Warisan

Warisan
Hal Aneh


__ADS_3

Eka kembali ke kamar perawatan dengan membawa 3 bubur dan 2 kopi untuk dirinya dan om.


Eka masih terbayang suster Winny yang tertabrak mobil dan Eka melihat ada yang menuntun suster Winny tapi Eka tidak tahu siapa.


"Om, gimana ayah?"


"Ayahmu masih tidur. Kamu kemana? Kok lama?"


"Beli bubur. Eka beli 3 sama kopi untuk om dan aku. Eka tadi sekalian minta kamar ayah di pindah. Dan dapat di kamar VIP lantai 2. Nanti siang ayah dj pindah."


Eka mengusap lengan ayah.


"Ayah, bangun. Eka beli bubur buat ayah. Nanti siang kita pindah ke ruang VIP ya ayah. Biar ayah lebih tenang dan tidak ada gangguan lagi."


"Eka, lebih baik kamu makan dulu. Baru om. Setelah itu kita bangunkan lagi ayahmu."


"Iya om. Eka lapar. Eka makan duluan ya om."


Eka makan bubur dengan cepat. Karena ia ingin ayahnya bangun sehingga bisa makan buburnya.


Ayah Eka bangun dan makan bubur.


"Eka, ayah tidak suka di kamar ini. Ayah ingin pindah."


"Sudah Eka urus ayah. Nanti siang ayah pindah kamar."


"Makasih Eka. Karena banyak yang keluar masuk di kamar ini. Berisik sekali. Ayah jadi tidak tenang tidurnya. Nah itu ada yang masuk lagi pakai kursi roda dan mengerang-ngerang kesakitan."


"Sabar ayah. Kamarnya sedang dibersihkan dan nanti tinggal ayah tempati. Eka akan minta yang masuk dan keluar jangan berisik."


Sebenarnya Eka kaget karena mendadak ayah bisa melihat yang keluar masuk kamar dengan berbagai rupa.


Eka berjalan mendekati tempat tidur yang dekat jendela.


"Bapak-bapak dan mas-mas. Mohon jangan berisik. Ayah saya lagi kesakitan."


"Kami juga kesakitan. Kami diambil paksa untuk ikut yang berkuasa di kamar ini!"


"Iya Pak, saya mengerti. Tapi ini semua kehendak dari Allah."


"Mbak! Ngga usah bawa-bawa Tuhan. Kamar ini kamar tumbal. Kami ditumbalkan."


"Iya Pak. Maaf saya salah."


"Lebih baik pindahkan ayah mbak ke rumah sakit lain. Rumah sakit ini adalah rumah sakit kosong. Mbak harus segera keluar sebelum jam 9 pagi ini. Jika mbak ingin ayah mbak selamat."


"Iya Pak. Terima kasih."

__ADS_1


Om melihat gerak-gerik Eka yang mencurigakan seperti orang yang sedang berbicara. Tetapi om tidak melihat orang yang diajak bicara oleh Eka.


"Mas, kamu mau apa? Biar aku ambilkan?"


"Aku mau keluar dari rumah sakit ini. Aku tidak nyaman di rumah sakit ini."


"Iya mas, tunggu sebentar. Setelah Eka selesai, aku akan urus untuk pindah rumah sakit."


"Aku mau sekarang. Aku ngga mau nunggu lama-lama."


"Rumah sakit ini sebenarnya sudah kosong. Tidak ada satupun orang yang hidup di rumah sakit ini. Yang kamu lihat para suster itu bukan manusia."


"Iya mas. Sebentar lagi ya. Sabar."


"Ekaaaa!!! Ayah mau keluar dari sini. Kita harus cepat keluar dari sini Eka."


"Iyaa ayah."


Eka segera menghampiri ayahnya.


"Ayah dan om. Ayo kita keluar dari kamar ini. Ayah bisa turun dari tempat tidur?"


"Nanti biar om papah ayahmu. Ada apa sebenarnya Eka? Kenapa terburu-buru?"


"Eka jelaskan setelah keluar dari sini. Dan kita cuma punya waktu 30 menit."


Om segera memapah ayah Eka. Mereka keluar dari kamar dan melewati kamar-kamar yang lain. Semua pintu kamar tertutup tetapi tidak ada yang lalu lalang. Sepi.


Om dan Eka menuju tangga darurat. Om menggendong ayah Eka. Menuruni anak tangga dari lantai 5 membuat om lelah karena menggendong ayah Eka.


"Om, biar Eka yang menggendong ayah. Kita harus cepat om. Ini baru di lantai 2. Satu lantai lagi kita bisa keluar."


"Insya Allah, om kuat Eka."


Mereka bertiga terus turun dan setelah di lantai dasar. Pintu tidak dapat dibuka. Om menurunkan ayah Eka dari gendongan dan berusaha mendorong pintu yang ternyata terganjal oleh bambu dan kayu.


"Om, bisa dibuka? Tinggal 10 menit lagi ini Om."


"Sebentar Eka."


Om diam sebentar dan Eka merasakan hembusan angin dari tangga atas, yang tadinya hanya seperti angin sepoi-sepoi semakin lama semakin besar. Om segera mendorong Eka dan ayahnya sampai menempel tembok.


"Braaaaakkkk"


Pintu terbuka dan mereka segera keluar. Di halaman tidak ada orang, mobil ataupun motor. Hanya halaman luas.


Eka melihat jam.

__ADS_1


"Om ayo om, tinggal 3 menit lagi dan itu pintu gerbangnya."


Om berlari sambil menggendong ayah. Eka mengikuti dari belakang.


Akhirnya mereka bisa keluar dari gerbang. Eka, om dan ayah mengucapkan Alhamdulillah secara berbarengan.


Mereka bertiga melihat bangunan rumah sakit yang tidak terurus dan sudah rusak.


Jadi semalam kira bertiga ada dj dalam rumah sakit ini dengan arwah yang ada di dalam. Terus tukang bubur tadi pagi? Orang yang beli bubur tadi pagi?


Eka belum mendapatkan jawaban yang dia mau.


Hanya ada kendaraan satu dua yang lewat. Ada 2 motor lewat. Om memberhentikan mereka.


"Mas, bisa minta tolong, antarkan kami ke rumah sakit. Kakak saya kecelakaan. Dan semalam kakak saya dibawa ke rumah sakit ini oleh ambulan."


Kedua pengendara motor itu kaget dan bingung dengan omongan om Eka.


"Tapi pak, maaf. rumah sakit itu sudah lama rusak. Sudah jadi bangunan tua dan memang seram. Kalau malam tidak ada yang berani lewat jalan sini."


"Alhamdulillah bapak-bapak dan mbaknya bisa selamat dan keluar dari rumah sakit tua iru."


"Kami antarkan bapak-bapak dan mbak ke rumah sakit. Tapi kalian manusiakan? Bukan setan?"


"Iya mas-mas. Tapi kami bertiga. Bagaimana ya? Dan kami manusia."


"Kakaknya bapak naik motor saya yang lebih besar dan mbaknya ikutan untuk megangin bapaknya yang sakit. Bapak sama motor yang satunya."


"Iya Pak. Ayo mari. Jangan lama-lama disini. Bulu kuduk saya berdiri semua."


Mereka segera pergi dari rumah sakit tua itu. Dan Eka mendengar suara tertawa yang memekakkan telinga.


Tidak berapa lama., mereka sampai di rumah sakit.


"Mbak, sudah sampai rumah sakit. Itu ada tulisannya dan ada banyak orang."


"Iya mas. Terima kasih banyak. Ini uang untuk beli bensin."


"Tidak usah mbak. Saya ikhlas bantu biar ayah mbak segera ditangani oleh dokter dan perawat manusia bukan setan lagi."


"Amin, amin Mas. Terima kasih banyak."


Eka memapah ayah. Om baru turun dari motor dan memberikan uang kepada mereka berdua. Tetapi mereka menolak. Om segera berlari melihat Eka yang memapah ayahnya.


"Bang, gimana ceritanya mereka bertiga bisa masuk rumah sakit tua itu ya?"


"Gue juga ngga tahu. Cuma gue lihat memang bapaknya si mbak kesakitan dan banyak luka. Kalau dari semalam. Berarti mereka lihat setan-setan yang ada di dalam rumah sakit itu. Hiiii, amit-amit gue ngga mau lewat situ lagi."

__ADS_1


"Sama Bang. Ok Bang. Jalan lagi saya bang."


"Ok. Hati-hati loe."


__ADS_2