Warisan

Warisan
Eka di sungai


__ADS_3

"Eka, ayo masuk kok malah duduk dan diam saja."


"Iya kakek. Eka masuk."


"Eka, nanti dulu. Kok suara kamu beda? Kamu sedang sakit."


Om menyadari ada yang tidak beres dalam diri Eka. Om membisikkan sesuatu ke telinga kakek.


"Oh sebentar. Kakek mau masuk sebentar. Eka tunggu disini dulu sama om ya. Temani om dulu."


"Tapi aku mau masuk kek, diluar dingin sekali. Om ikut masuk sama kita saja kek."


Eka sudah berdiri hendak ikut masuk ke dalam rumah bersama kakek.


Tapi om dengan cepat menarik tangan Eka.


"Disini saja dulu Eka. Temani om sebentar."


Om merasakan tangan Eka berpasir.


"Om, tangan Eka jangan dipegang nanti hancur."


"Masa tangan bisa hancur karena dipegang. Kamu ada-ada saja."


"Benaran om, lepasin tangan Eka. Tangan om panas. Eka bisa meleleh ini!"


"Kamu umpetin dimana Eka. Saya tahu kamu bukan Eka."


"Lepasin dulu baru nanti Eka kasih tahu. Ini Eka."


Kakek datang dengan segelas air yang sudah di doakan dan membawa tasbih.


"Eka, ini diminum airnya. Dan kalau kamu mau masuk rumah kakek. Eka harus memegang tasbih ini. Karena sebelum kamu kesini katanya kamu di ganggu di rumah."


"Eka tidak mau megang tasbih kakek. Eka mau masuk. Eka sudah ngantuk dan Eka tidak haus."


"Kalau Eka tidak mau minum, biar kakek yang minum saja."


Kakek meminum air yang dibawanya. Eka tersenyum menyeringai. Kakek dan om tahu bahwa Eka bukanlah Eka yang sebenarnya.


Kakek menyemburkan air yang dia minum ke muka Eka. Muka Eka yang terkena semburan air berubah menjadi perempuan yang mukanya hancur nyaris rata. Dan tangannya berlumuran darah.


Om yang masih memegang tangan perempuan itu merasakan lendir yang mengalir dari badan perempuan itu. Akhirnya om melepaskan tangan perempuan itu.


"Kamu bukan Eka, dimana Eka."


"Hihihihi, Eka tidak akan kukembalikan. Ia akan bersamaku karena Eka telah bertemu dengan ibu dan kakaknya."


"Tidak bisa. Eka tidak bisa bersama dengan kamu. Karena duniamu dan Eka berbeda!"

__ADS_1


"Hihihi, tidak bisa. Eka sudah senang sekarang. Kalian bisa menemukan badan Eka di sungai belakang rumah ini."


Dan perempuan itu hilang saat kakek akan menyemburkan air lagi.


Kakek segera memukul kentongan. Beberapa warga mendengar suara kentongan segera datang ke rumah kakek.


"Ada apa kek? Kakek kena musibah?"


"Tolong bantu saya. Cucu saya hilang di sungai belakang rumah ini."


"Waduh, sungai belakang rumah kakek kan seram? Kok bisa cucu kakek hilang di sungai?"


"Iya bagaimana bisa?"


"Kalian bantu kakek. Kita cari cucu kakek. Dia baru saja datang dan ternyata dibawa penunggu sungai."


"Ayo, semua Kita bantu kakek."


Mereka semua segera pergi ke arah sungai dengan kakek dan om.


Warga sekitar tahu bahwa sungai di belakang rumah kakek seram. Banyak yang suka dikasih lihat penampakan perempuan. Menjelang maghrib biasanya air sungai menjadi deras, tetapi pada pagi dan siang hari, air sungai itu menyusut.


Ada 20 orang termasuk kakek dan om, mereka berpencar menyisir sungai yang alirannya airnya tidak terlalu deras.


Om melihat siluet mbah kakung dan di sebelahnya ada tubuh Eka yang mengambang. Om segera berlari dan diikuti oleh warga juga kakek.


Warga menyenter tubuh yang sudah basah saat Om mengangkat Eka. Ada luka di dahi Eka yang menganga. Om segera menggendong Eka karena Eka masih bernapas.


"Om, Alhamdulillah Eka masih hidup."


"Alhamdulillah ya Allah."


Warga serempak menyebutkan alhamdulillah untuk Eka karena masih hidup.


"Ayo cepat segera ganti baju dan bawa ke klinik. Itu dahinya bocor. Harus segera ditangani oleh dokter."


Om menggendong Eka dan membawa ke rumah kakek dan Nenek juga tante sudah siap di rumah.


Mereka segera mengganti baju Eka yang basah.


"Terima kasih nenek dan tante."


"Sudah kamu jangan jalan, nanti di gendong sama om. Tante sedang memanggil om."


Om datang dan menggendong Eka. Om, Eka, kakek dan salah seorang warga ikut ke klinik.


Eka sedang dijahit dahinya.


"Kakek, cucu kakek itu ada yang jagain loh. Alhamdulilah dia bisa selamat."

__ADS_1


"Ya memang ada yang jaga. Kita pun juga ada yang jaga. Yang jaga kita itu Allah SWT."


"Bukan kakek. Tadi saya lihat ada sesosok kakek pakai surjan terus pakai tongkat. Rambutnya di gelung kayak Gajah Mada. Bedanya kalau Gajah Mada yang di buku-buku itu kan orangnya besar, kalau ini kayak kita, badannya seperti bapak itu."


Bapak menunjuk ke arah omnya Eka.


"Mungkin saja. Saya tadi tidak melihat ada siapa-siapa."


"Iya sih. Karena saya bisa lihat hal-hal yang tak kasat mata kek. Dan cucu kakek ini juga bisa lihat hal-hal yang tak kasat mata sama seperti saya."


"Ya mungkin saja. Cucu saya sama seperti anak-anak yang lain seumurannya. Bukan anak atau cucu yang istimewa."


"Tapi kek, cucu kakek bisa loh. Dia bisa jadi dukun hebat."


"Sembarangan saja kalau bicara. Ngga mungkin cucu saya jadi dukun. Dia masih sekolah dan di keluarga kami tidak ada yang menjadi dukun."


"Maaf, maaf kek, kalau omongan saya membuat kakek tersinggung, bukan dukun tapi orang pintar."


"Kalau pintar iya. Cucu saya pintar. Dia selalu menjadi juara di kelasnya."


"Kakek, makasih ya. Eka sudah ditolongin sama om, kakek dan warga."


"Iya, lain kali hati-hati. Ayo kita pulang, kasihan nenek dan tante sudah menunggu di rumah dengan cemas."


"Iya kakek."


Kakek, om, Eka dan si bapak pulang ke rumah."


"Namanya siapa?"


"Eka, om."


"Kamu bisa melihat setan ya?"


"Hah! Ngga om, seram amat kalau Eka bisa lihat setan bisa langsung pingsan om. Ada-ada saja si om."


Eka tertawa mendengar omongan tetangga kakek.


"Tapi om yakin, Eka bisa. Dan Eka punya penjaga yang selalu melindungi Eka. Kekuatannya besar sekali."


"Aduh si om. Penjaga Eka yang punya kekuatan besar itu Allah SWT."


'Bukan, bukan Allah. Tetapi penjaga seperti nenek moyang atau leluhur."


"Nenek moyang saya dan om sama, kalau di sekolah nenek moyang bangsa Indonesia itu dari dataran Yunan."


"Kita sudah sampai. Ayo Eka turun."


Mereka berempat keluar dari mobil. Masih banyak warga yang berkumpul di rumah kakek.

__ADS_1


"Bapak-bapak. Terima kasih semuanya atas pertolongannya tadi. Cucu saya selamat. Dan sebentar lagi sholat subuh. Mari kita sholat subuh di mushola. Dan nanti selepas isya, saya undang bapak-bapak untuk selamatan karena cucu saya terhindar dari bahaya."


Kakek mengajak para bapak-bapak untuk sholat subuh.


__ADS_2