Warisan

Warisan
Tugas selesai


__ADS_3

"Susi, kita sudah sampai di kamar. Buka mata kamu, biar kamu bisa lihat dari jendela bisa lihat pemandangan yang bagus."


Eka berusaha mengajak bicara Susi agar bangun.


Ibunya Susi dan pak supir memperhatikan Eka dan Susi.


"Iya, aku bangun tapi anak ini aku bawa."


"Eka, Eka ini kenapa Susi suaranya seperti nenek?"


"Tenang ya tante. Pak supir tolong bantu doa seperti biasa ya. Tante ikutin doa yang diminta sama pak supir. "


"Iya non."


Pak supir meminta ibunya Susi untuk membaca surat An Nas, Al Falaq, Al Fatihah.


"Nenek siapa? Kenapa nenek ada disini? Tadi Eka bicaranya sama Susi."


"Kamu yang sudah membakar rumahku! Karena kamu, aku tidak bisa hidup lagi. Nyawa ditukar nyawa. Aku mau anak ini. Dia bisa gantikan aku. Aku tinggal cari satu lagi untuk anakku Felix."


"Astaghfirullah, jangan gitu. Nenek dan pak Felix sudah beda alam."


"Harusnya kedua teman kamu bisa menggantikan aku dan anakku. Tapi kamu sudah membuat temanmu yang laki bebas. Maka aku tidak akan melepaskan anak ini."


"Astaghfirullah al adzim. Tante maaf kalau nanti apa yang tante lihat membuat tante tidak percaya."


Eka langsung duduk diatas kasur tepat di bawah kaki Susi. Eka terdiam kemudian menekan kedua jempol kaki Susi.


Susi menjerit kesakitan. Lalu bangun dan menatap Eka dengan marah. Kedua mata Susi berubah menjadi hitam semua.


"Lepasin, saya tidak kesakitan, anak ini yang kesakitan. Kamu tidak bisa mengusir saya dari tubuh anak ini! Hahahha."


Ibunya Susi dan pak supir tetap berdoa seperti yang diminta oleh Eka. Mereka berdua tidak putus berdoa dan berulang-ulang.


Eka tidak mau membalas kata-kata nenek. Eka tetap terdiam dan membaca ayat-ayat Al-Quran.


Eka menekan beberapa bagian ditubuh Susi.


"Lepaskan saya. Saya tidak bisa bergerak! Tubuh Susi tidak bergerak hanya mulutnya yang bisa bicara dan marah-marah."


"Lepaskan, lepaskan!


Eka berubah menjadi mbah Kakung dan yang bisa melihat hanya nenek yang ada di dalam tubuh Susi. Pak supir dan ibunya Susi tetap melihat Eka yang masih membaca ayat Al-Quran.


" Hei siapa kamu kakek tua!"


"Kamu keluar dari tubuh anak ini. Kalau kamu tidak mau keluar. Aku akan tarik kamu dan aku lemparkan kamu ke tempat yang kamu tidak inginkan!"

__ADS_1


"Ilmumu tidak setinggi ilmu aku, kakek tua!"


"Jangan mencobai aku."


Mbah kakung memegang kepala Susi dan menekannya.


"Aaaarrgghhhh sakit, sakit. Ampun, ampun. Sakit, sakit! Iya, iya aku keluar dari tubuh anak ini!"


"Keluar dan pergi jauh-jauh dari anak ini dan juga cucuku! Jangan sampai kamu mengganggu lagi!"


Nenek itu pergi dan mbah kakung masih memegang kepala Susi.


Setelah 1 jam. Eka turun dari tempat tidur Susi dan berdiri di samping Susi. Ibu dan pak supir juga berhenti berdoa setelah Eka bilang sudah selesai.


"Susi, ayo bangun. Bangun. Kamu sudah tidak jalan-jalan lagi. Kamu sudah aman."


Perlahan Susi membuka matanya dan melihat ada mama juga Eka dan pak Supir.


"Mama, mama. Susi takut."


Ibunya memeluk Susi dan menenangkan Susi.


Setelah tenang. Susi memanggil Eka.


"Eka, aku diajak pergi. Nenek dan pak Felix mengajak aku dan Thomas jalan-jalan. Tahu-tahu kami terpisah. Aku sendirian dan tidak ada yang aku kenal di tempat itu. Semuanya seram dan menjijikkan. Aku dipaksa untuk makan cacing dan kelabang juga daging yang masih mentah. Aku sampai muntah-muntah. Aku sudah teriak minta tolong tapi mereka tidak ada yang menolong aku. Lalu pak Felix datang sendiri tidak sama Thomas."


"Iya Susi. Sekarang kamu tidak usah takut lagi. Kamu sudah lepas dari mereka Sebentar lagi isya. Kamu ikut sholat ya. Tidak usah bangun."


Eka,, ibunya Susi dan pak supir juga Susi sholat isya bersama.


Papanya datang saat mereka selesai sholat.


"Susi, kamu baik-baik saja sayang?"


"Iya pa. Sekarang Susi ngantuk. Eka juga harus pulang ke rumah. Terima kasih ya Eka. Aku tidur ya."


Tidak berapa lama Susi sudah tertidur. Eka meletakkan bawang putih di bawah bantal Susi.


"Om dan tante, Eka pamit pulang ya. Sudah malam."


"Iya Eka, terima kasih banyak."


Eka dan pak supir keluar dari kamar Susi.


Papa melihat Susi yang sudah tertidur.


"Ma, bagaimana tadi Susi?"

__ADS_1


"Susi sudah tidak papa pa. IEka, temannya Susi. Eka sudah membantu Susi. Ternyata Susi ketempelan."


"Bagaimana bisa Susi ketempelan?"


"Tidak tahu pa. Eka yang tahu. Tadi mama dengar suara nenek-nenek dan suaranya seram sekali. Sepeti orang kesurupan."


"Terus ma?"


"Ya sudah gitu saja pa. Sepertinya Eka anak yang punya kelebihan deh pa. Eka tadi bisa bicara dengan makhluk itu. Dan tadi saat Susi ketempelan. Susi bilang kakek. Padahal mama dan supirnya Eka tidak melihat ada kakek."


"Maksudnya ada kakek-kakek datang ke kamar rawat ini ma?"


"Iya. Eka memang bisa bicara sama makhluk-makhluk gaib gitu deh pa."


"Maksudnya seperti dukun gitu?"


"Bukan, bukan dukun. Selama proses mengeluarkan makhluk dari tubuhnya Susi, mama sama supirnya Eka membaca An-Nas, Al Falaq dan Al Fatihah."


"Oh, maksud mama seperti kejawen gitu?"


"Iya, tapi pa kalau dukun kan pasti ribet sendiri Tapi tadi Eka tidak melakukan ritual seperti dukun yang harus bakar kenenyan."


"Ya sudah ma. Setidaknya sekarang Susi sudah bisa istirahat. Mama tidur. Biar papa yang menjaga Susi malam ini."


"Pak supir. Kita cari makan dulu setelah itu kita pulang."


"Non, tadi nenek bilang. Makan malam buat kita sudah disiapkan dan mereka semua belum makan karena menunggu non Eka pulang."


"Hah! Ini sudah jam 9 malam. Ya sudah kalau gitu kita segera pulang."


Maafin Eka ya kakek, nenek, tante dan semuanya. Eka membantu Thomas dan Susi dulu supaya mereka tidak di ganggu lagi. Eka membatin.


"Non Eka sudah sampai."


"Iya pak. Ayo bapak ikut makan saja sekalian."


"Tenang non. Bapak makan di belakang saja. Pasti sudah disiapkan makanan buat bapak."


"Ya sudah. Terima kasih banyak ya pak. Hari ini bapak sudah membantu Eka."


Pak supir menganggukkan kepala dan tersenyum.


Eka mengucapkan salam dan masuk ke dalam rumah.


"Nah ini tamu yang di tunggu-tunggu sudah datang. Nenek! Ayo kita segera makan."


"Kakek, maafin Eka. Karena menunggu Eka semuanya jadi belum makan malam."

__ADS_1


"Kita tadi sudah makan cemilan kok. Kebetulan tadi nenek pergi dan pulang membawa kue-kue. Ayo sekarang kamu mandi. Kami semua menunggu di meja makan.Kakek sudah tahu semuanya. Ceritanya nanti saja."


"Iya kek.


__ADS_2