
Setelah pengajian dan selametan rumah baru, beberapa kerabat ayah dan bunda menginap di rumah. Eka tidur dengan tante dan Nenek dari Ibu. Sedangkan Kakek sama ayah dan 2 orang adik ayah masih ngobrol-ngobrol di teras rumah. Fadli, Fani dan 3 sepupu mereka dari pihak ayah tidur bersama di atas.
Jam 01.30, salah seorang sepupu yang bernama Arlan hendak ke kamar mandi, saat mau turun, tiba-tiba dia melihat ada nenek dibawah tangga sedang berdiri dan menatap Arlan, seketika itu juga Arlan pingsan. Jam 02.30, Ayah Arlan yang tidur di ruang tamu dj bawah bangun hendak wudhu untuk sholat tahajud, Saat masuk ke dapur, Ayah Arlan kaget melihat anaknya tidur di atas tempat cucian piring.
"Astagfirullah al adzim, Arlan... Arlan... bangun, bangun Arlan...".
"Pah, loh kok Arlan tidur disini?!".Arlan bingung karena saat ia membuka mata, ia sedang tidur di atas tempat cucian piring.
"Udah, ayo bangun, terus wudhu, ikut papa sholat tahajud".
Arlan segera turun dari atas tempat cucian piring dan mengikuti papanya untuk ambil wudhu dan sholat tahajud. Setelah sholat tahajud, papanya dan Arlan naik ke atas ke kamar Fadli dan Fani dan ternyata di kamar tidak ada Fadli, Fani, Toni dan Didan. Mereka berdua bingung kemana anak-anak? Arlan dan papanya segera turun ke bawah dan mengetuk kamar kakaknya.
"Mas, maaf, Fadli, Fani, Toni dan Didan kemana? Aku tadi keatas mau bangunin mereka untuk sholat subuh tetapi ternyata mereka tidak ada dj kamar. Dan tadi, aku lihat Arlan tidur di atas tempat cucian piring".
Akhirnya semua terbangun karena kegaduhan dari bawah. Eka yang masih agak mengantuk dan berjalan ke bawah dengan tante dan neneknya tiba-tiba melihat nenek yang sama seperti yang dilihat Arlan dan tertawa-tawa tetapi hanya Eka yang bisa mendengar tertawa si nenek.
"Ada apa ayah, bunda, om, kakek? Ini sudah subuh? Aku juga sudah bangun mau sholat subuh". ucap Eka sambil mengucek-ngucek matanya.
"Eka, kakak, Toni sama Didan, ngga ada di kamarnya terus teenyata Arlan tidur di tempat cucian piring".
Eka segera jalan ke arah tangga dan Eka masih melihat nenek itu tertawa mengejek.
"Nek, ayah, bunda, kakak dan Eka tinggal disini bukan buat ganggu Nenek. Terus kenapa Nenek ganggu kita? Sekarang Eka minta Nenek kasih tahu dimana kakak, Toni dan Didan. Mereka tidak tahu mengenai keberadaan Nenek, dan baru 2 hari tinggal di rumah ini. Eka mohon dimana Nenek ngumpetin mereka, karena sebentar lagi mau sholat subuh".
Tiba-tiba Eka melihat mbah Kakung dan tangan Eka ditarik dan diajak ke arah pintu depan rumah sama Mbah Kakung. Semua yang ada di dalam mengikuti kemana Eka pergi, ayah membuka pintu rumah, saat dibuka ternyata kakak kembarnya Eka, Toni dan Didan tidur di teras. Semuanya terkejut, bagaimana bisa mereka semuanya tidur di teras rumah sedangkan pintu depan terkunci. Ayah Eka segera membangunkan Fadli, Fani, Toni dan Didan, mereka berempat bingung saat bangun karena mereka ada di teras rumah. Lalu mereka segera mengambil wudhu dan sholat subuh berjamaah.
"Mas, coba kamu tanya sama Eka, karena Eka kan bisa melihat yang kita tidak bisa lihat. Sebenarnya di rumah ini ada apa? Anak-anak kok tidurnya bisa pindah semua. Semalam kita ngobrol sampai jam 11 malam terus masuk dan tidur, anak-anak sudah naik ke kamar dan tidur. Sebelum aku tidur, aku naik ke atas dan di ruang belajar anak-anakmu aku melihat sekelebatan bayangan. Aku pikir karena aku ngantuk, aku cek ke kamar Fadli, mereka sudah tidur semua. Baru aku turun, pas dibawah tangga aku ngerasa kayak ada yang nyolek tapi aku ngga lihat Mas". Papanya Arlan menjelaskan kepada ayahnya Eka.
"Rumah ini sempat kosong selama 7 tahun dan sebelum ditempati aku renovasi, aku tambahin lantai atas buat kamarnya anak-anak. Kamar ada 2 dibawah, dan mau jadi kamar tamu jika sewaktu-waktu ada yang menginap". Sempat ada tetangga yang bilang, bahwa rumah ini dikontrakkan sebelum dijual, dan yang mengontrak tidak bertahan lama, karena sering diganggu penghuni di sini. Katanya di dapur ada sumur tua yang sudah diuruk dan ditutup dan akhirnya jadi dapur".
Semua yang mendengar merasakan sesuatu hal yang aneh tetapi mereka diam karena tidak tahu itu apa. Semuanya terdiam dan tiba-tiba Eka berteriak.
__ADS_1
"Keluar semuanya, keluar dari rumah ini, Eka ngga suka diganggu sama kalian semua! Pergi, karena 2 hari ini kalian sudah membuat ketakutan ayah, bunda, kakak, om, Arlan, Toni dan Didan, tante juga Kakek dan Nenek!". Eka berbicara sambil jarinya menunjuk ke beberapa arah. Eka cuma minta, Eka tidak akan usir kalian dari sini, tapi jangan ganggu kami lagi. Kami juga tidak ganggu kalian!"
Setelah teriak, Eka tersenyum karena Eka melihat Mbah Kakung datang dan menarik nenek dan yang lainnya keluar rumah.
"Eka, kamu ngga kenapa-napa sayang? ucap bunda yang terlihat kuatir.
"Ayah, Bunda, Kakak kita harus sama-sama dan jangan takut lagi. Kadang Eka juga masih takut lihat yang aneh-aneh dan ngga nyata, tapi Eka terima yang Tuhan sudah berikan sama Eka. Kita harus sering sholat tahajud dan dzikir ya Ayah, Bunda dan Kakak".
Semuanya mengangguk setuju. Siang hari adik-adiknya ayah pulang sedangkan kakek, nenek dan tante masih tinggal. Mereka masih mau menginap di rumah Eka.
"Ayah, Eka kok nyium bunga melati sama mawar dari luar? Bunda kan tidak menanam bunga melati dan mawar. Ayah, temenin Eka keluar rumah sebentar ya, kita jalan kaki saja.".
"Memangnya Eka mau kemana? tanya ayah.
"Ada yang mau Eka lihat ayah. Ayo ayah cepetan".
"Sebentar, ayah ganti baju dulu".
Setelah mengganti bajunya, ayah menyusul Eka yang sudah menunggu di teras rumah. Mereka berdua jalan. Mereka melewati rumah-rumah tetangga dan menyapa sambil mengenalkan diri, saat rumah ke 12 dari rumah mereka, Eka berhenti dan memandangi rumah itu. Ayah bingung melihat Eka terdiam di depan rumah tersebut.
"Eka, kok berhenti? Kamu melihat apa?"
"Ayah, di dalam rumah itu ada yang meninggal dan 20 menit yang lalu menghembuskan napasnya. Eka harus gimana ayah? karena kita kan baru tinggal di sini? Sedangkan bapak itu meninggal di bawah tempat tidurnya dan gelasnya pecah".
"Tapi kita tidak bisa masuk kesana, ayo kita minta bantuan Pak RT dan warga sekitar".
"Eka tunggu disini ayah, itu ada yang lewat ayah, coba ayah tanya".
Ayah Eka bertanya kepada 2 orang yang lewat di depan mereka dan menanyakan siapa yang tinggal di rumah itu dan mengenalkan diri sebagai warga baru.
"Yang tinggal di rumah Itu namanya Pak Cahyo dan istrinya serta anaknya. Ada keperluan apa Pak dengan Pak Cahyo? Karena Pak Cahyo sedang sakit".
__ADS_1
"Ngga papa Mas, kami sebagai warga baru ingin berkenalan saja". Apakah rumahnya selalu sepi seperti ini?"
"Bisanya kalau ada istrinya, pintu rumahnya terbuka, mungkin Bu Cahyo sedang keluar. Ditunggu saja Pak. Kami permisi dulu, Pak Albi, mari.. ".
"Baik Mas, Terima kasih".
" Sama-sama Pak Albi".
"Eka, ayo kita lanjutkan atau pulang sebentar lagi sholat dzuhur".
"Sebentar lagi ayah, istrinya Pak Cahyo lagi jalan pulang. Nah itu dia datang".
"Memangnya Eka tahu itu Bu Cahyo?"
"Selamat siang Oma, kenalkan saya Eka dan ini ayah Eka, namanya ayah Albi. Eka dan ayah Albi baru tinggal di daerah ini".
Eka langsung memperkenalkan diri saat melihat Bu Cahyo hendak masuk ke rumahnya.
"Eh iya, maaf oma buru-buru mau kasih obat buat opa di dalam. Nanti kita ngobrol lagi yah cantik. Maaf yah Pak Albi, saya masuk ke dalam. Mari".
" Baik Bu. Silakan".
Setelah Bu Cahyo masuk, ayah mengajak Eka pulang, tetapi Eka masih bertahan.
"Sebentar ayah".
Terdengar teriakan minta tolong dari rumah Bu Cahyo dan Bu Cahyo segera berlari keluar berteriak minta tolong. Untungnya selain Eka dan Pak Albi, ada beberapa Ibu-ibu pengajian yang lewat. Eka, ayahnya dan Ibu-ibu pengajian segera masuk ke dalam rumah Bu Cahyo dan melihat Pak Cahyo sudah tergeletak dibawah tempat tidur dan ada pecahan gelas.
Ayah meminta tolong kepada Ibu-ibu agar menjaga Bu Cahyo sementara ayah berlari keluar rumah untuk minta pertolongan kepada warga dan berusaha menelpon dokter keluarga untuk datang mengecek Pak Cahyo.
Warga segera pergi ke rumah Pak Cahyo, dan ayah sudah bilang kepada warga bahwa ada dokter yang sedang dalam perjalanan untuk mengecek kondisi Pak Cahyo apakah sudah meninggal atau masih bisa ditolong.
__ADS_1
Setelah dokter datang dan mengecek kondisi Pak Cahyo dan memastikan bahwa Pak Cahyo sudah meninggal 1 setengah jam yang lalu.