sesuatu yang janggal. Eka membuka kamar Fadli. Pun sama tidak ada sesuatu yang janggal. Eka turun ke bawah. Dan Eka masuk ke dapur. Eka merasa seperti di tarik ke dapur oleh kekuatan yang sangat besar.


"Allahu Akbar!" Siapa kamu dan apa? Pergi dari sini!"


"Ekaa, kamu kenapa? Ada apa?" Kakek segera menghampiri Eka yang ingin masuk ke dapur tetapi terhalang sesuatu.


Kakek dan om mencoba masuk ke dapur dan seketika Kakek melihat ratusan cacing di lantai dapur dan melihat ada anak kecil sedang memegang tanah berwarna merah yang ditaburkan di dapur.


"Astagfirullah Al Admin!" Ya Allah, ada apa ini?"


Sedangkan om melihat ratusan kelabang di lantai dan seorang perempuan yang sedang hamil dan menangis dibawah tempat cucian piring."


Dan Tante sudah pingsan mengeluarkan darah dari mulutnya.


Eka segera mendorong makhluk yang menghadangnya di depan pintu dapur. Eka tetap berdzikir agar bisa membawa Tante keluar.


Nenek dan bunda mendengar keributan di dapur. Tetapi Nenek tidak mengijinkan Bunda keluar kamar.


"Kita sholat saja, biar mereka semua selamat ya."


"Tapi Eka bagaimana?"


"Eka sudah tahu apa yang harus dia lakukan. Ada bapakmu ada adiknya Abi juga."


"Iya Bu."


Eka akhirnya bisa menerobos masuk. Eka segera mengusap muka Kakek dan Omnya.


"Kakek, Om tolong Tante dibawa keluar dari dapur. Biar Eka yang bersihkan."


"Tapi Eka."


"Ngga papa, Kakek. Allah membantu Eka. Lebih baik tolong tante. Karena setelah keluar dari dapur tante akan baik-baik saja. Percaya sama Allah SWT. Kakek dan Om tolong segera bawa tante keluar. Eka ngga bisa nahan lama ini. ada yang harus Eka bersihkan."


Kakek dan Om langsung mengangkat tubuh tante yang sudah tidak perdaya.


Entah keajaiban dari mana hanya Allah yang punya rencana. Keluar dari dapur. Tante mulai sadar dan darah yang ada di mulutnya sudah hilang. Kakek dan Om mengucap syukur kepada Allah berkali-kali.


"Bapak dan Mas tolong bantu Eka, aku takut Eka kenapa-napa. Kita sholat sama-sama."


Kakek dan Om melihat gerakan Eka yang seperti menerobos sesuatu. Dan Eka berkali-kali meneriakkan asma Allah. Entah gimana caranya hanya Allah dan Eka yang tahu.


Eka melihat ada bungkusan kain berwarna hitam dan ada seuntai rambut panjang untuk gelungan konde. Eka mengambil gelungan rambut itu dan juga bungkusan. Dan di luar tiba-tiba terdengar bunyi petir dan seketika turn hujan.


"Ya Allah SWT, Eka tidak akan membalas orang yang telah menaruh barang ini. Karena hanya Allah, yang patut membalas orang ini. Eka doakan orang ini untuk berbuat baik dan tidak ada dendam ataupun marah kepada ayah dan juga keluarga Eka."

__ADS_1


Eka berusaha mengambil semua yang ada di bawah cucian piring dan menaruhnya di baskom.


Eka menyisir satu-satu di dapur jika ada benda lain. Setelah menemukan beberapa Eka dan meletakkan di baskom. Eka keluar dari dapur.


Eka menelpon ayahnya.


"Ayah, bisa pulang sekarang tolong belikan Eka kain untuk jenasah. Eka mohon ya ayah, sekalian bunganya."


"Iya Eka, tapi buat apa? Kenapa harus beli sekarang? Eka jelas kan sama ayah".


" Ayah, tolong segera, hati-hati di jalan. Nanti Eka ceritakan setelah selesai urus ini semua."


Adiknya Ayah seperti tahu bahwa kakaknya tidak akan bisa pulang cepat. Segera ia menelpon kakaknya.


"Mas, halo, wis aku wae sing tuku. Nek kesuwen mesakno keluargamu. Saiki sampeyan mulih (Mas, sudah aku saja yang beli, kalau kelamaan kasihan keluargamu. Sekarang mas pulang)"


Omnya menghampiri Eka


"Eka, Om saja yang beli."


"Ngga bisa om, ini harus ayah yang beli, karena ditujukannya ke ayah. Om tolong telpon ayah. Kasih tahu ayah yang harus beli, bukan orang lain ataupun menyuruh orang. Tolong ya Om. Eka ngga mau kehilangan siapapun om."


"Iya, iya Eka."


Om menelpon ayahnya Eka lagi.


"Mas, sampeyan sing mesti tuku, jare Eka, sampeyan yang dadi sasarane. Wis yo Mas, aku tak bantu Eka".


" Yo, matur nuwun. Bantu Eka yo, dirimu dulu sering toh bantu bapak. Aku wis neng dalan."


"Eka, mbah biasanya minum kopi ini."


"Yo, matur nuwun le, aku nyilih sediluk badannya Eka. Belum terlalu kuat si Eka."


"Yo Pak, ojo nganti Eka loro loh Pak. Mesakno ket wingi."


"Yo, tenang wae, Gusti Allah sing jogo Eka."


45 menit kemudian, ayah Eka datang. Adiknya sudah menunggu di luar.


"Gimana Eka?" Kelihatan ayah panik sekali.


"Wis tenang mas, Eka wis diganti karo bapak."


Ayah masuk dan memberikan kepada Eka dan bapak kain untuk jenasah dan perlengkapannya. Kakek yang melihat heran bagaimana Eka bisa melakukan hal seperti itu.


Selesai membungkus, Eka dan kakek mengajak ayah pergi dengan om juga. Mereka pergi ke tanah pemakaman. Dan Eka sebagai penunjuk jalannya.


Sampai di tempat yang dituju. Eka berjalan ke beberapa orang dan menanyakan seseorang yang bernama Pak Nanang.


"Waduh ada keperluan apa Dek, cari Pak Nanang."


"Ada urusan sedikit Pak dan penting."


"Mungkin si adeknya mau minta jodoh atau pesugihan atau santet kali hehehhe." Celetuk salah satu Bapak yang ada di kerumunan itu.


"Maaf Bapak-bapak. Anak saya hanya ingin bertemu dengan Pak Nanang, karena ada yang harus diberikan ke Pak Nanang."

__ADS_1


"Jadi bapak ini orang tuanya si adek. Pak, bilangin sama anaknya kalau mau dekatin lelaki atau mau nyantet laki-laki ngga perlu ke Pak Nanang, tapi doa, sholat minta petunjuk sama Allah. Pasti Allah kasih jalan."


Tiba-tiba ada 2 bapak yang melihat ke arah Eka dan jatuh terduduk.


"Maaf Neng dan Mbah, saya antar ke rumah Pak Nanang". salah satu bapak yang melihat muka Eka segera menawarkan diri. Dua orang itu terlihat ketakutan melihat Eka. Karena mereka tidak hanya melihat Eka tetapi juga sosok Mbah yang berubah wujud menjadi menakutkan.


Eka, Mbah, Ayah dan Om mengikuti bapak itu dan salah seorang masih tinggal bersama teman-teman yang lain.


"Kenapa atuh si Soleh ketakutan gitu sama si eneng? Kamu juga Dikin, kenapa?"


"Si eneng ngga papa sebelah nya si eneng yang seram banget. Si eneng bukan anak sembarangan. Yang jaga banyak. Si Nanang ngga ada apa-apanya. Bisa-bisa si Nanang yang kocar-kacir."


"Eh benaran?"


Dikin hanya mengangguk. Dan mereka akhirnya menyusul rombongan Eka ke rumah Pak Nanang.


"Nanang, ada yang cari!"


"Masup, pintunya ngga dikunci. Saya tahu maksud kedatangan kamu."


"Nanang keluar! "


"Aya... aya wae, Sok masup, ngga usah malu."


"Nanang keluar!" Tiba-tiba suara Eka berubah menjadi suara laki-laki yang berat


Nanang keluar dan melihat Eka. Nanang tersenyum dengan Eka.


"Te Edo, si geulis datang, Abah berhasil. Akhirnya si geulis datang, kasih maharnya Edo".


Edo hanya diam menatap Eka dan Pak Abi. Sedangkan Ayah Eka masih bingung. Omnya mengerti.


" Pak Nanang. Saya minta kembalikan ini ketempatnya semula. Saya tidak mau Pak Nanang menganggu keluarga saya."


"Si geulis galak pisan ya Edo."


Nanang masih senyum-senyum saja. Soleh mendekati Pak Nanang dan membisikkan sesuatu.


Pak Nanang ngucek-ngucek matanya dan Pak Nanang jatuh terduduk.


"Ampun Mbah, Ampun Neng, saya cuma di minta sama Edo, karena Edo suka sama ibunya Eneng. Dan mau buat ayahnya Eneng meninggal kemarin waktu Edo ke rumah. Ternyata berbalik ke Edo. Saya pikir Edo kurang maharnya."


"Saya ngga minta penjelasan. Saya minta kembalikan semua ini ketempatnya semula. Dan bukan saya yang berhak untuk menghakimi Pak Nanang. Hanya Allah yang mempunyai hak untuk Pak Nanang. Sekarang juga kembalikan ke asalnya barang-barang tersebut di ambil."


Pak Nanang mengambil bungkusan yang diberikan oleh Eka. Dan segera berjalan menuju ke tempat dia mengambil tanah kuburan dan rambut konde tersebut, ia menggali di bantu dengan Pak Edo untuk mengembalikan rambut konde itu.


Bapak-bapak yang tadi Eka temuin hanya diam melihat apa yang di kerjakan oleh Pak Nanang dan Pak Edo.


Hampir mendekati maghrib dan akhirnya selesai semuanya. Pak Edo tidak berani melihat Pak Abi. Pak Edo hanya bisa menunduk saja.


Saat kumandang azan maghrib, tiba-tiba Pak Nanang mengalami kejadian seperti Bunda. Pak Nanang berlari ketakutan karena ia melihat rambut konde tadi tiba-tiba melilit kakinya dan ia berusaha melepasnya akhirnya terlepas dan berlari. Soleh dan Dikin hanya diam ketakutan.


"Ayah, Om ayo pulang sudah azan maghrib. Bapak-bapak terima kasih semuanya. Assalamualaikum. "


"Wa'alaikumussalam Neng dan orang tuanya Eneng. Mohon maaf atas perbuatan Nanang."


Eka, Ayah juga om berjalan keluar dari kuburan dan menuju ke masjid terdekat."

__ADS_1


__ADS_2