Warisan

Warisan
Pergi


__ADS_3

Eka dan ayah hari ini puasa. Bunda dan kak Fadli juga Fani ikutan puasa.


Hari senin ini akhirnya mereka semua puasa. Dan saat mulai puasa, Eka merasa ada seseorang di belakangnya. Selama di sekolah, Eka mulai melihat hal-hal aneh.


Anak-anak kelas 1 jam 11.45 diminta untuk ke aula. Mereka akan diberikan pengumuman untuk kelas penjurusan. Dan akan ada tes masuk untuk penjurusan.


Eka berjalan bersama teman-teman yang lain. Tiba-tiba Eka merasakan ada seseorang yang menyentuh pundaknya. Eka menengok ke belakang. Hanya ada beberapa anak dan jaraknya lumayan jauh, tidak mungkin mereka bisa menyentuh pundak Eka.


Eka kembali berjalan. Eka mendengar suara berat memanggil namanya pas di telinganya.


"Ekaaa." Eka merasakan bulu-bulu halus di seluruh tubuhnya berdiri. Tapi Eka tidak menggubris suara itu.


Eka sudah masuk ke aula dan duduk di barisan tengah. Di aula terpasang photo-photo di dinding. Ada satu photo seorang ibu yang membuat Eka memandang cukup lama dan ibu di dalam photo menganggukkan kepalanya.


Salah seorang guru memberikan pengumuman mengenai penjurusan dan tes penjurusan akan dilaksanakan di aula pada hari kamis jam 1 siang.


Eka merasa bahwa semua photo yang terpajang di dinding aula sedang melihat ke dirinya.


Eka sama sekali tidak mendengar penjelasan dari gurunya.


"Eka... Eka... Eka...." Eka mendengar namanya disebut oleh beberapa orang.


Eka celingak-celinguk mencari orang yang memanggil namanya.


"Eka, kamu kenapa sih? Aku perhatikan dari tadi, kamu gelisah. Ada apa?"


"Ngga papa Dina, aku mau ke kamar mandi, mau pipis."


"Sama, aku juga mau pipis, tapi ini belum selesai."


"Makanya aku tahan-tahan."


"Aku pikir kamu kenapa, ternyata nahan pipis."


Eka hanya mengangguk.


Eka merasakan kursinya ditarik dan membuat Eka jatuh dari kursinya dan semuanya gelap.


Eka terbangun dan ia duduk. Ternyata ia tidur di bale-bale bambu. Eka melihat sekeliling, ia bingung, ia ada dimana. Rumah jaman dulu karena dindingnya dari gedek bambu dan lantainya masih tanah.


Eka masih menunduk melihat lantai yang hanya tanah tanpa ubin


"Si nduk sudah bangun toh. Ayo sini kita makan sama-sama."


"Mbah putri ini siapa?" Eka bingung tiba-tiba ada nenek tua yang memakai kemben dan kain.


"Aku ini mbah mu? Kamu canggahku."


"Canggah?"

__ADS_1


"Wis, makan dulu. nek aku nganggo bahasa Jawa, diri mu pasti bingung. Ayo, wis di tunggu karo mbah Kakung."


"Mbah Kakung?"


"Iya,. Wis ayo toh. Anak perempuan itu ojo keset."


"Iya mbah." Eka mengikuti Mbah Putri keluar kamar tanpa banyak suara.


Mbah Kakung sudah duduk di bale bale bambu dan lebih besar. Sudah ada makanan dan perlengkapannya makan dari tanah liat.


"Kene, lenggah neng kene (sini duduk disini)." Eka duduk di sebelah Mbah Kakung.


"Jangan bingung, kamu itu canggahku?"


"Canggah itu apa Mbah Kakung?"


"Canggah itu, kakek ayahmu punya orang tua. Dan kamu canggahku." Eka manggut-manggut.


"Bue ayo mangan bareng."


Mbak Putri duduk dan mereka makan. Ada nasi tapi berwarna hitam dan terlihat keras, ada tempe dan ada telor."


Eka makan dan agak susah menelannya. Eka mengambil minum yang sudah dituang dari kendi oleh Mbah Putri.


"Ya Allah, aku sebenarnya sedang dimana? kenapa tiba-tiba aku disini, bukannya tadi aku di sekolah sedang di aula untuk mendengarkan pengumuman." Eka berbicara dalam hati


"Ngga usah bingung kenapa kamu disini. Kamu hanya sementara disini karena habis makan, kamu akan mbah Kakung kasih sesuatu. Kamu mbah ambil sementara. Sekarang kamu sedang tidur, sampai nanti baru bangun pas maghriban."


"Tapi mbah Kakung, apa harus seperti ini? Kenapa Eka harus dibawa ke jaman dulu?"


"Assalamu'alaikum pak'e, aku pulang."


"Wa'allaikumsalam yo le."


"Pak, bu, anak ini kenapa disini?"


"Wis kowe tenang. Mengko dibalek no. Aku tur arep ngasih karo si nduk."


"Ojo pak, Eka belum kuat. Kasihan."


"Aku sing ngerti, genduk kuat opo ora. Aku ra nyalahin takdir. Tapi warisan ini harus aku kasih supaya anak ini kuat dan tidak di ganggu-ganggu lagi."


"Ini Mbah yang kemarin malam nolongin aku dari perempuan itu?"


Si Mbah yang ternyata anak Mbah Kakung mengangguk.


"Jadi saat ini Eka sedang di rumah Mbah Eka?"


"Nggih nduk."

__ADS_1


"Eka mau pulang sekarang. Bisakan. Kasihan bunda pasti kuatir."


"Eka, bisa pulang tapi Eka harus puasa senin dan kamis selama 24 jam. Itu tidak bisa di tolak supaya kamu mengerti mengenai kehidupan. Bukan untuk menyiksa tapi biar hatimu bersih dan perbanyak sholat."


"Iya Mbah. Eka akan lakukan puasa Senin Kamis 24 jam."


"Ayo ikut mbah ke mata air. Mbah Putri, ikut untuk membantu mengganti kain yang akan dipakai Eka."


"Tapi Mbah, Eka hanya percaya sama Allah SWT, bukan percaya hal-hal seperti ini."


"Nduk, ngga bisa ini sudah warisan leluhur kita turun temurun. Kita diajarkan 2 hal. Dunia nyata dan spiritual. Mbah ngerti kamu sembahyangnya rajin. Mbah tidak minta kamu melupakan sholat dan percaya Allah SWT. Kita dapat ini juga dari Sing Duwe Donya."


Akhirnya Eka mau dan mengikuti Mbah Kakung dan Mbah Putri ke mata air.


Eka kaget melihat mata air itu. Banyak hal-hal aneh dan seram yang tidak pernah Eka lihat selama ini.


Eka dituntun Mbah Putri untuk menggunakan kain dan bajunya ditanggalkan semua. Eka masih menggunakan baju seragam."


Eka masuk ke dalam air dituntun oleh Mbah Putri, sedangkan Mbah Kakung sudah masuk ke dalam air.


Eka diminta duduk di sebuah batu dengan kaki bersila. Eka mengikuti apa yang diperintahkan oleh Mbah Kakung. Ia ingin segera selesai dan dapat kembali ke dunianya.


Eka diminta menutup mata dan fokus untuk berdoa.


Eka melakukan dzikir, beberapa menit kemudian Eka merasa dirinya ditarik ke bawah dan berputar-putar. Eka merasa seorang diri dan gelap. Ada setitik cahaya tetapi jauh. dan Eka merasa tangannya ada yang menarik keatas. Tapi tarikan dari bawah semakin kuat membuat Eka melepaskan tangan yang menariknya keatas. Tetapi tangan itu bisa mendapatkan tangan Eka kembali dan seperti dihentakan, tarikan dari bawah terlepas. Tangan itu tetap menarik Eka ke atas sampai Eka melihat cahaya yang menyilaukan matanya.


Eka mendengar suara untuk membuka matanya pelan-pelan.


Eka menurut. Cahaya itu makin membuat silau, tetapi Eka berusaha untuk membuka matanya dan terdengar suara banyak orang yang mengucapkan Al Fatihah.


Eka samar-samar melihat bunda, ayah, kak Fadli dan kak Fani juga pakde, bude dan adik dari ayahnya.


"Alhamdulillah, Eka. Kamu sudah sadar nak? Bunda takut kamu kenapa-kenapa. Untungnya ayah jemput pakde tadi. Pakde datang dan pegang tangan kamu.


" Bunda, Eka sudah di rumah bunda?"


"Iya sayang. Eka sudah kembali sama ayah, bunda dan kak Fadli dan kak Fani."


Eka melihat tangannya dipegang pakde.


"Jam berapa sekarang bunda? Kok lampu kamar nyala.


"Jam 9 malam Eka. Eka mau buka puasa sekarang?"


"Besok pagi saja bunda. Eka rasanya cape sekali."


"Biarkan saja dulu. Biarkan Eka istirahat. Nanti dia akan buka puasa sendiri. Abi, aku sudah merasa tapi maaf, aku baru bisa datang lihat ponakanku ini. Untungnya cepat kalau tidak, Eka bisa lewat."


"Iya Pakde, matur nuwun sanget."

__ADS_1


"Pakde, tangan Eka boleh dilepas?"


"Ya. Pakde menepuk tangan, kepala dan dahi Eka, lalu melepaskan tangan Eka."


__ADS_2