
Bunda bangun dan melihat ketiga anaknya tidur bersamanya semalam karena mati lampu dan mereka tidak ada yang mau tidur di atas.
"Kakak Fadli, Kakak Fani, Eka, ayo bangun, kita sholat subuh". Bunda membangunkan mereka bertiga.
Kak Fani dan Eka sudah bangun dan masih duduk di tempat tidur, sedangkan Kak Fadli belum bangun. Bunda mendekati Fadli dan memegang badan Fadli agar bangun untuk sholat subuh. Bunda kaget saat memegang tubuh Fadli yang panas. Bunda segera mengambil thermometer di laci samping tempat tidur dan menempelkannya di bawah ketiak Fadli. Bunda kaget melihat suhunya Fadli 40 derajat. Bunda segera ke dapur membuat minuman untuk Fadli dan membawa air untuk mengompres Fadli. Eka dan Fani segera membantu Bunda. Eka mengompres kakak Fadli dan Fani menelpon ayah yang masih di rumah sakit. Bunda mengambil obat untuk menurunkan panas badannya Fadli.
"Ayah, Fadli demam suhunya 40. Bunda sudah kasih obat dan Eka sedang mengompres Fadli, kata Bunda, jika memungkin ayah balik pulang dulu. Takutnya Fadli harus di bawa ke dokter".
"Fani, ayah ngga bisa pulang dulu, karena ini sedang urus Tante Tasia, semalam jam 01.00 Tante Tasia meninggal. Yang penting Fadli di kompres, diganti bajunya dan dikasih obat dulu".
"Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un, iya ayah. nanti Fani kasih tahu Bunda".
"Kenapa Fan, siapa yang meninggal?"
"Tante Tasia meninggal jam 01.00 semalam Bunda".
"Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un. Tolong bantu Eka, ya Fan, Bunda mau telpon Kakek dan Nenek dulu supaya ke sini".
"Kak Fani, kak Fadli dibawa sama orang besar rohnya, ini kosong badannya, maksud Eka rohnya kak Fadli ngga ada dj badannya".
"Hush, kamu itu jangan buat ulah kenapa sih, Tante Tasia meninggal terus kak Fadli lagi demam gini dan kamu bilang yang aneh-aneh kayak dukun aja kamu! Jangan sampai Bunda dengar kamu ngomong kayak gini!"
__ADS_1
hihihihihihihihihi, Fadli bangun dan langsung duduk, Fani dan Eka kaget karena Fadli tertawa dan suaranya perempuan. Eka dan Fani langsung mengucapkan Astagfirullah berbarengan dan melihat Fadli sudah tertidur lagi. Eka dan Fani mendekat ke wajah Fadli dan tiba-tiba mata Fadli terbuka yang terlihat hanya warna putih saja dimatanya Fadli, sedangkan bola matanya yang berwarna hitam tidak ada. Eka dan Fani sampai loncat dari tempat tidur dan terjatuh saking kagetnya.
Bunda masuk ke dalam kamar dan melihat Eka dan Fani yang duduk di lantai. Bunda tidak melihat kejadian yang dialami oleh Fani dan Eka karena Bunda menelpon di ruang tamu.
Semoga Kak Fadli tidak membuat Bunda kaget, batin Eka.
Bunda mendekati Fadli dan menyentuh dahulu Fadli ternyata masih panas. Bunda segera keluar kamar dan ke dapur.
"Kak Fani, Eka keluar sebentar yah, Eka mau cari sesuatu biar kak Fadli bisa balik lagi rohnya. Terserah kak Fani percaya atau tidak, karena diambil sama perempuan itu". Eka menunjuk ke atas kepala Fadli.
"Terserah kamu!" Fani kesal dengan Eka saat kondisi seperti ini walaupun ia tidak menyangkal, ia mendengarkan suara perempuan yang tertawa menyeramkan dari Fadli dan bola mata Fadli hilang entah kemana. Fani hanya bisa doa agar Fadli baik-baik saja dan Bunda tidak usah tahu kejadian yang tadi.
Eka berlari keluar rumah. Eka mencari daun kelor dan bambu item. Eka berlari ke sebuah rumah. Eka mengucapkan salam kepada Kakek yang sedang duduk di depan rumah.
'Wa'alaikumsalam. Ambil saja bambu itu dan daun bidara biar roh kakakmu segera kembali".
Eka bingung karena belum sempat ngomong ternyata si Kakek itu sudah tahu maksud tujuan Eka. Eka mengambil daun bidara dan bambu ireng yang ternyata sudah di siapkan oleh Kakek. Sebelum Eka pamit pergi, si Kakek memberikan botol yang berisi air, dan ia minta Eka untuk menyiramkan air itu di sekeliling rumah Eka. Lagi-lagi Eka bingung, air dalam botol obat apakah bisa untuk menyiram sekeliling rumahnya.
"Ingat sembahyang dulu dan ucapkan al-fatihah sebelum menyiram di sekeliling rumah. Dan taruh daun bidara juga bambu item itu di bawah bantal kakakmu.
"Iya Kek. Terima kasih, Eka permisi pamit pulang".
__ADS_1
"Ya, perbanyak dzikir kamu!"
Eka mengangguk lalu mengucapkan salam. Eka berlari dengan kencang ke rumahnya. Sampai di rumah, Bunda melihat Eka membawa botol obat, daun dan potongan bambu. Eka menaruh semua bawannya di kamar Bunda. Lalu Eka ke kamar mandi dan wudhu. Eka segera sholat di kamar bunda. Disitu sudah ada Bunda dan Fani yang hanya melihat apa yang Eka lakukan. Selesai Eka langsung mengambil daun bidara dan bambu item, ditaruh di bawah bantal yang dipakai Fadli. Lalu Eka mengambil botol yang berisi air, Eka mulai menyiramkan air di sekeliling rumah dan ternyata air yang ada di dalam botol obat itu pas untuk menyiram sekeliling rumah Eka. Setelah selesai, Eka segera masuk ke kamar Bunda. Bunda masih mengompres Fadli, setengah jam kemudian, panasnya sudah turun, Fadli masih dalam posisi tidur. Eka dan Fani melihat Fadli yang hendak membuka matanya. Mereka bersiap-siap agar tidak kaget seperti tadi. Saat mata Fadli terbuka, Eka dan Fani menghembuskan napas keras yang membuat Bunda heran.
"Fadli, kamu sudah bangun sayang? Ini minum dulu". Bunda memberikan minum kepada Fadli.
"Iya Bunda, aku haus banget tadi aku mimpi buruk Bunda. Aku bisa lihat badanku sendiri dan aku dipegang sama seorang perempuan tapi aku ngga kenal siapa dia".
"Subhanallah, untungnya kamu cuma mimpi. Ya sudah, bisa bangun? Ayo mandi dulu lalu sholat, setelah itu kamu makan".
"Iya Bunda".
Fadli segera bangkit dari kasur dan ke kamar mandi untuk mandi, setelah itu ia sholat.
Bunda dan Eka menyiapkan makan pagi yang telat karena tadi sibuk untuk mengurus Fadli yang demam. Selesai makan, handphone bunda berdering yang ternyata dari ayah yang meminta Bunda dan anak-anak pergi ke rumah Tante Tasia untuk membantu mengurus pemakaman Tante Tasia.
Bunda dan Fadli duduk di depan sedangkan Fani dan Eka di belakang.
Fani sempat bertanya darimana Eka mendapatkan daun dan bambu juga botol yang berisi air itu. Eka bilang bahwa nanti akan melewati depan rumah Kakek yang sudah membantunya.
Eka melihat ke arah kanan dan Eka bingung karena rumah Kakek yang tadi tidak ada. Eka ingat bahwa rumah Kakek tadi di antara rumah yang ada warung dan gardu pos kamling, tetapi Eka hanya melihat hanya lapangan dimana banyak anak-anak sedang bermain.
__ADS_1
"Loh rumahnya Kakek mana? Eka berusaha melihat dan menengok ke kanan dan kiri. Tapi tidak ditemukan. Sedangkan Fani menatap Eka dengan penuh tanda tanya.