
Pak Maryono mengetuk rumah Siska.
"Assalamu'alaikum."
Tetapi tidak ada jawaban dari dalam rumah Siska.
Eka melihat Siska.
"Masuk saja. Ibu sakit karena memikirkan aku. Aku kasihan sama ibu tapi aku sudah tidak bisa apa-apa."
Eka mencoba membuka pintu rumah Siska ternyata tidak dikunci.
"Assalamu'alaikum bu. Ini Eka teman Siska."
Terdengar suara lirih dari salah satu kamar.
"Wa'allaikumsalam, masuk saja nak. Ibu tidak kuat bangun."
Mereka semua masuk ke salah satu kamar yang pintunya terbuka.
"Astaghfirullah ibu. Ibu kenapa?"
"Ibu sakit. Setelah Siska meninggal, ibu sakit. Siapa yang bernama Eka?"
"Saya bu. Saya Eka. Ada apa bu?"
"Eka, semalam ibu bermimpi Siska, dia bilang bahwa nanti ada temannya yang datang bernama Siska dan Eka akan kasih tahu siapa laki-laki yang sudah membuat Siska meninggal."
Eka menengok ke Siska yang berdiri di sebelahnya. Siska menganggukkan kepalanya.
"Ibu, ibu ke dokter ya. Eka antar sekarang."
"Nanti saja Eka. Ibu mau tahu siapa laki-laki itu."
"Ibu, Eka mau masuk ke kamar Siska boleh? Ada yang mau Eka tunjukkan sama ibu. Siska belum sempat memberitahukan sama ibu."
"Iya, masuk saja. Kamarnya disebelah kamar ini."
"Eka, biar ibunya Siska sama ibu Elisabeth dan Susi. Kamu sama pak Maryono dan Thomas masuklah ke kamar Siska. Ayo Eka."
"Iya bu. Terima kasih."
Eka, Pak Maryono dan Thomas masuk ke dalam kamar Siska dan sebelumnya Eka sudah mengucapkan salam terlebih dahulu.
Siska mengikuti Eka masuk ke kamarnya.
"Eka, ditumpukan buku itu. ada buku yang paling bawah."
"Eka, kita mau mulai cari darimana? Kamarnya rapi masa mau kita acak-acak."
"Tidak perlu diacak-acak Thomas. Sebentar ya."
Eka ke meja belajar Siska dan mengambil tumpukan buku.
__ADS_1
"Pak Maryono, minta tolong ambilkan buku yang paling bawah. Yang tebal itu."
Pak Maryono mengambil buku tersebut.
"Ini Eka."
"Iya pak. Minta tolong dibuka. Saya akan merapikan tumpukan buku ini lagi."
Pak Maryono membuka buku itu. Semua tulisan Siska tertuang dalam buku itu. Sampai akhirnya pak Maryono melihat sebuah photo Siska dan Ryan.
"Loh ini Ryan, anak baru itu kan?"
Thomas yang ada di sebelah pak Maryono menganggukkan kepalanya.
"Jadi pacarnya Siska, Ryan. Pantas saja tadi pagi Ryan bisa tahu nama lengkap Siska. Saya sempat mau tanya sama Susi tapi bel sudah bunyi sampai akhirnya kelupaan."
Pak Maryono dan Thomas membaca lembar demi lembar.
"Kurang ajar. Ternyata Ryan." Thomas mengepalkan tangannya.
Pak Maryono pun terkejut ternyata yang membuat Siska hamil adalah Ryan dan Ryan berusaha menggugurkan kandungan Siska dengan memberi obat dan air rebusan nanas.
Dan ada beberapa photo hasil USG.
"Eka, kamu sudah tahu?"
Eka menceritakan kejadian waktu di toilet kamar mandi dan sempat mendengar obrolan anak kelas 2 teman sekelas Siska dan saat bel istirahat pertama.
"Ibu, ibu sekarang saya antar ke rumah sakit. Ibu harus ke dokter dan nanti biar saya telpon suami ibu."
"Eka, Ayah dan ibuku sudah tidak ada uang. Mereka jualan sayuran di pasar. Sebentar lagi ayah pulang. Lebih baik tunggu dulu sebentar lagi."
"Pak Maryono, eeee, sepertinya sebentar lagi ayahnya Siska datang dari pasar. Ayahnya jualan sayuran."
"Oh ok. Kita tunggu saja ayahnya Siska pulang."
"Jadi gimana Eka, sudah ketemu? Siapa yang sudah membuat Siska hamil."
"Sudah bu. Setelah antar ibu ke rumah sakit. Eka akan memberikan semua bukti ini ke kantor polisi. Pak Maryono juga sudah tahu. Ibu tenang ya, jangan sampai sakit begini. Siska pasti juga sedih lihat ibu sakit."
"Iya Eka. Siska satu-satunya anak ibu. Ayahnya berharap Siska akan menjadi orang sukses tidak seperti kami. Tapi ternyata Allah berkehendak lain."
"Bu Elisabeth, kita bicara sebentar di luar. Eka ikut saya. Susi dan Thomas temanin ibunya Siska dulu ya."
Eka, pak Maryono dan bu Elisabeth keluar dari kamar.
"Jadi sudah ketahuan siapa yang menghamili Siska?"
"Sudah bu. Dan ternyata anak baru yang ada di kelas Eka. Semuanya tertuang dalam buku ini."
Pak Maryono menyerahkan buku itu kepada bu Elisabeth.
"Astaghfirullah, astaghfirullah."
__ADS_1
Bu Elisabeth berkali-kali mengucapkan astaghfirullah. Karena ia tidak percaya bahwa Ryan anak baru itu yang telah membuat Siska meninggal.
"Bagaimana baiknya Pak?"
"Besok pagi-pagi saya ke kantor polisi dan menyerahkan buku ini kepada mereka. Dan mereka ikut ke sekolah. Ryan akan saya panggil saat jam pelajaran supaya tidak gaduh."
"Iya pak. Mohon maaf pak bu. Untuk biaya rumah sakit ibunya Siska biar Eka yang urus. Kasihan mereka."
"Jangan-jangan biar saya dan bu Elisabeth saja. Dengan kamu memberitahu ini, saya merasa Siska senang dan Siska akan tenang. Orang tua Siska pasti juga senang sehingga mereka tidak ada beban pikiran lagi setelah semuanya beres."
Tidak berapa lama ayah Siska pulang dari pasar.
Pak Maryono menjelaskan semuanya kepada ayahnya Siska. Ayahnya Siska menangis. Karena ternyata ia pun masih berusaha mencari orang yang telah membuat anak satu-satunya hamil dan meninggal.
Mereka semua mengantar ibunya Siska ke rumah sakit. Dan harus di opname. Semua biaya rumah sakit sudah dibayarkan oleh pak Maryono dan bu Elisabeth.
"Pak Maryono, bu Elisabeth kalau begitu Eka, Susi dan Thomas pulang naik bis saja. Karena kami mau belajar bersama."
Susi dan Thomas menganggukkan kepalanya tanda setuju dengan omongan Eka.
Mereka bertiga keluar dari rumah sakit. Susi masih penasaran jadi sebenarnya siapa yang sudah menghamili Siska.
"Kita cari makan dulu. Nanti aku ceritakan sekalian nanti aku antar kalian pulang ke rumah."
Mereka bertiga menyebrang jalan dan masuk ke restoran cepat saji.
"Eka, cerita dong siapa?"
"Ya, aku mau cerita tapi mulut kamu berkoar-koar tidak? Karena biar ini jadi urusan bapak dan ibu guru juga polisi. Aku sendiri tidak yakin sama kamu juga Thomas."
"Aku tidak akan cerita tapi aku jujur mau pukul orang itu. Sombong sekali!"
"Siapa sih! Kasih tahu siapa? Iya aku janji, tidak akan cerita."
"Ryan, anak baru di kelas kita."
"Hah! Serius loe? Tapi bagaimana bisa? Kan saat kejadian Siska melahirkan di sekolah Ryan belum masuk ke sekolah kita. Dua atau tiga hari kemudian baru dia masuk."
"Aduh, gimana ya. Semuanya ada buktinya Susi. Siska menceritakan semuanya di buku harian dan juga ada photo-photo. Lagipula photo hasil USG ada dan di pegang sama Ryan sebelah Ryan ya Siska."
"Astaghfirullah. Jadi benar gosip yang selama ini beredar bahwa Ryan sebenarnya pacar Siska."
Eka dan Thomas menganggukkan kepalanya.
"Iiihhh, kurang ajar itu anak. Sudah ngatain Eka, dukun. Ngompor-ngomporin anak-anak supaya tidak suka sama Eka. Tapi kelakuan dia bejad."
"Sudah tidak usah dibahas. Aku terima kasih kalian mau ikut. Setidaknya kalau ada yang bilang aku dukun, kalian tahu aku bukan dukun. Dan tadi Thomas tahu sendirikan bagaimana?"
"Iya, tenang saja Eka."
"Ya sudah, yuk aku antar kalian pulang. Tidak usah bantah."
Mereka keluar dari restoran cepat saji dan Eka menyetop taxi.
__ADS_1