
Martin mengajak Eka ke kantin.
"Elo mau makan apa? Gue yang bayar. Ngga usah banyak komplain."
"Tapi gue ngga lapar."
"Terserah elo, mau ngemil atau minum."
"Ya, ngomong-ngomong elo sudag sehat? Katanya Alvian, elo sakit."
"Gue kemarin malas kuliah. Tuh Alvian sama Chandra."
Martin menunjuk ke arah Alvian dan Chandra yang sedang berjalan ke arah mereka berdua.
"Tumben makan berdua aja, ngga ngajak-ngajak."
"Gue bawa Eka ke kantin daripada diri di tengah jalan depan perpustakaan kayak orang hilang arah." Seru Martin
"Ngapain diri di depan perpustakaan? Ada siapa? Atau ada apa? Kenapa ngga masuk saja. Tadi gue di dalam perpustakaan. Baru deh Alvian telpon gue ngajak ke kantin."
"Ada tangan berbulu. Dan dia ngajak terus."
"Hahahah, tangan Martin bulunya banyak dibandingkan sama Chandra dan gue."
"Kita mau makan dulu. Kamu belum ada kelas lagi kan Ka?"
"Nanti jam 2, baru ada kelas lagi."
Chandra dan Alvian memesan makanan. Eka melihat-lihat ke sekeliling dan tanpa sengaja Eka melihat ke arah perpustakaan.
"Ada yang diri disana, ada 4 makhluk. Astaghfirullah."
"Kenapa Ka? Siapa yang diri?"
"Sebentar Martin, aku harus kesana, banyak yang masuk ke perpustakaan. Mereka cari tumbal!"
Eka sudah berlari dan Martin terlambat memegang tangan Eka.
"Gue kejar Eka dulu. Elo berdua makan saja!"
Martin segera mengejar Eka.
"Eka, Eka tunggu. Itu tidak seperti yang elo lihat. Eka, Eka!"
Martin tidak sengaja menubruk beberapa mahasiswa lain yang membuatnya kehilangan Eka. Membuat Martin harus berhenti dan meminta maaf.
"Sial! Kemana Eka lari. Itu anak sudah diincar!"
Martin segera masuk ke dalam perpustakaan dan mencari Eka. Tetapi tidak di temukan. Martin melihat Eka bukan di dalam perpustakaan tapi diantara pohon-pohon bambu.
"Pak, memang di kampus ini ada pohon bambu?"
"Ada, di belakang perpustakaan."
"Tapi gimana bisa ke belakang?"
__ADS_1
"Mesti mutar dari samping ruang administrasi, nanti tinggal jalan lurus saja. Pas di belakang ada hutan kecil pohon bambu. Mau ngapain kesana?'
"Makasih pak."
Martin segera keluar dari perpustakaan. Alvian dan Chandra sudah menunggu Martin di luar.
"Ada Eka di dalam?"
"Ngga ada. Gue lihat dia di antara pohon bambu dan kalau mau kesana harus lewat samping ruang administrasi."
"What? Itu kan jauh dari perpustakaan. Elo ngga salah lihat Eka lari kesini!"
"Ngga, cuma tadi gue berhenti karena nubruk orang."
"Gini aja, kita cari ke segala arah, kalau sampai di hutan bambu tidak ada Eka. Sekarang kita ke sana aja."
"Memang gitu rencana gue, Chan."
Mereka berlari ke arah samping ruang administrasi. Dan berteriak memanggil nama Eka sambil menuju hutan bambu.
"Serius ada hutan bambu disini? Gue baru tahu."
"Chan, ngga usah bawel dulu kenapa. Cari Eka dulu."
Mereka masuk ke dalam hutan bambu.
"Awas Tin, ada ular dekat kaki elo! Diam aja jangan buat gerakan apapun. Ular hijau itu!" Alvian yang berada di belakang Martin berteriak memberitahu kalau ada ular.
"Terserah, itu ular jadi-jadian. Gue lebih kuatir sama Eka!"
"Elo ngga percaya Al. Bismillah, Allahuakbar!"
Martin mengambil ular hijau tersebut dan memegang kepala ular itu. Lalu merapal doa, seketika ularnya berubah menjadi potongan lengan yang berbulu.
"Alvian, Martin! Kesini cepat. Ini kartu mahasiswa Eka kan?"
Chandra mengambil kartu mahasiswa Eka dan terdapat bercak darah yang mulai mengering.
"Eka, Eka, dimana kamu! Alvian memanggil Eka.
" Al, daripada elo teriak-teriak habis suara elo, kita bertiga seperti biasa melakukan ritual kita."
"Ya Chan, gue setuju."
Mereka duduk bersila melakukan meditasi.
"Ayo kalian bertiga, ikut mbah kakung! Eka diikat setan monyet disini."
"Iya mbah."
Mereka berjalan mengikuti mbah kakung yang entah datang darimana dan berjalan semakin dalam di hutan bambu.
"Gue ngeri nih. Itu benaran mbah kakung bukan sih? Takutnya kita juga seperti Eka!"
"Saya benar mbah kakungnya Eka. Saya akan bantu melepaskan Eka dan kalian harus langsung pergi membawa Eka segera. Kalian siap?"
__ADS_1
"Siap mbah."
Mereka kembali berjalan yang tadi masih terlihat terang, semakin lama semakin remang-remang cahayanya.
"Ini sudah malam ya Tin. Kok gelap banget ya."
"Baru jam 2 siang. Namanya juga negeri jin, mana ada jin suka sama terang."
"Martin, Alvian, Chandra. Itu Eka. Dia pingsan. Kalian harus segera keluar dari hutan ini saat mbah tarung dengan setan monyet itu! Bawa Eka dan tidak perlu menengok kembali ke belakang. Tidak usah kuatir kalian akan tersesat. Nanti ada yang akan menuntun kalian keluar dari sini."
"Iya mbah."
"Hei! Siapa kalian!"
"Aku yang harusnya bertanya, kenapa kamu mengambil cucuku!"
"Hahahhahahah, ternyata dia cucumu! Aku suka sama anak ini! Dia punya kekuatan besar untuk diriku. Dia akan aku jadikan budakku!"
"Tidak semudah itu monyet jelek! Lepaskan cucuku sekarang juga."
Mbah kakung terbang dan segera mencekik leher setan monyet tersebut. Martin segera menggendong Eka yang pingsan. Dan mereka segera berlari.
"Martin, kalau elo keberatan gendong Eka, sini biar gue yang gendong." Alvian terdiam untuk bicara sedangkan Martin dan Chandra tetap berlari tanpa mengindahkan omongan Alvian.
"Alvian lari-lari jangan berhenti ayo." Ada sebuah suara
Dari yang remang-remang akhirnya mereka melihat cahaya kembali. Mereka tetap berlari sampai akhirnya mereka berada di samping ruang administrasi dan Eka tersadar dari pingsannya.
"Martin, turunin gue. Kenapa elo gendong gue. Malu."
Martin menurunkan Eka dan berusaha mengatur napasnya. Chandra dan Alvian juga mengatur napas mereka.
"Kalian kenapa? Seperti habis lari marathon?"
"Nanti saja gue ceritain. Ayo kita jalan ke depan. Ngga enak diri disini."
"Tin, ke kantin. Gue mau beli minum."
Mereka berempat berjalan beriringan ke kantin. Tiba-tiba Eka berhenti dan melihat jam tangannya.
"Ya ampun, gue telat masuk kelas. Ini sudah jam 4!"
"Jangan bawel. Nanti gue jelasin. Ayo ke kantin dulu."
Martin menarik tangan Eka untuk mengikuti mereka bertiga ke kantin. Alvian memesan minuman dingin untuk mereka berempat.
"Duduk didekat gue, Eka. Loe jangan lari lagi."
"Maksud kalian apa! Gue lari? Lari darimana? Gue sudah telat masuk kelas pasti gara-gara kalian."
"Mau kita jelasin gimana pun, elo pasti ngga percaya. Nanti elo tanya sama mbah elo, kenapa elo ngga masuk kelas. Dan mulai banyakin dzikir, sholat yang benar di tambah sholat tahajjud, biar jangan ada yang narik elo lagi ke alam lain. Capek tahu gendong elo sambil lari. Sampai gue kelaparan." Martin diri dan berjalan ke penjual makanan.
"Memangnya siapa yang nyuruh gendong gue!" Muka Eka terlihat kesal."
"Kakek elo! Mbah kakung elo!' Alvian dan Chandra menjawab secara bersamaan.
__ADS_1