Warisan

Warisan
Pecinta Alam


__ADS_3

"Eka, kamu jadi ikut naik gunung?"


"Iya Bram, kenapa memangnya?"


"Tapi kan kamu belum pernah naik gunung sama sekali?"


"Bram, ini kan ekstra kurikuler dari sekolah. Dan lagi pula ada kakak-kakak pembina yang ikut serta. Kita kan diharuskan ikut ekskul. Aku sudah memilih bahwa aku mau ikut ekskul pecinta alam."


"Ok, kenapa kamu tidak ikut ekskul seperti aku saja, basket dengan tinggi badanmu itu pasti langsung diterima."


"Ngga Bram, aku ngga suka basket. Aku pengen naik gunung. Entah kenapa ada keinginan dalam diriku aku harus naik gunung."


"Kamu aneh, angkatan kita hanya kamu yang perempuan yang masuk ekskul pecinta alam. Teman-teman perempuan yang lain kebanyakan memilih ekskul cheers leader, tari, teater dan paduan suara."


"Bram, kita baru kenal, kenapa kamu menilai aku seperti kamu sudah kenal aku lama? Baru 2 bulan kita masuk sekolah."


"Aku tidak menilai kamu. Maksud aku jadilah perempuan..."


"Heiiii, aku perempuan. Gini aku tidak suka menari, aku tidak suka menginjak-injak bahu teman, aku bukan drama queen dan suara aku jelek. Paham kamu."


Eka meninggalkan Bram dan menghampiri teman-teman ekskul pecinta alam untuk latihan.


"Dul, itu anggota baru?


'Iya, anak kelas 1 dan hanya dia yang perempuan untuk angkatan ini. Namanya Eka. Ada apa? Apa yang loe lihat."


"TULANG harum. Dia harus kita jaga, jangan sampai " kebawa". Loe ngerti maksud gue kan Dul?"


"Iya, susah deh. Dapat lagi anggota yang punya indera keenam setelah sekian lama.."


"Bukan indera keenam aja, cakranya udah kebuka semua. Tapi gue ngga yakin dja mampu. Masih kencur, anak bawang lah."


"Hahahaha, baru kali gue dengar loe ngomong seperti itu Ri."


Abdul dan Ari memulai latihan. Anak-anak baru termasuk Eka diberikan dasar-dasar untuk naik gunung yang bukan hanya sekedar naik gunung saja.


Abdul dan Ari adalah alumni dan mereka sudah punya pengalaman naik gunung.


Selesai sudah latihan untuk ekskul pecinta alam. Ari mendekati Eka yang sedang me nunggu jemputan.

__ADS_1


"Sedang menunggu siapa?"


"Eh, kak Ari, sedang menunggu kakak, mereka mau jemput."


"Sudah kelas 1 SMA masih dijemput?"


"Memangnya kenapa kak? Tidak boleh anak SMA dijemput?


" Berarti kamu anak manja. Anak manja yakin mau ikut ekskul pecinta alam?"


"Iya kak. Memangnya anak seperti apa yang boleh ikut ekskul pecinta alam."


"Hahahaha, nanti kamu nangis lagi kalau naik gunung dan ada sesuatu yang tidak kasat mata?"


"Maksud kak Ari apa yang tidak kasat mata?"


"Ya banyak. Aku mau tahu sampai sejauh mana keberanian kamu nantinya."


Eka melihat kak Fadli dan Fani datang."


"Baik kak, Eka siap. Oh iya kak, di belakang kakak ada yang aneh dan maaf kak, hati-hati di jalan. Karena Eka lihat kakak kecelakaan di jalan. Doa kak sebelum pulang nanti. Semoga ngga fatal akibatnya, kak Ari memar dan masuk rumah sakit karena lengan kiri kakak harus dijahit."


"Kalau memar saja mah ngga perlu masuk rumah sakit." Ari tersenyum mendengar omongan Eka.


Ari hanya tersenyum saja, omongan anak kencur ngapain juga gue dengar. Emang dia tahu apa yang gue bawa?" Ah, omongan anak kecil ngga guna." batin Ari.


Ari menyalahkan motornya. Ia ada janji dengan pacarnya sore ini setelah ia melatih anak-anak pecinta alam.


Ari berhenti di lampu merah dan melihat jam. Waduh telat, bisa marah nanti si Maya. Aku harus cepat sampai. Ari melihat lampu sudah hijau, ia langsung mengendarai motornya dengan lambat karena macet. Saat melewati jalan yang agak sepi, Ari segera tancal gas dengan kecepatan tinggi. Dari arah yang berlawanan ada mobil yang juga mengendarai kecepatan tinggi. Entah gimana tiba-tiba mobil tersebut oleng dan menabrak Ari hingga membuat Ari terlempar dan pingsan. Beberapa pengendara yang melihat kejadian itu segera menolong Ari dan pengendara mobil yang juga pingsan.


"Eka, kamu kenapa? Kok diam ngga kayak biasanya?"


"Ada kecelakaan kak."


"Dimana? Di depan kita?" Fani dan Fadli berbicara barengan.


"Bukan, di belokan depan setelah ini."


"Terus korbannya gimana. Masih hidupkan

__ADS_1


"Kak Fadli dan kak Fani, Eka kan bukan Tuhan, yang tahu korbannya masih hidup atau meninggal!"


"Ya mungkin Eka tahu. Kan Eka sudah sering lihat."


"Ya ngga juga kak Fani. Udah ah. Eka mau tidur, mumpung macet.


Sementara Ari sedang di UGD rumah sakit dan menunggu penangan. Lengan kirinya robek dan harus segera di jahit.


Abdul datang ke rumah sakit dan melihat Ari yang baru saja selesai dijahit tangan kirinya.


"Ari, gimana kondisi loe?"


"Ya, yang loe lihat, tangan kiri gue dijahit. Untungnya ngga ada yang patah jadi masih bisa ikut naik gunung bulan depan. "


"Loe Ri, sehat dulu yang penting. Kenapa bisa kecelakaan loe?


"Adu sapi sama mobil. Sama-sama kencang. Gue telat jemput Maya jadinya gue gas. Eh gue sampai di rumah sakit."


"Nah, loe sih. Tumben jemput Maya telat biasanya 1 jam sebelum juga sudah sampai kantornya Maya."


"Gue ngobrol dulu sama anak kelas 1 yang namanya Eka. Sebelum pergi dia bilang sama seperti yang gue alami. Dan dia ingatin gue untuk sholat sama suruh lepas yang gue bawa. Lah gue ketawa dengar dia ngomong gitu. Ngga tahunya kejadian."


"Eka ngomong gitu ke loe? Berarti dia bisa lihat pegangan loe dong yang loe dapat dari ngelmu ke orang."


"Sial loe. Siapa yang ngelmu, gue minta dipegangin khodam buat jaga gue. Dan kenapa itu anak suruh gue ke Mesjid Batang ya?"


"Dia nyuruh loe insaf. Dia mau loe di ruqyah. Hahahaha macan gunung di suruh ruqyah."


"Kacrut loe. Tapi omongan itu anak benar, gue kecelakaan, tangan kiri gue dijahit dan gue memar."


"Terus loe merasa ada saingannya? Loe ngelmu, dia ngga. Kali yak, gue kagak paham soal-soal kayak gitu."


"Dul, loe cari tahu mengenai itu anak dong. Gue pengen tahu. Dan itu anak ketus banget pas ngobrol sama gue. Gegara gue bilang anak manja kenapa ikut pecinta alam."


"Nah loe kenapa nilai dia anak manja?"


"Dia dijemput sama kakaknya. Aneh buat gue. Udah segede itu masih dijemput."


"Loe juga aneh, kenapa loe juga jemput Maya. Kan loe sama Maya udah lebih gede dan tua dari itu anak."

__ADS_1


"Kacrut loe, malah nyalahin gue. Wajarlah gue tanya dan gue bilang manja."


"Sama, Maya juga manja."


__ADS_2