Warisan

Warisan
Telpon


__ADS_3

Eka, Susi dan Thomas masih dalam perjalanan. Handphone Eka berdering.


"Eh pak Felix?"


"Siapa yang nelpon Ka?"


"Pak Felix nelpon, ada apa ya? Diangkat saja, siapa tahu penting."


"Siang pak Felix."


"Eka, kamu bisa ke rumah saya sekarang? Nanti saya kirimkan ke kamu alamat rumah saya."


"Eh, kenapa pak?"


"Sudah saya tidak bisa jelaskan sekarang. Kamu ke rumah saya ya."


Belum sempat Eka menjawab, pak Felix sudah memutuskan sambungan telponnya.


"Kenapa Ka? Pak Felix kenapa?"


"Susi, Thomas, kalian ikut denganku ya. Pak Felix minta aku ke rumahnya sekarang. Ini dia kirim pesan alamat rumahnya. Gimana?


"Ok Eka, aku dan Thomas ikut dengan kamu."


"Makasih ya. Pak, kita ke alamat ini ya." Eka menunjukkan alamat rumah pak Felix ke pak supir.


Ada apa ya? Apa ini ada hubungannya dengan ibunya pak Felix yang baru meninggal?


30 Menit kemudian mereka sudah sampai. Mobil tidak bisa berhenti di depan rumah pak Felix karena sudah ada tenda dan kursi-kursi juga banyak orang.


"Non Eka, sudah sampai."


"Iya pak. Bapak ikut saya saja, biar nanti kalau ayah tanya, bapak bisa bantu Eka."


"Tapi itu banyak tamu dan ada bendera kuning. Yang meninggal siapa memangnya non?"


"Eka juga tidak tahu pak. Tadi cuma diminta ke rumahnya sekarang."


"Eka juga tidak tahu pak, siapa yang meninggal. Kita kesana saja."


Mereka berempat keluar dari mobil. Di rumah pak Felix sudah banyak tamu yang datang.


"Permisi pak. Saya Eka, murid pak Felix, tadi pak Felix ada telpon saya katanya saya diminta datang sama pak Felix ke rumahnya. Dan ini siapa yang meninggal ya pak?"


"Pak Felix menelpon? Kok bisa? Yang meninggal ibu dari pak Felix. Dan pak Felix sendiri juga menyusul ibunya saat di rumah sakit. Dan jenasahnua baru sampai di rumah ini 20 menit yang lalu. Coba adik masuk saja. Mungkin tadi salah satu keluarga pak Felix yang menelpon adik."


"Oh iya pak. Kalau gitu saya permisi masuk ke dalam."

__ADS_1


Mereka berempat saling memandang dengan bingung.


"Eka, coba keluarin handphone kamu. Tadi yang menelpon benaran pak Felix atau bukan? Kok aku jadi merinding. Kata bapak yang tadi bilang kalau ibunya dan pak Felix meninggal."


"Iya Susi. Aku sendiri jadi bingung ini. Aku yakin kalau yang tadi nelpon itu pak Felix. Kalau bukan pak Felix lantas siapa yang menelpon dan mengirimkan alamat rumah pak Felix?"


Susi dan Thomas mengedikkan bahu mereka bersamaan. Dan Eka mengeluarkan handphonenya dan memberikan ke Susi untuk melihat panggilan dari pak Felix dan juga pesannya.


"Eka, ayo masuk. Kok kamu malah diam kayak patung."


"Susi, Thomas, kamu duluan masuk saja. Aku di luar sebentar. Tiba-tiba aku merasa sesak. Banyak banget."


"Hah?! Kamu sakit? Iyalah banyak, itu di dalam rumah banyak orang yang melayat belum yang di luar."


"Bukan, bukan. Please kamu sama Thomas masuk duluan. Aku mau duduk sebentar saja."


"Ya sudah. Ayo Thomas, kita masuk. Nanti Eka nyusul."


"Kamu mau aku temani Eka?"


"Ngga usah Thomas. Aku sama bapak saja."


"Iya nak Thomas. Biar non Eka saya yang temani."


Akhirnya Susi dan Thomas masuk ke dalam.


"Astaghfirullah, astaghfirullah."


"Non, non kenapa?"


"Pak, di dalam banyak yang datang selain orang-orang yang melayat. Mereka berbarengan di dalam. Aduh Eka ngga kuat rasanya kalau harus menerobos mereka."


"Non, tenang, Baca doa. Kan kita kesini karena non di telpon dan ternyata katanya pak Felix sudah meninggal di rumah sakit."


"Iya pak. Tapi kenapa banyak roh halus yang lainnya?"


"Non, baca doa. Jangan putus. Bapak bantu baca doa ya."


"Iya pak. Makasih ya pak."


Eka masih duduk dan membaca doa. Muka Eka masih terlihat pucat. Tidak berapa lama. Susi dan Thomas keluar dari dalam rumah diikuti oleh salah seorang perempuan.


"Eka, kamu kenapa? Kok muka kamu pucat?"


"Ngga papa Susi. Tunggu sebentar ya. Nanti aku masuk ke dalam dulu."


"Iya. Oh iya. Ini mbak Asih, anaknya pak Felix. Dia mau bicara sama kamu."

__ADS_1


"Eka, mbak minta maaf karena tadi ayah saya menegur kamu di kelas."


"Eh, ngga papa kok mbak. Eka yang salah karena tadi Eka sempat tertidur di kelas. Waj aqar kalau pak Felix marah sama Eka karena tadi pak Felix sedang menerangkan pelajaran."


"Jadi gini, tadi pagi sebelum nenek saya meninggal, dia bilang kalau nanti ayah saya akan marahin salah satu muridnya namanya Eka. Terus nenek bilang untuk kasih kamu kain yang sudah disiapkan sama nenek untuk permintaan maafnya selama ini. Karena nenek saya merasa bersalah sama nenek kamu."


"Maksudnya mbak? Eka ngga ngerti memangnya ada hubungan apa antara nenek mbak Asih dan nenek saya?"


"Yang tahu sebenarnya ayah saya. Tapi ternyata ayah menyusul nenek saat di rumah sakit. Dan sebelum menghembuskan napasnya, ayah saya bilang akan minta Eka datang ke rumah untuk memberikan surat untuk neneknya Eka. Dan kami semua belum sempat menghubungi Eka ternyata Eka sudah sampai disini."


"Iya mbak Asih, tadi Eka di telpon sama pak Felix dan dikasih alamat rumah untuk segera ke sini. Saat sampai sini ternyata katanya pak Felix meninggal menyusul ibunya. Eka bingung yang menelpon Eka siapa?"


"Hah! Kok bisa? Padahal saat sampai rumah sakit handphone ayah saya mati karena kehabisan baterai dan belum sempat ngecharge. Coba sebentar saya masuk ke dalam, tadi handphonenya sedang di charge saat sampai rumah."


"Iya mbak. Eka tunggu disini ya mbak."


Mbak Asih masuk ke dalam untuk mengambil handphone pak Felix.


Tidak berapa lama mbak Asih datang.


"Ini handphone ayah saya masih dalam keadaan mati. Dan saya nyalakan ya."


"Iya mbak. Tadi pak Felix telpon saya itu jam 3. Dan pesannya yang saya terima jam 3.10."


"Eka, kok bisa. Ini saya lihat panggilan terakhir saya itu jam 2.30 saat ayah saya sampai rumah sakit. Setelah itu tidak ada panggilan keluar ataupun masuk dan juga tidak ada pesan. Coba Eka hubungi ke nomer ayah saya."


Eka menghubungi nomer pak Felix sesuai yang diminta mbak Asih.


"Nyambung mbak. Terus tadi jam 3 itu siapa yang menelpon saya? Susi juga Thomas tahu kalau tadi saya menerima telpon dari pak Felix. Dan tadi saya juga kasih lihat ke pak supir untuk mengantarkan kami kesini"


Susi dan Thomas juga pak supir menganggukkan kepalanya membenarkan omongan Eka.


"Ayah saya meninggal itu jam 3 sesuai surat keterangan dari dokter di rumah sakit. Lalu siapa yang menelpon Eka sedangkan kondisi handphone ayah sudah mati."


Mbak Asih menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Ya sudah gini saja. Eka masuk ke dalam untuk bertemu ibu saya. Surat yang mau dikasih ke Eka dipegang oleh ibu saya."


"Iya mbak. Sebentar lagi boleh? Saya masih merasakan sesak napas saya. Jika sudah lega, saya akan masuk ke dalam."


"Sebentar kalau gitu, saya panggil ibu saya saja untuk keluar. Eka kenapa bisa sampai sesak napasnya? Eka sakit?"


"Tidak mbak. Eka tidak sakit tapi... " Eka memandang ke pak supir.


"Non Eka, duduk saja. Biar bapak yang masuk ke dalam untuk mengambil suratnya."


Eka menganggukkan kepalanya

__ADS_1


__ADS_2