
Kamar Eka pindah ke bawah, yang tadinya kamar tamu menjadi kamar Eka. Ayah dan Bunda tidak mau hal-hal buruk terjadi lagi sama Eka.
Kamar Eka diatas ditempati oleh Fadli. Fani dan Fadli mempunyai kamar sendiri-sendiri.
Jam 8 malam, Eka sudah tertidur. Ayah dan Ibu masih di ruang tamu karena teman ayah datang.
"Mas, anakmu yang perempuan baik-baik saja kan? Sudah tidur atau sedang belajar?
" Baik, Eka baik dan sehat. Sudah tidur sepertinya katanya ngantuk. Ada apakah, tumben kamu tanya si Eka".
"Mas, antar aku ke kamarnya Eka, sekarang".
" Ayo".
Ayah membuka kamar Eka dan dengan Ayah melihat ada banyak makhluk astral yang sedang memandang Eka yang tertidur.
"Astagfirullahal adziim". Ya Allah, lindung anak hamba Eka. Edo, ini gimana.
" Mas, aku panggil teman-teman, kita sholat bareng".
"Iya, terima kasih".
Edo segera keluar kamar Eka dan mengajak teman-temannya untuk sholat bersama.
Bunda tidak banyak bertanya, Ia segera sholat di kamar Eka setelah mendengar Ayah dan Edo ke kamar Eka dan berteriak astagfirullahal adziim.
Bunda tidak tahu apa yang sudah di lihat oleh Ayah, tapi Ia merasakan bahwa Eka dalam bahaya saat ini.
Eka bermimpi Ia ditarik tangannya oleh Nenek aneh. Eka berusaha melepaskan diri tetapi tidak bisa karena semakin Eka berusaha melepaskan semakin kencang dan keras tangannya ditarik membuat Eka jatuh berkali-kali.
"Nenek! Ini bukan dunia Eka. Dunia kita berbeda. Aku punya Allah SWT, aku tidak mau ikut Nenek! "
Edo melihat Eka ditarik oleh seorang Nenek melalui mata bathinnya. Edo tetap sholat mohon kepada Allah agar Eka dilepaskan.
Fani yang mendengar keributan di bawah, langsung mengetuk pintu Fadli. Mereka berdua segera turun ke bawah. Mereka berdua melihat ayah, bunda dan teman ayah sedang sholat di kamar Eka. Mereka langsung pergi ke kamar mandi untuk mengambil wudhu dan ikut sholat.
Eka menyebut nama Allah SWT berkali-kali. Ia tidak mau ikut si Nenek yang semakin keras cengkraman di tangan Eka membuat tangan Eka kesakitan.
Entah dari mana datangnya, Mbah Kakung datang dan mencekik leher Nenek membuat cengkraman ke tangan Eka lepas.
__ADS_1
"Eka, balik badanmu dan jangan lihat ke belakang. Jalan lurus, kamu akan balik sama Ayah, Bunda, Fadli dan Fani.
" Iya Mbah Kung, terima kasih Mbah Kung".
"Terima kasih sama Allah SWT ya nduk".
Eka segera balik badan dan berjalan dengan lurus tanpa menengok ke belakang.
Eka terbangun dari tidurnya dan ia melihat ayah, bunda, kakaknya dan teman-teman ayahnya sedang sholat di dalam kamarnya.
Bunda yang melihat Eka terbangun langsung memeluk Eka.
" Terima kasih ya Allah, anak hamba bisa kembali dengan selamat".
Serentak semuanya mengucapkan Subnallah, Alhamdullillah.
Ayah, Bunda, Fadli dan Fani memeluk Eka dengan erat.
"Eka, kamu anak yang istimewa. Jangan pernah meninggalkan sholatmu dan tahajudlah". Pak Edo tersenyum melihat Eka.
" Iya Pak Edo dan teman-teman ayah, terima kasih. Tanpa doa kalian semua mungkin saya tidak bisa kembali dengan keluarga saya.
Mereka semua keluar dari kamar Eka, kecuali Bunda, Fadli dan Fani.
" Boleh Edo, dengan senang hati".
Jam 11, teman-teman Ayah pamit pulang kecuali Pak Edo.
"Pak Edo mau kopi susu atau hitam, biar di buatkan?
" Ngga usah Pak, saya mau air putih dingin saja Pak. Terima kasih.
"Ini Pak Edo, air putihnya. Kalau Pak Edo mau istirahat bisa tidur di kamar anak saya, Fadli di lantai 2"
"Sepertinya saya tidak tidur Pak. Saya bisa ke kamar Eka lagikah? Kalau boleh, Saya tidur di kamar Eka dan Eka tidur di kamar Bapak".
" Baik, bisa Pak Edo".
Pak Edo, teman kantor ayah Eka, di tempat tinggalnya Pak Edo sering di panggil untuk menyembuhkan orang sakit dan kesurupan.
__ADS_1
Sejak datang ke rumah Pak Abi, Pak Edo merasakan hawa negatif yang ditujukan ke Eka, anak Pak Abi. Eka sebenarnya mempunyai kekuatan yang lebih besar dari dirinya, tapi Eka belum bisa mengolah kekuatan dalam dirinya.
Pak Edo merasa bahwa Eka mempunyai kelebihan karena warisan dari keluarga ayahnya. Ada satu kekuatan yang tak dapat ditembus oleh Pak Edo. Dan Pak Edo ingin tahu.
"Pak Edo, isrri Saya bilang, kamar Eka sudah dibersihkan, jika Pak Edo mau beristirahat silakan".
" Baik Pak, terima kasih, Saya permisi ke kamar Eka ya Pak"
"Silakan Pak Edo, Saya juga mau istirahat. Besok kita berangkat ke kantor sama-sama".
Pak Edo masuk ke kamar Eka dan...
"Astagfirullahal adziim, makhluk apa itu? Ya Allah lindungi hambamu, karena hamba hanya ingin membantu anak Pak Abi".
Pak Edo segera wirid tanpa mempedulikan makhluk yang menyeramkan di dalam kamar Eka.
Makhluk itu tinggi tetapi tangan dan kakinya meyerupai ular, sedangkan mukanya tertutup oleh rambutnya yang panjang dan mengeluarkan bau busuk.
Tanpa Pak Edo sadari, ada sosok Mbah Kakung yang memperhatikan Pak Edo.
"Orang ini terlalu memaksakan diri. Ia tidak tahu makhluk apa yang sedang ia hadapi. Menolong orang boleh saja tapi bukan cucuku. Ia tidak akan kuat. Aku harus melindungi orang ini supaya tidak celaka".
Selama wirid, Pak Edo merasakan tarikan dari bawah bumi. Pak Edo tetap khusuk dan berusaha sekuat tenaga agar dirirnya tidak tertarik ke bawah bumi.
"Ayah, Bunda, Eka. minta tolong agar Pak Edo keluar dari kamar Eka secepatnya. Eka tidak mau terjadi apa-apa dengan Pak Edo. Ela takut Pak Edo tidak kuat".
" Eka, percaya saia, Pak Edo bisa mengatasi".
"Ayah! Kenapa ayah tidak percaya sama Eka! "
Tiba-tiba terdengar bunyi seperti ada yag rubuh dari kamar Eka
Ayah, Bunda dan Eka kaget dan mereka segera berlari keluar menuju kamar Eka. Fadli dan Fani pun mendengarnya, mereka segera berlari ke bawah.
Eka membuka pintu kamarnya dan melihat Pak Edo mengeluarkan darah dari mulutnya.
Tidak ada waktu buat Eka untuk berdebat dengan ayahnya. Ayahnya segera mengangkat Pak Edo dibantu Fadli dan Fani. Ayah segera membawa Pak Edo ke rumah sakit.
Bunda, Fadli dan Fani juga Eka tetap di rumah. Entah dapat kekuatan dari mana, Eka berteriak dengan kencang.
__ADS_1
"Apa yang kalian mau! Aku dan keluargaku tidak pernah menganggu kalian! Keluar kalian semua dari rumahku. Allahu Akbar, pergi kalian. Aku tidak takut dengan kalian semua! Aku lebih takut kepada Tuhanku, Allah SWT!
Lalu Eka berdzikir. Bunda, Fadli dan Fani ikut berdzikir juga. Bunda, Fadli dan Fani merasakan angin dingin di dalam kamar Eka dan membuat bulu-bulu halus berdiri. Mereka bertiga merasakan ketakutan tetapi mereka tetap berdzikir. Dua jam Eka dan Bunda juga kakaknya berdzikir tanpa henti. Dan pelan-pelan kamar Eka terasa lebih sejuk dan nyaman beda dengan sebelumnya.