Warisan

Warisan
Kejutan


__ADS_3

"Si Eka belum kelihatan? Kemana ya, dia? Ini sudah jam 6."


"Elo kenapa si Al, kelihatannya antusias banget buat dekat sama Eka."


"Ngga tahu, berasa adem aja dekat Eka."


"Ngga usah elo, gue juga sama ngga tahu kalau Martin."


"Kekuatan Eka besar. Dia diatas kita. Gini aja kita cari dia. Feeling gue bilang, dia ada di belakang."


"Maksud elo? Ya Eka ada di belakang kampus."


"Tapi kan belakang kampus banyak pohon-pohon besar dan bambu yang rimbun, ngapain juga Eka kesana?"


"Udah ayo ikut saja."


Alvian, Chandra dan Martin berjalan ke belakang kampus.


"Gelap banget!"


Mereka menyalakan senter yang ada di handphone mereka.


"Itu, itu Eka!"


Mereka bertiga berlari mendekati Eka, tiba-tiba Eka menghilang. Mereka menengok kanan dan kiri mencari keberadaan Eka.


"Woiii, Eka disana!"


"Kagak Al, gue lihat Eka di sebelah situ!"


"Hai, kalian sadar kenapa! Itu bukan Eka, tapi...."


Mendadak mereka bertiga merinding, dan berlari ketakutan. Dan akhirnya sampai di tempat parkiran mobil. Napas mereka terengah-engah.


"Aaaaaarrrggghhh." Alvian berteriak.


"Reseh elo, Tin, ngapain elo ngajak kita ke belakang kampus. Lagian buat apa Eka ke belakang kampus." Alvian terlihat kesal."


"Gue lihat Eka jalan kesana! Dan elo berdua juga aneh. Yang satu nunjuk ke kiri yang satu nunjuk ke kanan. Yang gue lihat malah kuntilanak!"


"Sukurin, makanya jangan ngerjain kita!" Chandra dan Alvian tertawa terbahak-bahak.


"Coba elo telpon Eka. Ini nomernya, pulsa gue habis."


"Oooo, jadi elo bergerak duluan nih."


"Bergerak gimana? Gue dapat dari mbah kakungnya. Kita kan mahasiswa baru dan juga beda jurusan masa gue tanya-tanya sama teman-teman Eka yang satu jurusan. Mikir dong!"


"Coba deh Al, siapa tahu itu benaran nomer handphone Eka. Jadi kita bisa pulang. Gue lapar. Gue sama kayak Martin ngga ada pulsa."


"Basi! Sebutin berapa."


Alvian memencet nomer handphone yang disebutkan oleh Martin.


"Halo, apa benar ini Eka?"


"Iya benar. Maaf ini siapa ya? Karena tidak ada di kontak saya?"


"Ini Alvian. Kamu dimana Ka? Kita bertiga nungguin kamu dari tadi di kampus."


"Oh, aku sudah di rumah. Tadi di jemput sama ayahku jam 6. Kamu tahu nomer handphone aku dari mana? Aku tidak pernah kasih nomer handphone aku sama siapapun?"


"Aku dapat dari Martin, katanya dia di kasih sama mbah kakung kamu."


"Oh,. Ya sudah, aku dipanggil sama kakek. Bye."


Eka menutup sambungan telpon dari Alvian.


"Gimana Al? Benaran itu Eka? Chandra dan Martin berbicara barengan.


"Iya, dia bilang dijemput ayahnya jam 6 tadi. Saat kita mencari Eka."

__ADS_1


"Hahahahha, berarti ada yang mau bermain sama kita menyerupai Eka. Al, Chan, ayo deh pulang. Kita ngumpul sama teman-teman di sekolah biasa di basement sekolah.


Martin masuk ke dalam mobil diikuti oleh Alvian dan Chandra. Mereka menuju ke sekolah SMA mereka.


"Tin, kita berhenti di nasi goreng gondrong ya."


"Iya. Yang bayar Alvian ya. Elo kan yang paling kaya."


"Pala elo kaya. Yang kaya itu orang tua gue. Gue mah sama kayak kalian."


"Tapi uang jajan elo ada 2 jenis, yang tunai sama kartu."


Mereka berhenti di perempatan menteng karena lampu merah.


"Anjir, ini tangan siapa pegang pergelangan kaki gue!"


Chandra yang duduk di belakang berteriak karena merasa pergelangan kakinya di pegang.


"Hahahah, bercanda aja elo, Chan. Mana ada tangan disini."


Chandra segera mengambil handphone yang ada di saku celananya dan menyenter pergelangan kaki yang masih di pegang.


"Al, Tin ini lihat mumpung masih lampu merah!"


Alvian dan Martin menengok ke belakang dan melihat kearah kaki Chandra yang terkena senter dari handphone.


"Doa mulai!" Martin meminta kedua temannya berdoa setelah melihat tangan yang memegang pergelangan kaki Chandra. Dan bersamaan dengan itu lampu merah sudah berganti hijau. Mereka berdoa bersama.


Selang beberapa menit. Mereka sampai di tempat nasi goreng yang mereka tuju.


"Ayo keluar! Martin meminta Chandra dan Alvian keluar dari mobil. Sementara Chandra hanya menggeleng karena tangan itu masih memegang pergelangan kakinya.


Alvian dan Martin membantu Chandra. Alvian menarik tangan Chandra sedangkan Martin mendorong.


"Ngga mau lepas Al, Tin. Sudah kalian duluan saja nanti biar gue coba sendiri. Pesanin nasi goreng sama sate ati yak."


"Elo yakin Chan, kita tinggal. Lagian ngapain sih itu tangan megang kaki elo."


Alvian dan Martin meninggalkan Chandra di dalam mobil.


Pergelangan kaki Chandra mulai sakit karena di cengkram oleh sebuah tangan.


Chandra berdzikir, lalu mengambil sebuah kain putih yang isinya berupa bubuk kayu putih dan cengkeh.


"Gue mau makan tapi elo nahan gue disini. Sorry ya, gue harus lepasin tangan elo. Sakit tahu!" Chandra memebarkan bubuk tersebut di tangan yang masih mencengkram kakinya. Perlahan-lahan cengkraman tersebut melemah. Sampai akhirnya Chandra bisa keluar dan menghampiri kedua temannya.


"Alhamdulillah, elo bisa lepas juga dari jerat itu tangan?"


"Iya, mana nasi goreng gue?"


"Itu lagi dibuatin sama gondrong. Itu sate elo?"


Chandra yang badannya lebih tinggi dari Alvian dan Martin segera makan sate, tidak berapa nasi goreng datang.


"Chan, kita jadikan ketemuan teman-teman di sekolah?"


"Ngga ah, gue capek. Besok aja. Kan besok malam minggu. Palingan yang ada di sekolah si Atu, Sugeng, Brian, Reza."


"Terus? elo sendiri mau kemana Tin?"


"Sama kayak Chandra, gue pulang aja."


"Ya udah, anterin gue pulang, kan elo berdua searah pulangnya."


Mereka mengantar Alvian pulang.


"Al, gue malas tahu sebenarnya antar elo pulang karena harus lewatin kuburan belanda. Ada ngga sih jalan lain. Ini sudah jam 1 malam. Pasti bentar lagi kedengaran bunyi derap sepatu prajurit dari tuh kuburan."


"Ada sih Chan, cuma lebih jauh. Elo sama Martin nginap ajalah di rumah gue. Kebetulan besok engkong gue ulang tahun."


"Nah ide bagus tuh. Kita nginap saja di rumah Alvian. Balik dari rumah Alvian ketemu sama inlander yang udah ko'it cari perkara."

__ADS_1


"Terserah deh. Nih siap-siap yak."


"Udah cuekin aja kenapa sih Chan, elo kayak baru sekali aja ke rumah gue."


"Astaghfirullah, benarkan Al, tuh lihat lagi baris berbaris mereka!"


"Udah tabrak aja, kan mereka sama kita beda alam."


"Elo enak ya kalau ngomong!"


Dan ternyata ada 1 mobil lagi datang dan di sebelah mereka. Orang yang ada di dalam mobil tersebut membuka kaca mobilnya.


"Nunggu apa sih! Udah jalan aja."


"Abang elo Al."


Alvian membuka kaca mobil.


"Ada yang lagi baris bebaris!"


"Ah, penakut! Jang, sana setir mobil mereka. Biar gue bawa mobil secara si Fadillah, udah mabok."


"Iya Jang. Gue yang nyetir aja. Malas gue dekat Fadillah. Mabok mulu!"


Jajang si sopir langsung keluar dari mobil dan berjalan ke mobil Martin.


"Nyo, biar Jajang saja yang bawa mobil."


Akbar kakak Alvian sudah jalan terlebih dahulu.


"Jang, jangan ngebut ya. Klakson terus saja. Si Akbar reseh! Malah di tinggal!


Jajang menjalankan mobilnya.


"Bunyi in klaksonnya Jang."


Jajang segera membunyikan klakson. Dan barisan hantu prajurit menghadang mobil mereka.


"Nah kan kejadian deh! Ah malas deh gue."


"Jajang klakson terus! Jalan dan jangan berhenti!


Brakkkk....


Brakkkk..


"Nyo, suara apaan tuh. Jajang nabrak apa?"


"Udah jalan aja, klakson terus. Elo ngga usah bawel."


Jajang mengikuti perintah Alvian, anak dari majikannya.


Berkali-kali Jajang menabrak sesuatu tapi ia tidak berhenti. Setelah 10 menit Jajang menabrak sesuatu, akhirnya mereka sampai rumah Alvian.


Satpam langsung membuka gerbang dan mobil masuk. Alvian, Chandra dan Martin keluar dari mobil.


Jajang yang penasaran segera mengecek mobilnya Martin.


"Aya naon Jang."


"Biasa sinyo sama temannya. Tadi lewat kuburan belanda. Terus sepanjang jalan suruh klakson dan berasa nabrak sesuatu tapi ngga tahu apa. Sinyo ngga mau berhenti. Saya takut nabrak kucing."


Satpam dan Jajang memeriksa mobil Martin dan ternyata tidak ada kerusakan ataupun yang ditakutkan Jajang.


Jajang bernapas lega.


"Alhamdulillah kalau ngga ada apa-apa. Tapi tadi saya merinding kang lewat itu kuburan, biasanya juga ngga. Apalagi kalau pergi sama sinyo Akbar. Aneh."


"Sudah sana sholat tahajud. Daripada kamu kepikiran dan ketakutan terus."


"Iya kang Iwan, Jajang masuk ya."

__ADS_1


__ADS_2