
"Mas Abi, Eka bisa mengatasi semuanya? Aku takut loh Mas. Tadi aku lihat Eka sendirian di dapur persis sama almarhum bapak."
"Eka ngga papa kok Om, Allah melindungi dan menjaga Eka selalu. Hanya saja kok teman ayah seperti itu. Kan baru sekali dia ke rumah."
"Biar saja Eka, ikhlas kan semua yang sudah Om Edo lakukan sama keluarga kita. Alhamdulillah, Allah masih melindungi keluarga kita. Dan Mbah Kung tetap sama kamu dan menjaga kamu."
"Tapi ayah, harusnya Mbah Kung kan sudah di surga? Kenapa masih bisa jaga Eka?"
"Ayah dan Om tidak bisa jelaskan pertanyaan kamu. Kita hanya bisa mengucap syukur, ikhlas, berserah dan doakan Mbah Kung tenang di alam sana."
"Iya ayah. Ayah, Eka lapar banget."
"Sebentar lagi sampai rumah."
Ayah, Eka dan Omnya sudah sampai rumah. Mereka membasuh muka dan mencuci tangan serta kaki. Lalu mengucap salam dan masuk ke dalam rumah
Kakek, Nenek, Tante, Fani, Fadli dan Bunda menunggu mereka di ruang tamu.
"Bunda, kita mau membersihkan diri dulu."
Setelah mandi. Mereka semua makan bersama di meja makan.
"Abi, tadi gimana jadinya, bungkusan kain kafan itu? "
"Sudah selesai Pak, tidak ada yang perlu di kuatirkan lagi."
"Gini, bapak dan ibu akan menginap di sini. sampai semuanya tenang dan aman. Kalau kamu kerja, anak-anak sekolah, istrimu sendirian. Sedangkan istrimu masih belum terlalu kuat."
"Iya Pak ngga papa, malah senang Bapak dan ibu masih mau nginap di sini".
" Bungkusan kain kafan apa Ayah? Sebenarnya tadi ada apa? Kok sampai ada kain kafan segala."
"Ngga ada apa-apa? Semuanya sudah beres bukan kain kafan, tapi tadi beli kain putih untuk membungkus bangkai tikus."
"Eka, ceritakan sama bunda, ada apa tadi siang dan kamu sampai teriak-teriak Allahu Akbar berkali-kali."
"Tadi Eka teriak-teriak karena lihat ada bangkai tikus, dan banyak. Makanya Eka minta ayah beliin kain untuk nutup bangkainya terus tadi Eka ada tugas sekolah yang harus diselesaikan makanya Eka minta tolong dianterin ayah. Eh si Om ikutan."
"Bunda ngga percaya sama omongan kalian. Bunda tahu Eka pasti ada kejadian yang menyeramkan. Dan kenapa siang hari?"
"Bunda, tidak ada kejadian yang menyeramkan semuanya sudah selesai. Jadi tidak perlu kuatir."
__ADS_1
Fani dan Fadli hanya diam saja mendengarkan Tiba-tiba Fadli berteriak kesakitan dan memuntahkan semua makanan yang tadi di makan. Dari mulutnya ada keluar darah, lintah dan kelabang hitam besar yang masih hidup.
Ayah segera menginjak kelabang itu dan Kakek menyiramkan kopi yang masih panas dan baru saja di buat kan oleh Tante.
Belum selesai urusan Fadli dan Fani pun mengalami hal serupa. Dari mulut Fani keluar paku dan potongan silet. Fani muntah darah.
Bunda dan Nenek menangis melihat anak kembarnya mengalami kejadian aneh dan berteriak astagfirullah al adzim berkali-kali saat melihat binatang dan benda tajam yang keluar dari mulut Fadli dan Fani. Tante membersihkan sisa muntahan dan darah yang ada di mulut Fani dan Fadli
Tidak ada yang menyadari perginya Eka. Semuanya fokus ke Fani dan Fadli.
Kakek memgambil kelapa ijo dan membukanya. Airnya di berikan kepada Fadli dan Fani. Dan Fani, Fadli semakin muntah darah dan keluar semua benda-benda yang tadi.
Bunda pingsan melihat Fani dan Fadli muntah darah dan dibarengi dengan binatang dan benda tajam. Nenek sedih melihat keluarga anaknya serta cucu-cucunya seperti dibuat oleh orang.
Eka pergi ke rumah om Edo. Entah siapa yang menunjukkan jalan. Eka menyetop ojek dan minta diantar ke jalan cempaka. Lumayan jauh dari rumah Eka, tetapj tidak bisa dipikirkan oleh nalar sehat, yang harusnya bisa sampai 1 jam. Ternyata dalam waktu 10 menit sudah sampai.
"Pak Ojek, tunggu disini ya, saya mauu masuk ke rumah itu."
"Iya Neng, bapak tunggu disini." Si kang ojek garuk-garuk kepala bingung kok sudah sampai.
Tetangga Om Edo yang sedang mengobrol di depan rumahnya bertanya dengan tukang Ojek.
"Darimana Pak? Kok ngga kedengaran suara motornya."
"Hah daan mogot jauh amat Pak."
"Assalammualaikum Om Edo. Ini Eka anaknya Pak Abi."
Eka berkali-kali mengetuk pintu tetapi tidak ada jawaban dari dalam. 15 menit kemudian pintu dibuka oleh seorang bapak yang menakai ikat kepala dan penampilannya seperti dukun.
Pak Ojek dan tetangga Om Edo menghampiri Eka. Mereka takut terjadi apa-apa sama Eka.
"Mbah, ini loh anaknya Abi yang kata Nanang dijaga oleh buyutnya." Edo terlihat tertawa senang karena dengan Nanang ia sudah ketahuan tadi sore. Makanya Edo meminta bantuan dukun yang lain.
"Mbah tolong tarik semua yang dikirim ke rumah Eka."
"Wooo, bocah ingusan meh lawan aku."
"Mbah, Mbah sudah tua dan sebentar lagi meninggal kenapa mesti berbuat jahat".
"Pak Edo atau Om Edo, memang apa salah keluarga Eka dan khususnya Abi sampai Om Edo mengirimkan bencana ke rumah Eka?"
__ADS_1
"Edo, sudah ngga usah seperti ini, nanti kamu akan susah sendiri." Tetangga Pak Edo ikut berbicara.
"Anak kecil perempuan saja di dengarkan to Met, Met. Aku mau ambil ibunya, mau aku jadikan istriku, jadi aku mau habisi semua keluarganya."
"Ngawur kamu Do, kasihan anak ini jauh-jauh dari daan mogot."
"Hei kamu anak ingusan, pulang sana. Ayah dan kakakmu sudah mati. Sana pulang, kesaktianku tidak ada yang bisa nandingi. Kamu sebentar lagi jadi anaknya Edo, cucuku, karena ibumu akan menikah dengan Edo besok pas jumat kliwon."
"Mbah, Eka cuma bilang tarik omongan Mbah. Eka hitung sampai 5, apa yang Mbah kirim ke kakak Eka akan berbalik semuanya ke Mbah".
" Hahahhahaha kamu anak kecil tahu apa."
Pak Ojek dan pak Edo juga tetangganya tidak percaya dengan omongan Eka.
"Baik kalau gitu. Mbah yang minta dan jangan salahkan Eka setelah Mbah memuntahkan semuanya dalam waktu kurang dari 5 menit, Mbah akan menghadap yang Maha Kuasa."
"Neng ayo pulang neng, nanti dicariin sama orang tua Neng."
Ela mulai menghitung 1-5 dan tiba-tiba si Mbah muntah, apa yang tadi keluar dari mulut Fani dan Fadli berbalik ke Mbah. Pak Edo, tetangga dan pak Ojek melihat tidak percaya melihat yang keluar dari mulut Mbah
Mbah sudah terlihat lemas karena muntah terus menerus.
"Mana katanya dalam waktu kurang darj 5 menit, Mbah meninggal dan ini sudah 3 menit tapi mbah ngga meninggal kalau muntah karena Mbah memang makan ini semua dan sudah kenyang."
Baru selesai Mbah berbicara tiba-tiba Mbah meregang nyawa dan meninggal. Edo, tetangga dan pak Ojek kaget
"Pak Edo, Eka ngga main-main. Jangan sampai melakukan ini lagi kecuali Pak Edo mau seperti Mbah yang sudah meninggal itu."
"Wis Edo, uwis, kamu urus jenasah dukunmu itu."
Edo bergerak ke arah Eka dan tiba-tiba pak Edo merasakan kaku di sekujur badannya.
"Pak Edo, Allah punya rencana, perbanyaklah sholat dan tobat supaya Pak Edo sembuh. Apa yang Pak Edo lakukan di rumah Eka kemarin saat ini berbalik semuanya ke Pak Edo. Apa yang Pak Edo tanam saat ini sudah Pak Edo tuai. Selamat malam."
"Ayo Pak Ojek, kita pulang sekarang."
"Tapi Neng, itu gimana?"
"Biarkan saja akan hilang dengan sendirinya karena bermain dengan ilmu hitam."
"Maaf Neng Eka, si mbahnya jadi debut gitu?"
__ADS_1
"Bapak lihat sendiri ya."
"Assalammualaikum, Saya pamit pulang Pak dan juga Pak Edo."