
"Yeay, Eka lulus" teriak Eka
Hari ini hari kelulusan Eka. Eka sudah mendapatkan sekolah baru di salah satu sma favorit.
Sorenya, ayah, bunda dan kakak serta Eka merayakan kelulusan Eka dengan makan di salah satu restoran steak. Ayah dan bunda bangga dengan prestasi yang diraih Eka. Sambil menunggu pesanan datang. Eka melihat ke arah jam 1 dirinya. Ia melihat ada satu keluarga yang sedang makan dan salah satu anak terlihat beda dengan anak yang lainnya. Anak itu terlihat murung. Entah kenapa Eka ingin mendekati mereka.
Ayah yang melihat gelagat Eka yang hendak berdiri segera memegang tangan Eka.
"Eka duduk, tidak semua yang kamu lihat harus kamu kasih tahu ke orang. Biarkan jadi rahasia Allah SWT. Mereka sedang berbahagia, jangan rusak kebahagiaan mereka ya". Ayah tersenyum.
"Tapi ayah, sebentar lagi anak itu meninggal, Eka melihat ada laki-laki berbaju hitam mendekati anak itu dan siap menarik anak itu. Eka cuma mau minta agar orang tuanya segera membawa anak itu ke rumah sakit.
"Ayaaaaahhhh!!!"
Semua yang ada di restoran itu kaget mendengar teriakan Eka dan memandang Eka dengan kesal karena kaget. Tiba-tiba terdengat lagi teriakan dari arah yang berbeda. Dan apa yang dilihat Eka ternyata terjadi. Anak itu jatuh dari kursi dan keluarganya kaget. Ada satu Ibu yang berlari mendekati mereka yang ternyata dokter. Ibu segera memberikan pertolongan dan menelpon ambulance. Ibu itu memberitahu bahwa sang anak sudah tidak tertolong, tetapi tetap akan dibawa ke rumah sakit untuk memastikan kematiannya.
Ayah, bunda, kakak dan Eka hanya bisa melihat kejadian seorang anak yang terjatuh dari kursi dan meninggal. Ayah memeluk Eka. Seandainya tadi ia tidak menahan Eka, mungkin anak itu segera dibawa ke rumah sakit dan masih bisa tertolong. Tapi semuanya sudah terjadi.
Tidak terasa liburan akan segera berakhir dan minggu depan, Eka akan masuk SMA. Saat Eka sedang tiduran di kamarnya membaca buku cerita. Ada yang memandangi Eka dari sudut kamarnya.
"Siapa yang dipojok kamar? Jangan hanya diam saja. Eka tahu kamu disitu? Kamu baru yah di rumah ini?" Eka menyadari bahwa ada yang sedang memperhatikan dirinya. Sebentar lagi mau maghrib, aku ke bawah dulu saja sekalian mandi dan wudhu. Eka bangkit dari kasurnya, dan berjalan ke arah pintu, Eka terjatuh karena ada yang mendorong dirinya dari depan.
"Aku mau mandi dan sholat, jangan ganggu aku! Aku tahu kamu mau minta tolong sesuatu. Bismillah!" Eka segera bangun dan berjalan ke arah pintu dan turun ke bawah.
"Bunda, kakak belum pulang?"
"Belum. Ada apa?"
"Ngga, Eka tanya saja". Eka segera masuk ke kamar mandi.
"Eka, ayah sama kakak dalam perjalanan pulang, nanti kita sholat sama-sama".
"Iya Bunda".
__ADS_1
"Bunda, kabar Tante Tasia gimana?
"Terakhir Bunda dapat kabar, kankernya sudah menyebar ke payudara yang kiri. Jadi saat ini kena kanan kiri. Kasihan Tante Tasia merasakan kesakitan".
"Bunda, Tante Tasia...."
"Stop Eka, jaga omongan kamu". Kita hanya bisa bantu doa dan kasih support ke keluarganya.
"Iya Bunda, maafin Eka".
Ayah dan kakak baru sampai rumah, mereka segera mandi untuk sholat maghrib berjamaah.
Selesai sholat Eka dan kakak masih di bawah, sedangkan bunda sedang menyiapkan makanan untuk makan malam.
"Ayah, jangan marah dulu sama Eka, ini Tante Tasia, hari ini ngga sadarkan diri. Dan dibawa ke rumah sakit".
"Tadi ayah sudah lihat Tante, memang kondisinya menurun drastis. Doakan semoga Tante Tasia tidak kenapa-napa seperti yang kamu lihat".
"Tolong bawa kesini, dari siapa?
"Dari Dini",
"Assalamu'alaikum pakde, ibu pingsan dan sudah dibalurin minyak kayu putih ngga bangun-bangun. Terus dari dada yang sebelah kiri ngeluarin darah banyak, ini mau dibawa ke rumah sakit. Pakde bantu Dini ya, ketemu di rumah sakit langsung".
"Walaikumsalam, Iya Dini, langsung aja, ngejar waktu supaya ibumu bisa segera dapat pertolongan".
Setelah telpon di tutup, ayah segera menghampiri Bunda.
"Bunda, ayah ke rumah sakit yah, Dini tadi telpon, Tasia pingsan dan ngeluarin banyak darah dari yang sebelah kiri".
"Ayah, makan dulu, takutnya nanti kamu urus sana sini dan ngga makan, akan menyusahkan banyak orang. Ini sudah siap".
"Iya, anak-anak, ayo makan".
__ADS_1
Ayah makan dengan cepat dan segera siap-siap untuk pergi. Saat Ayah pergi, Eka melihat Tante Tasia sedang duduk di ruang tamu. Tante Tasia diam tidak bicara sepatah katapun dan mukanya sudah pucat.
"Tante Tasia, semua pasti sudah ikhlas jika Tante mau pergi sekarang". Eka membatin
'Bunda dan kakak, kita al-fatihah buat Tante Tasia yuk sekarang". Ajak Eka.
Mereka segera al-fatihah buat Tante Tasia. Eka dan kakak segera naik ke atas untuk belajar Tiba-tiba mati lampu, Eka merasakan ada seseorang yang sedang berdiri di samping meja belajarnya, Eka merasakan seluruh tubuhnya merinding dan ketakutan.
"Kakak Fadli, kak Fani? Kakak masih disitu? Eka takut kak.
"Ekaaa, kenapa takut? Aku ada di belakang kamu dan siap membawa kamu untuk ikut aku". Terdengar ada suara berat dan dalam yang memanggil namanya.
"Astagfirullah, pergi kamu! Jangan ganggu aku!"
Eka berusaha melawan rasa takutnya. Eka merasa ada tangan yang sangat besar sedang memegang kepalanya, Eka menepis tangan itu dengan sekuat tenaga, tetapi ada tangan lain yang memegang bahunya dengan kuat. Eka merasakan ketakutan yang amat sangat karena banyak tangan yang besar memegang seluruh tubuhnya.
"Ya, Allah, tolong Eka". Eka segera berdzikir dan membaca ayat suci Al-Quran. Eka melihat ada bayangan dari lilin yang dibawa oleh Kak Fani. Cahaya dari lilin membuat Eka melihat ada beberapa orang terdiri dari kakek-kakek dan nenek-nenek yang sedang memandang Eka dengan muka yang sangat menyeramkan. Eka tetap membaca ayat suci Al-Quran, sampai akhirnya kak Fani sudah di atas dengan lilin yang menyala.
"Kakak tadi kebawah? Terus kak Fadli mana? Tadi Eka panggil-panggil kakak".
"Saat mati lampu, kak Fadli dan aku turun ke bawah cari lilin, sekarang kak Fadli nemenin bunda di bawah".
"Oh pantesan, tadi Eka panggil tidak ada yang jawab".
"Eka, kamu baik-baik saja? Mukamu pucat sekali? Ada yang ganggu kamu?" Fani melihat muka Eka yang pucat dan ketakutan.
"Eka baik-baik saja Kak. Iya tadi ada yang ganggu Eka, kepala Eka dan seluruh badan Eka di cengkram sampai sakit. Allah SWT masih melindungi Eka, walaupun Eka tadi ketakutan karena Eka panggil kakak berdua tidak ada jawaban".
"Ya sudah, yang penting kamu tidak kenapa-napa? Eka mau di atas atau kita kebawah saja sambil temenin bunda? Fani mengajak adiknya untuk ke bawah.
"Ke bawah saja sama bunda dan kak Fadli".
Eka segera bangkit dari kursinya dan berjalan ke arah tangga. Kak Fani jalan di depan Eka sebagai penerangan untuk Eka. Saat Eka hendak turun ke anak tangga pertama, kakinya ditahan oleh tangan yang besar seperti tadi, Eka segera membaca ayat suci Al-Quran. Kak Fani sudah ada di anak tangga tengah sedangkan Eka masih diatas karena kakinya di tahan. Eka menengok ke belakang dan melihat Mbah Kakung sedang menarik tangan yang sedang mencengkram kaki Eka dan ia melihat ke bawah dan hanya ada tangan saja tanpa ada tubuh yang lainnya. Saat kaki Eka sudah terlepas, Eka melihat Mbah Kakung dan tersenyum, Eka segera menyusul kak Fani yang sudah sampai di anak tangga terakhir.
__ADS_1