
"Eka, apa kabar?"
Alvian mendekati Eka yang sedang membaca di perpustakaan.
"Eh, kaget aku. Baik. Kamu ngapain kesini? Yang lain mana?"
"Memangnya kamu saja yang boleh ke perpustakaan? Semua mahasiswa di kampus ini kan boleh."
"Oh iya ya. Maaf."
"Kamu masih ada kelas lagi?"
"Ngga, sudah selesai. Ini nunggu supir jemput masih 2 jam lagi. Jadi aku ke perpustakaan saja. Mau jajan tapi malas hehehhe. Oh iya teman kamu mana? Kok belum dijawab."
"Martin tidak masuk, sakit. Chandra biasalah lagi ngejar cewek, senior kamu?"
"Oh ya? Ya baguslah."
Handphone Eka berbunyi, ternyata dari ayahnya dan minta Eka untuk pulang sendiri. Karena pak supir tidak bisa menjemput Eka.
"Eka, aku anterin pulang saja. Aku juga sudah tidak ada kelas. Bagaimana? Maukah?"
"Tidak usah Al. Rumah kamu sama rumah aku beda arah. Yang ada kamu bolak-balik."
"Ngga papa santai saja. Lagipula hari ini aku di jemput sama Jajang, supir aku."
"Oh."
"Mau ya?"
"Ngga usah Al, aku pulang sendiri saja."
"Sekalian kita nengokin Martin."
"Memangnya Martin sakit apa? Parah?"
"Ya ngga jelas juga. Martin itu orang yang jarang sakit."
"Oh. Ya sudah, aku balikin dulu buku ini."
"Ok."
Eka berdiri dan berjalan ke arah rak buku.
Alvian yang melihat Eka terkejut, karena Alvian melihat sesuatu yang berjalan di belakang Eka.
"Eka! Eka! Tunggu aku."
"Hei jangan teriak-teriak! Ini perpustakaan."
"Iya, iya pak. Maaf, maaf pak?"
Alvian berlari mengejar Eka. Alvian berusaha mencari Eka kesana kemari. Tapi Alvian tidak menemukan Eka. Alvian berlari ke depan dan minta sama petugas perpustakaan untuk membantu mencari Eka karena petugas bilang tidak ada yang keluar dari perpustakaan.
"Ayo pak. Tolong saya. Saya harus antar dia pulang. Tadi duduk disana."
"Iya, iya saya bantu."
Mereka berdua sudah berkeliling tetapi tidak menemukan Eka. Alvian melihat ada pintu di belakang.
"Pak, ini pintu apa?"
"Ini gudang."
__ADS_1
"Pak, tolong di buka pak. Teman saya jangan-jangan ada di dalam."
"Sebentar. Gudang ini di kunci tidak mungkin teman kamu di dalam."
"Buka pak. Buka pak!"
"Aduh, kamu tidak percaya ya. Ini kuncinya!"
Petugas perpustakaan memperlihatkan rencengan kunci yang dia pegang.
"Buka pak. Ayo buka pak!"
"Iya, iya, Sabar!"
Petugas membuka pintu gudang yang terbuka.
"Eka! Eka! Kamu ada di dalam!"
Petugas menyalakan lampu. Dan ternyata Eka ada di dalam dengan kondisi pingsan dan hidungnya berdarah.
"Astaghfirullah, Eka, Eka!" Alvian mendekat ke Eka dan berusaha membangunkan Eka. Sedangkan petugas perpustakaan bingung bagaimana bisa masuk ke gudang sedangkan gudang dalam keadaan terkunci.
"Pak, pak, Tolong bantu saya, bawakan tas teman saya. Biar saya yang angkat teman saya."
Alvian segera membopong tubuh Eka. Dan petugas perpustakaan membawa tas Eka kemudian mengunci kembali gudang tersebut.
"Teman kamu di bawa saja ke ruang kesehatan. Disana ada minyak kayu putih ataupun balsem biar cepat siuman. Dan kalau sudah kamu kembali lagi kesini untuk ambil tas teman kamu!" Petugas membersihkan darah di hidung Eka.
Alvian segera membawa Eka ke ruang kesehatan.
"Al, Alvian! Ada apa? Eka kenapa?"
"Chan, tolongin gue. Ambil tas Eka di perpustakaan. Gue bawa Eka ke ruang kesehatan dulu! Dia pingsan!"
"Ok, ok. Hati-hati."
Perasaan gue saja atau? Ah nantilah gue cari tahu.
"Pak, maaf. Saya mau ambil tas teman saya yang pingsan."
"Oh iya ini tasnya. Dan ini laptopnya, tadi masih ada di meja sebelah sana."
"Ok pak. Terima kasih."
"Ya sama-sama."
Chandra segera berlari menyusul Alvian dan Eka ke ruang kesehatan.
"Al, gimana Eka? Eka kenapa?"
"Nanti aja gue jelasin. Elo udah mau pulang?"
"Belum, gue nunggu si Ana, dia masih ada kelas."
"Ya udah yuk, masuk. Lihat si Eka apa sudah sadar atau belum?"
Alvian dan Chandra masuk ke ruang kesehatan dan menghampiri Eka.
"Eka, kamu sudah sadar?"
"Aku dimana? Kepala aku sakit banget."
"Kamu di ruang kesehatan. Karena tadi aku nunggu kamu lama ternyata kamu pingsan. Dan hidung kamu berdarah. Kamu suka mimisan?"
__ADS_1
"Oh. Aku ngga pernah mimisan. Cuma tadi aku ngerasa ada yang mukul kepalaku dari belakang. Sampai benjol nih. Sakit banget."
Eka memiringkan kepalanya dan terlihat kepala bagian belakangnya benjol sebesar telur puyuh.
Alvian dan Chandra yang melihat benjolan itu kaget karena berwarna merah kehitaman.
"Iya kan benjol?"
"Iya Eka. Sini aku kasih minyak atau balsem untuk mengurangi benjolan di kepala kamu."
"Ngga usah Al, sakit banget. Biar nanti aku saja yang kasih."
Eka bangun dan duduk.
"Aku mau pulang. Sudah enakan. Kalau kelamaan disini, takutnya nenek kuatir."
"Aku antar kamu pulang. Kan tadi aku bilang mau antar kamu pulang."
"Ngga usah. Aku naik taksi saja."
"Ngga, ngga, kondisi kamu habis pingsan dan kepala kamu benjol gitu. Aku juga pakai supir. Jadi aku antar kamu pulang."
"Iya Eka, benar yang Alvian bilang. Alvian ada supir. Jadi ngga usah merasa merepotkan. Kalau aku maaf, tidak bisa karena aku bawa mobil sendiri."
"Iya, iya." Eka turun dari tempat tidur dibantu Alvian. Eka masih merasa keliyengan.
"Aduh, kepala aku sakit banget!"
"Aku gendong saja ya."
"Apaan sih! Eka meraba bagian kepalanya yang benjol dan terlihat kesakitan. Tiba-tiba muka Eka terlihat marah.
Oh, jadi ada yang iseng di perpustakaan. Kita lihat besok! Eka membatin dalam hati.
"Eka, are you ok?"
"Iya. Ya sudah ayo. Aku mau pulang sekarang.
Alvian dan Chandra berjalan disisi Eka sampai ke tempat parkiran mobil.
Eka sudah masuk ke dalam mobil. Chandra segera menarik tangan Alvian.
"Elo hutang cerita. Makhluk apa yang buat Eka kayak gitu!"
"Iya, nanti setelah antar Eka, kita ketemuan di rumah Martin. Nanti gue ceritain. Elo juga lihat tuh makhluk?"
"Iya tadi pas gue ambil tas Eka. Dia di dalam gudangkan? Padahal gudangnya kekunci?" Chandra menatap Alvian dengan tajam."
"Iya. Gue antar Eka dulu. Setelah itu gue langsung ke rumah Martin. Gue tunggu elo di rumah Martin."
"Ya. Hati-hati. Eka lagi dikerjain. Elo buat pagar biar Eka tidak di ganggu. Ini kampus banyak banget." Chandra membuat kutipan dengan kedua jarinya.
"Al, elo jadi anterin gue pulang atau tidak. Kalau elo masih mau ngobrol sama Chandra, gue pulang sendiri saja!"
"Iya, iya. Maaf."
Alvian segera masuk ke dalam mobil dan duduk di sebelah Jajang.
"Jang, antar teman saya pulang."
"Iya sinyo."
Eka mendengar omongan Jajang terlihat bingung karena Alvian di panggil sinyo.
__ADS_1
Hahahah, lucu. Ternyata Alvian dipanggil sinyo.
Alvian melihat Eka yang sempat mengernyitkan mukanya seperi menahan sakit.