
"Eka, kamu benaran tidak sakit? Muka kamu makin pucat loh."
"Ngga papa, aku tidak sakit. Hanya saja dada aku makin sesak."
Eka berusaha menghembuskan napas berkali-kali.
"Non Eka, ayo bapak papah ke dalam. Istrinya pak Felix hanya mau memberikan surat itu sama non Eka langsung."
"Iya pak. Hanya saja boleh tidak ambilkan air di botol minum Eka di mobil. Sama tas kecil yang warna hitam di mobil. Bawa sini ya pak. Eka minta tolong."
"Iya non. Tunggu sebentar ya non."
Eka menganggukkan kepalanya. Pak supir segera menuju ke mobil untuk mengambil botol minum dan tas kecil yang diminta Eka.
"Eka, ini kamu minum air ini saja dulu." Thomas memberikan air putih kemasan kepada Eka.
"Makasih Thomas. Tapi aku ngga minum ini. Nanti setelah minum air yang di bawa pak supir, aku bisa minum air ini."
Tidak berapa lama pak supir datang membawakan botol air dan tas hitam kepada Eka
Eka segera meminum air yang di dalam botol sampai habis. Dan berangsur-angsur muka Eka tidak pucat lagi. Eka membuka tas hitam dan mengambil tasbih kecil pemberian dari almarhum mbah kakung dan menggenggam tasbih itu sambil berdoa.
"Pak, temani Eka masuk ke dalam ya."
"Iya non. Ayo." Pak supir berjalan di belakang Eka dan masuk ke dalam rumah."
"Mbak Asih." Eka memanggil mbak Asih yang sedang duduk di sebelah jenasah ayah dan neneknya.
"Iya Eka. Kamu duduk di sebelah sini. Nanti ibu duduk disitu kok. Ibu lagi masuk ke kamar."
"Iya mbak. Tapi mbak. Bisakah anterin Eka ke kamar ibu? Eka takut ibu kemasukan?"
"Maksudnya kemasukan?"
"Maksudnya kesurupan. Ayo mbak. Sekarang."
"Masa sih kesurupan? Eka tahu darimana? Memangnya Eka cenayang. Kamu itu pikirannya aneh-aneh dan..."
Belum sempat mbak Asih menyelesaikan Kata-katanya. Terdengar terjakan ibunya dari dalam kamar yang membuat semua orang yang ada di dalam rumah ketakutan dan merinding dan berlari kearah kamar termasuk mbak Asih.
"Innalillahi, ibu, ibu kenapa?"
Terdengar orang-orang mengucapkan innalillahi secara bersamaan saat melihat kondisi ibu dari mbak Asih termasuk Eka.
"Mbak Asih, Eka minta tolong ambilkan air sama bawang putih ya dan di depan ada daun pandan. Tolong bawakan ke sini."
"Iya Eka, sebentar." Mbak Asih segera keluar dari kamar.
"Kamu kenapa jahat sama ibu ini. Memang ibu ini salah apa? Saya minta kamu keluar dari tubuh ibu ini. Kasihan ibu ini."
"Aku perlu nyawa 1 lagi karena nenek tua itu telah berjanji jika ia meninggal, aku bisa mendapatkan 2 jiwa. Karena kedatangan kamu, aku tidak bisa membawanya."
"Ibu ini tidak salah. Jangan kamu tambahkan beban lagi kepada ibu ini."
"Aku tidak mau. Jika kamu menghalangiku maka semua keluarga yang tinggal dalam rumah ini akan ikut aku. Nenek itu telah ingkar janji sama aku."
Mbak Asih datang membawa semua yang Eka minta. Eka segera memberi minum kepada ibunya mbak Asih dan meremas bawang putih yang diberikan kemudian dibalurkan ke telapak kakinya. Setelah itu Eka mengebaskan daun pandan ke seluruh tubuh ibunya mbak Asih.
Tiba-tiba keluar asap dari mulut ibunya mbak Asih.
Eka masih berdoa agar keluar roh jahat yang ada di tubuh ibu tersebut.
"Astaghfirullah, astagfirullah, astagfirullah. Asih, Asih."
"Ibu, ibu tenang ya. Asih. Ibu tidak mau tinggal di rumah ini lagi. Nenek kamu, nenek kamu sudah berbuat aneh sampai akhirnya ayahmu kena."
"Iya bu, iya. ibu tenang ya. Setelah kita kuburkan nenek dan ayah. Kita pindah dari rumah ini."
__ADS_1
Beberapa orang yang melihat kejadian tadi bingung. Dan mereka juga memandang Eka ingin tahu ada apa sebenarnya.
"Mbak Asih. Surat dari nenek mbak Asih mana? Yang katanya mau diberikan sama Eka?"
"Ini suratnya. Ibu tadi mau keluar kamar tahu-tahu ada nenek tua yang menarik ibu keluar dari badan ibu. Ibu dibawa ke tempat yang menyeramkan banyak darah dan daging busuk. Mereka minta ibu makan daging busuk itu. Tapi ibu tidak mau. lbu juga lihat nenek memakannya sedangkan ayahmu, Asih. Ayah diikat dan seluruh badannya di plintir sampai keluar darah. Ibu takut. Ibu takut."
"Mbak Asih dan ibu. Tolong baca surat An-Nas, surat Al Falaq dan Al Fatihah ya. Sebentar lagi nenek dan ayah mbak Asih akan dimandikan. Mbak Asih dan ibu tetap disini saja jangan keluar dari kamar."
Eka sudah menerima surat yang diberikan oleh ibunya mbak Asih.
"Eka, tolong surat itu diberikan oleh nenekmu. Dan bantu kami agar terhindar dari jiwa-jiwa jahat yang mengganggu kami. Tinggal kamu berdua. Seluruh keluarga dari nenek dan suami ibu sudah meninggal semua. Dan mereka masih mengejar kami karena Asih satu darah dengan nenek dan suami ibu."
"Ibu, Eka akan bantu tapi yang paling utama mintalah sama Allah SWT karena Dia yang punya hidup. Tetap sholat jangan lupa untuk tetap mengucap syukur atas rejeki yang telah Allah berikan."
"Iya Eka. Ibu sudah bingung harus bagaimana lagi. Ibu takut saat nanti nenek dan suami ibu masuk ke liang kubur, mereka tidak diterima."
"Yakinlah bu. Allah pasti mengampuni semua dosa yang telah diperbuat."
"Tapi Eka, banyak hal yang ingin ibu ceritakan tapi ibu takut."
"Takutlah kepada Allah, bu. Eka keluar dulu karena sepertinya di luar ada keributan."
Eka keluar dari kamar diikuti oleh istri pak Felix dan mbak Asih.
Semua orang berkumandang Allahu Akbar tanpa berhenti.
"Susi, Thomas, pak Supir. Ada apa? Kok banyak yang lari ketakutan. Ada apa?"
"Iya non, yang memandikan jenazah nenek dari pak Felix meninggal dan jenazah nenek tidak ada. Begitu juga jenazah pak Felix."
"Innalillahi. Kok bisa? Non lihat hanya tinggal kain saja sedangkan jenazah pak Felix tadi menghilang bersamaan dengan yang memandikan jenazah nenek meninggal."
Istri pak Felix memegang tangan Eka dengan kencang.
"Eka, ibu takut. Ini yang sebenarnya terjadi dengan keluarga nenek dan pak Felix, mereka meninggal tapi kami tidak bisa menguburkan mereka karena mereka hilang."
Ibu dan mbak Asih menganggukkan kepalanya.
"Dan apakah rumah ini dari hasil pesugihan?"
Sekali lagi mereka berdua menganggukkan kepala.
"Pak supir, Thomas, aku minta tolong untuk panggil pak RT. Dan Susi tolong bantu ibu dan mbak Asih berkemas juga Eka minta tolong sama ibu-ibu yang lain untuk bantu berkemas. Bawa saja baju dan dokumen yang diperlukan selebihnya di tinggal. Ayo cepat ya. Setelah itu kosongkan rumah ini tanpa kecuali."
Eka sudah merasakan bahwa akan datang kekuatan besar yang menakutkan. Eka duduk berdiam diri. Tidak berapa lama pak supir dan Thomas datang dengan ketua RT.
"Non Eka. Lalu bagaimana?"
"Pak RT, saya minta semua yang masih ada untuk pulang segera dan kosongkan tempat ini. Ambil kursi-kursi dan tenda segera dibongkar Segera ya pak. Nanti saya akan jelaskan. Tapi saya minta cepat. Pak supir. Tolong bantu mereka ya."
Pak supir, Thomas dan pak RT segera meminta para warga untuk meninggalkan rumah mbak Asih dan sebagian lagi membantu merapikan kursi-kursi juga membongkar tenda
"Ya Allah, aku sudah tidak kuat menahan ini. Sementara mereka belum selesai." Eka membuat pagar agar kekuatan itu tidak menyerang orang-orang. Eka berdoa dan membaca ayat-ayat Al Quran.
"Eka, ini mbak Asih dan ibunya sudah selesai. Aku ajak ke mobil ya."
"Iya Susi, dan minta tolong kasih tahu pak Supir untuk keluar dari area ini kurang lebih 500m termasuk mobil-mobil yang lainnya. Cepat ya. Aku sudah tidak kuat nahan ini semuanya."
Susi segera meminta mbak Asih dan ibunya mengikuti dan juga ibu-ibu yang membantu berkemas diminta segera pulang atau pergi sejenak.
Eka berjalan keluar rumah dan mendapati semuanya sudah bersih tanpa ada satupun orang hanya ada kain penutup jenasah pak Felix dan nenek yang sudah tidak ada.
"Dengan segala perlindungan dan kekuatan dari Engkau ya Allah. Aku sudah siap menghadapi yang tidak kasat mata yang ada di dalam rumah ini."
Tiba-tiba datang sesosok makhluk yang menyeramkan memegang tubuh Eka yang berdiri dan berusaha membawa Eka pergi.
"Kamu sudah merusak kesenangan kami, hai anak kecil! Sebagai gantinya aku akan membawa kamu."
__ADS_1
"Aku tidak takut dengan kalian! Karena aku punya Allah SWT yang melindungi aku."
Entah kekuatan dari mana tiba-tiba badan Eka mengeluarkan api yang membuat makhluk itu melepaskan pegangannya.
"Allahu Akbar! aku akan binasakan kalian semua dan tidak ada yang lagi orang-orang yang bisa kalian ambil jiwa dan jasadnya."
Api yang ada di tubuh Eka seperti diperintahkan mulai membakar barang-barang yang ada dalam rumah ini.
Eka berjalan keluar rumah dan memegang tembok rumah pak Felix seketika rumah pak Felix terbakar. Eka melangkah lagi keluar dan ia sudah ada di jalan depan rumah pak Felix yang terbakar.
Tetangga kanan kiri yang temboknya bersebelahan dengan rumah pak Felix khawatir rumahnya akan ikut terbakar. Mereka segera berlari keluar rumah dengan panik.
Untungnya pak supir sudah mengantisipasi. Pak Supir mengajak mereka untuk menjauhi Eka yang masih terbakar.
"Pak, pak. Anak itu tubuhnua terbakar. Kasihan dia. Tolong dibantu."
"Ngga papa pak bu. Itu anak bos saya. Ia punya kelebihan dari Allah. Percaya saja rumah bapak dan ibu akan aman tidak akan terbakar."
"Hahhaha, ada kejadian seperti ini bapak masih bisa bercanda. Rumah pak Felix terbakar bagaimana bisa rumah kami tidak ikut terbakar karena terkena sambaran apinya."
"Atas seijin Allah, rumah bapak dan ibu akan aman." Pak supir berusaha menyakinkan orang-orang tersebut.
"Pak RT telpon pemadam kebakaran. Rumah pak Felix kebakaran."
"Pak supir, ini bagaimana?"
"Tenang pak. Non saya tahu apa yang mesti dia perbuat.
Pak supir sudah menghubungi ayah dan kakeknya Eka.
Mereka baru saja tiba.
" Tuan, non Eka membantu keluarga pak Felix."
"Eka mana, anak saya mana?"
"Tuan yang berdiri dengan api menyala itu non Eka. Saya belum bisa menjelaskan."
"Abi, tenang. Eka tahu apa yang mesti dia perbuat."
"Iya pak. Tapi, badan Eka terbakar."
"Iya tapi itu bukan api yang seperti kita tahu. Itu kekuatan yang ada dalam diri Eka pada saat dia sudah marah sama para makhluk halus. Biarkan saja. Tunggu sampai amarahnya Eka mereda.
Setelah 3 jam rumah pak Felix terbakar semua tanpa sisa hanya ada sisa-sisa arang. sedangkan rumah tetangga tidak ada yang terbakar.
Eka terduduk lemas setelah berteriak Allahu Akbar.
Kakek, ayah, pak supir. Susi dan Thomas diikuti oleh pak RT juga warga menghampiri Eka yang terduduk lemas. Kakek memberikan botol minum kepada Eka.
Semua terkejut melihat badan Eka tidak terbakar. Masih dengan pakaian sekolah hanya wajahnya yang terlihat capek. Terdengar komentar orang-orang.
"Anak itu terbakar tadi. Kita semua lihat tapi kenapa tidak ada luka bakar sama sekali dan bajunya masih memakai baju sekolah."
"Eka, minum ini. Biar kamu kuat lagi."
"Makasih kakek. Selesai sudah tidak ada yang tersisa. Kakek, ini surat untuk nenek dari ibunya pak Felix."
Eka memberikan surat tersebut kepada kakek.
"Pak RT, saya mohon maaf sudah membuat keributan di lingkungan pak RT. Besok saya akan datang ke sini lagi. Setidaknya rumah yang bersebelahan dengan rumah pak Felix tidak terbakar."
"Iya neng. Terima kasih banyak. Neng pulang, sudah malam. Kasihan besok harus sekolah. Saya atas nama warga mengucapkan terima kasih atas bantuan neng Eka dan teman-temannya juga pak supir."
"Ya pak RT, sama-sama. Mbak Asih dan ibunya biar ikut saya pulang. Biarkan mereka istirahat. Assalamu'alaikum semuanya. Terima kasih."
Eka, Susi, Thomas beserta kakek, ayah dan pak supir pamit pulang. Eka dipapah oleh ayah dan kakek.
__ADS_1
Sementara para warga masih bingung dengan kejadian yang diluar nalar mereka.