
Eka, Susi dan Thomas sedang makan di warung bakso seberang sekolah.
"Pembelinya banyak ya. Katanya enak banget. Aku baru sekali makan disini."
"Iya sama, aku juga kalau kalian berdua tidak ngajak makan disini aku tidak mau."
Eka hanya diam. Ia memikirkan kejadian tadi yang menimpa bu Budi. Dan tidak mendengarkan apa yang dibicarakan oleh Susi dan Thomas. Sampai akhirnya bakso pesanan mereka datang.
Susi menyentuh tangan Eka perlahan karena dari tadi memanggil Eka, sepertinya Eka tidak merespon.
"Eh iya Susi, sorry tadi aku lagi mikirin bu Budi. Kenapa dia tiba-tiba kesurupan."
"Sudah mikirin bu Budi nanti saja. Makan dulu baksonya keburu dingin ngga enak. Aku dan Thomas nungguin kamu biar kita bisa makan bareng-bareng."
Eka melihat mangkok bakso yang ada di hadapannya. Susi dan Thomas sedang memberikan kecap juga saos serta sambal. Mereka masih mengaduk-aduk bakso.
Tiba-tiba Eka melihat ke depan meja di sebelah mejanya dan Eka melihat ada sesosok makhluk tinggi besar dan menyeramkan sedang duduk di sebelah ibu. Makhluk itu ikut makan dengan sendok yang dipakai oleh ibu tersebut.
Eka langsung muntah dan bangkit berdiri dan berlari keluar. Susi dan Thomas yang baru saja mau memakan bakso jadi ikut berdiri dan mengejar Eka yang sudah berlari.
"Eka, Eka, berhenti jangan lari. Eka!" Susi berteriak memanggil Eka supaya berhenti.
"Kamu diam saja, balik ke tukang bakso dan bayar, biar aku yang mengejar Eka."
Susi berhenti sedangkan Thomas tetap mengejar Eka. Susi berbalik ke warung bakso dan membayar bakso yang tadi mereka pesan. Dan keluar dari warung tersebut.
Padahal lapar, tapi kenapa Eka lari sih, kan jadi mubazir baksonya. Pasti enak banget itu bakso karena ramai yang beli sampai antri begitu."
Thomas akhirnya bisa mengejar Eka dan menahan tangan Eka supaya tidak lari lagi.
"Hosh... hosh... Eka sudah jangan lari lagi."
__ADS_1
Thomas memegangi tangan Eka dan berbicara sambil mengatur napasnya karena berlari mengejar Eka. Eka sendiri pun terlihat mengatur napasnya.
"Eka, kamu kenapa lari? Aku capek ngejar kamu mana itu bakso belum aku makan sama sekali. Susi juga sama. Memangnya ada apa?"
Eka melihat Susi yang berjalan kearah mereka.
"Nanti kita cari tempat yang jualan bakso tanpa ada jinnya. Untungnya kalian tadi belum sempat makan bakso itu. Susi sedang jalan kesini tuh. Tunggu sebentar aku sekalian cari taksi, kita pergi cari makan."
Susi akhirnya sampai dan wajahnya terlihat kesal.
"Eka, kamu kenapa sih! Tiba-tiba lari ngga jelas! Mubazir itu baksonya. Dan sudah aku bayar. Banyak yang datang beli bakso itu. Sampai antri keluar! Mana sekarang aku lapar lagi!"
Susi berbicara dengan kesal dan marah kepada Eka.
"Aku minta maaf sama kalian berdua. Nah itu supir kakekku datang. Ayo, ikut aku kita cari makan ke tempat lain. Dan nanti uang kamu aku ganti ya Susi!"
Mobil kakeknua Eka berhenti tepat di depan mereka bertiga. Dan mereka segera masuk ke dalam mobil.
"Kalau ikut makan, mungkin jinnya juga lapar. Memangnya jin dan setan tidak boleh lapar!" Susi masih terlihat kesal dan mengambil uang yang disodorkan oleh Eka.
"Kalau jin itu ikut makan di mangkok yang berbeda dengan ibu-ibu tadi ya tidak papa. Tapi jin itu makan semangkok berdua dengan sendok yang sama pula."
"Mana mungkin Eka, kamu berhalusinasinya kebangetan deh. Apa karena juga bu Budi yang tiba-tiba tadi menari jadinya yang semua kamu lihat ada jinnya."
"Aduh, gimana ya jelasinnya. Jadi gini ya Susi. Banyak warung makan atau restoran atau apapun itu yang berbuat tidak baik. Supaya banyak pembelinya mereka ada yang pakai jin penglaris ataupun jin yang bisa membuat banyak orang datang. Walaupun! Ingat walaupun tidak semua restoran atau warung makan menggunakannya. Banyak juga yang berjualan karena memang makanannya enak."
"Terus kamu lihat jin itu?'
"Iya Thomas, makanya aku ngga mau makan dan aku lari keluar karena ingin muntah lihat jin itu ikut makan dalam satu mangkok dan sendok yang sama."
"Tapi kan yang kamu lihat hanya di meja depan kita, meja yang lain memang ada juga jinnya?"
__ADS_1
"Iya, jinnya ada banyak. Dan setiap meja ada. Kalau aku jelasin, kalian pasti tidak percaya karena kalian tidak melihat. Sedangkan aku bisa melihat keberadaan mereka."
Pak supir yang melihat Eka kewalahan menerangkan kepada Susi dan Thomas akhirnya membantu Eka. Pada akhirnya Susi dan Thomas mengerti.
"Non, kan pengen makan bakso. Makan baksonya di langganan biasa saja ya."
"Eka terserah Susi dan Thomas. Bagaimana? Kalian tetap mau makan bakso atau mau makan yang lain?"
"Terserah kamu sajalah Ka, nanti kalau aku yang ajak, tahu-tahu kamu lari lagi seperti tadi. Sedangkan aku sudah lapar banget."
"Ya sudah, kalian berdua mau makan apa? Sebagai permohonan maaf, aku yang bayarin makan kalian."
Susi dan Thomas ingin makan nasi padang. Pak supir menuju ke rumah makan padang langganan keluarga Eka.
Selesai makan, Susi dan Thomas diantar ke rumah masing-masing.
"Pak, kita pulang dulu. Saya mau ganti baju setelah itu kita berangkat jemput nenek dan kakek. Kan mbak Asih juga mau ikut."
"Iya non."
Sepanjang perjalanan pulang Eka tertidur. Di dalam tidurnya Eka melihat bu Budi yang sedang menari tarian Jawa. Tapi Eka tidak mendengar ada suara musik dari tape, Eka mendengar suara gamelan sedangkan Eka hanya melihat bu Budi sendiri dan tidak ada ada gamelan di dekat bu Budi.
Eka melihat ke sekeliling dan tidak menemukan gamelan yang masih berbunyi. Setelah itu suara gamelan berhenti dan bu Budi juga berhenti menari kemudian datang dari dalam rumah bu Budi membawa minuman yang berwarna merah pekat dan mangkok yang tertutup. Eka terdiam melihat mbak yang membawa gelas minuman itu, karena mbak itu menyerupai mayat yang hidup. Wajahnya pucat. Saat Eka mendekati bu Budi yang sudah selesai minum, Eka mencium bau anyir dan amis dan Eka terkejut karena bu Budi membuka mangkoj yang tadi tertutup dan ternyata isinya adalah kepala monyet yang terbuka tempurung kepalanya. Bu Budi mengambil kepala monyet itu dan menyeruput isian dari kepala monyet. Eka merasakan mual yang amat sangat sampai akhirnya Eka terbangun karena terbatuk-batuk.
"Non Eka, Non Eka kenapa?" Pak supir yang melihat Eka bangun dan terbatuk-batuk akhirnya bertanya.
"Ngga papa pak. Pak, nanti kalau ada yang jual kelapa, berhenti sebentar ya. Eka mau beli kelapa hijau."
"Iya Non."
Eka masih merasakan mual karena mimpi tadi dan Eka merasa bahwa mimpi itu nyata.
__ADS_1