
Eka dan keluarga sudah mulai terbiasa dengan penghuni rumah mereka selama mereka tidak mengganggu.
Sudah 2 hari ayah terbaring di rumah sakit karena operasi batu ginjal. Malam ini tugas Eka yang menjaga ayah, besok Eka libur sekolah. Di sebelah ayah ada pasien lain, masih muda. Eka tidak tahu dia sakit apa. Karena hanya tertidur saja saat Eka datang. Sudah jam 11 malam, ayah sudah tertidur, rasa kantuk mulai menyerang Eka. Saat mulai terlelap, ada yang menyentuh bahu Eka
"Dik, bisa tolong panggilkan suster? Eka melihat mas yang disebelahnya sudah berdiri di samping Eka, dan tidak ada selang infusan dj tangan, juga tidak memakai kabel yang tadi Eka lihat dipasang di kepala masnya.
"Bisa Mas, sebentar".
"Terima kasih Dik".
"Sama-sama Mas
Eka segera memencet tombol untuk memanggil suster. Tidak berapa lama suster datang ke Eka.
"Ada apa Dik, kamu tadi yang memencet tombol. Ada apa dengan ayahmu" suster melihat ayah Eka masih tertidur.
"Maaf suster, Mas yang di sebelah tadi membangunkan saya, dia tadi bangun dan berdiri di sebelah saya, minta tolong untuk dipanggilkan suster, jadi saya pencet tombolnya di atas tempat tidur ayah saya".
"Mas yang di sebelah sini?" Suster menunjukkan ke sebelah yang di tutup tirai.
"Iya suster, Mas yang satu ruangan sama Ayah saya".
Suster kaget tapi tidak bicara apapun. Suster segera ke tempat masnya, dan mengecek kondisi masnya. Ada beberapa suster yang masuk ke ruangan dan membantu suster yang pertama. Sementara Eka melihat dengan bingung akhirnya ia menutup tirai kembali.
Mas yang disebelah meninggal, dan suster yang datang pertama kali bingung dengan omongan Eka, karena masnya berdiri disebelahnya dan minta dipanggilkan suster.
Jam 03.00 pagi, kegaduhan yang dibuat pasien di sebelah ayahnya selesai. Eka tidak dapat tidur lagi. Jam 03.30, ayah bangun dan melihat Eka yang masih berdzikir.
"Eka, kamu tidak tidur semalam, kenapa?".
"Ngga ada apa-apa ayah". Eka minta sama Allah semoga ayah cepat keluar dari rumah sakit dan bisa sehat lagi".
"Ayah mau minum".
"Ini ayah". Eka segera memberikan gelas yang ada sedotannya supaya ayahnya bisa minum".
"Ayah, Eka mau ambil wudhu dulu, terus sholat subuh".
Ayah mengangguk. Eka segera ke kamar mandi dan saat keluar dari kamar mandi, Eka sempat melihat ke sebelah ternyata sudah bersih dan tidak ada lagi masnya yang tadi terbaring di tempat tidur sebelah ayahnya.
__ADS_1
Mungkin pindah kamar, batin Eka.
Eka menyibak semua tirai agar ayahnya mendapatkan sinar matahari.
"Loh, mas yang kemarin disini kemana Eka". tanya ayah karena tempat tidurnya sudah kosong
"Sudah meninggal semalam ayah dan sempat bangunin aku untuk manggil suster. Nanti siang ada yang masuk ke kamar ini, tapi baru 3 hari, nanti dia balik lagi ke ruang ICU". Eka berbicara tanpa ekspresi.
Ayah hanya menggelengkan kepalanya melihat anaknya yang berbicara dengan datar.
Eka tahu bahwa mas yang semalam sudah meninggal, karena tadi Eka melihat masnya datang dan mengucapkan terima kasih kepada Eka.
Bunda dan kakaknya datang membawa makanan buat Eka.
"Nanti malam yang jaga ayah kak Fadli ya" ucap bunda.
"Iya".
"Bunda, aku keluar sebentar yah, aku mau keliling rumah sakit".
"Jangan buat ulah ya Eka. Fani temenin adiknya".
"Kak Fani, kita ke lorong sebelah sana yuk".
"Eka, tadi bunda bilang apa? Jangan buat ulah".
"Eka cuma mau jalan ke lorong itu saja kak".
"Udah, ayo balik ke kamar ayah. Aku ngga mau kamu buat ulah di rumah sakit. Kasihan ayah dan bunda".
Fani segera balik badan diikuti oleh Eka dengan wajah cemberut.
"Aduh". Eka tiba-tiba terjatuh
Kak Fani mendengar Eka teriak aduh segera membalikkan badannya dan melihat Eka jatuh telentang seperti terpeleset.
"Eka, kamu kalau jalan hati-hati" Fani membantu Eka berdiri.
"Aku ditarik sama Mbaknya itu?" Eka menunjukkan arah belakangnya.
__ADS_1
"Ngga usah bercanda, ini di rumah sakit" Fani tidak melihat ada perempuan yang dipanggil mbak sama Eka.
"Mbak, jangan pegangin Eka, Eka mau jalan nyusul kakak". Perempuan itu masih memegang bahu Eka yang hendak menyusul kakaknya.
"Kakak, tungguin Eka, Eka ngga bisa jalan!" Eka langsung membaca ayat Al-Quran agar mbaknya tidak bisa lepas.
Fani segera berlari mencari seseorang yang bisa membantu Eka. Fani merasa ketakutan saat Eka bilang ada mbak di belakang Eka. Fani hanya bisa merasakan tapi tidak melihat.
Eka tidak berhenti membaca ayat Al-Quran, sedangkan Mbaknya masih memegang bahu Eka dan membuat bahunya sakit. Eka melihat Kak Fani datang dengan satu orang satpam dan satu bapak.
"Pak, ini adik saya, ia ngga bisa jalan karena katanya ada yang memegang bahunya".
Pak Satpam memandang bapak tua lalu bapak tua itu melihat Eka dan terkejut karena yang memegang bahu Eka adalah jenazah perempuan yang baru sampai dan bapak itu yang mengambil jenazah perempuan itu dan temannya di sebuah rumah dan kondisinya sudah membusuk.
"Bapak dan Pak Satpam, tolong bantu Eka, bahu Eka sakit dipegang sama mbak Ini, dan mbaknya bau sekali. Eka pengen muntah".
Bapaknya mendekati Eka dan memegang bahu Eka, Eka tidak berhenti membaca ayat Al-Quran, sampai akhirnya bisa terlepas, karena Mbah Kakung datang dan Eka senang karena Mbah Kakung datang yang membantu bapak itu.
"Mas dan adiknya lain kali jangan jalan-jalan di sekitar lorong ini. Untungnya ada mbahnya mas dan adik yang datang membantu saya" ucap bapaknya yang masih mengatur napas.
"Mohon maafkan kami Pak Satpam dan Pak Burhan". ucap Fani.
"Saya dan adik saya Eka mengucapkan Terima kasih karena sudah ditolong".
"Lain kali adik hati-hati ya, tulang adik harum jadi banyak hal yang tak kasat mata mau mengganggu adik. Perbanyak ngaji, sholat dan dzikir. Ya sudah sana balik ke kamar orang tua kalian. Kasihan mereka yang mungkin sudah menunggu kalian. Adik, kamu dijaga sama Mbahmu, jangan buat susah dan jangan sombong ya".
"Baik Pak Burhan, maafin Eka yah. Assalamu'alaikum Pak Burhan dan Pak Satpam".
Waalaikumsalam". ucap Pak Burhan dan Pak Satpam.
Pak Burhan melihat kepergian Fani dan Eka.
"Untungnya anak itu rajin sholat dan ngaji juga dzikirnya, dan kakeknya menjaga anak itu. Ayo lanjut ngopinya, baru mau ngopi ada aja".
"Iya Pak Burhan, mungkin kalau anak lain sudah kesurupan yah Pak?"
"Wallahu 'alam" ucap Pak Burhan
"
__ADS_1