
Pagi ini Eka sudah sampai di kelasnya.
Susi dan Thomas belum datang, biasanya jam segini mereka sudah datang. Kemana mereka.
Sampai bel masuk berbunyi Susi dan Thomas tidak datang.
Jam pelajaran pertama tadi, Guru memberitahu bahwa pak Felix meninggal dunia kemarin dan jenasahnya dibawa langsung ke kampung halaman. Sehingga mereka pun tidak sempat untuk melayat.
Bel istirahat berbunyi. Eka dan beberapa teman sekelasnua tidak keluar kelas. Eka masih merasakan capek.
Eka meraih handphonenya yang berbunyi ternyata ada pesan masuk dari Susi juga Thomas
"Eka, aku hari ini tidak masuk sekolah. Badanku sakit semua seperti orang dipukuli dan banyak lebam biru. Kalau kata ibu tukang pijat, aku di cubit setan. Seram banget bisa-bisanya si ibu tukang pijat bilang aku dicubit setan. Aneh. Kamu masuk sekolah ya? Thomas katanya juga tidak masuk. Thomas tadi kirim pesan ke aku. Apa Thomas sudah kirim pesan ke kamu juga?'
"Eka, aku sama Susi tidak masuk sekolah. Kata ibuku semalaman aku tidurnya ngigau teriak-teriak dan saat ibuku ke kamar katanya badanku panas. Jadi ibu bilang aku istirahat saja di rumah. Ibu sampai taruh daun kelor di tempat tidur. Jadi berasa kayak ulat. Heheheh."
Eka segera membalas pesan Susi dan Thomas.
"Pulang sekolah aku ke rumah kamu."
Eka merasa Susi dan Thomas terkena sawan orang meninggal. Eka akan membersihkan mereka supaya Susi dan Thomas tidak sawanan lagi.
"Non, maaf nunggu lama tadi nemenin nenek, buu Neni dan mbak Asih pergi."
"Tidak papa pak. Sekarang bisa antar aku ke rumah Susi terus Thomas. Terserah bapak mau ke rumah siapa dulu. Yang penting tidak buat bapak susah."
"Baik non. Oh iya, ini ada makan siang buat non Eka dari nenek. Takutnya non Eka kelaparan karena saya telat jemput non."
"Iya pak, terima kasih. Bapak sudah makan?"
"Saya sudah non. Tadi nenek kasih 2 bungkus. 1 buat non Eka, 1 lagi buat saya. Tadi sambil nunggu nenek selesai, saya makan."
"Ok pak. Saya makan ya."
"Iya non Eka, silakan."
Sepanjang jalan ke rumah Susi ataupun Thomas, Eka makan yang diberikan nenek.
Handphone Eka berbunyi ternyata dari ayah.
"Assalamu'alaikum Eka. Kamu sudah dijemput?"
"Wa'alaikumsalam ayah. Sudah. Tapi Eka ijin ke rumah Susi dan Thomas ya ayah. Mereka hari ini tidak masuk sekolah. Eka mau bersihkan mereka biar mereka tidak sawanan lagi. Kasihan mereka."
"Ya. Hati-hati. Kalau sudah selesai langsung pulang saja. Tidak usah jemput ayah. Ayah masih ada meeting sampai malam."
"Ya ayah."
"Ya sudah ya. Hati-hati. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam ayah."
Tidak berapa lama Eka sudah sampai rumah Thomas
"Assalamu'alaikum."
__ADS_1
"Wa'alaikumsalam. Eka. Ada apa kesini?"
"Eka mau lihat Thomas, bu. Karena hari ini Thomas tidak masuk."
"Iya, Thomas demam. Ya ampun ibu sampai lupa. Ayo masuk, silakan duduk. Eka mau minum apa?"
"Tidak usah repot Bu. Jadi tadi gimana Thomas, bu?"
"Semalaman dia ngigau, teriak-teriak. Jangan, jangan. Saya tidak mau ikut. Lepasin saya. Saya tidak mau jadi tumbal. Gitu. Sebenarnya ada kejadian apa kemarin? Karena baru semalam Thomas ngigau. Sesakitnya dia, tidak pernah ngigau sama sekali dan semalam saat ibu masuk ke kamarnya. Kamarnya dingin sekali padahal tidak pakai kipas angin. Tapi badannya panas, demam gitu. Akhirnya ibu kompres biar panasnya turun. Sekarang Thomasnya baru saja tidur ada kali 20 menit yang lalu. Dan dia tidak bisa bangun hanya bisa tiduran saja. Katanya mau bangun susah tidak ada tenaga."
"Oh gitu bu. Jadi gini bu. Seperti yang kemarin Eka sampaikan. Kemarin kita pulang sekolah lalu di telpon sama salah seorang guru untuk datang ke rumahnya karena ibunya meninggal. Akhirnya kita bertiga datang melayat. Tetapi memang ada kejadian yang tidak masuk di akal. Di luar nalar orang. Ternyata yang meninggal bukan hanya ibunya tapi guru kita juga ikut meninggal. Nah saat dimandikan jenasah ibunya menghilang termasuk jenasah guru kita. Kita semua panik termasuk orang-orang yang datang melayat. Sepertinya Thomas kena sawan orang meninggal. Saya akan coba bantu bersihkan seperti yang diajarkan sama mbah kakung saya. Sebentar ya bu."
Eka keluar menemui pak supir dan meminta pak supir mencarikan air kelapa ijo 4 biji. Setelah itu Eka kembali masuk ke dalam rumah Thomas ternyata ibunya Thomas tidak ada. Eka kembali duduk menunggu ibunya Thomas.
"Eka, ini ibu buatkan teh manis. Diminum dulu."
"Iya bu, Terima kasih. Ibu, Eka mau tanya apa ibu punya 1 bonggol bawang putih? Kalau ada Eka minta."
"Ada, sebentar ibu ambilkan."
"Iya bu. Terima kasih."
Sementara ibunya Thomas masuk lagi ke dalam. Pak supir datang membawa 4 kelapa ijo yang sudah dibungkus plastik.
"Non, ini kelapa ijonya. Bapak minta sama penjualnya untuk sekalian dibungkus. 1 kantong ini dari 1 butir kelapa ijo. Takutnya disini tidak ada pisau atau golok untuk membuka kelapa ijonya."
"Iya ngga papa pak. Eka juga lupa tadi minta dibungkusin satu-satu ternyata bapak sudah punya inisiatif untuk membungkusnya. Makasih ya pak."
"Iya non sama-sama."
"Oh iya pak. Yang 2 bungkus lagi untuk Susi nanti. Jadi dibawa saja. Terus ini ada teh manis. Yang satu buat bapak ya."
"Daripada mondar mandir. Sudah nanti saja taruh di mobilnya."
Ibu Thomas datang sambil membawa 1 bonggol bawang putih.
"Ini bawang putihnya."
"Iya bu."
Tiba-tiba terdengar teriakan dari kamar Thomas. Ibunya dan Eka juga pak supir segera berlari ke dalam kamarnya Thomas.
"Jangan, jangan bawa saya. Saya kemarin hanya datang. Pak Felix guru saya. Jangan saya. Tolong, tolong, tolong."
Thomas berteriak-teriak sementara matanya masih tertutup.
Eka segera menghampiri Thomas dan memegang tangan Thomas.
"Thomas, Thomas, bangun, bangun."
"Heh, heh. Eka, Eka, Eka. Aku takut Eka. Pak Felix datang terus ngajak aku pergi. Aku ngga mau Eka."
"Iya tenang ya. Bu, bisa minta tolong ambilkan baskom sama gelas."
"Bisa. Sebentar ya." wajah ibunya Thomas terlihat kuatir.
__ADS_1
"Eka, aku benar-benar takut. Pak Felix sudah meninggal. Dia tadi narik-narik aku. Padahal aku sudah doa cuma aku mau bangun dan buka mata tidak bisa. Aku takut Eka."
"Iya, iya. Tenang ya. Aku akan tolong kamu. Semalam kamu tidak mandi ya, hanya ganti baju saja?"
"Iya. Kok kamu tahu. Aku sudah kedinginan makanya aku langsung masuk kamar dan ganti baju terus hanya cuci kaki lalu tidur."
"Lain kali kalau habis melayat, sampai rumah langsung ambil baju ganti terus mandi. Kamu kena sawan ini."
"Tolong aku Eka, biar aku tidak diajak terus sama pak Felix."
Ibunua Thomas datang.
"Eka, ini gelas dan baskomnya."
"Iya bu, terima kasih. Pak, minta tolong air kelapa ijonya 2 bungkus bawa ke sini ya."
"Iya non."
"Ini kamu minum air kelapa ijonya terus makan bawang putihnya 7 biji ya. Lalu air kelapa yang di baskom buat cuci muka kamu, cuci tangan dan cuci kaki."
"Iya Eka."
Thomas minum air kelapa ijonya kemudian dia makan 7 biji bawang putih yang sudah di kupas oleh Eka.
"Aku cuci muka, tangan dan kaki disini atau di kamar mandi? Bawang putihnya pedas banget. Ini aku habiskan air kelapa yang digelas ya."
Eka menganggukkan kepalanya.
"Disini saja. Basuh dulu mukamu kemudian cuci tangan di sini setelah itu cuci kakimu."
Thomas melakukan yang Eka minta dibantu oleh ibunya.
"Ibu, Thomas mau ke kamar mandi dulu. Sebentar ya Eka."
Thomas langsung bangun dari tempat tidurnya dan berlari ke kamar mandi.
Ibunya terkejut melihat Thomas bisa bangun dan berlari padahal sebelumnya Thomas tidak bisa bangun.
Tidak berapa lama Thomas kembali dari kamar mandi.
"Eka, terima kasih. Badanku sudah enteng, sudah bisa bangun dan jalan. Tadi pagi aku sama sekali tidak bisa bangun dari tempat tidur."
"Terima kasih sama Allah. Aku cuma bantu. Ini semua kehendak Allah, kamu bisa bangun lagi. Ya sudah kalau gitu. Lain kali jangan lupa kalau habis melayat orang meninggal. Aku mau ke rumah Susi."
"Iya Eka. Aku tidak ikut ke rumah Susi ya."
"Iya. Itu sisa bawang putih yang aku sebar di kamarmu jangan diambil sampai 7 hari ya."
"Iya Eka."
"Bu, kalau gitu Eka permisi ya. Eka pamit. Mau ke rumah Susi. Takutnya Susi mengalami hal yang sama seperti Thomas."
"Iya Eka. Tapi kok kamu bisa bantu orang yang kena sawan. Kamu bisa ya?"
"Eka diajarin sama mbah kakung. Kalau habis melayat harus segera mandi. Ibu sendiri kan tahu juga hehehhe."
__ADS_1
"Ya sudah bu, Thomas. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam Eka. Hati-hati ya."