Warisan

Warisan
Teman baru


__ADS_3

"Nama kamu Eka?"


"Iya. Saya Eka, anak baru di kampus ini."


"Sama, saya juga anak baru, kami juga anak baru. Tapi sepertinya kita beda jurusan ya."


"Saya Alvin, saya Martin dan saya Chandra. Saya dan Chandra jurusan teknik kimia dan Martin jurusan teknik fisika."


"Wah, kalian hebat. Saya akuntansi."


"Kamu sedang nunggu apa?"


"Nunggu jemputan. Sebentar lagi supirnya kakek datang."


"Apa ngga malu sudah kuliah masih di jemput kayak anak sekolah?" Martin yang terlihat cuek tiba-tiba berbicara.


"Loh, memangnya kenapa? Dan kenapa harus malu? Aku ngga buat suatu hal yang memalukan kok. Lagi pula kalau di jemput jadi ngirit ongkos."


"Eka, kamu punya bawaan ya. Dari tadi pagi aku lihat bawaan kamu orang Jawa."


"Aku memang orang Jawa."


"Maksud Alvin, kamu di jagain sama leluhur kamu dan tidak pernah pergi jauh dari kamu selalu ngikutin kamu bahkan sampai sekarang."


"Oh, mungkin."


Bagaimana mereka bisa tahu dan lihat. Ah mungkin mereka hanya iseng.


"Namanya mbah kakung, kamu biasa manggilnya mbah kakung kan?"


"Serius Tin? Elo lagi ngobrol?"


"He-eh."


"Kalian bertiga bicara apa sih? Aku ngga ngerti sama sekali?"


"Kami bertiga dari sekolah yang sama. Dan kami bertiga sama seperti kamu bisa melihat dan merasakan makhluk lain di luar dari manusia."


"Maksud kalian? Makhluk lain? Aku ngga ngerti sama sekali ngga ngerti. Eh itu jemputanku sudah datang. Aku duluan ya."


"Ok Eka, hati-hati ya."


Eka masuk ke dalam mobil.


Apa ya maksud dari mereka bertiga? Apa mereka bisa lihat mbah kakung? Apa mereka bisa juga seperti aku? Ah, mungkin mereka hanya iseng saja.


Eka menggelengkan kepalanya.


Hari ini Eka ada kuliah jam 9 pagi.


"Eka, kamu hari ini berangkat sama ayah atau sama tante?"

__ADS_1


Belum sempat Eka menjawab ada tamu datang dan mengucapkan salam. Semua yang ada di dalam membalas ucapan salam tersebut.


"Pagi-pagi sudah ada yang bertamu? Biar nenek yang buka pintu." Nenek yang sudah siap mau berdiri akhir di tahan oleh Eka yang sudah berdiri lebih cepat.


"Biar Eka saja nek."


Eka berjalan ke depan. Dan Eka kaget karena yang datang adalah Alvian, Chandra dan juga Martin.


"Kalian? Kok kalian tahu rumahku? Ada apa pagi-pagi datang ke rumahku? Kalian kemarin ngikutin aku ya?"


"Ngga, kan kamu tahu sendiri, saat kamu pulang dijemput oleh supirmu, kami masih di kampus."


"Tapi bagaimana bisa?"


"Bisa karena kita satu frekuensi." Chandra tersenyum.


"Oh gitu. Kalau gitu, masuk dulu. Dan silakan duduk."


Eka mengajak Alvian, Chandra dan Martin masuk.


"Sebentar aku buatkan minum." Eka meninggalkan tamunya dan berjalan ke ruang makan."


"Siapa?"


"Teman kampus Eka."


"Ajak makan sekalian. Pasti mereka belum sarapan. Ini belum ada jam 7 loh."


"Ngga usah nek. Biar saja. Mereka tahu-tahu datang. Biar Eka buatkan minum saja."


"Aduh nenek. Biar saja."


Eka segera mengambil teh manis yang memang selalu di buat langsung ke teko oleh nenek setiap pagi.


Eka membawa teh manis tersebut ke depan.


"Silakan diminum. Tapi aku masih bingung, kalian ada apa datang pagi-pagi ke rumahku? Dan kita beda jurusan. Aku baru ada kelas nanti jam 9 pagi."


"Ya ngga papa dong, kalau kita kesini pagi ini, karena kita mau jemput kamu kuliah. Stop jangan mikir kalau kita akan mencelakai kamu. Tidak ada sama sekali."


"Oh, baguslah, kalau kalian bisa membaca pikiranku."


Nenek dan ayah berjalan ke depan. Nenek membawa roti panggang.


"Wah, teman kuliah Eka? Ini nenek bawakan roti panggang buat kalian."


"Terima kasih nek, maaf kami membuat kerepotan pagi-pagi. Kenalkan saya Alvian, Chandra dan Martin."


Mereka bertiga memberikan salam dan menyium punggung tangan nenek dan ayahnya Eka.


"Ini ayahku dan ini nenekku."

__ADS_1


"Kalian ada apa datang pagi-pagi ke sini?" Ayah terlihat menyelidik ke arah mereka bertiga.


"Kami mau menjemput Eka, biar Eka berangkat ke kampus bareng kami."


"Oh ya? Apa kalian sudah janjian? Kok sepertinya Eka sendiri kaget dengan kedatangan kalian?"


"Belum ayah. Eka sendiri tidak tahu kalau mereka datang. Lagi pula mereka beda jurusan dengan Eka."


"Lalu maksud dan tujuan kalian menjemput Eka?"


"Begini om, saya, Chandra dan Martin sama seperti Eka."


"Maksudnya? Sama bagaimana?"


"Eka bisa melihat hal-hal yang tak kasat mata. Kami bertiga pun juga bisa om. Kemarin itu kami bertemu dengan Eka di kampus, entah gimana kami merasa akan ada hal yang aneh akan terjadi sama Eka. Karena itu kami mau melindungi Eka."


Ayah memandang mereka bertiga dan Eka secara bergantian dengan pandangan bingung."


Akhirnya Chandra buka suara.


"Gini om, kami kemarin melihat Eka diikuti oleh seorang kakek. Eka memanggilnya mbah kakung. Lalu saya sempat bicara dengan mbah kakung. Eka pun tidak percaya sama kami kalau kami sama seperti Eka. Dan kedatangan kami kesini bukan karena kami mengikuti Eka pulang ataupun mencari alamat rumah Eka. Kami bertiga satu frekuensi dengan Eka. Jadi kami tahu dimana Eka. Dan mbah kakung kemarin bilang sama saya untuk jaga Eka karena akan ada gangguan yang nantinya Eka alami. Kalaupun Eka mencoba melawan sendiri tidak akan mampu. Karena itu saya bilang sama mbah kakung akan menjaga dan membantu Eka."


Ayah dan nenek hanya mengganggukkan kepalanya.


"Ya sudah kalau gitu. Kalian pasti belum sarapan. Ayo ikut nenek, kalian harus makan sebelum berangkat kuliah."


"Tapi nek, ngga usah. Mereka bisa makan nanti di kampus."


"Hush, Eka tidak boleh pelit sama teman."


"Iya, iya. Ya sudah ayo kalian makan dulu. Aku mau siap-siap."


Nenek mengajak mereka bertiga ke ruang makan. Eka dan ayahnya masih di ruang tamu.


"Sepertinya anak ayah mulai banyak yang suka nih. Langsung 3 orang laki-laki datang pagi-pagi untuk jemput loh." Ayah senyum-senyum."


"Apaan sih. Udah deh ayah. Ini masih pagi jangan iseng."


"Hahahhaha, siapa yang iseng. Ayah senang kok. Cuma yang tadi dibicarakan sama Chandra ya namanya, ayah bingung. Apa benar mereka bisa seperti kamu? Dan bisa tahu mengenai mbah kakung. Kamu cerita ke mereka?"


"Ngga, ngapain juga cerita. Apa urusannya dengan mereka. Yang aneh itu kemarin sore saat Eka nunggu di jemput. Mereka ngajak kenalan dan mereka bilang mereka lihat mbah yang ngikutin terus kemana Eka jalan."


"Ya berarti benar, bahwa mereka satu frekuensi dengan kamu."


"Ayah ngga berangkat kerja?"


"Gampang. Ayah akan ikuti kalian sampai kampus. Biar gimana pun, ayah tidak mau ada kejadian aneh-aneh yang menimpa kamu."


"Sebenarnya Eka malas kalau harus berangkat kuliah bareng mereka."


"Jangan gitu. Mereka sampai bela-belain pagi-pagi ke sini untuk jemput kamu. Hargai mereka."

__ADS_1


"Iya, iya. Eka mau siap-siap dulu ayah."


"Ok."


__ADS_2