Warisan

Warisan
Ayah kecelakaan


__ADS_3

Satu persatu saudara-saudara Eka pulang. Yang tinggal di rumah hanya om, kakek, nenek, tante dan paman dan bibi dari bunda.


"Eka nanti malam kamu tidur sama tante Ayah sama om dan kakek, nenek juga paman dan bibj tidur diatas."


"Iya om. Terus tante Jana, ngga jadi tinggal disini om?


"Nanti, karena tante Jana kan lagi hamil. Lebih baik tante Jana di rumah saja. Ini anak pertama om."


"Ayah masih belum bisa ke kantor ya. Ayah lagi duduk di teras sama kakek."


"Biar saja dulu. Ayahmu masih shock. Dan kamu baru masuk senin ya."


"Iyalah om."


"Eka, kamu dari tadi belum makan loh."


Bibi mengingatkan Eka yang belum makan.


"Nanti dulu Bi, Eka belum lapar."


"Takutnya kamu sakit."


"Ngga bi. Eka ngga sakit. Eka sehat."


"Susah ngomong sama anak gadis takut gemuk ya."


"Ngga kok bi, lagipula gimana mau gemuk. Ayah kurus, bunda kurus, kakak semuanya kurus, Eka juga kurus lah Bi. Kalau Eka gendut, Yang ada orang pikir Eka bukan anak ayah dan bunda lagi."


"Hush kalau ngomong sembarangan."


"Malam ini kita ada tahlilan lagi, sama warga sekitar rumah. Kamu belum tidurkan dari semalam. Bibi tahu kok. Kamu ngobrol sama om."


"Eka ngga bisa tidur bi. Buat tahlilan memang sudah disiapkan bi?"


"Sudah dipesan sama tante. Ini nunggu nasi box dan kue-kue datang. Kita nyiapin teh dan kopi saja."


"Oh. Sudah azan dzuhur. Eka mau sholat dulu bi, om."


"Iya sama, kita sholat bareng saja di ruang tengah."


Om keluar memanggil ayah dan kakek. Dan mereka sholat dzuhur bersama.


Habis isya mereka akan melakukan tahlilan. Eka melihat bunda, Fadli dan Fani di depan gerbang.


Eka mau menghampiri mereka tetapi om menahan Eka.


Setelah tahlilan selesai dan tamu pulang, beberapa saudara kembali menginao di rumah Eka. Dan mereka tidur di ruang tengah kecuali ayah, yang ditemani oleh 2 adiknya tidur di kamar. Nenek dan kakek tidur di kamar Fani, paman dan Bibi tidur di kamar Fadli. Sedangkan yang perempuan sebagian tidur di kamar Eka dan di ruang depan kamar Fadli dan Fani dan sebagian tidur di ruang tengah di bawah.


Selama 3 hari rumah Eka penuh dan banyak yang menginap.


Setiap menjelang maghrib, Eka selalu melihat bunda, kak Fadli dan kak Fani datang dan berdiri di depan gerbang rumah. Mereka tidak bisa masuk karena om sudah memagari rumah Eka.


Eka tetap sekolah seperti biasa dan gangguan tetap ada. Tetapi Eka sudah tidak peduli dengan kehadiran mereka. Eka mulai lagi dengan puasa senin kamisnya.


Ayah mulai bekerja lagi. Tetapi setiap hari ada adik ayah yang datang untuk menginap. Ayah tidak pernah dibiarkan tidur di kamar sendiri.


 


Sore itu ayah pulang dari kantor, mukanya pucat.


"Ayah, ayah sakit ya. Kok mukanya pucat?"


"Ngga Eka sayang. Sudah lama kita tidak ngobrol ya sejak bunda dan Fani meninggal. Nanti Eka mau temanin ayah ngobrol tidak?"


"Iya ayah. Ayah mandi dulu biar segar."


Om belum pulang dari kerja. Selesai mandi, ayah pamit mau ke mushola dekat rumah.

__ADS_1


"Kakek dan nenek sedang di kamar. Paman dan Bibi juga tante belum pulang kerja."


Sebelum azan maghrib, paman dan Bibi sampai rumah.


"Eka, ayahmu kemana?'


"Tadi pamit mau ke mushola. Mungkin sholat maghrib di mushola sekalian bi."


"Oh, ya sudah ayo kita sholat maghrib sekalian. Biarkan ayah mu sholat di mushola."


Selepas maghrib om datang bersama tante Jana.


"Eka, ayahmu mana?"


"Ayah tadi pamit ke mushola jam 5 tadi om."


"Sebentar lagi sholat isya, om susul ayahmu ke mushola. Eka temanin tante Jana dulu ya."


"Iya om, Eka kuatir sama ayah, tapi Eka ngga bisa lihat apa-apa om."


"Ngga papa. Eka tenang saja ya."


Om berusaha menenangkan Eka. Tanpa Eka ketahui om sudah minta sama teman mbah Kung untuk menutup Eka dulu. Dan minta rumah ini dipagari biar tidak ada gangguan lagi. Dan om sudah dapat dari temannya mbah kung kemungkinan ayahnya Eka akan pergi selamanya karena kecelakaan.


Om pergi ke mushola tetapi tidak ada kakaknya. Selesai sholat, om langsung pergi mencari kakaknya. Akhirnya om pulang ke rumah.


"Om, ketemu sama ayah di mushola?"


"Ngga ada di mushola. Katanya dari tadi ayahmu ngga ke mushola. Om coba telpon handohonenya tidak diangkat. Apa tidak dibawa? Om coba cek ke kamar dan tasnya."


"Iya om, ayo."


Eka dan om membuka tas ayah. Ternyata handphonenya tidak dibawa. Dan Eka melihat selembar kertas tapi kosong.


"Om! Om! Ke rumah sakit sekarang, ayo om!


"Ayah, ayah dibawa ambulan ke rumah sakit."


"Tapi rumah sakit mana?"


"Kalau om tidak mau cepat biar Eka jalan sendiri naik ojek. Eka tidak mau terlambat sama seperti bunda."


"Iya ayo. Ayo Eka!"


"Naik motor saja, biar cepat. Ayo om jangan lama."


"Tapi rumah sakit mana?"


"Sudah cepat om. Nanti Eka yang atur!"


"Ada apa Eka kenapa panik!"


"Nanti dulu Nenek. Eka harus cepat!"


Om dan Eka sudah naik motor.


"Om doa ya. Dalam 10 menit kita sampai."


"Iya Eka. Iya."


Eka dan Om melihat ada ambulan lewat.


"Om, ikutin ambulan itu."


"Tapi Eka."


"Om, ikutin cepatan!"

__ADS_1


Om mengikuti apa yang Eka minta. 10 menit kemudian mereka sampai di rumah sakit. Eka langsung turun dari motor, sedangkan om memarkir motornya.


Pintu ambulan terbuka.


"Pak, sebentar saya kau lihat siapa bapak ini? Saya sedang mencari ayah saya."


"Tapi mbak. ini korban kecelakaan."


Eka menatap mata petugas ambulan.


"Baik, sebentar saja."


Eka melihat dan ternyata ayahnya.


"Pak ke UGD ya, tolong pak. itu ayah saya, dia masih hidup. Tolong pak."


"Iya mbak."


Ayah dibawa ke dalam UGD dan sedang mendapat pertolongan pertama.


"Eka, gimana? Benar itu ayah kamu?"


"Iya om. Itu ayah."


"Tapi bagaimana bisa kamu tahu."


"Warisan dari mbah Kung tidak bisa ditutup."


Om hanya bisa garuk-garuk kepalanya yang tidak gatal.


Ternyata teman mbah Kung tidak bisa menutup kelebihan Eka.


Polisi masuk ke UGD. Ada beberapa orang di luar. Polisi keluar dari ruang UGD.


"Siapa keluarga dari pasien yang tadi dibawa ambulan.


"Saya pak. Itu ayah saya. Namanya Abi. Bisa saya lihat KTP ayah saya. Namanya Abi lahir tanggal 22 Maret 1963"


"Ya mbak, benar. Mbak siapanya pasien?"


"Dia ayah saya pak polisi. Tadi sore jam 5 dia pamit ke mushola. Tapi tidak pulang-pulang. Saya sama om saya mencari ayah saya. Saat dijalan saya lihat ambulan. Feeling saya bilang jangan-jangan itu ayah saya."


"Ayahnya mbak kecelakaan. Tadi sempat tertabrak mobil boks dan masuk ke bawah mobil boks. Supirnya sudah kami amankan. Kondisi ayahnya mbak sekarang kritis."


"Saya bisa masuk pak, mau lihat ayah saya."


"Silakan."


"Ayo om. Terima kasih pak polisi."


Eka menghampiri ayah yang sudah diberikan pertolongan dan ada selang infus, dan oksigen.


Eka melihat Alice yang tersenyum menang di dekat kaki ayah.


"Kamu yang buat ini! Jangan kamu pikir bisa merebut ayahku. Tidak akan bisa!"


Eka mulai membaca surat An-nas dan bacaan Al-Quran lainnya untuk mengusir Alice. Eka memberikan tasbih di tangan ayah.


Alice menyeringai dan berteriak marahkarena tidak berhasil membawa ayah untuk ikut.


"Om, tolong bantu Eka. Om sholat ya om. Eka jaga ayah. Nanti gantian. Jangan sampai ditinggal, harus ditunggu."


"Iya Eka. Sholat dimana? Disini atau di mushola?"


"Haduh si om pakai tanya. Ya disini masa di mushola, sekalian saja di rumah."


Eka kesal dengan pertanyaan omnya. Setelah om selesai sholat. Eka pun sholat.

__ADS_1


__ADS_2