
Sudah jam 1 malam, Eka masih menyelesaikan tugas kuliahnya.
Srek, srek, srek.
Eka mendengar ada suara daun kering yang terinjak.
Jangan ganggu, aku lagi kerjakan tugas kuliah.
Plok, plok, plok,
Bunyi tepukan tangan kembali mengganggu Eka.
Eka tetap mengerjakan tugasnya.
Ciak, ciak, ciak,
Suara anak ayam. Anak ayam punya siapa? Setahu aku, di sekitaran sini tidak ada yang punya peternakan ayam
Sraaaakkkk, sraakkkk, sraakkkk
Suara daun kering yang di sapu.
Udah deh, aku tahu kalian ada di luar dan mau menggangguku. Aku tidak peduli kalian mau apa, aku hanya ingin menyelesaikan tugas kuliahku!
Gubraaaakkkk
Terdengar dahan patah yang jatuh.
Astaghfirullah Al adzim, Ya Allah, ini kenapa mengganggu sekali sih di luar.
Tok, tok, tok
Terdengar ketukan di jendela kamar Eka.
Tetapi Eka tidak mempedulikan
Tok, tok, tok...
Ciak, ciak, ciak, ciak
sreeekkk, sreeekkk, sreeekkk
Suara itu bergantian berulang kali membuat Eka terganggu. Eka membuka jendela kamarnya dan berteriak.
"Hei kalian semua! Kenapa menganggu! Tunjukkan wajah kalian kepadaku! Aku tidak takut dengan kalian! Keluar kalian semua!"
Teriakan Eka membuat seisi rumah terbangun dan berlari ke kamar Eka.
"Eka, kamu kenapa? Ada apa?"
Ayah mendekati Eka. Nenek, kakek, tante, mbak Asih dan tante Neni masuk ke kamar Eka.
"Eka, kenapa jendelanya di buka? Kamu belum tidur?" Kakek juga mendekati Eka.
__ADS_1
"Maaf, maaf kalau tadi Eka berteriak membangunkan seisi rumah. Eka sedang mengerjakan tugas kuliah, tapi dari tadi ada saja gangguan dari luar. Makanya Eka buka jendela."
"Kakek, tolong tutup jendelanya, ada bau pandan dan bau melati." Mbak Asih meminta kakek menutup jendela kamar Eka.
Saat jendela tertutup.
Gubraaaakkkk, sreeeeekkk, sreeekkk
Semua yang ada di dalam kamar berteriak Astagfirullah karena kaget
Ayah menyibak kain gordyn di jendela ingin tahu apa yang jatuh. Saat membuka kain gordyn, ayah dikejutkan dengan muka yang berwarna putih dan mata merah menempel di kaca jendela membuat ayah kaget dan jatuh.
"Astaghfirullah Al adzim, itu apa! Astaghfirullah, astaghfirullah. Ya Allah lindungilah kami!"
"Kenapa Abi! Ada apa?" Kakek bertanya.
"Tidak papa pak. Abi kaget melihat ada muka menempel di kaca jendela. Abi harus keluar dan melihat ke samping."
"Kakek ikut!"
"Ayah, kakek, jangan keluar! Rumah ini sudah Eka berikan pagar. Mereka tidak akan bisa masuk ke dalam rumah. Lebih baik, kita semua sholat tahajud. Ini sudah jam 3 pagi."
Mereka bersiap-siap untuk sholat tahajud, Tiba-tiba terdengar ketukan di pintu dan seluruh jendela rumah.
"Jangan hiraukan mereka, kita sholat saja."
Selama mereka sholat gangguan itu semakin menjadi-jadi.
Praaaang, praaaannnngggg
Mereka baru selesai sholat tahajud kaget karena semua kaca jendela pecah. Bertepatan kejadian kaca jendela yang pecah. Terdengar azan subuh dan semua aktifitas aneh berhenti. Dan mereka melanjutkan dengan sholat subuh.
"Hahahahha, rumah kita di bom sama setan, hancur semuanya kaca jendela."
Kakek tertawa terpingkal-pingkal setelah berkeliling rumah.
Kakek memanggil tukang kaca untuk memasang kembali kaca-kaca yang pecah.
"Kakek, semalam ada apa? Saya bangun jam 3 pagi terdengar gaduh dari rumah kakek dan ada suara hihihihihihi gitu."
Beberapa tetangga datang ke rumah kakek dan menanyakan hal yang sama.
"Biasalah heheheh, ada yang buat ulah."
"Kiriman dari seseorang kek?"
"Tidak tahu. Hanya saja semua kaca jendela pecah."
"Astaghfirullah kok bisa gitu? Apa jangan-jangan ada pencuri yang mau masuk ke rumah kakek. Tapi saya dan pak Dwi juga yang lainnya dengar suara seperti kuntilanak."
"Memang pak Kuncoro pernah dengar suara kuntilanak?"
"Amit-amit sih kek, belum pernah. Cuma kedengarannya seram sampai merinding semua bulu kuduk saya."
__ADS_1
"Hahahha. Pak Kuncoro bisa saja. Sholat tahajjud pak, biar tidak mikir macam-macam."
"Kek, kita bantu membereskan ya."
"Terima kasih banyak pak Arman, tidak usah. Saya sudah memanggil tukang. Lagi menunggu tukang datang."
"Kalau begitu mulai nanti malam, kita adakan ronda lagi. Kita berjaga-jaga, bisa jadi semalam rumah kakek, dan nanti malam rumah yang lainnya."
"Iya benar. Siaplah kalau nanti malam ada ronda, setidaknya kampung kita jadi lebih aman."
Satu persatu para tetangga meninggalkan rumah kakek. Dan kakek masuk ke dalam rumah.
"Kakek, Eka minta maaf karena Eka, rumah kakek hancur berantakan."
"Kenapa Eka yang harus minta maaf. Eka tidak salah. Mereka itu yang salah. Dan kakek akan cari tahu kenapa mereka semua menyerang rumah kakek."
"Ya, seandainya Eka seperti orang normal mungkin rumah kakek akan adem ayem, tentram, nyaman tidak akan di ganggu oleh makhluk-makhluk itu."
"Hahahah, Eka, Eka, kamu itu orang normal. Cucu kakek yang sangat kakek sayang. Karena memang baru kamu cucu kakek, setelah kedua kakakmu pergi. Tantemu belum menikah. Dan apa yang kamu punya saat ini adalah berkah dari Allah. Kakek yakin pasti ada sesuatu hal yang harus kamu kerjakan di luar nalar manusia. Jadi tugas kita saat ini menjadi orang yang lebih baik dan jangan pernah meninggalkan shalat."
"Iya kek. Terima kasih."
"Kakek, Eka, ayo sarapan dulu."
"Iya nek."
Mereka semua berkumpul di meja makan untuk sarapan.
"Abi, kamu hari ini kerja?"
"Ngga pak. Abi hari ini ijin. Abi mau bantu untuk beresin rumah dan mengecek apa yang sebenarnya terjadi semalam. Nanti adeknya Abi akan datang ke sini. Bapak sendiri gimana?"
"Sama seperti kamu. Seperti kemarin ada perang roh. Entah siapa yang menang."
"Yang menang kitalah. Atas perlindungan Allah makanya kita tidak kena. Tapi pertahanan kita memang kurang, karena itu nanti sore nenek mau mengadakan pengajian."
"Nek, gimana sih! Belum tentu hari ini semua kaca terpasang. Besok saja diadakan pengajian. Dan mungkin kita jarang sedekah."
"Bukan jarang pak, bu tapi kurang sedekahnya."
"Kakek, nenek, ayah, tante dan mbak. Bukan masalah sedekah. Tapi memang beberapa hari ini di kampus ada yang tidak suka sama Eka. Sampai akhirnya kemarin Eka tidak mengikuti kelas terakhir. Eka dibawa ke hutan bambu yang ada di belakang kampus. Dan untungnya Eka ditolong sama Alvian, Chandra dan Martin, juga mbah kakung."
"Eka, salah! Yang menolong Eka adalah Allah SWT melalui Alvian, Chandra dan Martin juga mbah kakung. Karena itu perbanyaklah dzikir, jangan tinggalkan sholat."
"Iya maksud Eka gitu kek. Maaf."
"Tapi kamu hari ini ke kampus kan?"
"Iya ayah. Nanti ada kelas jam 11. Setidaknya pagi ini Eka bisa bantu membersihkan pecahan kaca."
"Nanti kamu diantar sama pak supir ya. Karena ayah mau bantu kakek di rumah."
"Eka naik angkutan umum saja ngga papa ayah. Siapa tahu nanti ayah atau kakek, mungkin juga nenek butuh mobil. Jam-jam Eka berangkat kuliah kan jam-jam sibuk, pasti macet."
__ADS_1
"Ya sudah. Baiknya saja bagaimana."