Warisan

Warisan
Perpustakaan


__ADS_3

Eka terdiam di kamarnya rasa sakit di kepalanya masih terasa.


"Eka, kamu tidak sholat?"


"Lagi ngga nek. Eka lagi dapat."


"Ya, nenek sholat ya. Kamu istirahat, muka kamu pucat."


"Iya nek."


Alvian dan Chandra sudah di rumah Martin.


"Al, cerita. Jadi tadi sore si Eka kenapa?"


"Tahu perpus kampus kan? Jadi tadi gue ke perpus dan ketemu Eka juga ngobrol-ngobrol. Selesai dia mau balikin buku ke rak. Terus gue sempat lihat ada makhluk tinggi gede di belakang Eka. Gue panik, gue teriak tapi Eka ngga dengar terus gue cari-cari Eka ngga ada. Gue ke penjaga dong, minta tolong. Kita cari Eka tetap ngga ada. Sampai ada pintu katanya gudang. Feeling gue Eka di dalam. Gue minta sama penjaga perpus untuk buka dan dia bilang di kunci. Pas di buka Eka ada di dalam sudah pingsan terus dari hidung Eka keluar darah."


"Udah gitu doang?" Martin yang sedang bermain game menyahut.


"Nah terus gue suruh gimana? Ya gue bawa Eka ke ruang kesehatan lah."


"Elo ngga peka? Itu Eka diincer sama jin perpustakaan. Masa harus gue yang turun tangan."


"Ah, sombong elo, Tin. Kalau berani besok kita bertiga ke perpustakaan gimana?"


"Makanya peka, peka, muka doang ganteng tapi ngga peka!"


"Anjir!"


Eka berjalan mengembalikan buku yang tadi dia baca. Selesai menaruh kembali buku di rak paling belakang. Ada tangan berbulu yang menarik Eka.


"Hei! Lepasin tanganku! Alvian, Alvian, pak Nug, pak Nug, tolong, tolong!" Sekujur tubuh Eka berkeringat karena ada tangan berbulu yang menarik kakinya juga membuat Eka terjatuh.


Eka segera berdzikir, tetapi tangan berbulu yang menarik semakin banyak. Eka berusaha berteriak tapi suaranya tidak terdengar. Sesosok tinggi besar berdiri diatas Eka yang terjatuh dan memukul kepala Eka berkali-kali. Eka berusaha bangkit dan ada makhluk yang lebih seram lagi memukul kepala Eka dan membuat Eka pingsan.


"Hah, hah, hah..." Eka terbangun, sekujur tubuhnya berkeringat padahal di kamar AC menyala. Eka melihat jam 02.00 pagi.


Ada apa ya di perpustakaan kampus?Hari ini aku kuliah jam 8 pagi. Kepalaku masih sakit sekali. Apa yang terjadi sama aku ya Allah, kenapa aku seperti di tutup? Ya Allah, ku serahkan segalanya kepada Engkau.


Eka tidak bisa tidur lagi. Eka mendengar suara ketukan di jendela kamarnya sebanyak 3 kali.


Jam 03.00, siapa yang mengetuk jendela kamarku?


Prangg!!!


"Aaaaaarrrrggghhh! Astaghfirullah, astaghfirullah, tangan itu lagi! Ya Allah, ya Allah. Pergi! Pergi! Astaghfirullah, astaghfirullah!"


Jendela kamar Eka pecah sampai membuat Eka loncat dari tempat tidur dan teriak.


Teriakan Eka membuat seisi rumah bangun. Mereka langsung masuk ke kamar Eka.

__ADS_1


"Eka, kamu kenapa! Kenapa Eka! Ada apa?"


"Itu ayah, itu di jendela ada tangan berbulu. Tangan yang sama seperti tadi sore di perpustakaan kampus."


"Jendela kamarnya pecah. Hati-hati. Abi ayo kita ke samping rumah. Takutnya ada maling."


Ayah dan kakek keluar dari kamar Eka. Diikuti oleh pak supir berjalan ke samping rumah.


"Eka, ini minum dulu, biar kamu tenang. Tante memberikan air kepada Eka."


Nenek yang duduk di sebelah Eka memeluk Eka.


"Kamu kedinginan Eka, kenapa merinding semua? Ada apa Eka, cerita sama nenek."


"Nanti ya nek. Eka, Eka takut nek. Eka benar-benar takut nek! Ada kekuatan jahat yang mengganggu Eka, tapi Eka tidak tahu itu apa, mata bathin Eka seperti di tutup."


"Tenang ya. Kita semua disini. Berserah sama Allah ya sayang, minta perlindungan sama Allah."


"Iya nek, maaf karena tadi Eka teriak sampai membangunkan semua orang."


"Tidak papa sayang. Sekarang kamu harus lawan rasa takutmu. Takut hanya kepada Allah SWT. Mereka mengusik kamu. Semakin kamu takut maka mereka akan semakin mengganggu."


"Ngga papa sayang. Eka mau tidur lagi?"


"Ngga nek. Itu sudah azan subuh."


Mereka semua sholat subuh kecuali Eka yang tidak sholat.


"Kamu pucat Eka. Lebih baik tidak usah masuk dulu."


"Tapi ayah, Eka harus masuk karena ada tugas dari dosen yang harus di kumpulkan."


"Ya sudah. Tapi nanti setelah pak supir antar ayah dan kakek ke kantor, ayah akan minta pak supir nunggu kamu di kampus."


"Iya."


Alvian, Martin dan Chandra berangkat ke kampus bareng.


"Hari ini Eka masuk tidak ya? Tin, coba elo lihat dong. Anak itu masuk kuliah tidak?"


"Al, Al, elo pikir gue baby sitter nya Eka? Kadang ngomong asal aja elo!"


"Tin, kayaknya Alvian suka sama Eka?"


"Ah, muna elo semua. Elo sama Martin juga suka kan sama Eka!"


"Ngga ya Chan? Kita berdua anggap Eka sebagai saudara. Kan kita pernah keluar dari badan ternyata kita punya adik perempuan. Buyut-buyut kitab yang kasih tahu."


"Tapi ya Al, Tin, kalau gur lihat gayanya Eka sama persis seperti adik perempuan kita. Galaknya, juteknya."

__ADS_1


Alvian dan Martin menganggukkan kepala mereka.


"Jemput Eka aja yuk."


"Ngga bisa. Eka sudah berangkat sama ayahnya."


"Kok elo bisa tahu Tin, kalau Eka di antar sama ayahnya?"


"Lah gimana sih! Otak elo ribet ya Al. Kita kan dukun ala-ala."


"Ba** elo!


" Hahahahahha, ada yang bt pagi-pagi."


Eka melihat ke jendela.Ada sepasang mata berwarna kemerahan menatap tajam ke arah Eka.


Makhluk apa itu? Kenapa dia menatap aku seperti itu? Mata itu bukan mata manusia. Aaaahhh, kenapa aku tidak bisa melihat seperti biasa. Apa warisan ini sudah luntur? Tapi kalau sudah luntur sedangkan aku masih bisa melihat dan merasakan kehadiran mereka, yang ada hanya ketakutan dan ketakutan saja. Aku tidak boleh takut dengan mereka. Aku akan lawan mereka semampuku.


Eka menggaruk kepalanya. Lepas kelas, Eka ingin ke kantin tetapi seperti ada yang menuntun Eka berjalan ke arah perpustakaan.


Eka berusaha sekuat tenaga untuk melawan kakinya yang melangkah ke arah perpustakaan tetapi tidak bisa. Dan saat di depan perpustakaan Eka terdiam.


Kenapa kakiku melangkah kesini. Aku tidak mau, aku tidak mau masuk ke perpustakaan dulu. Ada yang menarik. Ya Allah lindungi aku.


"Woii, jangan di tengah jalan, minggir!"


Beberapa mahasiswa meneriaki Eka. Karena Eka berdiri di tengah jalan yang saat itu banyak mahasiswa yang lalu lalang.


Eka merasa hembusan angin dingin yang mengelilingi dirinya. Dan tubuh Eka merinding seluruh badan.


Aku harus fokus, fokus, fokus, fokus. Ini masih siang banyak mahasiswa lain. Tidak mungkin aku teriak saat ini


Eka memejamkan matanya. Dan tiba-tiba ada tangan yang menarik Eka dan mengajak jalan. Eka masih memejamkan matanya.


"Buka mata elo. Mau sampai kapan mata elo ke tutup! Ini gue Martin."


Eka membuka matanya perlahan.


"Martin, Martin!"


"Iya, gue Martin bukan tangan berbulu lagi. Walaupun tangan gue banyak bulunya tapi gue bukan setan!"


Eka membuka matanya perlahan dan melihat Martin yang masih memegang tangannya.


"Astaghfirullah, Martin. Makasih ya."


"Iya. Lain kali banyakin dzikir."


"Gue lagi ngga bisa, gue lagi halangan."

__ADS_1


"Dalam hatilah. Masa harus dikasih tahu! Ayo ke kantin. Ngga usah di lepas pegangan tangan gue, daripada elo kabur ke perpustakaan lagi!"


__ADS_2