
Eka sudah sampai rumah. Pengalaman kemarin di Gunung Gede membuat ia semakin tahu bahwa banyak penghuninya.
"Eka, ayo makan dulu. Setelah itu kamu bisa istirahat, karena besok sekokah."
"Iya bunda, sebentar lagi." Eka berusaha bangun dari kasur tapi badannya terasa berat seperti ada yang memegang bahunya.
"Eka, ayo bangun. Ayah sama kakak sudah siap dan nunggu kamu."
"Bunda, Eka ngga kuat bangun seperti ada yang nempel di badannya Eka."
Bunda mendekati Eka dan memegang dahi serta kaki Eka.
"Kamu panas sekali Eka, kamu demam ini. Sudah jangan turun dari tempat tidur. Bunda ambil kompresan dulu sama obat penurun panas."
"Bunda, ngga usah di kompres tapi Eka minta tolong ambilin daun kelor yang di depan rumah. Ambilnya yang banyak Bunda. Mau Eka pakai buat mandi."
"Daun kelor kok buat mandi? Kamu ada-ada aja sih."
"Ada Bunda, makanya Eka minta daun kelor."
Bunda mengambil daun kelor. Sebagian di berikan kepada Eka.
Eka langsung mandi dengan daun kelor yang ia remas-remas di ember. Setelah itu dibasuh dengan air biasa dan mandi lagi dengan sabun dan air biasa.
"Bunda, Eka mau makan. Masih ada makanan nya."
"Itu di meja makan. Sudah sana makan biar jangan sakit. Setelah makan, jeda sebentar dan tidur."
"Iya bunda."
"Iya gimana naik gunungnya? Kok tumben kamu tidak cerita?"
"Seru dan agak menyeramkan."
"Maksudnya? Kamu di ganggu makhluk halus? Bunda kan sudah bilang. Di gunung itu banyak!"
"Bukan aku yang di ganggu bunda, tetapi kakak pembina. Ternyata dia sedang datang bulan."
"Terus kakak pembinamu bagaimana? Kesurupan? Atau hilang?"
"Bunda kenapa sih? Kalau hilang, kita semua juga hilang. Bukan kesurupan tapi diikuti."
"Sudah-sudah, bunda ngga mau dengar. Kamu yang sering di ganggu sama makhluk-makhluk itu saja buat bunda syok dan trauma. Tapi kok mereka ngga kapok-kapok ya ganggu kamu?"
"Bunda, aku kan bisa karena bawaan dari lahir."
"Ngga ada ya bawaan dari lahir sampai sudah besar di ganggu sama makhluk halus. Kalau bawaan dari lahir, kakak kembarmu kenapa tidak bisa kayak kamu?"
__ADS_1
"Aku kan cucu pilihan, itu kata almarhum mbah Kung."
"Ah sudah, sholat terus tidur."
"Iya bunda, terima kasih sudah ambil daun Kelly untuk aku mandi, jadi aku tidak ditempeli lagi oleh mereka."
"Eka, maksudnya ditempeli apa? Kamu kalau bicara itu yang benar. Jangan buat bunda pusing."
"Ngga papa bunda. Selamat malam, aku mau tidur." Eka mencium pipi bunda.
Eka masuk kamar dan kaget, dia sudah disambut oleh seorang perempuan yang sama. Perempuan yang mengganggu kak Tina.
"Kamu kenapa disini Mbak? Ini bukan tempatmu. Kamu kan ngga harus ikutin aku. Aku ngga ganggu kamu."
Perempuan itu menyeringai, membuat bulu-bulu halus di leher Eka berdiri dan membuat kepala Eka seperti memuai sesaat.
Eka melihat daun kelor yang tersisa di meja. Segera daun kelor itu ia kebaskan ke arah perempuan itu. Dan perempuan itu menyeringai kembali dan hilang.
Eka segera mengambil wudhu untuk sholat. Selesai sholat, Eka merasa tenang, ia rebahan di kasur dan entah gimana, Eka tiba-tiba melihat tubuhnya yang sedang tertidur.
"Hah, ini kenapa?" Kok aku bisa lihat tubuhku? Bukannya tadi aku sedang tiduran?"
Eka memegang tubuhnya yang tertidur. Eka melihat mbah kung yang tersenyum dan mengulurkan tangan kepadanya. Tetapi Eka tidak menyambut uluran tangan itu. Eka tahu itu bukan mbah kung.
"Eka, ini mbah kung, ayo ikut mbah. mbah kangen sama kamu."
"Ini mbah kung, kamu cucu kesayangan mbah kung."
"Pergi kamu. Aku tahu kamu perempuan yang tadi!"
"Hi hi hi hi, aku tidak mau pergi, karena kamu aku tidak bisa mendapatkan jiwa anak itu. Sebagai gantinya, kamu yang aku ambil. Jiwa kamu bisa aku tarik keluar."
"Bukan kamu! Kamu tidak berhak menarik jiwaku keluar dari tubuhku."
"Aku bisa dan aku akan bawa kamu!"
Perempuan itu berhasil meraih tangan Eka. Saat akan membawa Eka pergi, Eka merasa ada tangan lain yang menarik dirinya.
Eka melihat sesosok kakek dan rambutnya di cepol ke atas memakai pakaian jawa berwarna hitam dan kain batik coklat
"Lepaskan tangan cucu buyutku. Kamu salah orang. Kamu tahu kamu berhadapan dengan siapa?"
"Tidak, anak ini telah merusak aku untuk mencapai keabadian. Maka anak ini harus aku bawa, agar aku bisa mendapatkan apa yang aku mau!"
Eka bingung melihat kakek tua dengan cepol diatas. Mukanya mirip dengan mbah kung.
"Baik kalau kamu tidak mau melepaskan cucu
__ADS_1
buyutku, aku akan musnahkan kamu sekarang juga."
Entah gimana, Eka sudah kembali ke badannya. Dan bisa melihat kakek melilit perempuan itu dengan rambutnya yang tergerai panjang sehingga perempuan itu tidak dapat bergerak bebas.
"Tahaiud nduk, ojo lali karo Gusti Allah. Wis wayahe tahajud. Puasa senin kamis yo nduk, ben iso tenang hatimu. Iki wis senen, puasa yo, 7 senin dan 7 kamis. Kalau sudah entuk 7 senin dan 7 kamis, kudu ngebleng kamis, jumat, sabtu. Sana ambil wudhu."
"Iya Mbah."
Kakek pergi membawa perempuan itu. Eka melihat jam di meja. Jam 1 pagi. Eka keluar dari kamar dan saat membuka pintu Eka melihat ayah yang duduk menatap ke arah kamar Eka.
"Eka? Kenapa kamu? Kok belum tidur?"
"Ayah sendiri kenapa? Kok lihatin kamar Eka."
"Ayah mau tahajud."
"Sama. Eka juga mau tahajud."
"Ya sudah sana, Eka ambil wudhu duluan."
Eka ke kamar mandi dan mengambil wudhu. Ternyata bukan ayah saja yang bangun, bunda juga terbangun.
Ayah dan bunda juga Eka akhirnya sholat tahajud. Tetapi Eka sholat tahajud sendiri.
Selesaii tahajud, Eka keluar kamar dan melihat ayah yang sedang duduk di ruang tamu. Eka menghampiri ayah.
"Eka, kok kamu tidak tidur lagi. Kenapa? Nanti kamu sekolahkan?"
"Iya ayah, Eka tidak ngantuk. Eka tetap masuk sekolah."
"Ayah kenapa?"
"Ayah mimpi di datangin kakek ayah. Ayah disuruh puasa senin kamis dan di suruh tahajud. Ayah tidak pernah bermimpi kakek ayah. Tetapi tadi jelas sekali dia datang ke mimpi ayah."
"Ayah, Eka mau tanya. Kakek ayah itu berarti kakek buyut aku?"
"Iya, kamu, kakak itu cicit atau cucu buyut. Kenapa memangnya?"
"Ingin tahu seperti apa penampilan kakek buyut Eka."
"Mbah buyut berumur sampai 140 tahun. Rambutnya digelung ke atas seperti Gajah Mada. Pakaiannya pakaian orang jawa kuno gitu sama kain. Pakaiannya warna hitam, kainnya batik coklat. Dan giginya tidak ada satupun yang tanggal atau ompong. Giginya masih lengkap semuanya."
"Oh, berarti yang tadi bangunkan Eka untuk tahajud mbah buyut. Terus mbah buyut ingatkan Eka untuk tahajud dan puasa senin kamis. Dan mulai hari ini."
"Ya sudah kalau gitu. Ayah dan Eka hari ini puasa ya."
"Iya ayah."
__ADS_1