Warisan

Warisan
pertarungan Eka


__ADS_3

Eka sudah sampai rumah. Dan mereka tidak ada yang tahu kalau Eka keluar kecuali omnya.


"Eka, kamu darimana?"


"Dari beresin yang kirim sesuatu ke keluarga Eka, om."


"Lain kali jangan seperti itu. Kamu ngga boleh pergi sendiri seperti tadi."


"Tapi aku kan pergi sebentar Om, ngga sampai 1 jam. Kakak gimana?"


"Sudah, mereka sudah tidur. Dan semua kiriman hilang jadi debu."


"Ya sudah Om, Eka masuk dulu."


"Ya."


Saat Eka masuk ke dalam rumah dan mengucapkan salam. Bapak ojek yang tadi mengantarkan Eka datang.


"Assalammualaikum Pak, saya bisa ketemu dengan neng Eka."


"Wa'alaikumussalam Pak. Maaf dengan pak siapa dan ada keperluan apa dengan Eka?"


"Gini Pak, tadi saya antar neng Eka ke bekasi untuk ketemu dengan orang yang bernama Pak Edo. Saya lihat dengan mata kepala saya sendiri Pak. Neng Eka bisa buat dukun yang kirim santet meninggal Pak. Saya tadinya ngga percaya sama neng Eka, masa anak kecil bisa ngalahin itu dukun di tambah sama 1 lagi, kalau dari sini ke bekasi kan bisa sampai 1.5 jam ini pulang pergi ngga ada sampai 1 jam. Percaya ngga percaya itu yang saya alami. Dan ini tadi neng Eka kasih uang buat ojek kebanyakan. Saya mau mengembalikan kelebihan uangnya ke neng Eka."


"Oh, sebentar Pak, saya panggilkan Eka. Silakan bapak duduk dulu."


"Iya Pak, terima kasih."


Om masuk ke dalam rumah dan memanggil Eka. Eka keluar dengan di temani ayah dan kakek juga om.


"Iya Pak, ada apa Pak?"


"Neng Eka, bapak mau mengembalikan kelebihan uang ojek dari bekasi. Ini neng uangnya, kebanyakan."


"Ngga usah Pak, saya memang kasih lebih ke bapak. istri bapak lagi sakit, belum dibawa ke dokter terus anak bapak belum bayaran sekolah sama hari ini bapak belum pulang karena belum ada uang untuk bawa istri dan spp anak bapak. Dan lagi pula tadi bapak nungguin saya dan bapak takut saya kenapa-napa. Uang itu nanti bisa bapak pakai yah. Sama bapak tunggu sebentar."


"Iya neng Eka, terima kasih banyak."


Eka masuk ke dalam. Ayah dan kakek bertanya kepada tukang ojek itu kemana tujuan Eka pergi naik ojek. Pak ojek menjelaskan secara detail semua kejadian yang dia lihat.


Ayah dan kakek saling menatap dengan pandangan tak percaya bahwa Eka bisa melakukan hal tersebut.

__ADS_1


Eka keluar sambil membawa bungkusan yang berisi makanan dan amplop.


"Pak, ini ada sedikit makanan untuk bapak dan keluarga makan malam ini. Dari sini bapak langsung pulang yah. Dan ini Eka tambahin buat beli makan besok pagi."


"Subnallah neng Eka. Bapak sampai bingung harus ngomong apa dan bapak cuma bisa mengucapkan terima kasih banyak."


"Pak, terima kasihnya sama Allah SWT, saya cuma sebagai kepanjangan tangan saja Pak. Rajin sholat Pak. Dan nanti sampai rumah tabur garam di bawah tempat tidur yah. Supaya energi negatif hilang."


"Sudah bapak pulang sekarang. Kasihan anak dan istri bapak kelaparan."


"Sebentar Pak."


Ayah meminta pak ojek untuk tunggu sebentar dan masuk ke dalam. Tidak berapa lama ayah keluar dan memberikan amplop putih berisi uang.


"Pak, ini ada tambahan sedikit dari saya dan keluarga untuk bapak ya. Anak saya Eka sudah minta bapak pulang. Sekarang pulanglah Pak. Hati-hati ya. Salam buat keluarga ya Pak."


"Subnallah. Hari ini saya diberikan rejeki dari anak Bapak dan juga Bapak. Terima kasih ya Allah. Assalammualaikum,"


"Wa'allaikumussalam."


Pak ojek sudah pulang.


"Ayah, Kakek dan Om, Eka sudah dengar tadi pak ojek sudah cerita. Apa yang diceritakan sama pak ojek itu benar."


"Tapi bagaimana caranya kamu dari rumah ke bekasi tidak sampai 1 jam? Mustahil Eka dan tidak bisa dipikirkan secara nalar."


"Ayah, bukannya Eka tidak mau cerita. Eka mau mandi dan sholat. Yang penting keluarga kita sudah aman untuk saat ini. Kita hanya bisa minta perlindungan Allah SWT. Kalau bukan kehendak Allah, Eka juga ngga bisa sampai sana dalam waktu menit. Susah untuk dipikirkan dan tidak bisa dijelaskan. Eka sudah menerima takdir Eka seperti ini ayah, kakek dan Om. Eka mau mandi dan sholat ayah. Sudah malam. Eka belum sholat isya.


"Ya sudah, sana mandi dan nanti kita sholat sama-sama."


"Iya ayah."


Selesai mandi, Eka, ayah, kakek dan om juga tante sholat bareng. Sedangkan Nenek dan bunda sudah tertidur. Fani dan Fadli tidur di kamar tamu. Kakek dan Om tidur di kamar Fani dan Tante tidur dengan Rena di kamar Fadli. Ayah tidur bareng dengan Fadli dan Fani.


Sudah jam 12 malam. Eka merasakan ada sesuatu yang datang. Om mengetuk kamar Eka. Eka yang belum tidur membuka pintu.


"Eka, kamu merasakan sesuatu atau melihat sesuatu?"


"Iya Om, Eka mesti ke bawah."


"Om ikut."

__ADS_1


Rena dan Om berjalan ke bawah dan melihat ayah yang sedang duduk di ruang tamu dan terlihat seperti orang yang susah bernapas.


Entah bagaimana caranya. Eka memegang badan ayah.


"Astagfirullah. Ayah, ayah, ayah. Om tolong pegang ayah, tahan lidahnya supaya jangan tertelan. Eka mau buat minuman untuk ayah."


Eka segera berlari ke dapur. Mengambil bawang putih dan garam, lalu ia remas-remas bawang putih dan garam. Setelah itu Eka membuat kopi hitam. Eka segera membawanya ke hadapan ayah.


Eka berlari ke halaman depan. Dan Eka melihat ada sosok laki-laki di depan pintu hendak masuk tetapi tidak bisa. bUntungnya Eka sudah langsung memagari tadi. Eka telat memagari seluruh rumah. Eka mengambil be berapa duan palem lalu berlari ke dalam rumah.


Omnya masih memegang lidah ayah dan menahan bibir ayah supaya ayah tidak menutup lidahnya.


Semua serentak bangun karena Eka menarik alam bawah sadar Bunda, Nenek, Kakek, Tante, Fadli dan Fani. Tanpa di minta mereka semua langsung mengambil wudhu dan sholat.


Eka memberikan sesendok garam dan bawang putih ke mulut ayah.


Daun palem sudah ayah duduki. Om melihat semua yang Eka lakukan persis sama dengan almarhum Mbah Kung.


"Apa masih kurang yang tadi saya lakukan sama anda? Jangan salahkan saya jika saat ini juga Malaikat mengambil anda! Allahu Akbar!"


Eka berteriak dan melantunkan ayat-ayat Al Qur'an ke telinga ayah sambil tetap menyendokkan bawang putih dan garam ke mulut ayah.


Tiba-tiba ayah muntah gumpalan darah berwarna kehitaman. Dan setelah itu ayah mimisan dan berwarna hitam juga. Eka tetap melantunkan ayat-ayat Al Qur'an.


Tepat jam 1 malam terdengar seperti benda jatuh diatas atap rumah dan semua tidak terganggu dengam suara itu. Mereka semua tetap sholat, Eka tetap melantunkan ayat Al Qur'an dan Om juga melantunkan ayat Al Qur'an saat Eka mulai.


Semua mencium seperti daging terbakar di dalam rumah dan ada asap keluar dari tubuh Ayah.


Eka segera memberikan kopi hitam kepada ayahnya dan ternyata kopi tersebut masih panas padahal Eka sudah membuatnya dari tadi.


Setelah memberikan minuman kopi ke ayahnya. Eka berteriak Allahu Akbar dan seketika itu juga keluar asap hitam dari mulut ayah.


Setelah gumpalan asap itu hilang. Ayah terkulai lemas. Akhirnya selesai pertikaian Eka dengan makhluk tak kasat mata yang dikirim untuk mencelakai ayahnya.


"Ayah, ucapkan Al Fatihah 7 kali yah."


Tanpa diminta semuanya mengucapkan Al Fatihah sebanyak 7 kali.


"Eka, kamu ngga papa nak?" Bunda menghampiri Eka yang terduduk diam.


"Eka ngga papa Bunda. Biarkan ayah tidur. ayah capek."

__ADS_1


__ADS_2