
"Eka, kamu hari ini bisa jemput kakek dan nenek?"
"Bisa, nanti sore Eka ke bandara. Dari sana jam 5 kan?"
"Iya. Memangnya kakek dan nenek sudah kasih tahu kamu?"
"Belum, kan baru kasih tahu tante tadi. Aku jemput di Halim kan?"
"Iya."
"Ok."
"Eka, kalau mbak Asih ikut jemput bisa tidak?"
"Boleh. Tapi jangan tiba-tiba pingsan di jalan ya. Karena nanti ke Halim bukan ke Soekarno Hatta."
"Maksudnya, pingsan di alan?"
"Gimana ya jelasinnya?" Eka menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Ya sudah nanti kamu ikut saja Asih. Jangan merepotkan Eka ya."
"Iya bu. Makasih ya Eka, aku sudah boleh ikut untuk jemput kakek dan nenek."
Eka menganggukkan kepalanya. Dan pamit untuk berangkat sekolah.
Hari ini Eka merasa lemas karena Adi memegangi terus tangannya. Saat jam istirahat Eka segera keluar dari kelasnya dan pergi ke belakang sekolah. Eka ingin bicara dengan Adi tanpa ada yang melihat.
"Adi! Lepasin tanganku! Karena kamu pegangin tanganku terus, energiku habis!"
"Maaf Eka. Tapi aku tidak mau melepaskan pegangan tanganku karena kalau aku lepas, aku akan diajak sama arwah penasaran yang selama ini sudah mengganggu aku."
"Adi, kamu sadar tidak? Kamu itu juga sudah arwah! Bedanya kamu masih tidak terima kalau kamu sudah beda alam. Harusnya kamu jangan menyusahkan aku!"
"Maaf Eka, karena aku pegang tangan kamu sampai kamu lemas. Bantu aku sekali lagi agar aku tidak dibawa sama arwah itu!"
"Itulah kamu. Kamu yang bermain sama teman-teman kamu. Kamu dan teman-temanmu tidak bertanggung jawab. Harusnya mikir dulu sebelum berbuat. Di hidup nyata saja, kalau ada yang mengganggu hidup orang saja, pasti orang itu akan marah. Sekarang, kamu sudah beda alam, ternyata arwah itu minta kamu bertanggung jawab. Dan hari ini salah satu teman kamu meninggal! Kalau semua teman kamu yang bermain itu meninggal dan ke aku semuanya seperti kamu sekarang, bisa-bisa aku sakit!"
"Bantu aku, Eka. Aku mohon sekali lagi bantu aku dan juga teman-teman aku!"
"Iya, aku pasti bantu, tapi tolong lepasin tanganku. Bagaimana mau bantu kalau tanganku dipegang terus?"
Adi melepaskan pegangannya dan tiba-tiba ada asap yang menyelimuti Adi.
"Eka, tolong aku, tolong Eka!"
Eka segera menarik tangan Adi. Dan membuat pagar untuk melindungi Adi.
Asap yang tadi menyelimuti Adi mendadak hilang.
"Eka, terima kasih sudah membantu aku lagi."
"Sudah mau bel masuk, ayo ikut saja tapi jangan pegang tanganku. Kamu tidak bisa pergi kemana-mana karena kamu sudah dikasih pagar sama aku."
__ADS_1
Eka segera berjalan ke arah kelasnya. Thomas dan Susi berjalan kearah Eka.
"Kamu dari mana Eka? Kami dari tadi mencari kamu. Yang biasanya ada di taman."
"Oh tadi aku ke aula, ingin menyendiri saja. Lagi kesal sama orang rumah."
"Tumben. Memangnya ada apa?"
"Sudah bel masuk, nanti sajalah aku ceritanya."
Eka menengok ke belakang dan melihat Adi yang memperhatikan Thomas dengan pandangan tidak suka.
"Ngga usah macam-macam. Kita beda alam!"
Susi dan Thomas yang melihat Eka menengok dan berbicara hanya mengedikan bahu. Karena mereka tidak tahu Eka berbicara dengan siapa.
Mereka bertiga berjalan ke kelas dengan berlari, karena pelajaran selanjutnya dengan guru yang lumayan killer.
"Kamu tunggu di luar kelas saja. Ngga usah ikutan masuk. Biar energiku ngga habis kamu tarik. Tenang saja. Aku tahu dari tadi ada yang berusaha mengikuti kita. Kamu sudah aku pagarin jadi ngga usah takut."
Eka segera masuk, karena Susi dan Thomas sudah masuk ke kelas duluan.
Sepanjang pelajaran Eka berkali-kali melihat ke arah pintu sampai sang guru killer memandang Eka dengan marah.
"Eka! Kenapa kamu tidak konsentrasi dengan pelajaran saya! Kamu mau keluar kelas! Silakan saja!"
"Maaf bu Budi."
"Kamu bilang maaf tapi mata kamu memandang keluar terus! Memangnya di luar ada apa? Ada pacar kamu? Apa ada setan! Kalau ada pacar kamu yang setan itu, sana temui!"
"Hahahah, hari gini masih saja percaya kesurupan. Sudah keluar kamu sekarang!"
"Tapi bu.. "
Belum sempat Eka berdiri, bu Budi tiba-tiba menari dan melepas gelungan rambutnya. Selama ini murid-murid tahu bahwa bu Budi selalu menggelung rambutnya.
Bu Budi menari dengan rambutnya yang terurai. Dan mata bu Budi berwarna hitam semuanya.
Murid-murid yang ada di kelas berteriak ketakutan karena tidak ada angin, tidak ada hujan bu Budi menari seperti tarian kuda lumping.
Thomas dan Susi menghampiri Eka.
"Eka, itu bu Budi kesurupan?"
"Iya Susi."
Eka segera berteriak ke Alberta yang dekat dengan pintu untuk memanggil guru yang lain.
Alberta dan Martha segera berlari keluar dan mereka kembali dengan beberapa guru.
"Anak-anak silakan keluar kelas semuanya. Jangan ada yang di depan kelas. Lebih baik kalian segera menjauh dari kelas!
Anak-anak segera berlari keluar kelas. Kecuali Eka, Susi dan Thomas.
__ADS_1
"Kalian bertiga, kenapa masih disini."
"Maaf bu, jika boleh kami mau membantu bu Budi." Thomas dan Susi menganggukkan kepala setuju atas perkataan Eka.
"Sudah jangan membuat tambah runyam, kalian bertiga keluar saja."
Tidak berapa lama pak Pal datang dengan guru yang lain.
"Eka, tolong bantu ya. Kamu bisa kan?"
"Iya pak, tapi katanya kami harus keluar daripada buat tambah gaduh."
"Sudah ayo sini."
Mereka bertiga mendekati bu Budi yang masih menari walaupun kedua tangannya sudah dipegang sama beberapa guru
"Thomas dan Susi, kalian tahukan yang mesti dilakukan untuk bantu aku?"
Thomas dan Susi menjawab iya dengan bersamaan.
"Pak dan ibu, mohon di pegangi kepala bu Budi. Eka mau menekan dahi bu Budi."
Eka menekan dahi bu Budi dengan keras membuat bu Budi berteriak kencang disertai tertawa yang terdengar menyeramkan.
Eka segera menekan kedua telapak tangan bu Budi kemudian menekan telapak kaki bu Budi.
Dari mulut bu Budi keluar sumpah serapah dan tertawa juga tangisan.
Para guru yang memegang bu Budi menatap Eka dengan bingung.
Eka segera mengambil kursi dan naik di atas kursi. Eka menekan ubun-ubun bu Budi kemudian melakukan gerakan seperti menarik sesuatu dari kepala bu Budi.
Bu Budi berteriak seperti orang kesakitan dan kedua matanya berwarna merah.
"Pak dan ibu. Eka minta tolong untuk di pegangi bu Budi dengan kuat jangan sampai terlepas pegangannya. Karena Eka mau menarik yang lebih besar lagi."
Para guru yang ada disitu segera memegang dan bahkan ada yang memeluk bu Budi. Eka melihat kearah Susi dan Thomas. Dan mereka berdua menganggukkan kepalanya seperti sudah tahu apa yang harus mereka lakukan.
"Pak dan ibu mohon doa agar bu Budi bisa lepas dari kesurupan ini. Saya dan Thomas juga doa agar Eka lebih mudah menolong bu Budi.'
Eka melakukan gerakan menarik kembali dari atas kepala bu Budi. Dan terlihat Eka seperti kesulitan sampai keringat membanjiri tubuh Eka. Setelah 20 menit melakukan gerakan menarik, akhirnya Eka melakukan gerakan seperti mengusap kepala, dahi, telapak tangan dan kaki bu Budi. Dan bu Budi pingsan. Sedangkan Eka terduduk di lantai karena capek. Semua energinya terkuras.
"Pak dan bu guru, sudah selesai. Bu Budi bisa dibawa ke ruang UKS."
Akhirnya bu Budi dibawa gendong oleh salah seorang guru. Yang tinggal di kelas hanya pak Pal.
"Eka, kamu tidak papa?"
"Eka hanya capek saja pak. Eka tidak papa. Sebentar lagi juga pulih."
Susi dan Thomas membantu Eka yang hendak berdiri.
"Ya sudah, kalian istirahat dulu. Kelas ini akan istirahat sampai nanti bel istirahat. Supaya kalian semua tenang. Bapak tinggal ya."
__ADS_1
"Iya pak." Eka, Susi dan Thomas menjawab serempak.