Warisan

Warisan
Meninggal


__ADS_3

"Abi buat nasi tumpeng untuk syukuran Fadli, karena dia bisa balik lagi."


"Inggih Pakde."


"Tante, sepertinya kita ngga jadi ke puncak ya. Eka ngerasa bahwa cewek hantu itu akan datang lagi.


"Untuk sekarang Fadli tidur akan di temani sama Pakde. Eka ngga usah kuatir."


"Iya pakde."


Fadli masih duduk di sofa dan melihat sekeliling.


"Bunda, bunda, ayah, ayah."


Suara Fadli terdengar lirih memanggil bunda dan ayah.


"Iya kakak. Ada apa? Kak Fadli mau apa?"


"Bunda, aku mau tiduran di kamar tapi badanku lemas untuk naik keatas. Aku ngga mau tidur sendiri. Aku mau di temani. Semalam aku kedinginan, gelap, dan bau amis di mana-mana. Aku takut bunda. Aku benar-benar takut."


"Iya kakak, bunda ngerti. Kakak tidur di kamar bunda saja ya. Nanti ditemani sama ayah di kamar."


"Bunda, Eka mana. Aku mau di temani Eka. Hanya Eka yang bisa bicara sama Alice agar tidak mengganggu dan mengajak aku ke dunianya."


"Eka ada di kamarnya, sedang tidur. Ada pakde yang bisa jaga kamu. Dan pakde pasti bisa bicara sama Alice."


"Tidak bunda, Alice kemarin tidak mendengar apa yang pakde minta. Sampai Alice terpental sama pakde. Terus pakde narik tanganku supaya aku ikut lari sama pakde dan pergi dari dunia Alice. Karena aku kemarin akan menikah sama Alice. Orang tuanya sudah setuju sama aku."


"Astaghfirullah kakak! Istighfar kak, istighfar. Alice itu bukan manusia seperti kita. Kamu sudah diajak ke dunianya. Dan tidak mungkin kamu menikah sama Alice. Kamu masih sekolah, masih panjang hidupmu."


"Tapi bunda, hanya Alice yang cinta sama aku. Aku beda sama Fani, aku beda sama Eka. Tidak ada yang sayang sama aku kecuali Alice


"Kakak, bunda dan ayah sayang sama kakak. Ayah dan bunda tidak pernah membedakan kalian bertiga. Kakak kembar sama Fani dan itu anugerah terbesar yang Allah berikan sama bunda. Bunda, ayah, Fani dan Eka sayang dan cinta sama kakak. Ayo dong sayang kamu jangan merasa bahwa bunda dan ayah tidak sayang dan cinta sama kakak."


"Bunda, Fani dengan gampang bisa mendapatkan pacar. Tapi aku? Semua perempuan yang aku dekati dan aku bilang aku cinta, tiba-tiba mereka semua menghindar dan tidak mau kenal sama aku lagi."


"Kak Fadli, kakak tidur di kamarku saja yuk." Eka yang baru bangun sempat mendengar pembicaraan bunda dan Fadli. Eka segera keluar dari kamarnya dan mengajak Fadli.


Karena kalau pembicaraan antara Fadli dan bunda berlanjut akan membuat Fadli kembali hilang.


"Ayo kak." Eka memapah Fadli untuk masuk ke kamarnya. Saat sampai di depan pintu. Eka melihat Alice yang tersenyum kepada Fadli dan memanggil nama Fadli.

__ADS_1


"Aduh ini cewek hantu ngga kapok ya."


"Pakde, pakde....!" Eka berteriak memanggil pakde.


Pakde yang mendengar namanya dipanggil langsung turun ke bawah.


Pakde ada diatas di kamar Fadli.


"Eneng opo? Kok teriak-teriak toh."


"Pakde, cewek hantu itu ada di kamar Eka dan tetap mengajak kak Fadli."


Ayah sedang tidur dan bunda sedang keluar sama tante. Fani sedang pergi. Ayah tidak mendengar Eka berteriak memanggil pakde.


Pakde langsung masuk kamar Eka. Dan melihat Alice yang sedang berdiri di sebelah kasur Eka.


"Kamu mau apalagi? Kamu kalau sayang sama Fadli, jangan ganggu lagi. Dunia kamu dan dunia Fadli berbeda."


"Aku hanya mau sama Fadli. Karena Fadli cinta sama aku."


"Ora ono cerita manusia cinta sama hantu. Kamu terlalu berharap banyak. Apa yang kamu mau? Cepat kasih tahu dan jangan ganggu lagi ponakanku!"


Pakde segera mengambil air yang sudah dibaca sebelumnya dan air itu diperciki ke seluruh kamar tidur Eka.


Alice pergi saat Pakde memerciki air.


"Sudah pergi, Fadli biar sama Pakde saja. Kamu istirahat. Tenagamu terkuras. Karena akan ada hal lain yang lebih menakutkan untuk kamu, Eka. Pakde tidak bisa katakan. Tapi kamu akan tahu dalam waktu dekat ini. Kita hanya bisa berserah sama Allah."


"Ayo Fadli, ikut sama pakde ke kamarmu. Kita istirahat disana biar Eka juga bisa istirahat. Pakde tahu, kamu belum sepenuhnya kembali. Masih ada yang tertinggal di sana. Yang penting kamu banyak sholat dan bacaan."


"Iya pakde."


Pakde dan Fadli naik ke atas. Tinggal Eka sendirian. Bunda dan tante masih belum pulang Kak Fani juga. Eka masuk kembali ke kamar. Eka tertidur. Baru saja 5 menit tertidur, Eka merasa ada yang menggoyangkan kasurnya. Eka membuka mata. Ternyata ada Alice dan orang tuanya. Mereka bertiga menyeringai ke Eka.


"Jika kami tidak bisa membawa Fadli, maka sebagai gantinya, kami akan membawamu sampai Fadli datang kepada kami dan ikut dengan kami."


"Tidak bisa, dunia kalian berbeda dengan kami semua. Kalian jangan ganggu keluarga kami."


"Alice sedang mengandung anak Fadli. Dan kami mau Fadli bertanggung jawab "


"Tidak mungkin kakakku menghamili Alice, bagaimana mungkin. Lebih baik kalian pergi. Aku tidak akan ikut dengan kalian. Aku punya Allah. Maka aku mengikuti Allah bukan mengikuti kalian."

__ADS_1


"Silakan saja mengikuti Allah mu atau Tuhan mu, Tetapi kami tetap akan membawa Fadli."


.


Mereka mengikat Eka di tempat tidur. Dan mereka hilang dari kamar Eka.


Eka yang terikat berusaha melepaskan diri. Eka berteriak minta tolong pun sia-sia karena tidak ada yang datang. ke kamarnya. Eka membaca surat An-Nas, semua surat yang dia tahu, dia baca agar ikatannua terlepas. Sudah hampir 1 jam tetapi tidak bisa terlepas sama sekali.


"Eka, Eka bangun ya, sebentar lagi waktunya sholat dhuhur. Ayo Eka sayang."


Eka terbangun karena badannya digoyang-goyang bunda.


Eka menarik napas lega, ternyata ia bermimpi. Eka bangun dari tempat tidurnya.


"Bunda baru pulang?"


"Dari jam 2 tadi, terus mau bangunin kamu kasihan jadinya bunda biar dulu. Baru deh bunda bangunin. Kak Fadli diatas sama pakde?"


"Iya bunda."


"Bangunin kak Fadli sama Pakde, kita sholat bareng ya. Fani tadi ijin pulang setelah maghrib."


"Iya bunda."


Eka langsung keluar kamarnya dan naik keatas.


Eka mengetuk kamar Fadli, tetapi tidak ada jawaban. Akhirnya Eka membuka pintu kamar Fadli.


Eka mencium bau amis yang sangat menyengat. Eka menyentuh tangan pakde untuk membangunkan pakde. Tangannya pakde dingin. Eka coba membangun Fadli, dan ternyata sama, kaki Fadli dingin. Eka berpikir karena AC, biasanya kalau AC mati, kak Fadli langsung bangun. Eka melihat AC tidak nyala, tetapi kenapa Pakde dan Fadli dingin. Eka menyentuh hidung Fadli, juga sudah dingin. Eka mulai panik. Eka memegang pergelangan tangan Fadli yang sudah dingin berusaha untuk mengecek nadi, sudah tidak ada detak. Begitupun dengan pakde. Eka langsung lari turun dan berteriak.


"Ayah, bunda, ayah, bunda! Ayo ayah ke kamar kak Fadli. Fadli dan Pakde. Fadli dan pakde."


"Tenang Eka ada apa? Tarik napas."


"Tolong ayah, tolong Fadli dan pakde."


Ayah merasa ada yang tidak beres. Ayah langsung naik ke atas dan masuk ke kamar Fadli. Ayah melakukan hal yang sama seperti Eka. Ayah langsung ambruk dan menangis.


Tante segera menelpon dokter klinik depan untuk datang. Bunda pingsan. Eka mengucapkan Al-Fatihah buat Fadli dan Pakde.


Tidak berapa lama dokter datang dan memeriksa Fadli dan Pakde. Dan ternyata Fadli dan Pakde sudah meninggal 1, 5 jam yang lalu.

__ADS_1


__ADS_2