
Eka ikut ekstrakurikuler pramuka. Jumat besok akan diadakan persami (perkemahan sabtu minggul di sekolahnya. Eka sebenarnya malas untuk ikut tetapi harus ikut karena akan ada penilaIan. Dan Eka sudah tahu bahwa di sekolahnya banyak makhluk-makhluk yang tidak bersahabat walaupun tidak semua.
Jumat setelah pembukaan persami, Eka dan regunya juga beberapa regu yang lain menempati ruang kelas 2B untuk menaruh tas dan peralatan pramuka mereka. Wisnu tidak ikut pramuka, karena baru 2 hari yang lalu bertemu di warung bakso dan hari ini Wisnu tidak masuk sekolah karena sakit dan Eka tidak tahu kalo Wisnu tidak masuk. Saat sedang berganti baju untuk tidur, Eka melihat Wisnu sedang duduk di bangku deretan tengah.
"Wisnu! Kamu ngapain disini! Keluar kamu ini ruang khusus regu perempuan!" Eka memandang Wisnu yang tersenyum dengan pandangan marah. Sementara teman-teman yang sebagian sudah berganti baju dan mengobrol bingung melihat sikap Eka dan menyuruh Wisnu keluar, padahal mereka semua tidak melihat ada Wisnu.
"Eka, jangan teriak-teriak, kita disuruh tidur sama kakak pembina, karena nanti jam 11 malam kita dibangunin untuk jurit malam. Kamu aneh. Dan Wisnu hari ini tidak masuk karen sakit". Jeni teman sekelas Wisnu keaal sama Eka karena teriak-teriak.
"Maaf, teman-teman, aku ngga tahu".
"Anak aneh". gumam teman-teman Eka.
"Ayo tidur semua". Jeni meminta teman-temannya tidur.
Ada yang langsung tertidur, ada yang masih ngobrol dengan berbisik-bisik. Sedangkan Eka yang tidur paling pinggir dekat pintu masuk melihat ada sesosok perempuan menatap tajam kearahnya. Eka berusaha memejamkan mata. Tetapi ternyata Eka merasa perempuan itu berdiri di samping badannya. Eka hanya diam dan berdoa dalam hati. Perlahan-lahan suara teman-teman yang tadi mengobrol sudah hilang, Semua temannya sudah tidur. Hanya Eka yang masih terjaga. Eka melihat ke jendela ada beberapa pasang mata yang sedang melihat ke Eka. Eka berusaha mengalihkan rasa takutnya, bahwa yang melihat ke ruangan inj adalah kakak pembina pramuka.
Jam 10.30 terdengar bel sekolah dibunyikan, beberapa teman Eka terbangun karena bunyi bel tersebut. Dan mengganti baju mereka dengan baju pramuka termasuk Eka.
__ADS_1
Jam 11.00 semua pramuka yang ikut kegiatan persami berkumpul dilapangan. Eka melihat pohon akasia di dekat ring basket dan tidak sengaja menatap kedahan pohon akasia. Eka terkejut dan mundur 2 langkah membuat teman yang dibelakang Eka terjatuh. Eka melihat sesosok laki-laki yang sedang duduk di dahan dan kakinya menjuntai tetapi memakai kain kafan. Eka berpikir kakak pembina sudah diatas saja, sebenarnya Eka tahu bahwa itu bukan kakak pembina. Tetapi Eka berusaha untuk mengalihkan rasa takutnya. Ia masih merasa aman karena banyak teman-teman dan kakak pembina dan juga guru-guru.
Jam 11.15 regu pertama sudah mulai berjalan, dan mereka mengelilingi area sekolah. Sekolah Eka terdiri dari 2 tingkat dan gedung sekolahnya membentuk huruf U, terdapat 2 lapangan, lapangan yang ditengah dipakai saat upacara bendera dan lapangan basket ada di area belakang gedung. Regu Eka mendapat giliran jalan ke 5 dengan jarak waktu 10 menit setiap grup. Setiap grup diberikan 2 senter dan harus melewati ada 10 pos yang setiap pos ada 2 orang kakak pembina dan 1 guru. Sedangkan kakak pembina yang tidak berjaga di pos bertindak sebagai kalong, yang menjaga setiap regu yang berjalan mengelilingi area sekolah tanpa diketahui.
Saat Eka dan regunya berjalan, di sebelah Eka berdiri anak kecil dengan rambut panjang tetapi matanya hitam. Eka berada di barisan tengah. Eka berusaha menahan dirinya agar tidak berteriak. Sepanjang pos 1 sampai pos 3 tidak ada masalah. Eka masih bisa menahan. Untuk ke pos 4, harus melewati tangga, Eka melihat ada sesosok perempuan sedang duduk di bagian tengah anak tangga. Teman-teman yang tadinya berjalan berbaris tiba-tiba tidak ada yang mau jalan paling akhir. Akhirnya Eka yang berjalan paling akhir. Semuanya berjalan dengan lampu senter dan Eka karena berjalan paling akhir menyorotkan lampu senter kearah depan agar teman-temannya tidak tersandung. Saat melewati perempuan yang sedang duduk di tengah, tiba-tiba tangan perempuan itu mencengkram kaki Eka, sehingga Eka tidak dapat berjalan. Teman-temannya yang sudah dilantai 2 tidak menyadari bahwa Eka tertahan di tangga, teman Eka yang di depan Eka menyadari bahwa Eka belum ada di barisan.
"Teman-teman, berhenti, Eka ngga ada, bukannya tadi dia dibelakang aku? Kita lihat lagi ke tangga takutnya Eka jatuh". Tiur memberitahu teman-teman regunya.
Mereka bersma-sama balik ke arah tangga dan melihat Eka yang sedang berusaha untuk naik ke tangga selanjutnya, tetapi tidak bisa bergerak dan menghentakkan kakinya agar tangan perempuan itu melepas kakinya. Teman-teman Eka segera berlari kearah Eka dan berusaha menarik dan mendorong Eka, tetapi tidak bisa.
"Mbah Kakung. Eka lemes kakinya dipegang sama perempuan itu".
Eka melihat Mbah Kakung menyeret perempuan itu sambil berteriak-teriak marah, sedangkan kakak pembina yang membantu Eka menyadari bahwa Eka seperti dirinya. Karena kakak pembina itu juga melihat Mbah Kakung Eka. Guru dan kakak pembina yang lain membawa Eka naik tangga dan memapah Eka, karena Eka terlihat lemas. Teman-teman Eka bingung apa yang terjadi dengan Eka. Akhirnya Eka tidak melanjutkan jurit malamnya, Eka duduk di pos 4 ditemani guru dan kakak pembina, sekujur tubuh Eka basah oleh keringat karena tadi ia berusaha melepaskan cengkraman perempuan itu, sedangkan teman-temannya melanjutkan jalan jurit malam sampai selesai di pos 4.
Kakak pembina yang tadi membantu Eka mendatangi Eka.
"IVan, anak itu kenapa? tanya Sinta ingin tahu.
__ADS_1
"tulang harum tapi belum bisa ngontrol. Tapi dia dijagain sama Mbah Kakungnya". Ivan menjelaskan kepada Sinta.
"Sebaiknya Eka istirahat saja. Besok bapak akan menelpon orang tuamu untuk jemput kamu". ucap Pak Hadi yang kuatir dengan kondisi Eka.
"Pak Hadi, maaf. Besok Wisnu meninggal Pak. Wisnu yang anak baru pindah dan di kelas 2B. Tadi Eka lihat Wisnu di kelas sedang duduk mukanya sedih. Pak Hadi kan wali kelas 2A".
Eka memberitahu Pak Hadi mengenai penglihatan batinnya bahwa Wisnu meninggal.
"Eka kamu istirahat saja jangan ngomong yang tidak-tidak, Bapak tidak suka! Wisnu hari ini memang tidak masuk karena demam".
"Maaf Pak Hadi, Eka ngga ngomong bohong. Eka lihat Wisnu meninggal kecelakaan sama ayahnya, mereka ditabrak sama mobil yang berjalan kencang tadi jam 10 malam". Eka menjelaskan kepada Pak Hadi
Ivan yang melihat Pak Hadi sudah marah segera menarik Pak Hadi menjauh dari pos 4
"Pak, maaf. Eka anak indigo, Pak. Tadi kakinya di cengkram sama sosok perempuan ditangga. Dan perempuan itu makhluk tak kasat mata. Mengenai anak murid bapak yang bernama Wisnu, kita tunggu kabar saja besok. Tahan emosi bapak. Eka masih belum bisa mengontrol Pak".
Ivan menjelaskan kondisi Eka kepada Pak Hadi membuat Pak Hadi mengerti. Saat mereka kembali ke pos 4, mereka melihat Eka tertidur. Sedangkan Ivan melihat sosok Mbah Kakung Eka yang tersenyum kepada Ivan.
__ADS_1