Warisan

Warisan
Jiwa Bunda diambil


__ADS_3

Ayah baru pulang jam 9 pagi dari rumah sakit.


"Ayah, bagaimana Pak Edo?


" Diopname Bunda, dan ayah akan tanggung jawab untuk biaya pengobatannya".


"Iya Ayah, semoga Pak Edo segera sembuh".


" Anak-anak bagaimana berangkat sekolahnya? "


"Eka di antar oleh Fani. dan Fadli pakai mobil Bunda".


"Ayah mandi, terus berangkat kerja".


"Iya Ayah, mau pakai air hangat atau air biasa untuk mandi?"


"Hangat Bunda".


" Tunggu sebentar Bunda siapkan."


"Iya, terima kasih Bunda."


Bunda segera memasak air.


Entah bagaimana air yang sedang ditampung dalam panci berubah menjadi berwarna merah


"Ayah...ayah... tolong... tolong....Astagfirullah...Ya Allah... Ayah.... ayah...!"


Bunda berteriak panik karena selain air yang berwarna merah, Bunda melihat di lantai banyak belatung sampai menutupi lantai dan bunda sudah diatas jongkok diatas kursi.


Ayah yang mendengar teriakan Bunda langsung berlari ke dapur. Ayah melihat Bunda mengucapkan Astagfirullah berkali-kali.


"Bunda...bunda... Ada apa? Itu air di panci sudah penuh".


Ayah mematikan air. Bunda yang dari tadi menunduk dan saat melihat ayah, Bunda pingsan. Untungnya ayah dengan cepat menangkap Bunda sehingga Bunda tidak jatuh ke lantai dengan posisi berjongkok diatas kursi.

__ADS_1


Ayah membawa Bunda ke kamar dan membasuhkan minyak kayu putih di sekitar hidung. Ayah menunggu sampai Bunda siuman. Tidak berapa lama Bunda siuman. Ayah segera memberikan air putih ke Bunda. Setelah Bunda tenang ayah menanyakan kepada Bunda apa yang terjadi.


"Bunda tadi menyalakan air di panci untuk ayah mandi tiba-tiba airnya berubah menjadi merah seperti darah dan di lantai banyak belatung sampai penuh lantainya dengan belatung. Jijik banget ayah."


"Sekarang kita sholat ya Bunda. Kita ambil wudhu. Bunda bisa bangun?"


"Iya ayah. Bisa."


Bunda bangun dan berjalan agak terhuyung. Ayah menuntun Bunda supaya tidak jatuh lalu mereka mengambil wudhu dan sholat.


"Ayah hari ini kerjakan?"


"Bunda gimana? Bisa ayah tinggal? Atau Bunda tidak berani di rumah sendiri? Kalau ngga ayah hari ini tidak masuk kerja. Ayah tidak mau nanti bunda kenapa-napa kalau sendiri."


"Ngga papa Ayah, Bunda bisa sendiri, dan kalau ada apa-apa Bunda akan telpon ayah. Lagipula anak-anak pulang sekolah 3 jam lagi. Jadi aku bisa siapin makan siang buat anak-anak."


"Ya sudah, kalau gitu, ayah berangkat ke kantor. Ayah mau mandi dulu".


"Iya, bunda siapkan baju ayah dan makan untuk ayah".


Ayah keluar dari dapur dan masuk kamar mandi. Bunda masih di kamar dan menyiapkan baju buat ayah. Baru saja bunda mau keluar kamar tiba-tiba ayah masuk dan mengunci pintu.


"Ayah, kenapa dikunci kamarnya. Bunda mau siapin makanan untuk ayah."


Ayah melihat Bunda dan langsung memeluk Bunda, menciumi wajah dan leher bunda membuat Bunda merasa geli.Ayah melihat bunda dan hendak mencium bibir bunda, tiba-tiba pintu kamar diketuk.


"Bunda.... bunda....kok pintunya dikunci. Ayah mau masuk ini mau pakai baju. Bunda... bunda..."


Bunda mendengar suara ayah dari luar kamar yang masih mengetuk pintu. Dan Bunda memalingkan mukanya ke arah pintu dan melihat ke ayah yang sekarang lagi memeluknya. Saat Bunda melihat siapa yang memeluknya. Bunda berteriak


"Astaghfirullahal’adzim Alladzi La Ilaha Illa Huwal Hayyul Qoyyumu wa Atubu Ilaihi" Bunda mengucapkan berkali-kali


Bunda melihat wajah di depannya yang ternyata bukan ayah. Wajah orang itu terlihat seram dan berbadan hitam.


Astaghfirullahal’adzim Alladzi La Ilaha Illa Huwal Hayyul Qoyyumu wa Atubu Ilaihi."

__ADS_1


Bunda berusaha sekuat tenaga melepaskan diri dari pelukan makhluk yang menyeramkan itu. Ayah mendengar Bunda ber istighfar segera memdobrak pintu kamar dan akhirnya jebol.


Ayah terkejut melihat Bunda yang berdiri mematung tanpa berkedip. Ayah memeluk Bunda tetapi tidak ada balasan.Seluruh tubuh bunda kaku dan matanya terbelalak seperti kaget. Ayah mencoba menggendong bunda dan Ayah seperti mengangkat kayu. Pelan-pelan ayah membaringkan badan bunda yang kaku seperti kayu. Yang terasa hanya napas saja


Ayah segera memakai baju dan ber istighfar di telinga Bunda dan berdzikir. Tidak berapa lama Fadli dan Fani datang. Mereka melihat mobil ayah di rumah. Mereka masuk dan mengucapkan salam tetapi tidak ada balasan. Fadli dan Fani masuk saat melewati kamar Ayah dan Bunda mereka terkejut, pintu kamar rusak dan ayah sedang berdzikir di telinga Bunda. Dan melihat mata bunda yang terbelalak.


Fani merasa ada sesuatu ia segera mengajak Fadli untuk berganti baju dan mengambil wudhu. Mereka tidak menghiraukan perut mereka yang lapar. Setelah itu mereka sholat di kamar ayah dan bunda.


Fani dan Fadli mendekati Bunda dan memegang tangan bunda dan terasa dingin. Fani dan Fadli tidak bisa bertanya pada ayah nya. Fani segera menelpon kakek dan nenek juga menelpon adik-adiknya ayah untuk datang segera ke rumah.


Fadli mengikuti ayah yang masih berdzikir. Dan Fani pun ikut serta berdzikir setelah selesai menelpon.


Kakek, Nenek dan adiknya Bunda datang, mereka langsung masuk karena tidak ada jawaban saat mengucapkan salam. Mereka bertiga kaget melihat Abi, Fadli dan Fani berdzikir di samping Bunda. Mereka kaget melihat bunda. Mereka bertiga memeluk bunda dan menangis. Nenek berusaha menggoyangkan tubuh bunda tetapi sekali lagi nenek kaget karena tubuh anaknya kaku seperti kayu. Kakek menelpon Kyai untuk datang. Satu persatu adik-adiknya ayah datang. Mereka semua berdzikir kecuali kakek dan adiknya ayah yang bungsu sedang menunggu kedatangan Pak Kyai dan Eka.


Eka tidak tahu kejadian di rumah, hari ini Eka ada ekstra pelajaran dan baru pulang sore.


Sejak tadi pagi di sekolah entah kenapa Eka gelisah tapi entah apa. Eka merasakan ada yang hilang tetapi bukan meninggal seperti ada yang pingsan tapi bukan pingsan, koma tapi bukan koma. Selesai pelajaran ekstra Eka segera pulang ke rumah. Eka melihat di depan rumah sudah banyak mobil dan motor. Eka masuk dan saat melewati taman, Eka berhenti. Eka melihat sosok Bunda sedang di tarik oleh laki-laki hitam dan penuh bulu.


"Hei, lepasin bunda. Urusan kamu sama saya bukan sama Bunda". Eka mendekati sosok tersebut dan menarik bundanya agar terlepas dari sosok itu.


Nenek yang mendengar teriakan Eka langsung berlari keluar diikuti oleh Fani dan adiknya ayah. Mereka melihat Eka seperti sedang menarik sesuatu, tetapi mereka tidak melihat karena hanya Eka yang dapat melihat.


"Nenek, Kak Fani dan Om, tolong doa ikutin kata-kata Eka yah biar bunda bisa terlepas dari sosok ini! Astaghfirullahal’adzim Alladzi La Ilaha Illa Huwal Hayyul Qoyyumu wa Atubu Ilaihi".


Mereka bertiga serentak mengikuti kata-kata Eka. Kakek dan pak Kyai keluar melihat Eka. Pak Kyai tahu bahwa Eka sedang berusaha menarik Ibunya agar jiwanya tidak diambil sosok hitam itu. Pak Kyai berdoa dan Eka mengikuti dan lainnya juga.


Tiba-tiba terdengar teriakan Bunda dari dalam


"Astaghfirullahal’adzim Alladzi La Ilaha Illa Huwal Hayyul Qoyyumu wa Atubu Ilaihi. Allahu Akbar."


Pak Kyai segera berdoa untuk menangkap sosok hitam itu agar tidak mengganggu keluarga Eka lagi.


Nenek dan Fani masuk ke dalam saat mendengar Bunda berteriak. Yang ada di luar tinggal Pak Kyai, Kakek, Eka dan Omnya.


Sosok itu tiba-tiba menghilang berbarengan dengan azan maghrib.

__ADS_1


Mereka masuk ke dalam rumah dan sholat maghrib bersama-sama termasuk bunda walaupun dengan tiduran karena Bunda belum kuat untuk berdiri.


__ADS_2