Warisan

Warisan
bungkusan hitam


__ADS_3

"Tante, tante yakin nanti malam akan lamaran? Kenapa mendadak? Sejak kapan tante pacaran? Apa jangan-jangan tante di guna-guna?"


Tantenya yang baru pulang kerja langsung di berondong pertanyaan oleh Eka. Dan tante hanya tersenyum, masuk ke dalam kamarnya dan mengunci pintu.


Kok pertanyaan aku ngga dijawab sama tante? Jangan-jangan? Tadi pandangan tante kosong."


"Eka, kamu ngapain di depan kamar tante? Tante belum pulang. Masih di kantor. Dan ini baru jam 3."


"Tante sudah pulang kok nek. Baru saja masuk."


"Kamu lagi ngigau atau lagi mimpi? Ini nenek baru saja nelpon tante dan bilang nanti tante akan beli kue dulu jadi baru sampai rumah sebelum maghrib."


"Tapi nek. Tadi tante sudah datang. Ada di kamar dan sekarang pintu kamar tante di kunci."


"Masa?" Nenek berjalan menghampiri Eka yang masih berdiri di depan kamar tantenya. Dan nenek membuka pintu kamar anak bungsunya.


"Ini kebuka pintunya. Tidak di kunci? Kamu sakit Eka?" Nenek memegang dahi Eka.


"Astaghfirullah al adzim, nenek, Eka ngga sakit. Eka tadi lihat tante keluar dari mobilnya. Kalau nenek tidak percaya ayo ke depan. Ada mobilnya tante."


Eka dan nenek berjalan ke depan. Dan ternyata tidak ada mobil tante di depan. Pak supir sedang menjemput kakek dan menjemput ayahnya.


"Mana mobil tante? Ngga ada kan?"


"Tapi, tapi, Eka yakin itu tadi tante, nek."


"Ya sudah, kamu sholat dulu sana. Biar mata kamu tidak di tutup sama setan."


Eka masih bingung dan ia mengambil handphone di saku celananya. Eka segera menelpon tantenya.


"Halo Eka, ada apa?"


"Tante, tante dimana sekarang."


"Tante masih di kantor, ini siap-siap mau pulang sebelumnya mau mampir dulu untuk beli kue. Ada apa Eka? Ada yang mau kamu beli? Biar nanti tante sekalian belikan?"


"Eh ngga tante. Eka hanya tanya saja. Ya sudah tante. Hati-hati nanti pulangnya, jangan lupa sepanjang jalan doa. Biar tidak ada yang ganggu."


"Iya ponakan tante yang tersayang. Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam tante."


Eka menutup sambungan telponnya.


"Nah, gimana? Sudah percaya sama nenek? Tante kamu masih di kantorkan? Sudah sana cepat ambil wudhu dan sholat."


"Iya nek."


Eka masuk ke dalam rumah diikuti oleh nenek.

__ADS_1


"Eka kenapa mbak?"


"Tahu tuh, tiba-tiba bilang kalau tantenya sudah pulang. Padahal masih di kantor. Masakannya sudah siap semua, Neni, Asih."


"Sudah, tinggal goreng ayamnya saja. Nanti gorengnua jam 5. Supaya tidak terlalu dingin sekalian semuanya nanti di tata di meja makan."


Eka sudah selesai sholat dan belum melepas mukena.


Sepertinya nanti malam akan ada kejadian yang menegangkan. Tapi Eka masih bingung yang tadi datang menyerupai tante itu apa? Dan tadi Eka tanya, makhluk itu hanya tersenyum. Sedangkan, selama ini tante selalu menjawab semua pertanyaan Eka.


Eka berusaha mengingat-ingat.


Astaghfirullah, makhluk itu kiriman dari pacarnya. Ya Allah, semoga tidak terjadi apa-apa sama tante. Lindungi tante ya Allah biar selamat sampai rumah.


Eka segera melepas mukenanya dan berganti pakaian. Lalu keluar dari kamar menuju ke teras rumah.


Semua yang tadi Eka beli sama pak supir dibuka dan Eka mulai menyiapkan semuanya.


Jika memang pacarnya itu mencari tumbal dan tante yang sedang disiapkan untuk jadi tumbalnya, jangan harap bisa. Aku akan buat mereka tidak bisa masuk ke dalam rumah ini dan mengganggu keluargaku!


Eka segera memagari seluruh rumah.


Segala hal negatif tidak akan bisa masuk. Kita lihat saja nanti, jika mereka nekat maka jangan salahkan aku karena aku melindungi keluargaku.


Eka duduk di teras depan sambil menunggu tantenya pulang.


"Eka, kamu kenapa duduk di teras?"


"Kakek, ayah! Maaf, pertunangan tante akan membawa bencana buat tante dan keluarga kita."


"Kakek dan ayahmu masuk dulu ke dalam ya nanti kita bicara lagi. Tumben kamu seperti ini?"


"Tapi kek, Eka tidak mau lagi kehilangan orang yang Eka sayangi setelah sekian tahun yang lalu Eka harus kehilangan bunda dan kakak."


"Pak, bapak masuk saja. Abi yang akan temani Eka disini."


Kakek menganggukkan kepala dan masuk ke dalam.


"Eka, kamu kenapa kelihatan gelisah?"


"Ayah, tante akan dijadikan tumbal sama pacarnya."


"Hush, kamu tidak boleh suudzon sama orang. Apalagi kamu belum kenal pacarnya."


"Ayah, Eka tidak suudzon, tadi jam 3, Eka lihat tante pulang. Lalu Eka tanya, tapi tante hanya tersenyum dan masuk ke kamar kemudian mengunci pintunya. Sampai nenek bilang kalau tante masih di kantor. Karena Eka tidak percaya sama omongan nenek dan ternyata nenek buka kamar tante yang tidak di kunci."


"Nah itu, kamu terlalu memikirkan tantemu. Ada rasa tidak terima dalam diri kamu dimana tantemu dalam hitungan jam akan bertunangan."


"Ayah! Ayah tidak mengerti. Eka sudah lihat kejadian-kejadian yang akan membuat keluarga kita hancur 2 jam lagi! Eka bisa tahu karena Eka bisa. Eka bisa lihat!"

__ADS_1


Ayah mendekati Eka dan merangkul Eka.


"Maaf, maafin ayah. Sudah Eka tenang ya, kita serahkan semuanya sama Allah. Dan yakin pasti tidak akan terjadi apa-apa sama tantemu."


"Akan, akan terjadi. Ayah antar Eka untuk ketemu sama tante sekarang! Ayo ayah."


"Tapi bagaimana mungkin Eka. Bisa jadi tantemu sudah pulang."


"Belum, masih di kantor. Eka sedang menahan tante supaya tidak pulang sendiri. Kita cuma punya waktu 15 menit untuk ke kantor tante."


"Tapi." Eka menatap tajam ayahnya.


"Pak supir, ayo kita berangkat sekarang."


"Kemana pak Abi."


"Biar Eka yang kasih tahu kemana."


"Ayah, Eka duduk depan."


Ayah mengangguk. Mereka sudah di dalam mobil


"Ayo pak supir, kita jemput tante."


Pak supir memandang Eka dan pak Abi bergantian. Ayah hanya bisa menganggukkan kepalanya. Seketika pak supir paham. Pak supir melihat jam di tangannya.


Sudah jam 16.44. Bagaimana bisa cepat sampai. Kadang non Eka tidak bisa diprediksi maunya apa. Dan jam segini, jamnya macet.


Pak supir hanya bisa membatin.


Mereka segera menuju ke kantor tante. Dan akhirnya mereka sampai. Eka segera keluar dan berlari masuk ke dalam kantor tantenya, meninggalkan ayah yang masih ada di dalam mobil.


"Pak Abi, bagaimana mungkin? Saya tadi lihat jam kita berangkat jam 16.44 dan ini jam saya masih jam 16.44. Kita tadi masih di halaman rumah kakek."


"Ya, itulah Eka. Susah untuk dijelaskan secara nalar. Ya sudah saya turun dulu ya pak. Takutnya Eka macam-macam di kantor tantenya."


Ayah segera keluar dari mobil dan melangkah ke dalam kantor adik iparnya. Dan saat yang sama Eka dan tantenya sudah keluar.


"Mas Abi ikutan jemput? Lantas mobil aku bagaimana?"


"Ayah, ayah bawa mobil tante. Eka sama tante naik mobil kakek."


"Ok Eka."


Tante memberikan kunci mobil kepada mas Abi. Dan Eka segera mengambil kunci mobil dan membuka mobil tantenya. Eka menggeledah mobil tantenya sampai akhirnya Eka menemukan bungkusan hitam kecil yang diikat oleh tali berwarna putih. Ayah dan tante yang melihat bungkusan itu terkejut saat Eka memperlihatkan bungkusan itu dan membukanya ternyata berisi photo tante dan tanah juga jarum.


"Biar mobil tante disini saja. Kita pulang ke rumah sekarang. Ngga usah komentar dulu. Harus segera pulang."


Eka meninggalkan ayah dan tante yang masih terkejut dan akhirnya mengikuti Eka masuk ke dalam mobil

__ADS_1


__ADS_2